Bantuan Dan Pemberian

(yang bersifat sementara)
Seorang wanita akan mendapat nafkah dari suami. Manakala perceraian terjadi, semuanya berakhir. Mantan suami tidak memiliki kewajiban selain mut’ah (semacam pemberian yang pantas bagi mantan istri) dan gaji dari persusuan bayi hasil pernikahan.
Seorang anak menjadi tanggungan orang tua. Ketika sudah dewasa dan memiliki penghasilan, tentu ia tidak boleh lagi mengharap bantuan dari ayah ibu. Sebaliknya sudah saatnya sang anak harus bisa membalas kebaikan keduanya.
Orang miskin yang baik adalah menerima dan ridlo atas taqdir yang ditetapkan baginya. Ketika mendapat haknya dari baitul mal, ia harus bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Alangkah baiknya, sebagian pemberian itu dijadikan modal usaha sehingga ia bisa hidup mandiri bahkan statusnya berubah. Dari mustahiq (orang yang berhak menerima zakat), menjadi muzakki (pembayar zakat).
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam adalah orang yang pemurah. Akan tetapi adakalanya, demi tarbiyyah beliau menghentikan pemberian. Sebagaimana dua hadits di bawah ini :
عَنْ أبي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أن ناسا مِنْ الأنصار سألوا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فأعطاهم، ثم سألوه فأعطاهم حتى نفد ما عنده، فقال لهم حين أنفق كل شيء بيده ما يكن عندي مِنْ خير فلن أدخره عَنْكم، ومن يستعفف يعفه اللَّه، ومن يستغن يغنه اللَّه، ومن يتصبر يصبره اللَّه، وما أعطي أحد عطاء خيرا وأوسع مِنْ الصبر  مُتَّفّقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Said Sa’ad bin Malik Sinan Alkhudzriy rodliyallohu anhu : Bahwa sekelompok kaum anshor meminta bantuan kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Beliaupun memberinya. Lalu mereka meminta lagi, beliau memberinya lagi hingga habis apa yang beliau miliki. Ketika seluruhnya sudah beliau infaqkan maka beliau bersabda kepada mereka : Tidaklah yang aku miliki dari kebaikan, maka sekali-kali tidak akan aku sembunyikan terhadap kalian. Barangsiapa yang memiliki iffah (mampu menjaga kehormatan) maka Alloh akan jaga kehormatannya. Barangsiapa yang merasa cukup dengan pemberian Alloh maka Alloh akan berikan kepadanya kecukupan. Barangsiapa yang menetapkan kesabaran maka Alloh akan berikan kesabaran kepadanya. Dan tidak ada pemberian yang lebih baik dan lebih luas selain kesabaran  [muttafaq alaih]
عَنْ عُبَيْدِ اَللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ اَلْخِيَارِ أَنَّ رَجُلَيْنِ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا أَتَيَا رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْأَلَانِهِ مِنَ اَلصَّدَقَةِ، فَقَلَّبَ فِيهِمَا اَلْبَصَرَ, فَرَآهُمَا جَلْدَيْنِ, فَقَالَ: "إِنْ شِئْتُمَا, وَلَا حَظَّ فِيهَا لِغَنِيٍّ, وَلَا لِقَوِيٍّ مُكْتَسِبٍ     
Dari Ubaidillah Ibnu Adiy Ibnu al-Khiyar Radliyallaahu 'anhu bahwa dua orang menceritakan kepadanya bahwa mereka telah menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk meminta zakat pada beliau. Lalu beliau memandangi mereka, maka beliau mengerti bahwa mereka masih kuat. Lalu beliau bersabda : Jika kalian mau, aku beri kalian zakat, namun tidak ada bagian zakat bagi orang kaya dan kuat bekerja [HR Ahmad]

