Mengambil Makanan Yang Jauh


Menjaga Wibawa (5)

Terkadang dalam satu perjamuan, selera makanan kita hilang manakala melihat orang lain tidak menampakkan etikanya. Dengan susah payah, mengambil makanan yang jauh, padahal di hadapannya ada makanan yang tidak kalah lezatnya. Dengan susah payah tangan berusaha menjangkau makanan yang dituju. Inilah yang pernah dilakukan oleh Amru Ibnu Abi Salamah ketika ia makanan di hadapan nabi shollallohu alaihi wasallam :

عن عمر بن أَبي سلمة قَالَ : كُنْتُ غلاَماً في حجر رَسُول الله  صلى الله عليه وسلم  وَكَانَتْ يَدي تَطِيشُ في الصَّحْفَةِ ، فَقَالَ لي رَسُول الله  صلى الله عليه وسلم يَا غُلامُ ، سَمِّ الله تَعَالَى ، وَكُلْ بيَمِينكَ ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ  فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتي بَعْدُ  

Dari Amru Bin Abi Salamah berkata : Saat aku masih kanak-kanak berada di bawah pengasuhan rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Saat itu tanganku meraih ke sana kemari di piring. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda kepadaku : Wahai anak kecil, bacalah basmallah, makanlah dengan tanganmu dan ambillah makanan yang dekat denganmu. Akhirnya cara makan seperti itulah yang terus aku lakukan [muttafaq alaih]


Qiron Dalam Makan Mengambil Makanan Terdekat


Menjaga Wibawa (4)

Qiron adalah memasukkan makanan ke mulut lebih dari satu. Bila dilakukan, mulut akan tampak kelebihan muatan dan mengunyah makanan akan terasa sulit. Lebih dari itu, terkesan yang bersangkutan adalah manusia rakus. Bila itu dilakukan di tengah-tengah manusia, akan menjatuhkan martabatnya terlebih kalau dia termasuk orang yang terpandang. Hadits di bawah ini bisa menjadi nasehat bagi kita agar beretika bila makan bersama orang lain :

عن جَبَلَة بن سُحَيْم ، قَالَ : أصَابَنَا عَامُ سَنَةٍ مَعَ ابن الزُّبَيْرِ ؛ فَرُزِقْنَا تَمْراً، وَكَانَ عبدُ الله بن عمر رضي الله عنهما يَمُرُّ بنا ونحن نَأكُلُ، فَيقُولُ : لاَ تُقَارِنُوا ، فإنَّ النَّبِيَّ  صلى الله عليه وسلم  نَهَى عنِ القِرَانِ ، ثُمَّ يَقُولُ : إِلاَّ أنْ يَسْتَأذِنَ الرَّجُلُ أخَاهُ . متفقٌ عَلَيْهِ .

Dari Jabalah Bin Suhaim berkata : Kami ditimpa masa paceklik bersama Ibnu Zubair. Akhirnya kami mendapat rezki berupa kurma. Abdulloh Bin Umar rodliyallohu anhuma melewati kami saat kami sedang makan. Ia berkata : Jangan melakukan qiron ! (memasukkan makanan ke mulut lebih dari satu) Karena nabi shollallohu alaihi wasallam melarang kami melakukan qiron lalu bersabda : Kecuali bila seseorang mengizinkan saudaranya untuk itu [muttafaq alaih]

Menghabiskan Segelas Air Dengan Satu Tegukan


Menjaga Wibawa (3)

Apa yang terjadi, bila satu botol air dihabiskan dengan satu tegukan ? Yang pertama kurang sedap dipandang karena terkesan tergesa-gesa. Tak jarang yang bersangkutan tersegak yang membuatnya akan batuk. Bila dilakukan orang terpandang, tentu akan mengurangi kehormatannya. Anas Bin Malik menceritakan tentang sifat minum nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَتَنَفَّسُ فِى الإِنَاءِ ثَلاَثًا وَيَقُولُ  هُوَ أَمْرَأُ وَأَرْوَى

Dari Anas Bin Malik, bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam biasa bernafas di bejana tiga kali (maksudnya minum dengan tiga kali bernafas) seraya bersabda : Itu lebih bermanfaat dan lebih nyaman [HR Tirmidzi]

