Seorang pencuri berbohong di hadapan polisi, sering kita jumpai. Akan tetapi bila anda mendengar orang kafir masih sempat berbohong di hadapan Alloh atas perbuatan syirik yang selama ini dia lakukan di dunia, inilah perkara yang sangat mengherankan. Bagaimana tidak ? Syirik adalah dosa terbesar, sementara pihak yang dia bohongi adalah Dzat Yang Maha Mengetahui terhadap apa yang Nampak dan yang tersembunyi. Hal inilah yang Alloh terangkan dalam firmannya :
وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيْعاً ثُمَّ نَقُوْلُ لِلَّذِيْنَ أشْرَكُوْا أيْنَ شُرَكَاءُكُمْ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إلاَّ أنْ قاَلُوْا وَالله رَبِّناَ ماَ كُنَّا مُشْرِكِيْنَ أنْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوْا عَلَى أنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ
22. Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik : Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu katakan (sekutu-sekutu) kami ?
23. Kemudian Tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan : Demi Allah, Tuhan Kami, Tiadalah Kami mempersekutukan Allah
24. Lihatlah bagaimana mereka telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan [al an’am : 22-24]
Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata : mereka berlepas diri dari perbuatan syirik ketika mereka melihat Alloh mengampuni dosa-dosa orang-orang bertauhid …… orang-orang musyrik berkata : sesungguhnya rob kita mengampuni semua dosa, akan tetapi tidak tidak mengempuni dosa syirik, oleh karena itu marilah kita mengatakan “ Demi Alloh, wahai Rob kami, dulu kami tidak melakukan perbuatan syirik “
Demikianlah karakter kebohongan mereka. Kalau kita gabung maka kita akan menemukan kesimpulan bahwa kebohongan orang kafir sudah ada sejak di dunia dan akan mereka lanjutkan ketika mereka berada di akhirat, sebagaimana firman Alloh
يُخَادِعُوْنَ الله وَالَّذِيْنَ ءَامَنُوْا
.....
Mereka menipu Alloh dan orang-orang beriman [albaqoroh : 9]
Kalau kepada Alloh saja mereka berani melakukan kebohongan, lalu bagaimana kepada kita ?
Maroji’ : Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi hal 383
Sekali Berbuat Dosa Berlipat
Hal ini tidak aneh dan mudah bagi kita untuk mendapatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah hadits menyebutkan :
عَنْ إياَس سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ كُلْ بِيَمِينِكَ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ لَا اسْتَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ
Dari Iyash bin Salamah bin Al Akwa' : Bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan tangan kirinya, Lalu Rasulullah bersabda : Makanlah dengan tangan kananmu ! Dia menjawab; Aku tidak bisa. Beliau bersabda : Apakah kamu tidak bisa ? -dia menolaknya karena sombong. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya. [HR Muslim]
Orang di atas telah melakukan tiga kesalahan dalam satu perbuatan. Pertama : ia minum dengan tangan kiri. Yang kedua : makan dengan tangan kiri di hadapan nabi shollallohu alaihi wasallam. Yang ketiga : ditegur oleh beliau menanggapinya dengan penolakan. Celakanya motivasi dari penolakannya didasari oleh kesombongan.
Pada Kisah Zulaikha kita mendapatkan banyak dosa telah dibawa olehnya sehubungan dengan kisah antara dirinya dengan Yusuf alaihissalam. Pertama : Mengajak Yusuf untuk berzina. Kedua : memaksa Yusuf untuk tetap melayani keinginannya di saat mendapat penolakan dari Yusuf. Ketiga : Menyobek baju Yusuf. Keempat : Di saat kepergok oleh sang suami, Zulaikha menuduh Yusuf akan memperkosa dirinya. Kelima : meminta kepada suami agar Yusuf dipenjara. Keenam : memanggil wanita-wanita Mesir untuk melihat ketampanan Yusuf sehingga tersebut dalam riwayat bahwa tamu undangan terkesima oleh indahnya wajah Yusuf sehingga tanpa terasa tangan mereka terisis oleh pisau yang mereka pegang.
