(40) Hukuman Di Dunia Dan Akhirat
Seorang pencuri harus siap menerima hukuman potong tangan. Bagi pezina bila sudah berkeluarga maka hukuman rajam harus siap ia hadapi, dilempar batu hingga mati. Bila masih bujangan atau gadis maka cukup didera seratus kali. Pembunuhan harus dibalas dengan hukuman mati, bila ingin lolos dirinya dari hukuman yang mengerikan itu ia harus menunggu pemaafan dari ahli waris dengan memberikan diyat berupa seratus ekor unta. Peminum khomr harus berhadapan dengan hukuman dera empat puluh kali.
Sementara itu hukuman akhirat sudah Alloh persiapkan kepada para hambaNya sebagai balasan dari perbuatan maksiatnya di dunia. Di antaranya sebagaimana yang dituturkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam :
عَنْ سَمُرَة بْن جُنْدُبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لِأَصْحَابِهِ هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي وَإِنَّهُمَا قَالَا لِي انْطَلِقْ وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ وَإِذَا هُوَ يَهْوِي بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ فَيَتَهَدْهَدُ الْحَجَرُ هَا هُنَا فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ فَلَا يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الْأُولَى قَالَ قُلْتُ لَهُمَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ قَالَ فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ قَالَ وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ فَيَشُقُّ قَالَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الْآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الْأَوَّلِ فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الْأُولَى قَالَ قُلْتُ سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ قَالَ فَأَحْسِبُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ قَالَ فَاطَّلَعْنَا فِيهِ فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا قَالَ قُلْتُ لَهُمَا مَا هَؤُلَاءِ قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ قَالَ فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ حَسِبْتُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ أَحْمَرَ مِثْلِ الدَّمِ وَإِذَا فِي النَّهَرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ وَإِذَا عَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيرَةً وَإِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحُ ثُمَّ يَأْتِي ذَلِكَ الَّذِي قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ الْحِجَارَةَ فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمُهُ حَجَرًا فَيَنْطَلِقُ يَسْبَحُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا قَالَ قُلْتُ لَهُمَا مَا هَذَانِ قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ قَالَ فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ كَرِيهِ الْمَرْآةِ كَأَكْرَهِ مَا أَنْتَ رَاءٍ رَجُلًا مَرْآةً وَإِذَا عِنْدَهُ نَارٌ يَحُشُّهَا وَيَسْعَى حَوْلَهَا قَالَ قُلْتُ لَهُمَا مَا هَذَا قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَوْضَةٍ مُعْتَمَّةٍ فِيهَا مِنْ كُلِّ لَوْنِ الرَّبِيعِ وَإِذَا بَيْنَ ظَهْرَيْ الرَّوْضَةِ رَجُلٌ طَوِيلٌ لَا أَكَادُ أَرَى رَأْسَهُ طُولًا فِي السَّمَاءِ وَإِذَا حَوْلَ الرَّجُلِ مِنْ أَكْثَرِ وِلْدَانٍ رَأَيْتُهُمْ قَطُّ قَالَ قُلْتُ لَهُمَا مَا هَذَا مَا هَؤُلَاءِ قَالَ قَالَا لِي انْطَلِقْ انْطَلِقْ قَالَ فَانْطَلَقْنَا فَانْتَهَيْنَا إِلَى رَوْضَةٍ عَظِيمَةٍ لَمْ أَرَ رَوْضَةً قَطُّ أَعْظَمَ مِنْهَا وَلَا أَحْسَنَ قَالَ قَالَا لِي ارْقَ فِيهَا قَالَ فَارْتَقَيْنَا فِيهَا فَانْتَهَيْنَا إِلَى مَدِينَةٍ مَبْنِيَّةٍ بِلَبِنِ ذَهَبٍ وَلَبِنِ فِضَّةٍ فَأَتَيْنَا بَابَ الْمَدِينَةِ فَاسْتَفْتَحْنَا فَفُتِحَ لَنَا فَدَخَلْنَاهَا فَتَلَقَّانَا فِيهَا رِجَالٌ شَطْرٌ مِنْ خَلْقِهِمْ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ وَشَطْرٌ كَأَقْبَحِ مَا أَنْتَ رَاءٍ قَالَ قَالَا لَهُمْ اذْهَبُوا فَقَعُوا فِي ذَلِكَ النَّهَرِ قَالَ وَإِذَا نَهَرٌ مُعْتَرِضٌ يَجْرِي كَأَنَّ مَاءَهُ الْمَحْضُ فِي الْبَيَاضِ فَذَهَبُوا فَوَقَعُوا فِيهِ ثُمَّ رَجَعُوا إِلَيْنَا قَدْ ذَهَبَ ذَلِكَ السُّوءُ عَنْهُمْ فَصَارُوا فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ قَالَ قَالَا لِي هَذِهِ جَنَّةُ عَدْنٍ وَهَذَاكَ مَنْزِلُكَ قَالَ فَسَمَا بَصَرِي صُعُدًا فَإِذَا قَصْرٌ مِثْلُ الرَّبَابَةِ الْبَيْضَاءِ قَالَ قَالَا لِي هَذَاكَ مَنْزِلُكَ قَالَ قُلْتُ لَهُمَا بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمَا ذَرَانِي فَأَدْخُلَهُ قَالَا أَمَّا الْآنَ فَلَا وَأَنْتَ دَاخِلَهُ قَالَ قُلْتُ لَهُمَا فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا فَمَا هَذَا الَّذِي رَأَيْتُ قَالَ قَالَا لِي أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ أَمَّا الرَّجُلُ الْأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنْ الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الْآفَاقَ وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ الْعُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ فَإِنَّهُمْ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فِي النَّهَرِ وَيُلْقَمُ الْحَجَرَ فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا وَأَمَّا الرَّجُلُ الْكَرِيهُ الْمَرْآةِ الَّذِي عِنْدَ النَّارِ يَحُشُّهَا وَيَسْعَى حَوْلَهَا فَإِنَّهُ مَالِكٌ خَازِنُ جَهَنَّمَ وَأَمَّا الرَّجُلُ الطَّوِيلُ الَّذِي فِي الرَّوْضَةِ فَإِنَّهُ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا الْوِلْدَانُ الَّذِينَ حَوْلَهُ فَكُلُّ مَوْلُودٍ مَاتَ عَلَى الْفِطْرَةِ قَالَ فَقَالَ بَعْضُ الْمُسْلِمِينَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَوْلَادُ الْمُشْرِكِينَ وَأَمَّا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَانُوا شَطْرٌ مِنْهُمْ حَسَنًا وَشَطْرٌ قَبِيحًا فَإِنَّهُمْ قَوْمٌ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا تَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُمْ
Dari Samurah bin Jundab radliallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam seringkali mengatakan kepada para sahabatnya; Apakah diantara kalian ada yang bermimpi ? Kata Samurah; maka ada diantara mereka yang menceritakan kisahnya. Suatu saat ketika subuh, beliau berkata : Semalaman aku didatangi dua orang, keduanya mengajakku pergi dan berujar; 'Ayo kita berangkat! ' Aku pun berangkat bersama keduanya, dan kami mendatangi seseorang yang berbaring dan yang lain berdiri disampingnya dengan membawa batu besar, lalu ia menjatuhkan batu tersebut di kepalanya sehingga kepalanya pecah dan batu menggelinding disini. Orang tadi terus mengikuti batu dan mengambilnya, namun ketika dia belum kembali kepada yang dijatuhi, tetapi kepalanya telah kembali seperti sedia kala. Lantas orang tadi kembali menemuinya dan mengerjakan sebagaimana semula. Sayapun bertanya kepada dua orang yang membawaku; 'Subhanallah, mengapa kedua orang ini seperti ini ? ' keduanya menjawab; 'Mari kita berangkat ke tempat lain dahulu ! ' Kami pun berangkat, lantas kami mendatangi seseorang yang terlentang diatas kedua tengkuknya