Membaca Alfatihah Di Belakang Imam Dalam Pandangan Hanafi


Alfatihah (8)

Berkata penulis aunul ma’bud :

وَقَالَ سُفْيَان الثَّوْرِيّ وَأَصْحَاب الرَّأْي لَا يَقْرَأ أَحَد خَلْف الْإِمَام جَهَرَ أَوْ أَسَرَّ   

Berkata Sufyan Ats Tsauri dan ash haburro’yi (pendukung qiyas, logika) : Tidak boleh membaca bagi seseorang di belakang imam saat sholat jahr (maghrib, isya dan shubuh) ataupun sholat sirr (dzuhur dan ashar)

Pendapat mereka didasarkan pada hadits :

 عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَإِنَّ قِرَاءَةَ الإِمَامِ لَهُ قِرَاءَةٌ   

Dari Jabir berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa sholat bersama imam, maka bacaan imam sudah menjadi bacaan baginya [HR Ahmad dan Ibnu Majah] 

Maroji’ :

Aunul Ma’bud 2/330


Hukum Bagi Orang Yang Belum Hafal Surat Alfatihah


Alfatihah (7)

Bagi orang yang baru masuk islam tentu belum mengenal surat alfatihah, sementara dirinya dihadapkan dengan perintah sholat. Lalu bagaimana dengan sholatnya ? Syahkah sholat tanpa membaca alfatihah bagi muallaf ? Jawabannya syah karena salah satu prinsip dalam islam adalah menginginkan kemudahan bukan menghendaki kesulitan. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberikan bimbingan kepada seorang yang baru bersyahadat :

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنْ اَلْقُرْآنِ شَيْئًا  فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِيٌ مِنْهُ قَالَ سُبْحَانَ اَللَّهِ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ  وَلَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ  وَلَا حَوْلٌ وَلَا قُوَّةً إِلَّا بِاَللَّهِ اَلْعَلِيِّ اَلْعَظِيمِ . . .  

Dari Abdullah Ibnu Aufa Radliyallaahu 'anhu berkata : Ada seorang laki-laki datang menghadap Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seraya berkata : Sungguh aku ini tidak bisa menghafal satu ayat pun dari al-Qur'an maka ajarilah diriku sesuatu yang cukup bagiku tanpa harus menghapal al Qur'an. Beliau bersabda : Bacalah subhanallaah walhamdulillah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illa billaahil 'aliyyil 'adziim (artinya : Maha Suci Allah segala puji hanya bagi Allah tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan Allah Maha Besar tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah yang Maha Tinggi lagiMaha Agung).[HR Ahmad Abu Dawud dan Nasa'i]  

Imam Shon’ani berkata tentang hadits di atas :

الْحَدِيثُ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ هَذِهِ الْأَذْكَارَ قَائِمَةٌ مَقَامَ الْقِرَاءَةِ لِلْفَاتِحَةِ وَغَيْرِهَا لِمَنْ لَا يُحْسِنُ ذَلِكَ ، وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ تَعَلُّمُ الْقُرْآنِ لِيَقْرَأَ

Hadits di atas merupakan dalil bahwa dzikir-dzikir yang dimaksud menempati posisi bacaan alfatihah dan selainnya bagi yang belum menguasai dengan baik bacaan alfatihah

Sementara dalam kitab aunul ma’bud disebutkan :

اِعْلَمْ أَنَّ هَذِهِ الْوَاقِعَة لَا تَجُوز أَنْ تَكُون فِي جَمِيع الْأَزْمَان لِأَنَّ مَنْ يَقْدِر عَلَى تَعَلُّم هَذِهِ الْكَلِمَات لَا مَحَالَة يَقْدِر عَلَى تَعَلُّم الْفَاتِحَة  

Ketahuilah bahwa kondisi seperti ini (membaca bacaan dzikir sebagai pengganti bacaan alfatihah) tidak boleh berlangsung sepanjang waktu karena siapa yang memiliki kemampuan untuk mempelajari bacaan dzikir ini tentu tidak mustahil baginya untuk mempelajari bacaan alfatihah

Maroji’ :

Aunul ma’bud 2/333

Kedudukan Alfatihah Dalam Sholat


Alfatihah (6)

Sholat tidak bisa dipisahkan dengan surat alfatihah karena ia bagian dari rukun. Beberapa hadits di bawah ini adalah buktinya :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَهْىَ خِدَاجٌ  يَقُولُهَا ثَلاَثًا  

Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh shollallohu alaihiwasallam bersabda : Barangsiapa yang menunaikan sholat tidak membaca surat alfatihah, maka sholatnya dinilai cacat [HR Muslim, Malik, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah]

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ اَلصَّامِتِ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِأُمِّ اَلْقُرْآنِ  

Dari Ubadah Ibnu al-Shomit bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Tidak sah sholat bagi orang yang tidak membaca Ummul Qur'an (al-fatihah) [Muttafaq Alaihi]

وَفِي رِوَايَةٍ  لِابْنِ حِبَّانَ وَاَلدَّارَقُطْنِيِّ لَا تَجْزِي صَلَاةٌ لَا يُقْرَأُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ اَلْكِتَابِ  

Dalam suatu riwayat Ibnu Hibban dan Daruquthni : Tidak sah sholat yang tidak dibacakan al-fatihah di dalamnya

Imam Nawawi mengomentari hadits-hadits di atas dengan mengatakan :

هُوَ دَلِيلٌ عَلَى نَفْيِ الصَّلَاةِ الشَّرْعِيَّةِ إذَا لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا الْمُصَلِّي بِالْفَاتِحَةِ

Ini merupakan dalil akan penafiaan (peniadaan, vonis tidak syah) sholat secara syar’i bila seorang yang sholat tidak membaca alfatihah di dalamnya

Alfatihah Sebagai Ruqyah


Alfatihah (5)

Penyakit bisa disembuhkan dengan dua cara. Yang pertama dengan berobat. Hal ini berdasar pada sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ  

Dari Abu Darda berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Alloh menurunkan penyakit dan obat dan Alloh menjadikan setiap penyakit ada obatnya. Oleh karena itu berobatlah dan jangan berobat dengan yang haram [HR Abu Daud]

Cara kedua adalah dengan ruqyah (jampi) dan doa. Ada banyak wirid yang diajarkan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam. Akan tetapi sebaik-baik bacaan untuk menyembuhkan penyakit adalah surat alfatihah. Ini sudah dibuktikan oleh seorang sahabat sebagaimana yang telah diceritakan oleh Abu Sa’id Alkhudzriyyi :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ رضى الله عنه قَالَ انْطَلَقَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فِى سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا حَتَّى نَزَلُوا عَلَى حَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ ، فَأَبَوْا أَنْ يُضَيِّفُوهُمْ ، فَلُدِغَ سَيِّدُ ذَلِكَ الْحَىِّ ، فَسَعَوْا لَهُ بِكُلِّ شَىْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ شَىْءٌ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَوْ أَتَيْتُمْ هَؤُلاَءِ الرَّهْطَ الَّذِينَ نَزَلُوا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ عِنْدَ بَعْضِهِمْ شَىْءٌ ، فَأَتَوْهُمْ ، فَقَالُوا يَا أَيُّهَا الرَّهْطُ ، إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ ، وَسَعَيْنَا لَهُ بِكُلِّ شَىْءٍ لاَ يَنْفَعُهُ ، فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ مِنْ شَىْءٍ فَقَالَ بَعْضُهُمْ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّى لأَرْقِى ، وَلَكِنْ وَاللَّهِ لَقَدِ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَلَمْ تُضِيِّفُونَا ، فَمَا أَنَا بِرَاقٍ لَكُمْ حَتَّى تَجْعَلُوا لَنَا جُعْلاً . فَصَالَحُوهُمْ عَلَى قَطِيعٍ مِنَ الْغَنَمِ ، فَانْطَلَقَ يَتْفِلُ عَلَيْهِ وَيَقْرَأُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) فَكَأَنَّمَا نُشِطَ مِنْ عِقَالٍ ، فَانْطَلَقَ يَمْشِى وَمَا بِهِ قَلَبَةٌ ، قَالَ فَأَوْفَوْهُمْ جُعْلَهُمُ الَّذِى صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ ، فَقَالَ بَعْضُهُمُ اقْسِمُوا . فَقَالَ الَّذِى رَقَى لاَ تَفْعَلُوا ، حَتَّى نَأْتِىَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَنَذْكُرَ لَهُ الَّذِى كَانَ ، فَنَنْظُرَ مَا يَأْمُرُنَا . فَقَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرُوا لَهُ ، فَقَالَ وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ثُمَّ قَالَ قَدْ أَصَبْتُمُ اقْسِمُوا وَاضْرِبُوا لِى مَعَكُمْ سَهْمًا  فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  