Seorang koruptor di saat beraksi dengan kejahatannya menumpul sekian banyak dosa. Dimulai dari tindakan korupsi yang ia lakukan. Dilanjutkan mengajak orang lain untuk bekerjasama agar tercapai apa yang ia inginkan. Di saat dituduh oleh KPK, mengelak tuduhan. Bahkan balik menuduh kepada penuntut sebagai tindakan pencemaran nama baik. Setelah itu ia hamburkan uang demi menyewa pengacara agar membantunya dalam proses persidangan. Tak jarang terjadilah jual beli putusan hukum.
Ketika Alloh mengajak untuk memberlakukan undang-undangNya maka kita lihat para pemimpin menolak dan mengganti hukum Alloh dengan hukum buatannya. Di lapangan sering kita jumpai para da’i yang berjuang untuk tegaknya aturan Alloh dimusuhi. Yang menyedihkan muncul slogan-slogan yang merendahkan hukum Alloh. Dulu sering kita jumpai kata-kata “ pancasila sumber dari segala sumber hukum “ – “ hukum kishosh bertentangan dengan HAM “ dan seruan-seruan lainnya yang membatalkan tauhid mereka.
عَنْ إياَس سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَجُلًا أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشِمَالِهِ فَقَالَ كُلْ بِيَمِينِكَ قَالَ لَا أَسْتَطِيعُ قَالَ لَا اسْتَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إِلَّا الْكِبْرُ قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ
Dari Iyash bin Salamah bin Al Akwa' : Bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan tangan kirinya, Lalu Rasulullah bersabda : Makanlah dengan tangan kananmu ! Dia menjawab; Aku tidak bisa. Beliau bersabda : Apakah kamu tidak bisa ? -dia menolaknya karena sombong. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya. [HR Muslim]
Orang di atas telah melakukan tiga kesalahan dalam satu perbuatan. Pertama : ia minum dengan tangan kiri. Yang kedua : makan dengan tangan kiri di hadapan nabi shollallohu alaihi wasallam. Yang ketiga : ditegur oleh beliau menanggapinya dengan penolakan. Celakanya motivasi dari penolakannya didasari oleh kesombongan.
Pada Kisah Zulaikha kita mendapatkan banyak dosa telah dibawa olehnya sehubungan dengan kisah antara dirinya dengan Yusuf alaihissalam. Pertama : Mengajak Yusuf untuk berzina. Kedua : memaksa Yusuf untuk tetap melayani keinginannya di saat mendapat penolakan dari Yusuf. Ketiga : Menyobek baju Yusuf. Keempat : Di saat kepergok oleh sang suami, Zulaikha menuduh Yusuf akan memperkosa dirinya. Kelima : meminta kepada suami agar Yusuf dipenjara. Keenam : memanggil wanita-wanita Mesir untuk melihat ketampanan Yusuf sehingga tersebut dalam riwayat bahwa tamu undangan terkesima oleh indahnya wajah Yusuf sehingga tanpa terasa tangan mereka terisis oleh pisau yang mereka pegang.
Seorang koruptor di saat beraksi dengan kejahatannya menumpul sekian banyak dosa. Dimulai dari tindakan korupsi yang ia lakukan. Dilanjutkan mengajak orang lain untuk bekerjasama agar tercapai apa yang ia inginkan. Di saat dituduh oleh KPK, mengelak tuduhan. Bahkan balik menuduh kepada penuntut sebagai tindakan pencemaran nama baik. Setelah itu ia hamburkan uang demi menyewa pengacara agar membantunya dalam proses persidangan. Tak jarang terjadilah jual beli putusan hukum.
Ketika Alloh mengajak untuk memberlakukan undang-undangNya maka kita lihat para pemimpin menolak dan mengganti hukum Alloh dengan hukum buatannya. Di lapangan sering kita jumpai para da’i yang berjuang untuk tegaknya aturan Alloh dimusuhi. Yang menyedihkan muncul slogan-slogan yang merendahkan hukum Alloh. Dulu sering kita jumpai kata-kata “ pancasila sumber dari segala sumber hukum “ – “ hukum kishosh bertentangan dengan HAM “ dan seruan-seruan lainnya yang membatalkan tauhid mereka.
