(35) Gelar buruk
Baik dan buruknya seseorang di masyarakat salah satunya bisa dilihat dari gelar atau penyebutan yang disematkan masyarakat padanya. Sungguh terhormat manakala ia disebut dengan pak kyai, abuya, ibunda, beliau, mujahid, asy syahid dan lainnya.
Pak ogah, si hidung belang, pesakitan, preman, mucikari, wts, koruptor, si tangan besi, lintah darat dan sebutan-sebutan lainnya. Tentu masyarakat tidak asal ucap ketika gelar itu dialamatkan pada seseorang.
Ketika seorang hamba menunjukkan ketaatan kepadaNya maka Alloh memberikan beragam sebutan indah baginya sesuai dengan amal yang ia lakukan. Muhsin, muttaqin, mujahid, muslim, mu’min, kariim dan lainnya.
Alangkah malang seseorang ketika Alloh menyebutnya sebagai kafir, fasik, dzolim, murtad, musyrik, zaani, saariq. Maka Alloh memperingatkan hambaNya :
بِئْسَ الإسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الإِيْماَنِ
Seburuk-buruk gelar adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman [alhujurot : 11]
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 121
akibat maksiat (34)
(34) Menjadi Tawanan Setan
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرّحْمن نُقَيِّضْ لَهُ شَيطاَناً هَهُوَ لَهُ قَرِيْنٌ
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [azzukhruf : 36]
Seorang yang menjadi tawanan musuh maka hidupnya akan terhina, terkungkung tidak bisa berbuat sesuatu selain menuruti pihak yang menawannya. Terlebih bila yang menawannya adalah setan. Ia kan menjadi budak nafsu, menuruti semua keinginannya.
Berbeda jauh dengan orang yang berada di atas ketaatan. Ia dilindungi Alloh, hidupnya bebas karena hanya Allohlah yang mengaturnya. Punya pengharapan baik di akhirat yang tidak dimiliki oleh para budak nafsu. Oleh karena itu rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ الْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ وَالْمَسْجِدِ
Dari Mu'adz bin Jabal, bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda : Setan adalah serigala bagi manusia laksana serigala bagi kambing yang terlepas dan tersingkir. Karena itu janganl ah kalian bercerai berai, kalian harus bersama jamaah, orang banyak dan masjid [HR Ahmad]
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 119
وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرّحْمن نُقَيِّضْ لَهُ شَيطاَناً هَهُوَ لَهُ قَرِيْنٌ
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. [azzukhruf : 36]
Seorang yang menjadi tawanan musuh maka hidupnya akan terhina, terkungkung tidak bisa berbuat sesuatu selain menuruti pihak yang menawannya. Terlebih bila yang menawannya adalah setan. Ia kan menjadi budak nafsu, menuruti semua keinginannya.
Berbeda jauh dengan orang yang berada di atas ketaatan. Ia dilindungi Alloh, hidupnya bebas karena hanya Allohlah yang mengaturnya. Punya pengharapan baik di akhirat yang tidak dimiliki oleh para budak nafsu. Oleh karena itu rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاةَ الْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ فَإِيَّاكُمْ وَالشِّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ وَالْمَسْجِدِ
Dari Mu'adz bin Jabal, bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda : Setan adalah serigala bagi manusia laksana serigala bagi kambing yang terlepas dan tersingkir. Karena itu janganl ah kalian bercerai berai, kalian harus bersama jamaah, orang banyak dan masjid [HR Ahmad]
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 119
akibat maksiat (33)
(33) Menjauhkan Hati Dari Istiqomah
Pengaruh dosa pada hati adalah seperti pengaruh penyakit pada badan, bahkan dosa itu sendiri adalah penyakit bagi hati. Seorang yang sakit badannya pasti tidak nyaman beraktifitas. Berolahraga, bekerja mengais rizki, berwisata dan amal baik lainnya dilakukannya dengan tidak nyaman. Demikian juga orang yang sakit hatinya. Membaca alquran, sholat, dzikir dan menyimak nasehat di sebuah majlis ta’lim akan dijalaninya penuh dengan kehambaran. Dan tidak ada solusi selain meninggalkan dosa.
