Jangan anggap enteng neraka
Seseorang yang tengah berbuat maksiat di saat diingatkan akan perbuatannya dengan ringannya menjawab : tenang … … aku nanti pasti bertaubat. Sejahat-jahat Umar bin Khothob saja toh akhirnya mendapat hidayah, bukankah aku tidak sejahat Umar ?
Atau perkataan lain : aku akan bahagia nanti di neraka, karena aku akan berkumpul dengan artis-artis.
Menganggap ringan adzab, itu satu perbuatan yang disebut oleh nabi shollallohu alaihi wasallam sebagai al amnu min makrillah (merasa aman dari makar Alloh) dan itu termasuk dosa besar sebagaimana tersebut dalam hadits shohih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam ketika ditanya tentang dosa-dosa besar, beliau menjawab :
الشرك بالله، وا"ليأس من روح الله، والأمن من مكر الله ".
“Yaitu : syirik kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah”.
Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia berkata :
"أكبر الكبائر : الإشراك بالله، والأمن من مكر الله، والقنوط من رحمة الله، واليأس من روح الله ".
“Dosa besar yang paling besar adalah : menyekutukan Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah” (HR. Abdur Razzaq).
Dan perlu anda ketahui bahwa penyakit al amnu min makrillah adalah sifat khas milik bangsa Yahudi sebagaimana Alloh firmankan :
وَقَالُوْا لَنْ تَمَسَّناَ النَّارُ إلاَّ أيّاَماً مَّعْدُوْدَةً قُلْ أتَّخَذْتُمْ عِنْدَ الله عَهْداً فَلَنْ يُخْلِفَ الله عَهْدَهُ أمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى الله ماَلاَ تَعْلَمُوْنَ
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?" [albaqoroh : 80]
Syahid yang paling afdhol
Syahid yang paling afdhol
Dalam sejarah kita mengenal para syuhada. Hamzah bin Abdul Muthollib pada perang Uhud, para qurro’ (penghafal alquran) pada perang Yamamah, Hubaib yang tereksekusi di kota Mekah dan masih banyak lagi lainnya. Tanpa mengecilkan kesyahidan mereka ternyata rosululloh shollallohu alaihi wasallam menceritakan tentang orang yang mati syahid yang kedudukannya paling afdhol di sisi Alloh sebagaimana dalam sebuah hadits shohih :
وعن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال يخرج الدجال فيتوجه قِبَله رجل من المؤمنين فيتلقاه المسالح مسالح الدجال، فيقولون له إلى أين تعمد ؟ فيقول أعمد إلى هذا الذي خرج، فيقولون له أوما تؤمن بربنا ؟ فيقول ما بربنا خفاء، فيقولون اقتلوه فيقول بعضهم لبعض أليس قد نهاكم ربكم أن تقتلوا أحداً دونه فينطلقون به إلى الدجال فإذا رآه المؤمن قال يا أيها الناس إن هذا الدجال الذي ذكر رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فيأمر الدجال به فيُشَبَّحُ فيقول خذوه وشجوه فيوسَعُ ظهرُه وبطنُه ضرباً فيقول أوما تؤمن بي؟ فيقول أنت المسيح الكذاب فيؤمر به فيُؤْشَرُ بالمنشار من مفرقه حتى يفرِّق بين رجليه ثم يمشي الدجال بين القطعتين ثم يقول له قم فيستوي قائماً ثم يقول له أتؤمن بي؟ فيقول ما ازددت فيك إلا بصيرة، ثم يقول يا أيها الناس إنه لا يفعل بعدي بأحد من الناس، فيأخذه الدجال ليذبحه، فيجعل اللَّه ما بين رقبته إلى ترقوته نحاساً فلا يستطيع إليه سبيلاً فيأخذه بيديه ورجليه فيقذف به فيحسب الناس أنه قذفه إلى النار وإنما ألقي في الجنة فقال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم هذا أعظم الناس شهادة عند رب العالمين رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu said Alkhudzriyyi rodliyallohu anhu bersabda nabi shollallohu alaihi wasallam : pada waktu keuarnya dajjal ada seorang mu’min yang pergi kepadanya, lalu ia disambut tentara-tentara dajjal dan ditanya : mau kemana kamu ? saya akan menemui orang yang baru keluar. Mereka bertanya : apakah kamu belum beriman kepada tuhan kami ? Ia menjawab : tuhan kami tidak sama ! berkatalah tentara itu : bunuhlah ia ! Tetapi sebagian mengatakan : jangan ! karena tuhan telah melarang membunuh seseorang selain dari perintahnya. Maka dibawalah orang itu menghadap dajjal, tatkala simu’min tadi melihat dajjal ia berkata : wahai manusia, inilah dajjal yang telah diceritakan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Akhirnya dajjal memerintahkan agar orang itu direbahkan untuk dikupas kulitnya, dipukuli punggung dan perutnya. Kemudian ditanya : apakah engkau tidak beriman kepadaku ? ia berkata : engkau almasih pendusta ! lalu diperintah kembali untuk digergaji dari atas kepalanya hingga menjadi dua bagian dan berjalanlah dajjal di antara dua bagian yang sudah terbelah seraya memerintah : bangunlah engkau ! seraya bertanya lagi : masihkah engkau tidak mengimaniku ? ia menjawab : tidaklah berkurang pengetahuanku tentang engkau bahkan aku bertambah yakin kalau engkau adalah dajjal. Setelah itu simu’min tadi berkata : wahai manusia, setelah ini ia tidak akan bisa melakukannya kepada seseorangpun. Dajjalpun berusaha untuk membunuhnya kembali akan tetapi Alloh telah meletakkan di antara leher hingga belakang sebuah tembaga hingga ia tidak bisa menyembelihnya lalu dajjal melemparkannya ke dalam neraka padahal hakekatnya ia dilempar ke dalam aljannah. Selanjutnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : itulah manusia yang paling agung kesyahidannya di sisi Alloh Rob semesta alam [HR Muslim]
Semoga kita termasuk orang yang ditakdirkan oleh Alloh menyaksikan peristiwa besar ini dan termasuk orang memiliki iman sekuat mu’min yang tegar di hadapan dajjal la’natulloh alaih, aamiin
Dalam sejarah kita mengenal para syuhada. Hamzah bin Abdul Muthollib pada perang Uhud, para qurro’ (penghafal alquran) pada perang Yamamah, Hubaib yang tereksekusi di kota Mekah dan masih banyak lagi lainnya. Tanpa mengecilkan kesyahidan mereka ternyata rosululloh shollallohu alaihi wasallam menceritakan tentang orang yang mati syahid yang kedudukannya paling afdhol di sisi Alloh sebagaimana dalam sebuah hadits shohih :
وعن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال يخرج الدجال فيتوجه قِبَله رجل من المؤمنين فيتلقاه المسالح مسالح الدجال، فيقولون له إلى أين تعمد ؟ فيقول أعمد إلى هذا الذي خرج، فيقولون له أوما تؤمن بربنا ؟ فيقول ما بربنا خفاء، فيقولون اقتلوه فيقول بعضهم لبعض أليس قد نهاكم ربكم أن تقتلوا أحداً دونه فينطلقون به إلى الدجال فإذا رآه المؤمن قال يا أيها الناس إن هذا الدجال الذي ذكر رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فيأمر الدجال به فيُشَبَّحُ فيقول خذوه وشجوه فيوسَعُ ظهرُه وبطنُه ضرباً فيقول أوما تؤمن بي؟ فيقول أنت المسيح الكذاب فيؤمر به فيُؤْشَرُ بالمنشار من مفرقه حتى يفرِّق بين رجليه ثم يمشي الدجال بين القطعتين ثم يقول له قم فيستوي قائماً ثم يقول له أتؤمن بي؟ فيقول ما ازددت فيك إلا بصيرة، ثم يقول يا أيها الناس إنه لا يفعل بعدي بأحد من الناس، فيأخذه الدجال ليذبحه، فيجعل اللَّه ما بين رقبته إلى ترقوته نحاساً فلا يستطيع إليه سبيلاً فيأخذه بيديه ورجليه فيقذف به فيحسب الناس أنه قذفه إلى النار وإنما ألقي في الجنة فقال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم هذا أعظم الناس شهادة عند رب العالمين رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu said Alkhudzriyyi rodliyallohu anhu bersabda nabi shollallohu alaihi wasallam : pada waktu keuarnya dajjal ada seorang mu’min yang pergi kepadanya, lalu ia disambut tentara-tentara dajjal dan ditanya : mau kemana kamu ? saya akan menemui orang yang baru keluar. Mereka bertanya : apakah kamu belum beriman kepada tuhan kami ? Ia menjawab : tuhan kami tidak sama ! berkatalah