Menganggap Enteng Dosa
Dalam menyikapi dosa, manusia terbagi menjadi dua :
1. Kelompok yang menganggap enteng dosa
Kelompok ini diwakili oleh orang kafir. Dalam beberapa ayat Alloh mengulang kisah sikap remeh para penentang dakwah terhadap para nabi. Salah satu sikap yang mereka tunjukkan adalah meminta agar disegerakan adzab pada diri mereka :
وَإذْ قَالُوْا اللّهُمَّ إنْ كاَنَ هذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْكِرْ عَلَيْناَ حِجَارَةً مِّنَ السَّماَءِ أوِ ائْتِناَ بِعَذَابٍ ألِيْمٍ
Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata : Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, Dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah Kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada Kami azab yang pedih [al anfal : 32]
Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi menerangkan bahwa tantangan pada ayat ini diucapkan oleh Nadhr bin Harits dan Abu Jahal.
Tidak menutup kemungkinan sikap peremehan terhadap dosa menjangkiti orang beriman. Hal inilah yang disindir oleh Alloh :
إذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَّالَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُوْنَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِنْدَ الله عَظِيْمٌ
(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar [annur : 15]
Ngrumpi dan membicarakan keburukan orang lain dianggap oleh sebagian sahabat adalah hal biasa padahal di sisi Alloh dinilai sebagai dosa besar. Demikianlah kebiasaan seperti itu masih dianggap lumrah oleh kebanyakan manusia saat ini, tidak hanya ghibah akan tetapi meliputi dosa-dosa lainnya.
2. Kelompok yang menganggap dosa adalah sesuatu yang besar
Inilah yang terjadi pada diri seorang mukmin yang sudah tertanam kuat kebenciannya terhadap dosa sebagaimana yang Alloh firmankan :
وَلَكِنَّ الله حَبَّبَ إلَيْكُمْ الإِيْماَنَ وَزَيَّنَهُ فِي قلُوْبِكُمْ زَكَرَّهَ إلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْياَنَ أولئِكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَ
Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus [alhujurot : 7]
Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata : sebesar-besar nikmat atas orang mukmin adalah Alloh tanamkan kecintaan pada dirinya keimanan dan menjadikannya penghias dalam hatinya, selanjutnya Alloh tanamkan kebencian pada dirinya atas kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan hingga ia menjadi orang mukmin yang paling lurus sesudah sahabat rosululloh shollallohu alaihi wasallam.
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam memperjelas ayat di atas dengan sabdanya :
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْن مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
Dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang lain dari dia sendiri, dia berkata; Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang [HR Bukhori, Ahmad dan Tirmidzi]
Untuk menambah kejelasan maka mari kita renungkan ungkapan Anas bin Malik sebagai cerminan keumuman sikap para sahabat terhadap dosa :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
Dari Anas radhilayyahu'anhu mengatakan : Sungguh kalian mengerjakan beberapa amalan yang menurut kalian lebih remeh temeh daripada seutas rambut, padahal kami dahulu semasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menganggapnya diantara dosa-dosa besar (penghancur) [HR Bukhori]
Syaikh Mushthofa Albugho berkata : menganggap enteng dosa adalah cerminan sedikitnya rasa takut kepada Alloh, sebaliknya menganggap serius semua perbuatan dosa adalah cerminan sempurnanya rasa takut dan sikap muroqobah (sikap merasa diawasi oleh Alloh). Manusia yang paling alim terhadap Alloh setelah nabi, paling sempurna waro’nya dan paling tinggi rasa takutnya terhadap Alloh adalah para sahabat. Mereka menilai dosa yang diremehkan oleh kaum sesudah mereka sebagai muhlikat (penghancur, dosa besar) hal ini terjadi karena besarnya persaksian mereka dan sempurnanya ma’rifat mereka terhadap Alloh.
Maroji’ :
Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi hal 517 dan 1504
Nuzhatul Muttaqin, Syaikh Mushthofa Albugho 1/79
1. Kelompok yang menganggap enteng dosa
Kelompok ini diwakili oleh orang kafir. Dalam beberapa ayat Alloh mengulang kisah sikap remeh para penentang dakwah terhadap para nabi. Salah satu sikap yang mereka tunjukkan adalah meminta agar disegerakan adzab pada diri mereka :
وَإذْ قَالُوْا اللّهُمَّ إنْ كاَنَ هذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْكِرْ عَلَيْناَ حِجَارَةً مِّنَ السَّماَءِ أوِ ائْتِناَ بِعَذَابٍ ألِيْمٍ
Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata : Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, Dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah Kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada Kami azab yang pedih [al anfal : 32]
Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi menerangkan bahwa tantangan pada ayat ini diucapkan oleh Nadhr bin Harits dan Abu Jahal.
