Corona Itu Lemah



Antara Thoun Dan Corona (27)

Syaikh Abdulloh Azzam pernah bertanya kepada para mujahidin yang sedang berjihad melawan penjajahan Soviet “ Mana yang lebih besar, Amerika atau Alloh ? “ Mana yang lebih besar, Rusia atau Alloh ? “. Mana yang lebih besar, Israel atau Alloh ? “. Pertanyaan-pertanyaan ini membuat bingung murid-muridnya, meski mereka akhirnya menjawab “ Alloh lebih besar dari Amerika, Soviet dan Israel ! “. Beliaupun berkata : Bila seluruh umat islam memahami bahwa Alloh adalah Akbar, tidak mungkin orang-orang kafir bisa menguasai dunia ini. Mustahil mereka bisa mempermainkan kaum muslimin. Tidak akan terjadi negara Israel yang kecil mampu menjajah Palestina selama berpuluh tahun dan menzalimi penduduknya padahal mereka dikepung bangsa-bangsa Arab. Sekali lagi, tidak akan terjadi umat islam dipimpin oleh pemimpin yang menjalankan kekuasaannya dengan kedustaan dan kesewenang-wenangan.

Demikian juga dengan corona. Covid 19 bila dihadapkan dengan thoun, tidak ada apa-apanya. Virus corona begitu mudahnya mati oleh sabun. Saat menyerang tubuh, imun seseorang akan menjadi faktor utama yang menghadapinya, bukan obat !

Imun itu berasal dari tawakal dan sikap optimis serta keyakinan bahwa corona adalah makhluq lemah. Bukankah manusia makhluq paling mulia ? Kenapa harus merasa hina di hadapan virus ini ?

Sikap Saat Corona Merebak



Antara Thoun Dan Corona (26)

Postingan di TV, radio dan medsos lebih mengarah ke berita yang membuat perasaan menjadi cemas. Keluar rumah diliputi perasaan takut bila tiba-tiba corona terbang lalu menghinggap di tubuh. Suhu tubuh panas sedikit sudah disimpulkan bahwa itu adalah covid 19.

Mental seperti ini akan menurunkan imun tubuh. Bukankah satu vaktor penangkal virus salah satunya adalah imun tubuh yang baik ? Oleh karena itu, sikap optimis harus ditanamkan. Ia adalah bagian dari ajaran islam. Dalam sebuah hadits disebutkan :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  رضى الله عنه  عَنِ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم  قَالَ  لاَ عَدْوَى ، وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ  قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ  كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ

Dari Anas Bin Malik rodliyallohu anhu, dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Tidak ada adwa (penularan penyakit, maksudnya tidak mungkin penyakit menular tanpa izin Alloh) dan tidak ada thiyaroh (kepercayaan celaka dan tidaknya seseorang karena faktor burung tertentu) dan aku yang senangi adalah alfa-lu (optimis). Mereka bertanya : Apakah itu alfa-lu ? Beliau menjawab : Kalimat yang bagus (saat timbul was-was karena melihat sesuatu) [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi]

Inilah optimis. Senjata ampun untuk menangkal perasaan resah gelisah. Bila ini sudah tertanam dengan baik, maka Allohpun akan menyikapi hambaNya sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. Sebuah hadits menyebutkan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى    

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Alloh Ta’ala berfirman : Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu. Aku bersamanya bila dia mengingatKu. Bila dia mengingatKu [muttafaq alaih]

Bagaimana cara menanamkan optimis saat covid 19 sedang mewabah ? Alangkah baiknya bila pasien corona yang sembuh setelah mendapat perawatan di rumah sakit diwartakan. Hakekat virus ini yang sebanarnya lemah dan bisa diatasi sebagaimana banyak diutarakan para ahli dishare. Dan yang lebih penting dari itu adalah keyakinan bahwa kita masih punya Rob, yaitu Alloh Azza Wajalla yang akan melindungi hamba yang selalu bersandar kepadaNya.

Dzikir Penghilang Keresahan Akibat Corona



Antara Thoun Dan Corona (25)

Saat corona merebak, hati manusia diliputi cemas. Rasa takut bila wabah menyerang dirinya sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan. Para pedagang mengeluh, omsetnya berkurang drastis. Pengemudi ojek online resah karena jarang mendapat order.

