Adzan Ketika Melihat Hantu


                                                 Adzan (22)

Sebagaimana sudah dibahas, bahwa adzan adalah suara yang sangat ditakuti oleh setan maka tidak sedikit ulama yang menganjurkan dilakukan ketika melihat penampakan hantu :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سِرْتُمْ فِي الْخِصْبِ ، فَأَمْكِنُوا الرِّكَابَ أَسْنَانَهَا ، وَلاَ تُجَاوِزُوا الْمَنَازِلَ ، وَإِذَا سِرْتُمْ فِي الْجَدْبِ ، فَاسْتَجِدُّوا ، وَعَلَيْكُمْ بِالدَّلْجِ ، فَإِنَّ الأَرْضَ تُطْوَى بِاللَّيْلِ ، وَإِذَا تَغَوَّلَتْ لَكُمُ الْغِيلاَنُ ، فَبَادَرُوا بِالأَذَانِ ، وَإِيَّاكُمْ وَالصَّلاَةَ عَلَى جَوَادِّ الطَّرِيقِ ، وَالنُّزُولَ عَلَيْهَا ، فَإِنَّهَا مَأْوَى الْحَيَّاتِ ، وَالسِّبَاعِ ، وَقَضَاءِ الْحَاجَةِ ، فَإِنَّهَا الْمَلاَعِنُ

Dari Jabir bin Abdullah berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Jika kalian melewati tanah yang subur maka berikanlah kendaraan kesempatan untuk (makan) dan janganlah terburu-buru ke rumah. Jika kalian melewati tanah yang tandus maka percepatlah dan lakukan perjalanan di waktu malam, karena bumi itu pada malam hari dilipat (didekatkan), jika ada penampakan hantu maka kumandangkan adzan, tapi hindarilah sholat di jalan dan tempat istirahatnya karena itu adalah tempat ular, hewan ternak dan tempat membuang air besar karena perbuatan itu adalah terlaknat [HR Ahmad]

Adzan untuk bayi


                                                          Adzan (21)

Sebagian ulama menilai adzan bagi yang baru lahir adalah masyru berdasar hadits :

عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ

Dari 'Ubaidullah bin Abu Rafi' dari bapaknya ia berkata : Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengumandangakan adzan layaknya adzan shalat pada telinga Al Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh ibunya, Fatimah." [HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi]

عَنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ  

Dari Hasan Bin Ali rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa bayinya terlahir lalu dikumandangkan adzan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin perempuan) tidak akan akan bisa mengganggunya [HR Abu Ya’la]

Dua hadits di atas diperselisihkan para ulama tentang keshahihannya. Ada yang menilai dloif dan ada juga yang menshohihkannya

Tidak Diperkenankan Menunaikan Sholat Sunnah Ketika Iqomat Sudah Berkumadang


                                   Adzan (20)

Bagi yang berniat hendak menunaikan sholat tahiyatul masjid atau rowatib maka niat itu harus diurungkan. Sementara yang sedang menunaikan sholat sunnah, maka dihentikan sholatnya. Ini mengacu kepada benturan antara kepentingan menunaikan sholat fardlu dan sunnah. Sebagaimana kita ketahui bahwa bila ibadah wajib dan sunnah bertemu maka ibadah wajib yang dimenangkan. Secara khusus, dalam masalah ini rosululloh bersabda

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ  

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda : Jika iqamat telah dikumandangkan, maka tak ada shalat selain shalat wajib  [HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Darimi]

Kapan Jamaah berdiri ?


                                                       Adzan (19)

Di sebagian masjid, sebelum iqomat berkumandang, imam sudah meminta jamaah untuk berdiri. Disitulah imam mengatur barisan sholat. Sehingga ketika shof sudah terlihat rapi maka iqomat baru dikumandangkan.

Menurut syariat, makmum diperbolehkan berdiri bila imam sudah terlihat datang. Hal ini berdasar pada sebuah hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِي

Dari Bapaknya berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Jika iqamah telah dikumandangkan maka janganlah berdiri hingga kalian melihat aku [HR Bukhori Muslim]

Bila melihat pendapat madzhab, imam Syafi’i menilai waktu berdiri adalah ketika iqomat sudah sampai pada kalimat “ qod qomatish sholah “. Sementara imam Hanafi berpendapat berdirinya makmum pada kalimat “ hayya ‘alash sholah “

Jarak Antara Adzan Dan Iqomah


                                                            Adzan (18)

Tidak sepantasnya iqomat dikumandangkan setelah adzan tanpa adanya jeda. Bukankah di sana ada waktu mustajab untuk berdoa ? Kita juga tahu sholat-sholat rowatib yang mengiringi sholat wajib yang dilaksanakan sebelum dan sesudah sholat fardlu. Lalu kapan iqomat ditegakkan ?

Yang menentukan kapan iqomat dikumandangkan adalah imam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم اَلْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ  وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ  

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Muadzin itu lebih berhak untuk adzan dan imam itu lebih berhak untuk qomat  [HR Ibnu Adiy, lemah]

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa setelah adzan dikumandangkan Bilal, rosululloh shollallohu alaihi wasallam kedatangan tamu. Pembicaraan begitu serius hingga memakan waktu cukup lama. Apa akibatnya ? Ternyata para sahabat terkantuk-kantuk bahkan ada diantara mereka yang terdengar dengkuran. Meski demikian, Bilal sama sekali tidak berani mengumandangkan iqomat. Hingga akhirnya urusan selesai dan rosululloh shollalohu alaihi wasallam tiba di masjid, Bilalpun segera berdiri untuk beriqomat. Hadits yang menceritakan peristiwa ini adalah :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى عَهْدِهِ يَنْتَظِرُونَ اَلْعِشَاءَ حَتَّى تَخْفِقَ رُؤُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلَا يَتَوَضَّئُونَ  

Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu berkata: pernah para shahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada jamannya menunggu waktu isya' sampai kepala mereka terangguk-angguk (karena kantuk) kemudian mereka shalat dan tidak berwudlu [HR Abu Dawud]

Dalil lain yang menunjukkan hak waktu iqomat ada di tangan imam adalah pernyataan dari Jabir Bin Abdulloh :

عَنْ جَابِرٍ وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا وَأَحْيَانًا إِذَا رَآهُمْ اِجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ أَبْطَئُوا أَخَّرَ  وَالصُّبْحَ: كَانَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ  

Dari Jabir: Adakalanya beliau melakukan shalat Isya' pada awal waktunya dan adakalanya beliau melakukannya pada akhir waktunya. Jika melihat mereka telah berkumpul beliau segera melakukannya dan jika melihat mereka terlambat beliau mengakhirkannya.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ كَانَ بِلَالٌ يُؤَذِّنُ إِذَا دَحَضَتْ فَلَا يُقِيمُ حَتَّى يَخْرُجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا خَرَجَ أَقَامَ الصَّلَاةَ حِينَ يَرَاهُ

Dari Jabir bin Samurah dia berkata ; Bilal pernah mengumandangkan adzan ketika matahari condong ke sebelah barat, sementara ia tidak mengumandangkan iqamat hingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam muncul. Ketika beliau muncul, maka Bilal mengumandangkan iqamat yaitu ketika ia melihat beliau [HR Muslim dan Ahmad]