Tidak menutup kemungkinan sikap peremehan terhadap dosa menjangkiti orang beriman. Hal inilah yang disindir oleh Alloh :
إذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَّالَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُوْنَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِنْدَ الله عَظِيْمٌ
(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar [annur : 15]
Ngrumpi dan membicarakan keburukan orang lain dianggap oleh sebagian sahabat adalah hal biasa padahal di sisi Alloh dinilai sebagai dosa besar. Demikianlah kebiasaan seperti itu masih dianggap lumrah oleh kebanyakan manusia saat ini, tidak hanya ghibah akan tetapi meliputi dosa-dosa lainnya.
2. Kelompok yang menganggap dosa adalah sesuatu yang besar
Inilah yang terjadi pada diri seorang mukmin yang sudah tertanam kuat kebenciannya terhadap dosa sebagaimana yang Alloh firmankan :
وَلَكِنَّ الله حَبَّبَ إلَيْكُمْ الإِيْماَنَ وَزَيَّنَهُ فِي قلُوْبِكُمْ زَكَرَّهَ إلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْياَنَ أولئِكَ هُمُ الرَّاشِدُوْنَ
Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus [alhujurot : 7]
Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata : sebesar-besar nikmat atas orang mukmin adalah Alloh tanamkan kecintaan pada dirinya keimanan dan menjadikannya penghias dalam hatinya, selanjutnya Alloh tanamkan kebencian pada dirinya atas kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan hingga ia menjadi orang mukmin yang paling lurus sesudah sahabat rosululloh shollallohu alaihi wasallam.
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam memperjelas ayat di atas dengan sabdanya :
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْن مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ
Dari Abdullah bin Mas'ud dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang lain dari dia sendiri, dia berkata; Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang [HR Bukhori, Ahmad dan Tirmidzi]
Untuk menambah kejelasan maka mari kita renungkan ungkapan Anas bin Malik sebagai cerminan keumuman sikap para sahabat terhadap dosa :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنْ الشَّعَرِ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمُوبِقَاتِ
Dari Anas radhilayyahu'anhu mengatakan : Sungguh kalian mengerjakan beberapa amalan yang menurut kalian lebih remeh temeh daripada seutas rambut, padahal kami dahulu semasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menganggapnya diantara dosa-dosa besar (penghancur) [HR Bukhori]
Syaikh Mushthofa Albugho berkata : menganggap enteng dosa adalah cerminan sedikitnya rasa takut kepada Alloh, sebaliknya menganggap serius semua perbuatan dosa adalah cerminan sempurnanya rasa takut dan sikap muroqobah (sikap merasa diawasi oleh Alloh). Manusia yang paling alim terhadap Alloh setelah nabi, paling sempurna waro’nya dan paling tinggi rasa takutnya terhadap Alloh adalah para sahabat. Mereka menilai dosa yang diremehkan oleh kaum sesudah mereka sebagai muhlikat (penghancur, dosa besar) hal ini terjadi karena besarnya persaksian mereka dan sempurnanya ma’rifat mereka terhadap Alloh.
Maroji’ :
Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi hal 517 dan 1504
Nuzhatul Muttaqin, Syaikh Mushthofa Albugho 1/79
Dosa Akan Tetap Meninggalkan Bekas
Seorang anak yang gemar berbuat maksiat, membuat jengkel kedua orang tuanya. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membuat anak sadar dan bertaubat. Ketika sudah berputus asa, akhirnya sang ayah berkata kepada anaknya : Wahai anakku, ayah sudah sering menasehatimu, akan tetapi hanya penentangan yang aku dapati dari dirimu. Sekarang terserah engkau, teruskan perbuatanmu. Ayah tidak akan menegurmu lagi selain setiap perbuatan maksiat itu engkau lakukan maka ayah akan menancapkan satu paku di dinding ini.
Mendengar nasehat yang begitu halus dan bersahaja ini sang anak tetap tidak bergeming. Akhirnya hari-hari ia terus penuhi dengan dosa sementara sang ayah menancapkan satu buah paku ke dinding manakala terlihat pada sang anak perbuatan maksiat.