Islam memberi solusi lewat dzikir agar semua kecemasan dan rasa sedih hilang dan ekonomi kembali normal. Dzikir itu adalah banyak membaca istighfar. Sebuah hadits menyebutkan :

عن ابن عباس رضي الله عنهما ، قال : قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ لَزِمَ الاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجاً ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً ، وَرَزَقهُ مِنْ حَيثُ لاَ يَحْتَسِبُ

Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhuma berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa merutinkan bacaan istighfar maka Alloh akan menjadikan setiap kesulitan selalu ada jalan keluar, setiap kesedihan menjadi kebahagiaan dan memberinya rizki dari jalan yang tidak disangka-sangka [HR Abu Daud dan Ibnu Majah]


Dzikir Yang Diamalkan Agar Terhindar Dari Wabah Corona



Antara Thoun Dan Corona (24)

Corona adalah makhluq jahat yang dengannya banyak manusia jatuh sakit dan tidak sedikit yang tewas. Menjaga diri dari serangannya dengan berbagai metode medis, harus dilakukan. Akan tetapi sebagai seorang muslim, islam juga memberi petunjuk tentang protek diri agar selamat dari wabah corona. Setiap keluar rumah, jangan lupa membaca :

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

Bacaan ini adalah penjamin bagi kita dari Alloh selama berada di luar rumah hingga kita kembali ke rumah. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ قَالَ يَعْنِى إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ. يُقَالُ لَهُ كُفِيتَ وَوُقِيتَ. وَتَنَحَّى عَنْهُ الشَّيْطَانُ  زاد أبو داود : فيقول يعني : الشيطان لِشيطان آخر : كَيفَ لَكَ بِرجلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ ؟

Dari Anas Bin Malik berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa keluar dari rumahnya membaca “ Bismillah tawakkaltu ‘alalloh laa haula walaa kuwwata illaa billah (dengan menyebut nama Alloh, aku bertawakal kepada Alloh. Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan melainkan Alloh) “ Maka akan dikatakan : Engkau sudah dicukupkan dan dilindungi. Setanpun akan menjauh darinya  [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah] Abu Daud menambahkan : Maka berkatalah setan kepada setan lainnya : Bagaimana mungkin bisa digoda seorang yang telah dijamin hidayah, kecukupan dan perlindungan ?

Selain itu, di pagi dan sore hari membaca :

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Nabi shollallohu alaihi wasallam menganjurkan untuk dibaca tiga kali sebagaimana sabdanya :

عَنْ عُثْمَانَ ابْن عَفَّانَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ تُصِبْهُ فَجْأَةُ بَلاَءٍ حَتَّى يُمْسِىَ

Dari Utsman Bin Affan berkata : Aku mendengar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa membaca “ Bismillahilladzii laa yadlurru ma’asmihi syaiun fil ardli walaa fis sama’ wahuwassmi’ul ‘aliim (Dengan menyebut nama Alloh, tidak ada yang datang madlorot dengan namaNya sesuatupun baik di bumi aupun di langit dan Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui) dibaca tiga kali maka tidak akan menimpa dirinya musibah yang datang mendadak hingga waktu pagi. Barangsiapa mengucapkannya pada pagi hari tiga kali maka tidak akan menimpa dirinya musibah yang datang mendadak hingga sore hari [HR Abu Daud]

عَنْ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ  

Dari Utsman Bin Affan rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seorang hamba mengucapkan di pagi hari dan sore hari “ Bismillahilladzii laa yadlurru ma’asmihi syaiun fil ardli walaa fissamaa wahuwassami’ul ‘aliim “ (Dengan menyebut nama Alloh, tidak ada yang datang madlorot sesuatupun di langit dan di bumi karena namaNya. Dia Maha mendengar lagi Maha mengetahui). Wirid ini dibaca tiga kali maka tidak akan datang madlorot sedikitpun [HR Tirmidzi]

Agar lebih sempurna, maka dilengkapi dengan bacaan :

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ

Dalam sebuah riwayat disebutkan :

عَنْ سُهَيْل بْن أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَجُلاً مِنْ أَسْلَمَ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ لُدِغْتُ اللَّيْلَةَ فَلَمْ أَنَمْ حَتَّى أَصْبَحْتُ. قَالَ  مَاذَا. قَالَ عَقْرَبٌ. قَالَ  أَمَا إِنَّكَ لَوْ قُلْتَ حِينَ أَمْسَيْتَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ تَضُرَّكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ  

Dari Suhail Bin Abu Sholih dari bapaknya berkata : Aku mendengar seorang dari Aslam duduk di sisi rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Tiba-tiba datanglah seorang dari sahabatnya seraya bersabda : Wahai rosululloh, tadi malam aku disengat hingga aku tidak bisa tidur sampai pagi. Beliau bertanya : Apa itu ? Ia menjawab : Kalajengking. Beliau bersabda : Seandainyaengkau membaca ketika sore “ a’uudzu bikalimatillaahit taammati min syarri maa kholaq (Aku berlindung kepada kalam Alloh yang sempurna dari kejahatan makhluq), maka tidak ada madlorot yang datang kepadamu [HR Abu Daud]