tentara itu : bunuhlah ia ! Tetapi sebagian mengatakan : jangan ! karena tuhan telah melarang membunuh seseorang selain dari perintahnya. Maka dibawalah orang itu menghadap dajjal, tatkala simu’min tadi melihat dajjal ia berkata : wahai manusia, inilah dajjal yang telah diceritakan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Akhirnya dajjal memerintahkan agar orang itu direbahkan untuk dikupas kulitnya, dipukuli punggung dan perutnya. Kemudian ditanya : apakah engkau tidak beriman kepadaku ? ia berkata : engkau almasih pendusta ! lalu diperintah kembali untuk digergaji dari atas kepalanya hingga menjadi dua bagian dan berjalanlah dajjal di antara dua bagian yang sudah terbelah seraya memerintah : bangunlah engkau ! seraya bertanya lagi : masihkah engkau tidak mengimaniku ? ia menjawab : tidaklah berkurang pengetahuanku tentang engkau bahkan aku bertambah yakin kalau engkau adalah dajjal. Setelah itu simu’min tadi berkata : wahai manusia, setelah ini ia tidak akan bisa melakukannya kepada seseorangpun. Dajjalpun berusaha untuk membunuhnya kembali akan tetapi Alloh telah meletakkan di antara leher hingga belakang sebuah tembaga hingga ia tidak bisa menyembelihnya lalu dajjal melemparkannya ke dalam neraka padahal hakekatnya ia dilempar ke dalam aljannah. Selanjutnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : itulah manusia yang paling agung kesyahidannya di sisi Alloh Rob semesta alam [HR Muslim]
Semoga kita termasuk orang yang ditakdirkan oleh Alloh menyaksikan peristiwa besar ini dan termasuk orang memiliki iman sekuat mu’min yang tegar di hadapan dajjal la’natulloh alaih, aamiin
Orang Yahudi tidak konsisiten
Orang Yahudi tidak konsisiten
Mereka menolak rosululloh shollallohu alaihi wasallam sebagai nabi akhir zaman. Penolakannya didasarkan karena Muhammad shollalllohu alaihi wasallam bukan berasal dari kaum mereka. Kenyataan mengatakan justru banyak dari nabi yang berasal dari kalangan Yahudi yang menjadi korban kebiadaban mereka. Hal ini Alloh abadikan dalam firmanNya :
وَ ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوْا بِغَضَبٍ مِنَ الله ذَالِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِأيَاتِ الله وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيِّيْنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَالِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [albaqoroh : 61]
Ibnu Katsir menyebut jumlah nabi yang berhasil mereka bantai adalah 300 nabi.
Di antara nabi yang cukup populer yang berhasil mereka bunuh adalah nabi Zakaria dan Yahya alaihimassalam, sementara nabi Isa alaihissalam lolos dari upaya pembunuhan yang menimpanya sebagaimana Alloh firmankan :
وَقَوْلِهِمْ إنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ الله وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَالَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا
Dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. [annisa : 157]
Kalau kita perhatikan dengan seksama bahwa nabi yang mereka terima adalah bila memenuhi dua kriteria :
Nabi yang berasal dari kalangan mereka
Ajaran yang dibawa harus sesuai dengan hawa nafsu mereka
Hal ini terangkum dalam firman Alloh :
أفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقاً تَقْتُلُوْنَ
Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? [albaqoroh : 87]
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bila berasal dari suku Yahudi akan tetapi kalau ternyata ajaran yang beliau bawa tidak sesuai hawa nafsu mereka niscaya akan berujung kepada penentangan.