Tak terasa dinding sudah penuh dengan paku. Sang anak tertegun. Ia baru menyadari bahwa dosa sudah memenuhi catatan amalnya. Rasa takutpun diam-diam masuk pada hatinya. Sedikit-demi sedikit ia mengurangi perbuatan maksiat dan menggantinya dengan amal sholih. Ia mulai menampakkan dirinya di masjid, majlis ta’lim dan tempat lainnya.
Melihat kesalehan tampak pada diri sang buah hati, sang ayah mulai mencabuti satu persatu paku yang sudah tertancap di dinding. Setiap satu kesalehan tampak pada si anak maka sebuah paku dicabut, hingga akhirnya semua paku sudah terlepas dari dinding.
Bukan main gembira orang tua. Dengan tercabutnya semua paku berarti anak sudah kembali ke jalan benar sesuai dengan yang diinginkan orang tua. Akan tetapi justru tangisan yang mengalir dari mata sang anak.
Orang tua bertanya keheranan : Wahai anakku, kenapa engkau menangis ? Bukankah engkau seharusnya berbahagia ? Paku-paku yang di dinding ini semua sudah tercabut, bukankah ini tanda engkau sudah jauh dari perbuatan dosa ? Sang anak menjawab : benar wahai ayah, paku sudah tercabut akan tetapi bekas-bekas dari paku masih terlihat jelas. Ini artinya dosa bisa saja telah hilang akan tetapi bekas-bekas dari perbuatanku tidak hilang.
Demikianlah bekas dosa tidaklah hilang meski yang bersangkutan telah bertaubat dengan taubatan nashuha (taubat yang sebenar-benarnya)
Seorang mabuk yang sudah insaf, maka pengaruh minuman khomr akan tetap ada pada lambung, hati dan organ tubuh lainnya sehingga mengganggu kesehatan tubuhnya.
Orang kafir yang masuk islam, sedikit banyak pemahaman kekafirannya tidak bisa hilang begitu saja. Orang islam yang masuk islam setelah fathu Mekah, di saat pergi berangkat dalam perang Hunain meminta kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam izin untuk menggantungkan pedang-pedang mereka di pohon bidara agar mendapat berkah. Demikianlah rata-rata kondisi muallaf yang masuk islam. Orang kejawen, orang barat, orang yahudi setelah meninggalkan agamanya ternyata masih terselip sisa-sisa aqidahnya tempo dulu.
Para pembunuh dan perampok yang sudah kembali ke jalan benar, meninggalkan luka-luka di hati korban-korbannya. Anaknya yang menjadi yatim, istri yang menjanda dan kehilangan harta yang belum tentu dikembalikan si mantan napi.
Demikianlah dosa akan selalu meninggalkan bekas. Jejak itu tidak bisa hilang. Maka jangan sekali-kali melakukan perbuatan dosa.
Mendengar nasehat yang begitu halus dan bersahaja ini sang anak tetap tidak bergeming. Akhirnya hari-hari ia terus penuhi dengan dosa sementara sang ayah menancapkan satu buah paku ke dinding manakala terlihat pada sang anak perbuatan maksiat.
Tak terasa dinding sudah penuh dengan paku. Sang anak tertegun. Ia baru menyadari bahwa dosa sudah memenuhi catatan amalnya. Rasa takutpun diam-diam masuk pada hatinya. Sedikit-demi sedikit ia mengurangi perbuatan maksiat dan menggantinya dengan amal sholih. Ia mulai menampakkan dirinya di masjid, majlis ta’lim dan tempat lainnya.
Melihat kesalehan tampak pada diri sang buah hati, sang ayah mulai mencabuti satu persatu paku yang sudah tertancap di dinding. Setiap satu kesalehan tampak pada si anak maka sebuah paku dicabut, hingga akhirnya semua paku sudah terlepas dari dinding.
Bukan main gembira orang tua. Dengan tercabutnya semua paku berarti anak sudah kembali ke jalan benar sesuai dengan yang diinginkan orang tua. Akan tetapi justru tangisan yang mengalir dari mata sang anak.
Orang tua bertanya keheranan : Wahai anakku, kenapa engkau menangis ? Bukankah engkau seharusnya berbahagia ? Paku-paku yang di dinding ini semua sudah tercabut, bukankah ini tanda engkau sudah jauh dari perbuatan dosa ? Sang anak menjawab : benar wahai ayah, paku sudah tercabut akan tetapi bekas-bekas dari paku masih terlihat jelas. Ini artinya dosa bisa saja telah hilang akan tetapi bekas-bekas dari perbuatanku tidak hilang.
