Mengubur Mayit




                                                                               Manfaat Tanah (9) 

Perintah mengubur mayit adalah bagian dari syariat islam yang agung. Seiring waktu, tentu akan terjadi pembusukan pada tubuh jenazah. Kuman yang keluar akibat pembusukan itu bisa menimbulkan madlorot bagi kehidupan. Semua itu bisa diredam oleh tanah. Lalu kapan sejarah pertama kali terjadi penguburan mayit ?

Para ulama menyebut, itu terjadi pada anak Adam. Ketika Qobil membunuh Habil, Ia bingung harus diapakan adiknya. Hingga Alloh kirimkan burung gagak yang saling bunuh. Kemudian pemenang dari pertarungan itu menguburkan burung yang tewas. Kisah ini Alloh firmankan :

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْأَةَ أَخِيهِ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْأَةَ أَخِي فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. berkata Qabil : Aduhai celaka Aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini ? karena itu jadilah Dia seorang diantara orang-orang yang menyesal  [almaidah : 31]

Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata : Ayat ini menerangkan tentang syariat penguburan mayit dan penjelasan waktu pertama kali diberlakukannya.

Berkenaan dengan penguburan, islam menganjurkan kepada para pengantar jenazah untuk ikut berpartisipasi menguruk liang lahat meski tiga kali lemparan sebagaimana yang dilakukan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَلَّى عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ, وَأَتَى الْقَبْرَ, فَحَثَى عَلَيْهِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ, وَهُوَ قَائِمٌ رَوَاهُ اَلدَّارَقُطْنِيّ ُ
Dari Amir Ibnu Rabiah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat di atas jenazah Utsman Ibnu Madh'un, beliau mendatangi kuburannya, dan menabur tanah di atas kuburannya tiga kali dengan berdiri  [HR Daruquthni]

Maroji’ :
Aisartuttfasir (maktabah syamilah) hal 112

Menghukum Para Pemuji




Manfaat Tanah (8) 

Islam mengatur cara memuji dan mencela. Bila melihat kesalahan saudaranya maka jangan melakukannya di hadapan banyak orang karena akan menjatuhkan martabat dan itu akan membuatnya malu. Pastikan ketika manusia sudah berlalu, sehingga tidak ada yang tersisa kecuali berdua, barulah untaian nasehat disampaikan. Cara seperti ini nampaknya jauh lebih bersahabat dan terasa manfaatnya.

Sebaliknya bila melihat kelebihan yang dimiliki oleh seseorang maka jangan pula dilakukan di hadapan sekelompok manusia, kenapa ? Karena akan merusak keikhlasannya. Boleh jadi ia melakukan amal sholih yang ia sembunyikan sehingga ia berada di atas keikhlasan, akan hancur gara-gara kita ekspos kebaikannya. Terselip di hatinya kebanggaan yang sebelumnya tidak ia dapati pada dirinya.

Lakukanlah pujian itu saat yang bersangkutan tidak ada di tempat. Sebutkan semua amalnya agar bisa ditiru teman-temannya. Cara ini sesuai dengan sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ هَمَّامِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ رَجُلًا جَعَلَ يَمْدَحُ عُثْمَانَ فَعَمِدَ الْمِقْدَادُ فَجَثَا عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَكَانَ رَجُلًا ضَخْمًا فَجَعَلَ يَحْثُو فِي وَجْهِهِ الْحَصْبَاءَ فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ مَا شَأْنُكَ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتُمْ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمْ التُّرَابَ
Dari Hammam bin Al Harits bahwa seseorang memuji Utsman lalu Al Miqdad menghampirinya kemudian berlutut di atas kedua lututnya, setelah itu menaburkan pasir diwajahnya. Utsman berkata padanya: Kamu kenapa ? Al Miqdad berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda : "Bila kalian melihat orang-orang memuji, taburkan tanah diwajahnya [HR Muslim]

عن أبي موسى الأشعري رضي الله عنه قال : سَمِعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يُثْنِي عَلَى رَجُلٍ وَيُطْرِيهِ في المِدْحَة ، فقالَ : أهْلَكْتُمْ أوْ قَطَعْتُمْ ظَهْرَ الرَّجُلِ
Dari Abu Musa Al Asy’ari rodliyallohu anhu, berkata : Nabi shollallohu alaihi wasallam mendengar seorang memuji orang lain dan terus berlebihan dalam memuji. Beliau bersabda : Kalian telah membinasakan atau memotong punggung manusia  [muttafaq alaih]

Menenggelamkan Qorun Dan Kekayaannya




Manfaat Tanah (7) 

Qorun adalah sepupu nabi Musa alaihissalam. Harta yang melimpah menjerumuskannya ke dalam kekufuran. Kekayaan dan kesombongannya difirmankan oleh Alloh :

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, Maka ia berperilaku melampaui batas terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat

Melihat kepongahannya, kaumnya mengingatkan :

لَا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diridan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan

Dengan sikapnya yang pongah, Qorun menjawab nasehat tulus itu dengan berkata :

 قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي
Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku

Ia tidak sadar bahwa apa yang ia miliki semuanya berasal dari Alloh. Selanjutnya, Qorun keluar memamerkan kekayaan yang ia miliki :

 فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ
Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya

Melihat kekayaan yang ia miliki, sebagian manusia yang tidak berilmu silau hingga terbayang seandainya mereka juga memiliki apa yang dimiliki Qorun :

 قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia : Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar

Dengan sigap para ulama mengingatkan kekaguman masyarakat agar jangan ikut terlena dengan dunia yang ada pada sisi Qorun :

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu : Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar

Tidak lama setelah itu, Alloh memperlihatkan kekuasaannya dengan meneggelamkan Qorun beserta kekayaannya di bumi :

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

Melihat peristiwa ini, masyarakat yang sempat terkagum kepada Qorun dan kekayaannya bersyukur kepada Alloh karena tidak dijadikan sebagai bagian dari Qorun :

وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ  
Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata : Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)

Kisah di atas, Alloh firmankan di surat alqoshosh ayat 76-82. Semoga kita bisa mengambil manfaat, tidak silau dengan kehidupan dunia. Nas alulloha al’afiyah



K
L
L

Menelan Pasukan Pengejar Imam Mahdi




Manfaat Tanah (6)
عن أمِّ المؤمِنينَ أمِّ عبدِ اللهِ عائشةَ رضي الله عنها  قالت : قالَ رسول الله  صلى الله عليه وسلم  : يغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وآخِرِهِمْ قَالَتْ : قلتُ : يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بأوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهمْ أسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ ؟! قَالَ : يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيّاتِهمْ  مُتَّفَقٌ عَلَيهِa
Dari Ummul Mukminin Ummu Abdulloh Aisyah rodliyallohu anha, berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Akan ada pasukan yang menyerang ka’bah, hingga ketika mereka tiba di Baida (antara Mekah dan Madinah berupa dataran tinggi depan Dzul Hulaifah) maka seluruhnya akan ditenggelamkan baik dari awal hingga akhir pasukan. Aisyah bertanya : Ya rosululloh, bagaimana mungkin semuanya ditenggelamkan, sedangkan di dalamnya ada pasar-pasar mereka dan orang-orang yang bukan bagian mereka ? Beliau menjawab : Mereka semua ditenggelamkan lalu akan dibangkitkan pada hari kiamat sesuai dengan niat mereka  [muttafaq alaih]

Syaikh Salim Ied Alhilali menerangkan bahwa hadits ini berkaitan dengan peristiwa akhir zaman dimana pasukan besar itu mengejar imam Mahdi yang lari berlindung di ka’bah.

Ketika muncul pasukan besar, tentu  akan terjadi keramaian yang membuat orang penasaran untuk melihat. Selanjutnya para pedagang tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berkumpulnya manusia. Dari situlah lautan manusia akan terlihat yang terdiri dari pasukan besar yang akan menyerang ka’bah, penonton dan pedagang. Hingga bumi menelan mereka semua.

Kapan peristiwa ini terjadi ? Wallohu a’lam bish showab


Membantu Pengobatan




manfaat tanah (5) 

Selain mengkonsumsi obat dari dokter, alangkah baiknya seorang sakit menyempurnakan upaya penyembuhan dari penyakit dengan petunjuk rosululloh shollallohu alaihi wasallam sebagaimana yang dituturkan oleh Aisyah :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى الْإِنْسَانُ الشَّيْءَ مِنْهُ أَوْ كَانَتْ بِهِ قَرْحَةٌ أَوْ جُرْحٌ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِصْبَعِهِ هَكَذَا وَوَضَعَ سُفْيَانُ سَبَّابَتَهُ بِالْأَرْضِ ثُمَّ رَفَعَهَا بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
Dari 'Aisyah bahwa apabila seseorang mengadukan suatu penyakit yang dideritanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seperti sakit kudis, atau luka, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berucap sambil menggerakkan anak jarinya seperti ini -Sufyan meletakkan telunjuknya ke tanah, kemudian mengangkatnya- Bismillahi turbatu ardhina biriiqati ba'dhina liyusyfaa bihi saqiimuna bi idzni rabbina. (Dengan nama Allah, dengan debu di bumi kami, dan dengan ludah sebagian kami, semoga sembuhlah penyakit kami dengan izin Rabb kami). [muttafaq alaih]

Syaikh Salim Ied Alhilali menerangkan tentang teknis pelaksanaan hadits di atas yaitu membasahi jari telunjuk dengan ludah lalu menempelkannya ke tanah. Ketika ludah dan tanah sudah menyatu, diletakkan di organ tubuh yang sakit sambil dibacakan doa :

بِاسْمِ اللَّهِ تُرْبَةُ أَرْضِنَا بِرِيقَةِ بَعْضِنَا لِيُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا بِإِذْنِ رَبِّنَا
Maroji’ :
Bahjatun Nadzirin, Syaikh Salim Ied Alhilali  2/146