Perbedaan Corona Dan Thoun



Antara Thoun Dan Corona (23)


Keduanya memiliki kesamaan. Diantaranya bisa menular dan mematikan. Kendati demikian, ada sisi-sisi perbedaan antara keduanya :


Pertama : Dari sisi asal muasal


Thoun adalah wabah yang murni Alloh turunkan kepada manusia sebagai adzab (bagi orang kafir) dan rahmat (bagi orang beriman). Sementara corona adalah virus yang dibuat oleh manusia (orang kafir) lalu disebarkan sebagai alat propaganda dan sarana untuk mengeruk keuntungan. Corona tidak bisa dipisahkan dengan konspirasi jahat dari sebagian negeri-negeri kafir.


Kedua : Dari sisi sifat penyakit


Gejala keduanya memang demam, akan tetapi khusus thoun ada bercak-bercak (bisul) di kulit dan pembengkakan yang ini tidak didapati pada wabah corona


Ketiga : Dari sisi daerah yang terkena wabah


Corona adalah wabah mendunia. Benua Asia, Eropa, Afrika dan Amerika terkena imbas dari wabah ini. Tercatat oleh WHO, ada sekitar lebih 190 negara yang menjadi korban. Sementara thoun hanya menjangkit daerah terbatas. Pada masa Fira’aun, daerah Mesir saja yang ditimpa penyakit ini. Thoun Amawas pada masa Umar hanya menjangkiti negeri Syam. Demikian juga dengan peristiwa thoun-thoun yang terjadi setelah itu.


Keempat : Dari sisi korban


Dengan daerah terjangkit wabah terbatas dan penduduk yang masih sedikit, thoun di masa lalu memakan korban yang luar biasa banyaknya. Pada masa nabi Daud tercatat dalam riwayat, seratus ribu mati karena penyakit ini. Bangsa Mesir di masa Firaun,ada tujuh puluh ribu yang tewas. Thoun amawas di Palestina, di masa Umar Bin Khothob menjabat kholifah ada dua puluh lima ribu yang syahid. Sementara thoun jarif jatuh korban sebanyak tujuh puluh ribu.

Karena penyakit thoun, Anas Bin Malik harus kehilangan delapan puluh tiga anak dan Abdurrohman Bin Abu Bakar ditinggal mati oleh empat puluh keturunannya.

Bandingkan dengan corona yang terjadi akhir-akhir ini. Memang korban tidak sedikit, akan tetapi bila dihadapkan dengan kematian akibat thoun, tentu terlalu kecil jumlahnya apalagi jumlah populasi manusia saat ini yang lebih dari lima milyar. Atau dengan kalimat yang lebih mudah “ Dulu jumlah manusia masih sedikit, jatuh korban akibat thoun begitu banyak. Sekarang bermilyar manusia hidup di dunia, meski kematian merenggut manusia karena corona, tidak terlalu terasa mengurangi jumlah manusia yang ada “


Kelima : Jaminan syahid 


Ini diperuntukkan bagi orang yang bersabar saat menyebar wabah thoun, mengikuti petunjuk rosululloh shollallohu alaihi wasallam dengan tidak keluar dari negerinya lalu thoun merenggut nyawanya. Karena corona bukan thoun maka kesyahidan tidak bisa disematkan bagi korban corona. Lalu bagaimana dengan hadits :

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ مَرِيضًا مَاتَ شَهِيدًا وَوُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَغُدِيَ وَرِيحَ عَلَيْهِ بِرِزْقِهِ مِنْ الْجَنَّةِ  

Dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa mati dalam kondisi sakit, maka ia mati syahid, dilindungi dari siksa kubur dan akan diperlihatkan rizkinya di dalam aljannah pada pagi dan petang [HR Ibnu Majah]

Sakit yang ada pada hadits di atas bukan semua penyakit. Dalam kitab faidlul qodir dan hasyiyah assindi ‘ala ibni Majah disebutkan bahwa penyakit yang dimaksud adalah sakit perut. Kendati demikian, karena corona bagian dari penyakit maka siapa saja yang mati karena penyakit maka dia mendapat fadhilah sebagaimana yang disebut rosululloh shollallohu alaihi wasallam berupa dihapus dosa dan diangkat derajat.

Maroji’ :

Faidlul Qodir 4/236

Hasyiyah Assindi 3/388