Dari Abu Sa’id rodliyallohu anhu berkata : Sejumlah sahabat nabi shollallohu alaihi wasallam pergi dalam sebuah safar yang mereka jalani hingga mereka singgah di sebuah perkampungan Arab. Mereka meminta dijamu, akan tetapi penduduk enggan memberikan perjamuan untuk mereka. Tiba-tiba pemimpin kampung itu terkena sengatan binatang. Penduduk sudah berusaha dengan segala cara untuk menolong akan tetapi tidak mendatangan hasil sedikitpun. Berkatalah salah seorang penduduk : Seandainya kalian mendatangi rombongan musafir yang telah singgah. Semoga sebagian mereka memiliki sesuatu. Pendudukpun segera mendatangi mereka seraya berkata : Wahai rombongan, sesungguhnya pemimpin kami terkena sengatan binatang. Kami sudah berusaha dengan segala cara akan tetapi tidak mendatangkan hasil sedikitpun. Apakah kalian memiliki sesuatu ? Sebagian dari rombongan itu berkata : Benar, demi Alloh kami bisa meruqyah. Akan tetapi demi Alloh, kami telah meminta perjamuan kepada kalian, akan tetapi kalian menolak menjamu kami. Kami tidak akan meruqyah kecuali kalau kalian memberikan upah. Merekapun sepakat untuk memberi beberapa ekor kambing. Pergilah seorang dari rombongan itu. Ia beri ludah dan membaca “ alhamdulillahi robbil ‘alamin “. Pemimpin kaum itupun sembuh seolah baru saja lepas dari ikatan. Ia pergi berjalan tanpa halangan. Penduduk menunaikan janji berupah upah kepada rombongan itu sesuai dengan yang mereka sepakati. Sebagian dari rombongan itu berkata “ Mari segera dibagi ! “. Berkatalah orang yang meruqyah “ Jangan kalian lakukan  hingga kita mendatangi nabi shollallohu alaihi wasallam untuk menceritakan masalah ini. Kita tunggu apa yang beliau perintahkan untuk kita. Mereka menghadap rosululloh shollallohu alaihi wasallam lalu menceritakan hal itu kepada beliau. Beliau bersabda : Tidakkah kalian tahu, bukankah alfatihah adalah ruqyah ? Lalu beliau bersabda : Kalian telah melakukan perbuatan yang benar. bagikanlah dan masukkan aku bersama kalian untuk mendapatkan bagian. Rosululloh shollallohu alaihi wasallampun tertawa [HR Bukhori, Ahmad dan Tirmidzi]

Alfatihah Adalah Surat Paling Agung Dalam Alquran


Alfatihah (4)

Inilah yang dijelaskan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam kepada Abu Sa’id Bin Almu’alla saat keduanya berada di depan pintu masjid :

عَنْ أَبِى سَعِيدِ بْنِ الْمُعَلَّى قَالَ كُنْتُ أُصَلِّى فِى الْمَسْجِدِ فَدَعَانِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ أُجِبْهُ ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى كُنْتُ أُصَلِّى . فَقَالَ أَلَمْ يَقُلِ اللَّهُ ( اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ ) ثُمَّ قَالَ لِى لأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِىَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِى الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ. ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِى ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ قُلْتُ لَهُ أَلَمْ تَقُلْ لأُعَلِّمَنَّكَ سُورَةً هِىَ أَعْظَمُ سُورَةٍ فِى الْقُرْآنِ. قَالَ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ) هِىَ السَّبْعُ الْمَثَانِى وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِى أُوتِيتُهُ  

Dari Abu Said Bin Mualla : Aku sedang sholat di masjid. Tiba-tiba rosululloh shollallohu alaihi wasallam memanggilku, akan tetapi aku tidak menjawabnya. Aku berkata : Ya rosululloh, sesungguhnya aku tadi sedang sholat. Beliau bersabda : Bukankah Alloh berfirman “ Penuhi panggilan Alloh dan rosulNya bila memanggilmu “. Setelah itu beliau bersabda kepadaku : Benar-benar aku akan ajarkan kepadamu satu surat dimana ia adalah surat paling agung dalam alquran sebelum engkau keluar dari masjid ? Lalu beliau mengambil tangaku. Ketika beliau hendak keluar, aku berkata : Bukankah engkau tadi bersabda : Benar-benar aku akan ajarkan kepadamu satu surat dimana ia adalah surat paling agung dalam alquran ? Beliau bersabda : Alhamdulillahirobbil ‘alamin, ia adalah assab’ulmatsani dan alquran yang paling agung dimana aku telah didatangkan kepadaku [HR Bukhori, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Majah, Addarimi dan Ibnu Khuzaimah]