Dalam hadits lain, orang yang minum dengan menghabiskan segelas air minum dengan sekali tegukan disamakan dengan onta :

عن ابن عباس رضي الله عنهما ، قَالَ : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لاَ تَشْرَبُوا وَاحِداً كَشُرْبِ البَعِيرِ ، وَلَكِنِ اشْرَبُوا مَثْنَى وَثُلاَثَ ، وَسَمُّوا إِذَا أنْتُمْ شَرِبْتُمْ ، وَاحْمَدُوا إِذَا أنْتُمْ رَفَعْتُمْ  

Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhuma berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :  Janganlah kalian minum dengan satu tegukan seperti minumnya onta. Akan tetapi minumlah dua atau tiga kali. Bacalah bismillah bila minum dan bacalah hamdallah bila kalian mengangkatnya [HR Tirmidzi]

Tertawa Terbahak-Bahak


Menjaga Wibawa (2)

Tertawa hukumnya boleh dengan syarat tidak dilakukan sering karena ia akan mematikan hati. Imam Bukhori dalam al adab almufrod menyitir riwayat marfu’ dari Abu Huroiroh :

لَا تُكْثِر الضَّحِك فَإِنَّ كَثْرَة الضَّحِك تُمِيت الْقَلْب

Jangan banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati

Selain itu seorang harus mengendalikan mulutnya agar tidak terbuka lebar. Berarti tertawa terbahak, tentu tidak layak dilakukan seorang muslim. Aisyah bercerita tentang bagaimana nabi shollallohu alaihi wasallam tertawa :

عن عائشة رضي الله عنها ، قالت : مَا رَأيْتُ رسول الله صلى الله عليه وسلم مُسْتَجْمِعاً قَطُّ ضَاحِكاً حَتَّى تُرَى مِنهُ لَهَوَاتُهُ ، إنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ  

Dari Aisyah rodliyallohu anha berkata : Aku belum pernah sekalipun melihat rosululloh shollallohu alaihi wasallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat langit mulutnya. Yang beliau biasa lakukan tidak lain adalah tersenyum [muttafaq alaih]

Kenapa berlebihan dalam tertawa dilarang ? Ibnu Hajar Al Atsqolani berkata :

وَالْمَكْرُوه مِنْ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الْإِكْثَار مِنْهُ أَوْ الْإِفْرَاط فِيهِ لِأَنَّهُ يُذْهِب الْوَقَار

Yang dimakruhkan dalam masalah ini adalah memperbanyak tertawa dan berlebihan dalam melakukannya karena akan menghilangkan kewibawaan

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 17/261

Telanjang Di Hadapan Orang


Menjaga Wibawa (1)

Ini adalah perbuatan tidak pantas dilakukan oleh seorang mukmin. Oleh karena itu, Musa tidak mau mandi bersama kaumnya yang terbiasa mandi berjamaah. Mereka telanjang hingga satu sama lain bisa melihat aurot temannya.

Mukmin itu terhormat. Oleh karena itu tidak selayaknya memperlihatkan aurot kita di hadapan orang lain. Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ  لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ وَلاَ يُفْضِى الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تُفْضِى الْمَرْأَةُ إِلَى الْمَرْأَةِ فِى الثَّوْبِ الْوَاحِدِ  

Dari Abu Said Al-Khudri dari bapaknya bahwasanya Rasulullah shollallohu alaihi wasallam bersabda : Janganlah pria melihat aurat pria yang lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita yang lain, dan janganlah pria berkumpul dengan pria lain dalam satu selimut, dan janganlah wanita berkumpul dengan wanita lain dalam satu selimut [Muslim dan at-Tirmidzi]

عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ قَالَ أَقْبَلْتُ بِحَجَرٍ أَحْمِلُهُ ثَقِيلٍ وَعَلَىَّ إِزَارٌ خَفِيفٌ فَانْحَلَّ إِزَارِى وَمَعِىَ الْحَجَرُ لَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أَضَعَهُ حَتَّى بَلَغْتُ بِهِ إِلَى مَوْضِعِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ارْجِعْ إِلَى ثَوْبِكَ فَخُذْهُ وَلاَ تَمْشُوا عُرَاةً  