Mereka menolak rosululloh shollallohu alaihi wasallam sebagai nabi akhir zaman. Penolakannya didasarkan karena Muhammad shollalllohu alaihi wasallam bukan berasal dari kaum mereka. Kenyataan mengatakan justru banyak dari nabi yang berasal dari kalangan Yahudi yang menjadi korban kebiadaban mereka. Hal ini Alloh abadikan dalam firmanNya :
وَ ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوْا بِغَضَبٍ مِنَ الله ذَالِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِأيَاتِ الله وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيِّيْنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَالِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi yang memang tidak dibenarkan. demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. [albaqoroh : 61]
Ibnu Katsir menyebut jumlah nabi yang berhasil mereka bantai adalah 300 nabi.
Di antara nabi yang cukup populer yang berhasil mereka bunuh adalah nabi Zakaria dan Yahya alaihimassalam, sementara nabi Isa alaihissalam lolos dari upaya pembunuhan yang menimpanya sebagaimana Alloh firmankan :
وَقَوْلِهِمْ إنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ الله وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَالَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا
Dan karena Ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. [annisa : 157]
Kalau kita perhatikan dengan seksama bahwa nabi yang mereka terima adalah bila memenuhi dua kriteria :
Nabi yang berasal dari kalangan mereka
Ajaran yang dibawa harus sesuai dengan hawa nafsu mereka
Hal ini terangkum dalam firman Alloh :
أفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لاَ تَهْوَى أنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقاً تَقْتُلُوْنَ
Apakah Setiap datang kepadamu seorang Rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; Maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? [albaqoroh : 87]
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bila berasal dari suku Yahudi akan tetapi kalau ternyata ajaran yang beliau bawa tidak sesuai hawa nafsu mereka niscaya akan berujung kepada penentangan.
Orang kentut koq diketawain
Orang kentut koq diketawain
Sering di antara kita ketika berkumpul dengan teman sejawat lalu tiba-tiba suara kentut terdengar di antara kita hingga kitapun tertawa terbahak-bahak mengejek teman kita yang mengeluarkan kentut itu. Ternyata hal ini juga pernah terjadi pada diri para sahabat rodliyallohu anhu. Tersebut dalam sebuah hadits shohih :
وعن عبد اللَّه بن زمعة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنه سمع النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يخطب…. ثم وعظهم في ضحكهم من الضرطة فقال لم يضحك أحدكم مما يفعل مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Abdulloh bin Zam’ah rodliyallohu anhu bahwasanya nabi shollallohu alaihi wasallam menyampaikan khutbah : ………. Lalu beliau memberi nasehat terhadap tertawa mereka di saat mendengar suara kentut dimana beliau bersabda : kenapa salah seorang di antara kalian mentertawakan kentut yang sebenarnya kalian juga biasa mengalaminya [muttafaq alaih]
Syaikh Muhammad Sholih Utsaimin mengomentari hadits ini dengan mengatakan : ini merupakan isyarat bahwa tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya. Jika engkau tidak mencela kentut anda demikian juga andapun tidak perlu mempermasalahkan kentut orang lain.
Maroji’ : syarh riyadlush sholihin, Syaikh Muhammad Sholih Utsaimin 1/657
Sering di antara kita ketika berkumpul dengan teman sejawat lalu tiba-tiba suara kentut terdengar di antara kita hingga kitapun tertawa terbahak-bahak mengejek teman kita yang mengeluarkan kentut itu. Ternyata hal ini juga pernah terjadi pada diri para sahabat rodliyallohu anhu. Tersebut dalam sebuah hadits shohih :
وعن عبد اللَّه بن زمعة رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنه سمع النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يخطب…. ثم وعظهم في ضحكهم من الضرطة فقال لم يضحك أحدكم مما يفعل مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.