sedang ada orang lain yang berdiri di sampingnya sambil membawa pengait besi, ia memegang salah satu samping wajahnya dan memotong-motong dagunya hingga tengkuknya, dan tenggorokannya hingga tengkuknya, dan matanya hingga tengkuknya, Kata Auf, terkadang Abu Raja' menggunakan redaksi; 'lantas membelah-belah dagunya, bukan memotong- kemudian orang yang memotong berpindah ke sisi dagu lain dan memperlakukan korbannya sebagaimana ia lakukan pada sisi dagu pertama. Belum ia selesai memotong-mogong dagu kedua, maka dagu samping pertama kembali seperti semula, maka orang itu memperlakukannya sebagaimana semula. Maka saya bertanya; 'Subhanallah, kenapa dua orang ini? ' Namun kedua orang yang membawaku hanya berujar; 'Mari kita pindah ke tempat lain dulu! ' Maka kami berangkat, hingga kami mendatangi suatu tempat seperti tungku. Kata Abu Raja, seingatku Samurah mengatakan; Tungku tersebut mengeluarkan suara gemuruh.- Lantas kami melihat isinya, tak tahunya disana ada laki-laki dan wanita telanjang, mereka didatangi oleh sulut api dari bawah mereka, jika sulutan api mengenai mereka, mereka mengerang-ngerang. Maka saya bertanya kepada dua orang yang membawaku; 'apa sebenarnya dengan orang-orang ini ? Namun kedua orang yang membawaku hanya berujar; 'Ayo kita berpindah ke tempat lain ! ' Maka kami terus berangkat, dan kami mendatangi sebuah sungai. Dan setahuku Samurah mengatakan; 'sungai merah seperti darah-, "tak tahunya di sungai ada laki-laki yang berenang, sedang ditepi sungai ada orang yang mengumpulkan banyak bebatuan, apabila yang berenang tadi sampai ke tepian sungai, ke tempat orang yang mengumpulkan bebatuan, maka ia membuka mulutnya dan orang yang di tepi tadi memasukkan batu ke mulutnya, lantas ia berenang kemudian kembali lagi, setiap kali ia kembali ke tepi, mulutnya membuka dan orang yang di tepi menyuapinya dengan batu itu. Saya bertanya kepada dua orang yang membawaku; 'kenapa dua orang ini? ' keduanya menjawab; 'Ayo kita pindah ke tempat lain dulu! ' Maka kami pun berangkat, lantas kami mendatangi seseorang yang wajahnya menyeramkan sebagaimana seseorang yang paling menyeramkan yang pernah kalian lihat. Dan di dekatnya terdapat api yang terus ia nyalakan dan dia berlari di sekitarnya. Saya bertanya kepada dua orang yang membawaku; 'mengapa orang ini ? ' kedua orang yang membawaku berujar; 'Ayo kita pindah ke tempat lain dahulu! ' Lantas kami berangkat. Lalu kami mendatangi sebuah kebun yang secara merata berisi warna musim semi, diantara dua tepi kebun terdapat seseorang yang jangkung, yang nyaris aku belum pernah melihat manusia yang kepalanya memanjang di langit seperti itu, dan sekitar orang itu terdapat banyak anak-anak kecil yang pernah aku lihat. Saya bertanya; 'Apa ini sebenarnya, mereka ini siapa ? ' kedua orang yang membawaku berujar; 'Ayo kita pindah ke tempat lain dulu! ' Kami pun berangkat melanjutkan perjalanan, hingga kami mendatangi sebuah kebun besar yang sebelumnya aku belum pernah melihat kebun lebih besar dan lebih indah daripadanya sama sekali, Keduanya berkata; 'Naiklah engkau ! ' Kami pun naik, dan kami berakhir ke sebuah kota yang dibangun dari batu bata emas dan perak, lalu kami tiba di pintu kota. Kami minta di buka, maka pintu pun dibuka untuk kami, kami masuk dan kami disambut oleh beberapa orang yang separo tubuhnya seperti orang