Demikianlah bekas dosa tidaklah hilang meski yang bersangkutan telah bertaubat dengan taubatan nashuha (taubat yang sebenar-benarnya)
Seorang mabuk yang sudah insaf, maka pengaruh minuman khomr akan tetap ada pada lambung, hati dan organ tubuh lainnya sehingga mengganggu kesehatan tubuhnya.
Orang kafir yang masuk islam, sedikit banyak pemahaman kekafirannya tidak bisa hilang begitu saja. Orang islam yang masuk islam setelah fathu Mekah, di saat pergi berangkat dalam perang Hunain meminta kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam izin untuk menggantungkan pedang-pedang mereka di pohon bidara agar mendapat berkah. Demikianlah rata-rata kondisi muallaf yang masuk islam. Orang kejawen, orang barat, orang yahudi setelah meninggalkan agamanya ternyata masih terselip sisa-sisa aqidahnya tempo dulu.
Para pembunuh dan perampok yang sudah kembali ke jalan benar, meninggalkan luka-luka di hati korban-korbannya. Anaknya yang menjadi yatim, istri yang menjanda dan kehilangan harta yang belum tentu dikembalikan si mantan napi.
Demikianlah dosa akan selalu meninggalkan bekas. Jejak itu tidak bisa hilang. Maka jangan sekali-kali melakukan perbuatan dosa.
Dosa Besar Dosa Kecil
Sebagian ulama ada yang tidak setuju tentang pembagian dosa yang terdiri dari dosa besar dan dosa kecil. Ditinjau dari segi keberaniannya dalam berbuat maksiat maka siapa saja yang melakukan pelanggaran terhadap larangan Alloh maka dinilai sebagai dosa besar.
Akan tetapi sebagian ulama lain berpendapat bahwa dosa terbagi menjadi dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil berdasar dua firman Alloh dan sebuah hadits :
إنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ ماَ تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلاً كَرِيْماً
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). [annisa : 31]
الَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبَائِرَ الإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إلاَّ اللّمَمَ
(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. [annajm : 32]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Shalat lima waktu dan shalat Jum'at ke Jum'at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar. [HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah]
Beberapa ulama memberi kriteria pembeda antara dosa besar dan dosa kecil :
• Setiap yang dilarang oleh Alloh dalam alquran adalah dosa besar sedang yang dilarang oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam dalam hadits adalah dosa kecil
• Bila pelarangan disandingkan dengan ancaman baik berupa laknat, murka atau hukuman maka ia bermakna dosa besar, adapun yang tidak disertai dengan ketiga hal tersebut ia bermakna dosa kecil
• Setiap dosa yang mengandung ancaman hukuman dunia atau akhirat ia adalah dosa besar
Maroji’ : adda’ waddawa’, Ibnu Qoyyim hal 179-181
Akan tetapi sebagian ulama lain berpendapat bahwa dosa terbagi menjadi dua, yaitu dosa besar dan dosa kecil berdasar dua firman Alloh dan sebuah hadits :
إنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ ماَ تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُّدْخَلاً كَرِيْماً
Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). [annisa : 31]
الَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبَائِرَ الإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إلاَّ اللّمَمَ
(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. [annajm : 32]
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصَّلَاةُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Shalat lima waktu dan shalat Jum'at ke Jum'at berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar. [HR Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah]
Beberapa ulama memberi kriteria pembeda antara dosa besar dan dosa kecil :
• Setiap yang dilarang oleh Alloh dalam alquran adalah dosa besar sedang yang dilarang oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam dalam hadits adalah dosa kecil
• Bila pelarangan disandingkan dengan ancaman baik berupa laknat, murka atau hukuman maka ia bermakna dosa besar, adapun yang tidak disertai dengan ketiga hal tersebut ia bermakna dosa kecil
• Setiap dosa yang mengandung ancaman hukuman dunia atau akhirat ia adalah dosa besar
Maroji’ : adda’ waddawa’, Ibnu Qoyyim hal 179-181
Langganan:
Postingan (Atom)