Alloh berfirman :
إنّ الأبرار لَفِي نَعِيْمٍ وَإنّ الْفُجّارَ لَفِي جَحِيْمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [al infithor : 13-14]
Manusia mengalami 3 masa kehidupan : dunia, alam barzakh dan akhirat. Ketika seseorang bahagia dengan ketaatannya di dunia maka kebahagiaan ini akan berlanjut di alam barzakh dan ketika ia menghadap Alloh pada hari kiamat.
Sebaliknya ketika orang berkubang dengan kemaksiatan di dunia (seolah ia bahagia padahal sengsara) maka kesengsaraan ini akan berlanjut di saat ia dikuburkan dan berada di alam akhirat
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 115
Pengaruh dosa pada hati adalah seperti pengaruh penyakit pada badan, bahkan dosa itu sendiri adalah penyakit bagi hati. Seorang yang sakit badannya pasti tidak nyaman beraktifitas. Berolahraga, bekerja mengais rizki, berwisata dan amal baik lainnya dilakukannya dengan tidak nyaman. Demikian juga orang yang sakit hatinya. Membaca alquran, sholat, dzikir dan menyimak nasehat di sebuah majlis ta’lim akan dijalaninya penuh dengan kehambaran. Dan tidak ada solusi selain meninggalkan dosa.
Alloh berfirman :
إنّ الأبرار لَفِي نَعِيْمٍ وَإنّ الْفُجّارَ لَفِي جَحِيْمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga yang penuh kenikmatan, Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. [al infithor : 13-14]
Manusia mengalami 3 masa kehidupan : dunia, alam barzakh dan akhirat. Ketika seseorang bahagia dengan ketaatannya di dunia maka kebahagiaan ini akan berlanjut di alam barzakh dan ketika ia menghadap Alloh pada hari kiamat.
Sebaliknya ketika orang berkubang dengan kemaksiatan di dunia (seolah ia bahagia padahal sengsara) maka kesengsaraan ini akan berlanjut di saat ia dikuburkan dan berada di alam akhirat
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 115
akibat maksiat (32)
(32) Memunculkan Ketakutan Pada Hati
الّذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [al an’am : 82]
سنلقى فى قلوب الّذين كفروا الرّعب بما أشركوا
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. tempat kembali mereka ialah neraka; dan Itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. [ali imron : 151]
Salah satu akibat dari perbuatan syirik adalah akan membentuk pelakunya menjadi seorang yang penakut. Bagaimana tidak ? Karena takut dengan mitos angka tiga belas maka ia tidak berani memasuki hotel nomor tiga belas, bepergian pada tanggal tiga belas, duduk di pesawat di nomer sit tiga belas.
Bagi yang terbiasa bepergian mengenakan sabuk jimat pemberian dukun, ia akan gelisah ketika di tengah perjalanan ia teringat bahwa sabuk keramat tertinggal di rumah. Iapun buru-buru pulang, khawatir ada malapetaka bila sabuk itu jauh dari dirinya.
Seorang naik kereta api dengan tidak membeli tiket pasti akan resah, tengok kanan dan kiri, khawatir dengan kedatangan kondektor yang akan memeriksa karcis.
Seorang siawa yang menyontek saat ujian pasti dirinya selalu resah karena khawatir perbuatannya akan dipergoki oleh pengawas. Demikianlah maksiat yang akan membentuk pelakunya menjadi was-was, gelisah dan khawatir. Berbeda dengan orang yang selalu berada di atas ketaatan. Itu di dunia, bagaimana dengan di akhirat.
Ibnu Qoyyim memberi nasehat :
فمن خاف الله امنه من كلّ شيئ ومن لم يخف الله أخافه من كلّ شيئ
Barangsiapa yang takut kepada Alloh maka Alloh akan memberikan kepadanya rasa aman dari segala sesuatu sedangkan siapa yang tidak takut kepada Alloh (dengan berbuat maksiat kepadaNya) maka akan dimunculkan rasa takut padanya dari segala sesuatu
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 114
الّذين ءامنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. [al an’am : 82]
سنلقى فى قلوب الّذين كفروا الرّعب بما أشركوا
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. tempat kembali mereka ialah neraka; dan Itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim. [ali imron : 151]
Salah satu akibat dari perbuatan syirik adalah akan membentuk pelakunya menjadi seorang yang penakut. Bagaimana tidak ? Karena takut dengan mitos angka tiga belas maka ia tidak berani memasuki hotel nomor tiga belas, bepergian pada tanggal tiga belas, duduk di pesawat di nomer sit tiga belas.