paling tampan yang pernah anda lihat, dan separohnya seperti manusia paling jelek yang pernah engkau lihat. Keduanya mengatakan kepada mereka; 'Pergilah kalian semua ! ' Lantas mereka sampai di sebuah sungai. Tak tahunya sungai itu terbentang mengalir, airnya sangat putih bersih, mereka pun pergi dan mandi-mandi disana, kemudian kembali menemui kami dan kotorannya telah hilang di sungai tempat mereka mandi, sehingga mereka menjadi manusia paling tampan. Keduanya mengatakan kepadaku; 'Inilah surga Aden dan di sini hunianmu ! ' lantas pandanganku menatap ke atas, tak tahunya ada sebuah istana seperti awan putih yang menyendiri. Keduanya berkata; 'Inilah hunianmu! ' Saya menjawab; 'Semoga Allah memberkati kalian berdua, sekarang biarkanlah aku untuk memasukinya! ' Keduanya menjawab; 'kalau sekarang jangan dulu, namun pasti engkau akan memasukinya! ' Saya mengatakan; 'Semenjak semalaman aku telah melihat peristiwa-peristiwa aneh nan mencengangkan, tolong kabarilah aku apa arti sebenarnya yang kulihat ! ' Keduanya berujar; 'Sekarang baiklah kuberitakan kepadamu peristiwa-peristiwa itu! Adapun laki-laki pertama yang kamu datangi sedang kepalanya pecah dengan batu, itu adalah seseorang yang mempelajari alquran namun ia menolaknya, dan ia tidur sampai meninggalkan shalat wajib. Adapun orang yang kamu datangi membelah dagu kawannya hingga tengkuknya, tenggorokannya hingga dagunya, dan matanya hingga tengkuknya, itu adalah seseorang yang berangkat dari rumahnya lantas ia dusta, dan kedustaannya menembus cakrawala. Adapun laki-laki dan wanita yang telanjang dalam bangunan seperti tungku, mereka adalah laki-laki dan wanita pezina. Adapun laki-laki yang berenang dalam sungai dan disuapi batu besar, mereka adalah pemakan riba, adapun laki-laki yang raut mukanya menyeramkan di neraka sambil menyalakan api dan berlari-lari di sekitarnya, itu adalah Malik, penjaga Jahannam, adapun laki-laki jangkung dalam taman, ia adalah Ibrahim 'alaihissalam, adapun anak-anak di sekitarnya adalah bayi yang mati diatas fitrah. Lantas sebagian sahabat bertanya; 'ya Rasulullah, juga anak orang-orang musyrik ? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Juga anak-anak orang-orang musyrik ! Adapun orang yang separoh berwajah tampan dan separohnya lagi jelek, mereka adalah orang yang mencampuradukkan amal shalih dan lainnya jelek, lantas Allah mengampuni kesalahannya. [HR Bukhori]
akibat maksiat (39)
(39) Melemahkan Bashiroh
Alloh memberikan keistimewaan kepada Ibrohim, Ishaq dan Ya’qub dengan bashiroh dalam din (kekuatan ilmu terhadap din) dan kemampuan untuk melaksanakannya. Sebagaimana Alloh berfirman :
وَاذْكُرْ عِباَدَناَ إبْرَاهِيْم وَإسْحاَقَ وَيَعْقُوْبَ أولِى الأَيْدِى وَالأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub : ulil aidi dan ilmuulil abshor [shood : 45]
Ulil aidi adalah kemampuan untuk melaksanakan alhaq, sementara ulil abshor adalah kekuatan ilmu dalam memahami din. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi empat :
• Ulil aidi dan ulil abshor, artinya memiliki ilmu yang luas terhadap din dan mampu melaksanakannya dengan baik
• Bukan ulil aidi juga bukan ulil abshor, artinya bodoh terhadap din dan tidak melaksanakannya bahkan memusuhi din yang dibawa para rosul
• Ulil abshor tetapi lemah dalam melaksanakannya, inilah gambaran mukmin yang lemah imannya.