Ahlul Ma’asyi Dari Kalangan Orang Beriman Di Neraka

(yang bersifat sementara)
Penghuni neraka ada tiga : jin, orang kafir dan orang beriman pelaku maksiat. Untuk dua kelompok pertama, Alloh berfirman :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ  
Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai  [al a’rof : 179]
Adapun orang beriman yang bergelimangan dosa, rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ أبِى سَعِيْدٍ الْخُذْرِيِّ رضى الله عنه عَنِ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَدْخُلُ أهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَ أهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُوْلُ الله تَعَالَى أخْرِجُوا مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إيْمَانٍ فَيُخْرَجُوْنَ مِنْهَا قَدِ اسْوَدُّوْا فَيُلْقَوْنَ فِى نَهْرِ الْحَيَا أوِ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُوْنَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِى جَانِبِ السَّيْلِ ألَمْ تَرَ أنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً
Dari Abu Said Alkhudzriyyi rodliyallohu anhu dari nabi shollallohu alaihi wasallam, bersabda : ahlul jannah memasuki aljannah dan ahlunnar memasuki neraka, lalu Alloh berfirman : Keluarkan dari penghuni neraka yang di dalam hatinya ada sekecil biji sawi dari iman. Lalu merekapun dikeluarkan darinya dalam keadaan telah menghitam. Selanjutnya dilempar ke dalam ma’ul hayat (air kehidupan) Akhirnya mereka tumbuh seperti biji tumbuh di sisi aliran air. Tidakkah kalian tahu biji itu keluar dalam keadaan kuning melingkar  [HR Bukhori Muslim]
Hadits di atas menerangkan bahwa sebagaian umat rosululloh shollallohu alaihi wasallam ada yang termasuk bagian dari pelaku maksiat. Rupanya ada sebagian dosanya belum bisa terhapus lewat amal sholihnya dan syafaat dari nabi shollallohu alaihi wasallam. Tidak ada penyelesaian selain orang yang bersangkutan harus mendekam sementara di neraka.
Hadits di atas merupakan bantahan bagi kelompok mu’tazilah yang meyakini akan kekalnya pelaku maksiat di neraka.
Maroji’ :
Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 1/92

Kepada Yang Punya Rumah Megah

Albait Dalam Alquran (58)
Memiliki rumah megah dan luas tidaklah terlarang. Hal itu bila sesuai dengan kebutuhan dengan tidak melupakan hak-hak harta bagi si faqir. Alangkah baiknya bila dirinya mengerti dengan beberapa nasehat di bawah ini :
·         Menjadikan rumah sebagai sarana pengingat kematian
Rumah, meski indah dan megah tentu membutuhkan perawatan. Terkadang genting bocor, cat tembok yang mulai memudar warnanya dan atap yang mulai lapuk. Semuanya membutuhkan renovasi. Di sinilah rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi petuah kepada para sahabat yang tengah sibuk bekerja untuk memperbaiki rumah :
عن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال مر علينا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم ونحن نعالج خصاً لنا فقال ما هذا فقلنا قد وهي فنحن نصلحه فقال ما أرى الأمر إلا أعجل من ذلك
Dari Abdulloh bin Amru bin Ash rodliyallohu anhu, berkata : rosululloh shollallohu alaihi wasallam melewati kami di saat kami sedang merenovasi rumah. Beliau bertanya : Apa ini ? Kami menjawab : Ada kerusakan maka kami memperbaikinya. Beliau bersabda : tidaklah datangnya perkara kematian kecuali lebih cepat dari itu  [HR Abu Daud, Tirmidzi]
·         Rumah yang kita tempati suatu saat akan rusak
Hal itu terjadi oleh berjalannya waktu, karena betapa banyak bangunan dirobohkan karena berusia tua yang sudah tidak kayak dihuni. Atau rusak karena diterjang bencana. Seperti kasus sunami Aceh, peristiwa kebakaran atau jebolnya bendungan situ Gintung. Boleh jadi itu terjadi karena lalinya kita kepada Alloh. Kaum saba pernah merasakannya sebagaimana yang Alloh firmankan :
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آَيَةٌ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ ذَلِكَ جَزَيْنَاهُمْ بِمَا كَفَرُوا وَهَلْ نُجَازِي إِلَّا الْكَفُورَ  
15. Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Alloh) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan) : Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Robmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Robmu) adalah  Maha Pengampun
16. tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl (cemara) dan sedikit dari pohon Sidr (bidara)
17. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir [saba’ : 15-17]
Diriwayatkan ketika Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqofi berkuasa di Iraq, ia membangun istana yang megah untuk dirinya. Selesai pembangunan, ia undang para ulama untuk mendoakannya. Hasan Albashri adalah salah satu dari sekian undangan. Dengan penuh keberanian, Hasan Albashri berceramah :
Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang paling kejam dan kita dapati Firaun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada yang dibangun ini. Namun kemudian Alloh membinasakan Firaun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Alhajjaj sadar bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya ….
·         Rumah yang megah akan berpisah dengan pemiliknya
Seiring dengan kematian, rumah akan berpindah tangan karena ia akan dimiliki ahli waris. Ia tidak akan setia dengan pemilik sebelumnya karena rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :
وعن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ عن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال يتبع الميت ثلاثة  أهله وماله وعمله  فيرجع اثنان ويبقى واحد  يرجع أهله وماله ويبقى عمله
Dari Anas bin Malik rodliyallohu anhu dari rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Akan ikut dengan mayit tiga : Keluarganya, hartanya dan amalnya. Lalu akan pulang dua dan tetap tinggal satu, yaitu akan pulang harta dan keluarga sedang amalnyalah yang akan tetap menemaninya  [muttafaq alaih]





