Tidak menyambung Adzan dengan iqomat


                                                    Adzan (17)

Terkadang kita jumpai di sebuah masjid, selepas adzan muadzin langsung mengumandangkan iqomat. Ini adalah satu kesalahan karena diantara waktu mustajab untuk berdoa adalah antara adzan dan iqomat :

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يُرَدُّ اَلدُّعَاءُ بَيْنَ اَلْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ  

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Doa antara adzan dan qomat itu tidak akan ditolak [HR Nasa'i]

Disamping itu juga ada anjuran dari nabi shollallohu alaihi wasallam untuk menunaikan sholat sunnah :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ الْمُزَنِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ ثَلاَثًا لِمَنْ شَاءَ  

Dari Abdulloh Bin Mughoffal Almuzanni bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Antara adzan dan iqomat ada sholat sunnah. Beliau ucapkan tiga kali lalu bersabda lagi : Bagi siapa yang mau [HR Bukhori]

Adzan Saat Hujan Turun Dengan Deras


                                                 Adzan (16)

Lafadz hayya ‘alash sholah diganti dengan alaa sholluu firrohal (Shalatlah di tempat tinggal kalian)

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ

Dari Malik dari Nafi', bahwa Ibnu 'Umar pernah mengumandangkan adzan pada suatu hari yang dingin dan berangin. Kemudian ia berkata, "Shalatlah di tempat tinggal kalian." Ia melanjutkan perkataannya, "Jika malam sangat dingin dan hujan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan seorang mu'adzin untuk mengucapkan: "Hendaklah kalian shalat di tempat tinggal kalian  [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Malik dan Ibnu Majah]

Attatswib Di Adzan Shubuh


                                                Adzan (15)

Attatswib adalah bacaan ash sholatu khoirun minannaum :

عَنْ أَنَسٍ قَالَ: مِنْ اَلسُّنَّةِ إِذَا قَالَ اَلْمُؤَذِّنُ فِي اَلْفَجْرِ: حَيٌّ عَلَى اَلْفَلَاحِ قَالَ: اَلصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ اَلنَّوْمِ

Dari Anas r.a ia berkata : Termasuk sunnah adalah bila muadzin pada waktu fajar telah membaca hayya 'alash sholaah ia mengucapkan assholaatu khairum minan naum [Ibnu Khuzaimah]

Perbedaan Adzan Bilal Dan Abu Mahdzuroh


                                                     Adzan (14)

Adzan bilal adalah adzan yang kita dengar di setiap hari yang berkumandang di masjid-masjid. Adapun Abu Mahdzuroh takbir di awal dan akhir hanya dua kali. Ini berbeda dengan Bilal yang bertakbir empat kali di awal dan dua kali di akhir. Perbedaan lainnya adalah adanya tarji’ yaitu membaca syahadat dua kali dengan pelan lalu diulangi dengan keras dua kali :

عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَلَّمَهُ اَلْآذَانَ فَذَكَرَ فِيهِ اَلتَّرْجِيعَ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَلَكِنْ ذَكَرَ اَلتَّكْبِيرَ فِي أَوَّلِهِ مَرَّتَيْنِ فَقَطْ. وَرَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ فَذَكَرُوهُ مُرَبَّعًا 

Dari Abu Mahdzurah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengajarinya adzan lalu beliau menyebut tarji' (mengulangi dua kali pada lafadz syahadat). Dikeluarkan oleh Muslim namun ia hanya menyebutkan takbir dua kali pada permulaan adzan. Riwayat Imam Lima dengan menyebut takbir empat kali.

Perbedaan Mengumandangkan Adzan Dan Iqomat


                                                Adzan (13)

Lafadz adzan lebih banyak dari iqomat. Adapun cara mengumandangkannya iqomat diucapkan lebih cepat dari adzan :

عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِبِلَالٍ إِذَا أَذَّنْتَ فَتَرَسَّلْ  وَإِذَا أَقَمْتُ فَاحْدُرْ  وَاجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ قَدْرَ مَا يَفْرُغُ اَلْآكِلُ مِنْ أَكْلِهِ  

Dari Jabir Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Bilal : Jika engkau menyeru adzan perlambatlah dan jika engkau qomat percepatlah dan jadikanlah antara adzan dan qomatmu itu kira-kira orang yang makan telah selesai dari makannya  [HR Tirmidzi, dloif]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ اَلْآذَانَ وَيُوتِرَ اَلْإِقَامَةَ إِلَّا اَلْإِقَامَةَ يَعْنِي قَوْلَه : قَدْ قَامَتِ اَلصَّلَاةُ  

Anas Radliyallaahu 'anhu berkata : Bilal diperintahkan untuk menggenapkan kalimat adzan dan mengganjilkan kalimat qomat kecuali kalimat iqomat yakni qod qoomatish sholaah. [Muttafaq Alaihi]  

Hikmah dari pensyariatan ini adalah :

الْحِكْمَة فِي إِفْرَاد الْإِقَامَة وَتَثْنِيَة الْأَذَان أَنَّ الْأَذَان لِإِعْلَامِ الْغَائِبِينَ . فَيُكَرِّر لِيَكُونَ أَبْلَغ فِي إِعْلَامهمْ ، وَالْإِقَامَة لِلْحَاضِرِينَ ، فَلَا حَاجَة إِلَى تَكْرَارهَا

Adzan adalah panggilan bagi orang yang ada di luar masjid maka dikumandangkan berulang agar lebih mengena saat menyeru mereka. Adapun iqomat adalah seruan bagi orang yang sudah berada di dalam masjid, oleh karena itu tidak diperlukan lagi pengulangan