• Semangat terhadap ibadah akan tetapi tidak didukung oleh ilmu
Lemahnya seseorang terhadap satu di antara keduanya akan membuka pintu celah maksiat. Oleh karena itu perbuatan dosa harus ditangkal dengan sabar dan yakin (ilmu yang membedakan antara alhaq dan batil.
وَجَعَلْناَ مِنْهُمْ أئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِناَ لَمَّا صَبَرُوْا وَكاَنُوْا بِئَاياَتِناَ يُوْقِنُوْنَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.[assajadah : 24]
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 136
Alloh memberikan keistimewaan kepada Ibrohim, Ishaq dan Ya’qub dengan bashiroh dalam din (kekuatan ilmu terhadap din) dan kemampuan untuk melaksanakannya. Sebagaimana Alloh berfirman :
وَاذْكُرْ عِباَدَناَ إبْرَاهِيْم وَإسْحاَقَ وَيَعْقُوْبَ أولِى الأَيْدِى وَالأَبْصَارِ
Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub : ulil aidi dan ilmuulil abshor [shood : 45]
Ulil aidi adalah kemampuan untuk melaksanakan alhaq, sementara ulil abshor adalah kekuatan ilmu dalam memahami din. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi empat :
• Ulil aidi dan ulil abshor, artinya memiliki ilmu yang luas terhadap din dan mampu melaksanakannya dengan baik
• Bukan ulil aidi juga bukan ulil abshor, artinya bodoh terhadap din dan tidak melaksanakannya bahkan memusuhi din yang dibawa para rosul
• Ulil abshor tetapi lemah dalam melaksanakannya, inilah gambaran mukmin yang lemah imannya.
• Semangat terhadap ibadah akan tetapi tidak didukung oleh ilmu
Lemahnya seseorang terhadap satu di antara keduanya akan membuka pintu celah maksiat. Oleh karena itu perbuatan dosa harus ditangkal dengan sabar dan yakin (ilmu yang membedakan antara alhaq dan batil.
وَجَعَلْناَ مِنْهُمْ أئِمَّةً يَهْدُوْنَ بِأَمْرِناَ لَمَّا صَبَرُوْا وَكاَنُوْا بِئَاياَتِناَ يُوْقِنُوْنَ
Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.[assajadah : 24]
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 136
akibat maksiat (38)
(38) Kehinaan Dan Kerendahan
Alloh menciptakan hambaNya menjadi dua kelompok, yaitu : kelompok yang memiliki kedudukan tinggi di dunia dan akhirat karena ketaatannya kepada Alloh dan kelompok kedua yang memiliki kedudukan rendah karena kemaksiatannya. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam member satu contoh kepada kita :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda : Saya diutus -dan kiamat sangat dekat sekali denganku- dengan pedang, sehingga Allah satu-satuNya Dzat yang disembah, dan dijadikan rezkiku di bawah naungan tombak, dan kehinaan atas siapa saja yang menyalahi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka [HR Ahmad]
Meninggalkan jihad adalah perbuatan maksiat yang berakibat kehinaan. Lihatlah bagaimana negeri-negeri islam takluk di bawah penguasaan orang kafir, hal itu tidak lain sebagai bukti kebenaran dari sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam.
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 128
Alloh menciptakan hambaNya menjadi dua kelompok, yaitu : kelompok yang memiliki kedudukan tinggi di dunia dan akhirat karena ketaatannya kepada Alloh dan kelompok kedua yang memiliki kedudukan rendah karena kemaksiatannya. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam member satu contoh kepada kita :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda : Saya diutus -dan kiamat sangat dekat sekali denganku- dengan pedang, sehingga Allah satu-satuNya Dzat yang disembah, dan dijadikan rezkiku di bawah naungan tombak, dan kehinaan atas siapa saja yang menyalahi perintahku. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari mereka [HR Ahmad]
Meninggalkan jihad adalah perbuatan maksiat yang berakibat kehinaan. Lihatlah bagaimana negeri-negeri islam takluk di bawah penguasaan orang kafir, hal itu tidak lain sebagai bukti kebenaran dari sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam.
