Wanita Paling Banyak Di Neraka




Pertanyaan Kaum Wanita (12) 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاِسْتِغْفَارَ فَإِنِّى رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ.قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَمَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِى لُبٍّ مِنْكُنَّ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِىَ مَا تُصَلِّى وَتُفْطِرُ فِى رَمَضَانَ فَهَذَا نُقْصَانُ الدِّينِ
Dari Abdulloh bin Umar rodliyallohu anhu dari rosululloh shollallohu alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda : Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak. Seorang wanita jazlah (cerdas dan berwibawa) berkata : Ya rosululloh, bagaimana bisa terjadi bahwa kami adalah penghuni neraka yang paling banyak. Beliau menjawab : Karena kalian suka melaknat dan kufur kepada suami. Aku tidak melihat manusia yang kurang akal dan agamanya yang lebih menguasai pemilik akal, daripada golongan kalian. Wanita itu bertanya : Ya rosululloh, apa yang dimaksud dengan kurang akal dan agama ? Beliau menjawab : Adapun kurang akal adalah persaksian dua wanita setara dengan persaksian satu orang laki-laki. Sedangkan kurang akal adalah kalian berdiam beberapa malam, tidak sholat dan berbuka di bulan romadlon. Inilah yang dimaksud dengan kurang agama

Hadits di atas memberi faedah :

1.      Wanita penghuni mayoritas neraka

Itu dikarenakan sikap suka melaknat dan kufur kepada suami. Yang dimaksud dengan kufur kepada suami adalah melupakan semua kebaikannya hanya karena satu permintaan tidak dipenuhi

2.      Amal sholih menghapus dosa

Amal sholih berupa sedekah dan istighfar sedangkan banyak melaknat dan kufur kepada suami adalah dosa

3.      Menyampaikan ceramah sesuai dengan audiens yang hadir

Karena yang beliau hadapi adalah kaum wanita maka materi di atas sangat sesuai dengan kebutuhan mereka

4.      Kufur kepada suami adalah kabair (dosa besar)

Itu dikarenakan adanya ancaman neraka yang disebut oleh nabi shollallohu alaihi wasallam

5.      Sebagian masalah ghoib diketahui oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam

6.      Wanita memiliki sisi kelemahan yang membuat mereka terkadang berada di bawah kedudukan kaum laki-laki

Yaitu pada sisi akal (persaksian dua wanita setara dengan seorang lelaki) dan agama (haidh dan nifas membuat mereka harus berhenti dari sebagian amal ibadah seperti sholat)

7.      Murid yang bertanya kepada guru menunjukkan akan kecerdasan dan perhatiannya terhadap pelajaran

8.      Kufur tidak hanya kepada Alloh

Pada hadits di atas, disebutkan bahwa melupakan baik budi suami adalah bagian dari kekufuran yang dilakukan oleh kaum istri

Zakat emas




Pertanyaan Kaum Wanita (11) 

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا  أَنَّهَا كَانَتْ تَلْبَسُ أَوْضَاحًا مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! أَكَنْزٌ هُوَ? قَالَ: إِذَا أَدَّيْتِ زَكَاتَهُ, فَلَيْسَ بِكَنْزٍ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَاَلدَّارَقُطْنِيُّ, وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِمُ.
Dari Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu bahwa dia mengenakan perhiasan dari emas, lalu dia bertanya: Ya Rasulullah, apakah ia termasuk (kanzun) harta simpanan? Beliau menjawab : Jika engkau mengeluarkan zakatnya, maka ia tidak termasuk kanzun (harta simpanan)  [HR Abu Dawud dan Daruquthni]

Hadits di atas memberi kita faedah :

1.      Status kanzun

Kanzun bisa diterjemahkan dengan menimbun. Penulis tafsir aljalalain memberi definisi : Harta yang tidak ditunaikan haknya, baik berupa zakat atau kebaikan. Pelakunya akan dikenakan siksa berupa :

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ  يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka : Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu  [attaubah : 34-35]

2.      Rasa takut kepada siksa akhirat

Ini dimiliki oleh Ummu Salamah hingga ia menanyakan tentang status emas yang ada padanya

3.      Kriteria harta tidak disebut sebagai kanzun

Bila sudah ditunaikan zakatnya maka harta yang dimiliki tidak dimasukkan sebagai kanzun dan pemiliknya tidak terkena ancaman ayat di atas

4.      Emas yang belum sampai nishob

Nishob emas adalah 20 dinar (85 gram). Lalu bagaimana dengan status perhiasan yang kita miliki ? Bukankah pada hadits di atas nabi shollallohu alaihi wasallam tidak menyakan nishobnya, dan jarang perhiasan yang dikenakan oleh wanita memiliki berat 85 gram. Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata : Sikap paling hati-hati adalah tetap mengeluarkan zakatnya dengan jumlah berat apapun. Hal itu karena rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

ماهذا يا عائشة فقالت صنعتهن أتزين لك يا رسول الله فقال أتؤدين زكاتهن قالت لا قال هو حسبك من النار
Apa ini wahai Aisyah ? Ini aku kenakan untuk berhias di hadapanmu wahai rosululloh. Beliau bertanya : Apakah sudah ditunaikan zakatnya ? Aisyah berkata : Belum. Beliau bersabda : Itu sudah cukup buatmu untuk mendapat bagian dari neraka  [HR Alhakim]