Bagi yang terbiasa bepergian mengenakan sabuk jimat pemberian dukun, ia akan gelisah ketika di tengah perjalanan ia teringat bahwa sabuk keramat tertinggal di rumah. Iapun buru-buru pulang, khawatir ada malapetaka bila sabuk itu jauh dari dirinya.
Seorang naik kereta api dengan tidak membeli tiket pasti akan resah, tengok kanan dan kiri, khawatir dengan kedatangan kondektor yang akan memeriksa karcis.
Seorang siawa yang menyontek saat ujian pasti dirinya selalu resah karena khawatir perbuatannya akan dipergoki oleh pengawas. Demikianlah maksiat yang akan membentuk pelakunya menjadi was-was, gelisah dan khawatir. Berbeda dengan orang yang selalu berada di atas ketaatan. Itu di dunia, bagaimana dengan di akhirat.
Ibnu Qoyyim memberi nasehat :
فمن خاف الله امنه من كلّ شيئ ومن لم يخف الله أخافه من كلّ شيئ
Barangsiapa yang takut kepada Alloh maka Alloh akan memberikan kepadanya rasa aman dari segala sesuatu sedangkan siapa yang tidak takut kepada Alloh (dengan berbuat maksiat kepadaNya) maka akan dimunculkan rasa takut padanya dari segala sesuatu
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 114
akibat maksiat (31)
(31) Mendatangkan Kemurkaan dan Menghalangi Datangnya Ni’mat
Pernahkan anda makan tidak nikmat ? tidur tidak nyenyak ? sakit tak kunjung sembuh ? rasa aman berubah menjadi was-was karena kejahatan terjadi di mana-mana ?
Semua rasa nyaman berubah menjadi derita. Semua itu tentu timbul karena maksiat sebagaimana Alloh firmankan :
وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفوا عن كثير
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) [asy syuuro : 30]
ذالك بأنّ الله لم يك مغيّرا نعمة أنعمها على قوم حتّى يغبروا ما بأنفسهم
(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [al anfal : 53]
إنّ الله لا يغيّر ما بقوم حتّى يغيّروا ما بأنفسهم وإذا أراد الله بقوم سوءا فلا مردّ له وما لهم من دونه من وّال
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. [arro’du : 11]
Ayat di atas menerangkan kepada kita bahwa Alloh tidak akan merubah nikmat yang seharusnya dirasakan oleh hambaNYa kecuali orang itulah yang telah merubah sendiri nikmat yang telah Alloh anugerahkan. Ia rubah ketaatan dengan maksiat, syukur dengan kufur, sunnah dengan bid’ah dan lainnya sehingga jelaslah bahwa Alloh tidak menzalimi hambaNya. Pleh karena itu Ali bin Abi Tholib berkata :
Tidaklah datang bala’ kecuali karena dosa dan tidaklah Alloh mengangkatnya kecuali dengan taubat.
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 113
Pernahkan anda makan tidak nikmat ? tidur tidak nyenyak ? sakit tak kunjung sembuh ? rasa aman berubah menjadi was-was karena kejahatan terjadi di mana-mana ?
Semua rasa nyaman berubah menjadi derita. Semua itu tentu timbul karena maksiat sebagaimana Alloh firmankan :
وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفوا عن كثير
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) [asy syuuro : 30]
ذالك بأنّ الله لم يك مغيّرا نعمة أنعمها على قوم حتّى يغبروا ما بأنفسهم
(siksaan) yang demikian itu adalah karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. [al anfal : 53]
إنّ الله لا يغيّر ما بقوم حتّى يغيّروا ما بأنفسهم وإذا أراد الله بقوم سوءا فلا مردّ له وما لهم من دونه من وّال
Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. [arro’du : 11]
Ayat di atas menerangkan kepada kita bahwa Alloh tidak akan merubah nikmat yang seharusnya dirasakan oleh hambaNYa kecuali orang itulah yang telah merubah sendiri nikmat yang telah Alloh anugerahkan. Ia rubah ketaatan dengan maksiat, syukur dengan kufur, sunnah dengan bid’ah dan lainnya sehingga jelaslah bahwa Alloh tidak menzalimi hambaNya. Pleh karena itu Ali bin Abi Tholib berkata :
Tidaklah datang bala’ kecuali karena dosa dan tidaklah Alloh mengangkatnya kecuali dengan taubat.
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 113
Langganan:
Postingan (Atom)