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 128
akibat maksiat (37)
(37) Menghilangkan Keberkahan
Seorang petani berhasil memanen sawahnya dengan hasil berlimpah. Tapi sayang, harga gabah sedang anjlok, atau harga sedang bagus akan tetapi uang habis dikuras perampok atau habis untuk membiayai pengobatan anaknya di rumah sakit.
Seorang punya motor bagus. Tapi justru dari motorlah hidupnya menderita. Ban yang berulang kali bocor, menabrak orang yang akhirnya berurusan dengan polisi dan orang yang ia tabrak dan lainnya.
Seorang menikahi wanita cantik. Sayang ia hanya indah di wajah akan tetapi batinnya bertolak belakang. Tidak bisa melayani suami dengan baik, banyak menuntut, darinyalah akhirnya terputus hubungan antara dirinya dengan orang tua dan anak-anak yang terlahir tidak ada satupun yang menyejukkan pandangan mata karena sama sekali tidak mendapat pendidikan dari sang ibu.
Contoh-contoh di atas menunjukkan betapa pentingnya keberkahan hidup dan ia tidak akan digapai kecuali dengan mentaati Alloh dan menjauhi maksiat kepadaNya. Itu adalah persyaratan mutlak yang Alloh ingatkan :
وَلَوْ أنَّ أهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْناَ عَلَيْهِمْ بَرَكاَتٍ مِّنَ السَّماءِ وَلكِنْ كَذَّبُوْا فَأخَذْناَهُمْ بِماَ كاَنُوْا يَكْسِبُوْنَ
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al a’rof : 96]
Karena keberkahan itulah maka Alloh perintahkan setiap amal diawali dengan doa dan diakhiri dengan doa. Bukankah setiap tidur kita mengawalinya mengakhirinya dengan doa ?
Karena keberkahan itulah maka Alloh perintahkan kita mencari rizki dari yang halal kemudian disihkan sebagiannya untuk haq-haq orang fakir.
Karena keberkahan itulah maka rosululloh shollallohu alaihi wasallam menuntun kita untuk mencari jodoh didasari oleh faktor agama.
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 125
Seorang petani berhasil memanen sawahnya dengan hasil berlimpah. Tapi sayang, harga gabah sedang anjlok, atau harga sedang bagus akan tetapi uang habis dikuras perampok atau habis untuk membiayai pengobatan anaknya di rumah sakit.
Seorang punya motor bagus. Tapi justru dari motorlah hidupnya menderita. Ban yang berulang kali bocor, menabrak orang yang akhirnya berurusan dengan polisi dan orang yang ia tabrak dan lainnya.
Seorang menikahi wanita cantik. Sayang ia hanya indah di wajah akan tetapi batinnya bertolak belakang. Tidak bisa melayani suami dengan baik, banyak menuntut, darinyalah akhirnya terputus hubungan antara dirinya dengan orang tua dan anak-anak yang terlahir tidak ada satupun yang menyejukkan pandangan mata karena sama sekali tidak mendapat pendidikan dari sang ibu.
Contoh-contoh di atas menunjukkan betapa pentingnya keberkahan hidup dan ia tidak akan digapai kecuali dengan mentaati Alloh dan menjauhi maksiat kepadaNya. Itu adalah persyaratan mutlak yang Alloh ingatkan :
وَلَوْ أنَّ أهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْناَ عَلَيْهِمْ بَرَكاَتٍ مِّنَ السَّماءِ وَلكِنْ كَذَّبُوْا فَأخَذْناَهُمْ بِماَ كاَنُوْا يَكْسِبُوْنَ
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [al a’rof : 96]
Karena keberkahan itulah maka Alloh perintahkan setiap amal diawali dengan doa dan diakhiri dengan doa. Bukankah setiap tidur kita mengawalinya mengakhirinya dengan doa ?
Karena keberkahan itulah maka Alloh perintahkan kita mencari rizki dari yang halal kemudian disihkan sebagiannya untuk haq-haq orang fakir.