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ, عَنْ أَبِيهِ, عَنْ جَدِّهِ  أَنَّ اِمْرَأَةً أَتَتِ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَمَعَهَا اِبْنَةٌ لَهَا, وَفِي يَدِ اِبْنَتِهَا مِسْكَتَانِ مِنْ ذَهَبٍ, فَقَالَ لَهَا: أَتُعْطِينَ زَكَاةَ هَذَا? قَالَتْ: لَا. قَالَ: أَيَسُرُّكِ أَنْ يُسَوِّرَكِ اَللَّهُ بِهِمَا يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ سِوَارَيْنِ مِنْ نَارٍ?. فَأَلْقَتْهُمَا
Dari Amar Ibnu Syu'aib, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersama putrinya yang mengenakan dua gelang emas ditangannya. Lalu beliau bertanya : "Apakah engkau mengeluarkan zakat gelang ini ?" Dia menjawab : Tidak. Beliau bersabda: "Apakah engkau senang pada hari kiamat nanti Allahakan menggelangi kamu dengan dua gelang api neraka?" Lalu perempuan itu melepaskan kedua gelang tersebut  [HR Imam Tiga]  

Maroji’ :

Tafsir Aljalalain (maktabah syamilah) hal 192
Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi hal 250

Mandi Junub Dan Ikatan Rambut




Pertanyaan Kaum Wanita (10)

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ  قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ؟ وَفِي رِوَايَةٍ: وَالْحَيْضَةِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّمَا يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ   
Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku bertanya wahai Rasulullah sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku harus membukanya untuk mandi jinabat؟ Dalam riwayat lain disebutkan : Dan mandi dari haid؟  Nabi menjawab : Tidak tapi kamu cukup mengguyur air di atas kepalamu tiga kali [HR Muslim]

Hadits di atas memberi kita faedah :

1.      Diperbolehkannya wanita mengikat rambut

Ini berlaku saat hidup dan mati. Ummu Athiyyah menyebut tentang puteri nabi shollallohu alaihi wasallam yang dimadikannya saat mati. Di akhir hadits disebut tentang ikatan rambut :
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيْنَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ: "اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا, أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ"، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: "أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ" مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ اَلْوُضُوءِ مِنْهَا وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ: فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ, فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا
Ummu Athiyyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam masuk ketika kami sedang memandikan jenazah puterinya, lalu beliau bersabda : Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan kapur barus :kamfer) atau campuran dari kapur barus. Ketika kami telah selesai, kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya bersabda : Bungkuslah ia dengan kain ini. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat : Dahulukan bagian-bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu. Dalam suatu lafadz menurut Bukhari : Lalu kami ikat rambutnya tiga pintalan dan kami letakkan di belakangnya. 

2.      Wajibnya meratakan air keseluruh tubuh saat mandi junub

Basahnya seluruh anggota tubuh saat mandi junub adalah satu kelaziman. Dari ujung rambut hingga ujung kaki harus tersentuh oleh air. Nabi shollallohu alaihi wasallam menunjukkan kepada kita :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata : Biasanya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan membersihkan kedua tangannya kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke tangan kiri lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudlu lalu mengambil air kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut lalu menyiram kepalanya tiga genggam air kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci kedua kakinya [Muttafaq Alaihi]

3.      Bolehnya wanita membiarkan rambutnya tetap terikat saat mandi junub

Pertanyaannya adalah : Apakah itu tidak menghalangi sampainya air ke kulit kepala ? Imam Shon’ani menerangkan bahwa rambut Ummu Salamah sedikit yang diketahui oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam sehingga meski dalam keadaan terikat, air tetap akan sampai hingga kulit kepala

Maroji’ :
Subulussalam, Imam Shon’ani (maktabah syamilah) hal 299


Darah istihadloh




Pertanyaan Kaum Wanita (9) 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: جَاءَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ أَبِي حُبَيْشٍ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ! إِنِّي اِمْرَأَةٌ أُسْتَحَاضُ فَلَا أَطْهُرُ أَفَأَدَعُ اَلصَّلَاةَ؟ قَالَ: لَا إِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِحَيْضٍ فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي اَلصَّلَاةَ وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ اَلدَّمَ ثُمَّ صَلِّي مُتَّفَقٌ عَلَيْه
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Fathimah binti Abu Hubaisy datang ke hadapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seraya berkata : Wahai Rasulullah sungguh aku ini perempuan yang selalu keluar darah (istihadlah) dan tidak pernah suci bolehkah aku meninggalkan shalat؟ Rasul menjawab : Tidak boleh itu hanya penyakit dan bukan darah haid Apabila haidmu datang tinggalkanlah shalat dan apabila ia berhenti maka bersihkanlah dirimu dari darah itu (mandi) lalu shalatlah   [Muttafaq Alaihi]

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: إِنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ دَمَ اَلْحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي مِنَ اَلصَّلَاةِ فَإِذَا كَانَ اَلْآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ وَالْحَاكِمُ  
Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Fatimah binti Abu Hubaisy sedang keluar darah penyakit (istihadlah). Maka bersabdalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepadanya: Sesungguhnya darah haid adalah darah hitam yang telah dikenal. Jika memang darah itu yang keluar maka berhentilah dari shalat namun jika darah yang lain berwudlulah dan shalatlah   [HR Abu Dawud dan Nasa'i]

Hadits di atas memberi kita faedah :

1.      Perbedaan dan persamaan haidl dan istihadloh
Sama-sama darah dan keluar dari farji wanita. Yang membedakan keduanya adalah bahwa darah haidl menghalangi sholat. Ini berbeda dengan istihadloh. Wanita yang mengalaminya harus tetap menunaikan sholat. Selain itu warna darah haidl berwarna merah kehitaman, adapun darah istihadloh murni merah.

2.      Diperbolehkan menceritakan kondisi pribadi
Pada hadits ini, Fatimah binti Abu Hubaisy tidak hanya bertanya tentang status darah istihadloh saja, melainkan ia ungkapkan bahwa yang mengalaminya adalah dirinya sendiri