Dari Miswar Bin Makhromah berkata : Aku mendatangi batu berat yang aku memikulnya sementara kain sarungku pendek. Tiba-tiba kain sarungku terlepas. Aku tidak mampu untuk meletakkannya hingga sampai di tempat batu dikumpulkan. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : kembalilah menuju kain sarungmu yang terlepas, lalu ambillah dan jangan berjalan dalam keadaan telanjang [HR Muslim]

Sebelum diutus sebagai rosul, nabi shollallohu alaihi wasallam pernah sekali tersingkap aurotnya saat beliau ikut andil merenofasi ka’bah. Saat itu beliau berusia 15 tahun sebagaimana yang disebut oleh Ibnu Bathol :

عَنِ جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ لَمَّا بُنِيَتِ الْكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم وَعَبَّاسٌ يَنْقُلاَنِ حِجَارَةً فَقَالَ الْعَبَّاسُ لِلنَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى عَاتِقِكَ مِنَ الْحِجَارَةِ. فَفَعَلَ فَخَرَّ إِلَى الأَرْضِ وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَامَ فَقَالَ  إِزَارِى إِزَارِى  فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ

Dari Jabir Bin Abdulloh berkata : Ketika ka’bah dibangun, nabi shollallohu alaihi wasallam pergi bersama Abbas untuk ikut serta mengangkat batu. Abbas berkata kepada nabi shollallohu alaihi wasallam : Ikat kain sarungmu pada pundakmu untuk memikul batu. Beliau segera melakukannya. Tiba-tiba beliau terjatuh ke tanah. Kedua mata beliau memandang ke langit lalu bersabda : Kain sarungku ! Kain Sarungku ! Beliau segera mengikat kembali kain sarungnya [HR Muslim]

عَنِ جَابِر بْن عَبْدِ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَنْقُلُ مَعَهُمُ الْحِجَارَةَ لِلْكَعْبَةِ وَعَلَيْهِ إِزَارُهُ فَقَالَ لَهُ الْعَبَّاسُ عَمُّهُ يَا ابْنَ أَخِى لَوْ حَلَلْتَ إِزَارَكَ فَجَعَلْتَهُ عَلَى مَنْكِبِكَ دُونَ الْحِجَارَةِ فَحَلَّهُ فَجَعَلَهُ عَلَى مَنْكِبِهِ فَسَقَطَ مَغْشِيًّا عَلَيْهِ فَمَا رُؤِىَ بَعْدَ ذَلِكَ الْيَوْمِ عُرْيَانًا.

Dari Jabir Bin Abdulloh, bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam ikut mengangkat batu untuk pembangunan ka’bah, sementara beliau mengenakan sarung. Abbas, paman beliau berkata kepadanya : Wahai kemenakanku, seandainya engkau lepas dulu kain sarungmu lalu engkau ikat di pundakmu untuk menahan batu. Beliaupun segera meleaskannya untuk mengikatnya di pundaknya. Tiba-tiba beliau jatuh yang membuatnya pingsan. Setelah hari itu tidak pernah lagi beliau terlihat telanjang (tersingkap aurotnya) [HR Muslim]

Kejadian ini hanya terjadi sekali seumur hidup beliau. Ini menunjukkan penjagaan Alloh terhadap kemuliaan pribadi rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Imam Nawawi berkata :

وَفِي هَذَا الْحَدِيث بَيَان بَعْض مَا أَكْرَم اللَّه سُبْحَانه وَتَعَالَى بِهِ رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ مَصُونًا مَحْمِيًّا فِي صِغَره عَنْ الْقَبَائِح وَأَخْلَاق الْجَاهِلِيَّة

Hadits ini merupakan penjelasan sebagian pemuliaan Alloh Subhanahu Wata’ala kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Beliau dalam keadaan terjaga saat masih kecil dari sifat-sifat buruk dan akhlaq jahiliyyah

Maroji’ :

Syarh Ibnu Bathol 3/25