Jauhi Sifat Jahiliyyah Di Rumah

                                                                  Albait Dalam Alquran (57) 
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah : Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintu depannya dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung  [albaqoroh : 189]
Ayat di atas memiliki banyak penafsiran, diantaranya :
Ayat ini merupakan tamtsil, bahwa setiap urusan harus diselesaikan pada tempatnya seperti bertanya tentang sesuatu kepada ulama bukan kepada orang-orang bodoh.
Maksud ayat ini adalah perintah mendatangi istri (bersetubuh) pada qubul (bagian depan) bukan pada dubur (bagian belakang)
Ada yang menafsirkan bahwa ayat ini berkenaan dengan kebiasaan masyarakat jahiliyyah dimana mereka selalu memasuki rumah dari belakang ketika mereka pulang dari haji. Mereka mengira itu bagian dari amalan sholih.
Tafsiran ketiga inilah yang benar. Ini bermakna, sepulang dari ibadah haji (yang merupakan simbol tauhid) tidak boleh dikotori dengan perbuatan khurofat yang merusak aqidah. Rumah harus bersih dari noda-noda syirik.
Betapa banyak manusia yang memasang azimat keselamatan, arah bangunan rumah yang disesuaikan dengan mitos takhayul dan lainnya. Itu tidak boleh terjadi pada diri keluarga muslim
Maroji’ :
Albuyut Fil Quranil Kariim, Sa’dun Jum’ah Hamadi Alhalbusi hal 303


Hubungan Antara Rumah Dengan Diri Seseorang

Albait Dalam Alquran (56)
Tiap manusia pasti mencintai rumah dan kampung halamannya. Ia akan menjadi kenangan indah tak terlupakan, terutama ketika ia harus hidup diperantauan yang jauh. Teman-teman sepermainan waktu kecil, sawah tempat mencari belut, sungai arena berenang dan bercanda, guru SD yang sudah tua dan orang tua yang mengasuh waktu kecil, tidak mungkin hilang begitu saja dari ingatan. Karenanya tidak mungkin ia meninggalkan kampung halaman, kecuali ada sebab atau alasan yang penting. Seperti hijrahnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam dan para sahabat menuju Madinah. Faktor ketaatan kepada Allohlah yang membuat mereka meninggalkan negerinya yang mereka cintai.
Hubungan erat antara diri dan rumah (kampung halaman) diungkapkan oleh Alloh :
اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ
Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu [annisa’ : 66]
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir  dirimu dari negerimu [almumtahanah : 8]
Tak ketinggalan, rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengungkapkankecintaan dirinya kepada tanah kelahirannya saat beliau berhijrah :
Demi Alloh, sungguh sengkau adalah sebaik-baik bumi Alloh
Bumi yang paling dicintai Alloh
Seandainya aku tidak diusir, tentu aku tidak akan keluar darimu
Maroji’ :
Albuyut Fil Quranil Kariim, Sa’dun Jum’ah Hamadi Alhalbusi hal 315-316