Karena keberkahan itulah maka rosululloh shollallohu alaihi wasallam menuntun kita untuk mencari jodoh didasari oleh faktor agama.
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 125
akibat maksiat (36)
(36) Terputusnya Hubungan Dengan Alloh
Apa jadinya ketika buruh di phk oleh perusahaan ? Tentu ia harus angkat kaki dari tempatnya kerja dan kehilangan manfaat darinya dimana selama ini ia bisa menyambung hidup.
Sepasang suami istri yang akhirnya bercerai maka putuslah semua hubungan. Kemesraan yang selama ini dibina akhirnya sirna. Rona bahagia saat duduk di pelaminan, masa bulan madu, canda dan tawa seolah sudah tidak berarti lagi.
Orang tua yang kesal dengan kelakuan anaknya yang berujung dengan pengusiran, murid sekolah yang terlalu sering melanggar peraturan sekolah hingga keluarlah keputusan sekolah untuk mengeluarkannya dari lembaga pendidikan, pemain bola yang mendapat kartu merah dari wasit dan contoh-contoh lainnya, seakan memberikan pelajaran kepada kita tentang akibat dari sebuah kesalahan yang berakibat pada pemutusan hubungan.
Demikianlah dosa, merusak hubungan antara Alloh dan hambaNya. Adam dan Hawa serta iblis yang diusir dari langit, tentu tidak mungkin itu terjadi kecuali dengan sebab dosa.
Tentang pengusiran Alloh terhadap ketiganya dapat kita ketahui dari firmanNya :
وَقُلْناَ اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ
Dan Kami berfirman : "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain [albaqoroh : 36]
Betapa menderitanya ketika diputus hubungan oleh handai taulan dan sanak kerabat, lalu bagaimana bila pemutusan hubungan itu datangnya dari Alloh ? Karena ketika Alloh sudah memutus hubungan dengan hambaNya maka terputuslah semua limpahan kebaikan dan yang ada hanyalah pintu-pintu keburukan. Dan kalau ditanya darimana sumber biang keladi itu ? Jawabannya adalah maksiat
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 123
Apa jadinya ketika buruh di phk oleh perusahaan ? Tentu ia harus angkat kaki dari tempatnya kerja dan kehilangan manfaat darinya dimana selama ini ia bisa menyambung hidup.
Sepasang suami istri yang akhirnya bercerai maka putuslah semua hubungan. Kemesraan yang selama ini dibina akhirnya sirna. Rona bahagia saat duduk di pelaminan, masa bulan madu, canda dan tawa seolah sudah tidak berarti lagi.
Orang tua yang kesal dengan kelakuan anaknya yang berujung dengan pengusiran, murid sekolah yang terlalu sering melanggar peraturan sekolah hingga keluarlah keputusan sekolah untuk mengeluarkannya dari lembaga pendidikan, pemain bola yang mendapat kartu merah dari wasit dan contoh-contoh lainnya, seakan memberikan pelajaran kepada kita tentang akibat dari sebuah kesalahan yang berakibat pada pemutusan hubungan.
Demikianlah dosa, merusak hubungan antara Alloh dan hambaNya. Adam dan Hawa serta iblis yang diusir dari langit, tentu tidak mungkin itu terjadi kecuali dengan sebab dosa.
Tentang pengusiran Alloh terhadap ketiganya dapat kita ketahui dari firmanNya :
وَقُلْناَ اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ
Dan Kami berfirman : "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain [albaqoroh : 36]
Betapa menderitanya ketika diputus hubungan oleh handai taulan dan sanak kerabat, lalu bagaimana bila pemutusan hubungan itu datangnya dari Alloh ? Karena ketika Alloh sudah memutus hubungan dengan hambaNya maka terputuslah semua limpahan kebaikan dan yang ada hanyalah pintu-pintu keburukan. Dan kalau ditanya darimana sumber biang keladi itu ? Jawabannya adalah maksiat
Maroji’ : adda’ waddawa’ hal 123
Langganan:
Postingan (Atom)