Dari Abdulloh bin Zam’ah rodliyallohu anhu bahwasanya nabi shollallohu alaihi wasallam menyampaikan khutbah : ………. Lalu beliau memberi nasehat terhadap tertawa mereka di saat mendengar suara kentut dimana beliau bersabda : kenapa salah seorang di antara kalian mentertawakan kentut yang sebenarnya kalian juga biasa mengalaminya [muttafaq alaih]
Syaikh Muhammad Sholih Utsaimin mengomentari hadits ini dengan mengatakan : ini merupakan isyarat bahwa tidak sepantasnya bagi manusia untuk mencela orang lain dengan sesuatu yang kita juga biasa mengalaminya. Jika engkau tidak mencela kentut anda demikian juga andapun tidak perlu mempermasalahkan kentut orang lain.
Maroji’ : syarh riyadlush sholihin, Syaikh Muhammad Sholih Utsaimin 1/657
Mencerca angin
Mencerca angin
Kita caci angin di saat berhembus kencang menyebabkan debu beterbangan hingga masuk ke mata. Tak urung pandangan mata kitapun kabur.
Sumpah serapah ditujukan kepada angin di saat berhembus dengan kencangnya yang menyebabkan pohon tumbang menimpa mobil dan rumah, tak jarang korban jiwapun terjadi atau pohon tumbang melintang di jalan sehingga memacetkan kondisi lalu lintas.
Keluh kesah ditujukan kepada angin di saat kita menyapu rumah, ketika kotoran tinggal selangkah lagi di depan pintu, tiba-tiba angin tak diundang berhembus mendorong kotoran kembali ke belakang sehingga kita menyapu dari awal lagi.
Kondisi ini sudah Alloh terangkan dalam firmanNya :
إنَّ الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعاً إذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعاً
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, [al ma’arij : 19-20]
Bukankah angin adalah makhluq Alloh ? Berhembus sesuai perintah Alloh, diampun sesuai perintah Alloh. Dari sinilah nabi shollallohu alaihi wasallam menasehati kita :
لاَ تَسُبُّوْا الرِّيْحَ فَإِذَا رَأيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَهُ فَقُوْلُوْا :
Janganlah kalian mencaci angin, bila kalian melihat sesuatu yang kalian tidak menyukainya maka berdoalah :
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا
أُمِرَتْ بِهِ
Ya Alloh sesungguhnya kami memohon kepadaMu dari kebaikan angin ini, kebaikan yang terkandung di dalamnya dan kebaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang terkandung di dalamnya dan keburukan apa yang diperintahkan kepadanya [HR Tirmidzi]
Kita caci angin di saat berhembus kencang menyebabkan debu beterbangan hingga masuk ke mata. Tak urung pandangan mata kitapun kabur.
Sumpah serapah ditujukan kepada angin di saat berhembus dengan kencangnya yang menyebabkan pohon tumbang menimpa mobil dan rumah, tak jarang korban jiwapun terjadi atau pohon tumbang melintang di jalan sehingga memacetkan kondisi lalu lintas.
Keluh kesah ditujukan kepada angin di saat kita menyapu rumah, ketika kotoran tinggal selangkah lagi di depan pintu, tiba-tiba angin tak diundang berhembus mendorong kotoran kembali ke belakang sehingga kita menyapu dari awal lagi.
Kondisi ini sudah Alloh terangkan dalam firmanNya :
إنَّ الإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوْعاً إذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوْعاً
19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, [al ma’arij : 19-20]
Bukankah angin adalah makhluq Alloh ? Berhembus sesuai perintah Alloh, diampun sesuai perintah Alloh. Dari sinilah nabi shollallohu alaihi wasallam menasehati kita :
لاَ تَسُبُّوْا الرِّيْحَ فَإِذَا رَأيْتُمْ مَا تَكْرَهُوْنَهُ فَقُوْلُوْا :
Janganlah kalian mencaci angin, bila kalian melihat sesuatu yang kalian tidak menyukainya maka berdoalah :
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هذِهِ الرِّيْحِ وَخَيْرِ مَا فِيْهَا وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هذِهِ الرِّيْحِ وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا
أُمِرَتْ بِهِ
Ya Alloh sesungguhnya kami memohon kepadaMu dari kebaikan angin ini, kebaikan yang terkandung di dalamnya dan kebaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dan kami berlindung kepadaMu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang terkandung di dalamnya dan keburukan apa yang diperintahkan kepadanya [HR Tirmidzi]
Langganan:
Postingan (Atom)
