Taqorrub Yang Paling Disukai Alloh

 

Alloh Itu Dekat (5)

Taqorrub adalah ibadah seorang hamba dengan tujuan mendekatkan dirinya dengan Alloh. Taqorrub bisa berstatus wajib dan ada yang hukumnya sunnah. Bila keduanya berhadapan maka taqorrub wajib lebih dicintai Alloh daripada taqorrub sunnah.

Seorang hendak menunaikan sholat tahiyatul masjid, tiba-tiba terdengar iqomat maka ia harus mengurungkannya karena di hadapannya ada sholat fardlu. Bila ada orang berada di ujung waktu hendak menunaikan sholat dzuhur, ia dilarang melaksanakan sholat qobliyyah karena bisa saja saat menunaikan sholat dzuhur, waktu ashar sudah masuk.

Ini adalah sedikit contoh, betapa ibadah wajib harus lebih diutamakan daripada ibadah sunnah. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ :  ....وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ،  

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhya Allah ta’ala berfirman : .... Tidak ada taqarrub seorang hamba kepadaKu yang lebih aku cintai kecuali dengan  beribadah dengan apa yang telah Aku wajibkan kepadanya [HR Bukhori]

Imam Nawawi berkata :

إِنَّ ثَوَاب الْفَرْض يَزِيد عَلَى ثَوَاب النَّافِلَة بِسَبْعِينَ دَرَجَة   

Sesungguhnya pahala ibadah fardlu mengalahkan ibadah sunnah dengan kelipatan tujuh puluh derajat

Maroji’
Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 3/466

Posisi Terdekat Antara Hamba Dengan Robnya

 

Alloh Itu Dekat (4)

Manusia ditetapkan sebagai makhluq paling mulia. Kendati demikian setiap hari dia diharuskan untuk bersujud sebanyak tiga puluh empat kali. Hampir seluruh tubuhnya diletakkan di tanah, termasuk kepalanya. Inilah puncak penghinaan seorang hamba di hadapan Robnya. Oleh karena itu, Alloh mencintainya dan menjamin pengkabulan doa siapa saja yang bermunajat saat itu. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ   

Dari Abu Huroiroh : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Posisi paling dekat antara seorang hamba dan Robnya adalah saat sujud. Oleh karena itu perbanyaklah berdoa [HR Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i]

Tentang kecintaan Alloh kepada hambaNya yang bersujud, Imam Nawawi berkata :

وَلِأَنَّ السُّجُود غَايَة التَّوَاضُع وَالْعُبُودِيَّة لِلَّهِ تَعَالَى ، وَفِيهِ تَمْكِين أَعَزِّ أَعْضَاء الْإِنْسَان وَأَعْلَاهَا وَهُوَ وَجْهه مِنْ التُّرَاب الَّذِي يُدَاس وَيُمْتَ

Karena sujud adalah puncak tawadlu dan penghambaan kepada Alloh Ta’ala dan di dalamnya diletakkan anggota badan manusia yang paling mulia dan paling tinggi, yaitu wajahnya di tanah yang biasa dia injak dan diremehkan

Apakah dengan hadits di atas dipahami bahwa Alloh dekat dengan hamba secara dzat dan fisik ? Tentu jawabannya “ tidak “. Imam Nawawi berkata :

مَعْنَاهُ أَقْرَب مَا يَكُون مِنْ رَحْمَة رَبّه وَفَضْله

Maknanya posisi paling dekat dari rahmat dan karunia Robnya

Ini selaras dengan firman Alloh :

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ  

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik [al a’rof : 56]

Begitu kuatnya hubungan antara kedekatan Alloh dengan hambaNya hingga Allohpun berfirman :

وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ

Dan bersujudlah dan mendekatlah (kepada Alloh) [al alaq : 19]

Maroji’ :

Syarh Shohih Muslim 2/230 dan 238

Tafsir “ Kami Lebih Dekat Dari Kalian “

 

Alloh Itu Dekat (3)

Alloh Ta’ala berfirman :

فَلَوْلَا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ  وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ  وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ

Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat [alwaqiah : 83-85]

Tiga ayat di atas menerangkan tentang proses manusia menghadapi pencabutan nyawa. Siapa yang yang dimaksud dengan “ dekat “ pada ayat di atas ? Ibnu Katsir, Abdulloh Abdul Muhsin Atturuki dan lainnya menafsirkannya dengan malaikat. Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata :

ونحن أقرب إليه منكم  : أي ورسلنا ملك الموت وأعوانه أقرب إلى المتحضر منكم . أيسر

Kami lebih dekat dari kalian maksudnya para utusan kami, yaitu malaikat pencabut nyawa dan pembantu-pembantunya lebih dekat kepada orang yang menghadapi kematian diantara kalian

Maroji’ :

Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi (maktabah syamilah) hal 537

Almuyassar, Syaikh Abdulloh Bin Abdul Muhsin Atturuki (maktabah syamilah) hal 537

Tafsir Alquran Al’Adzim, Ibnu Katsir (maktabah syamilah) hal 537

Tafsir “ Kami Lebih Dekat Dengan Urat Leher “

 

Alloh Itu Dekat (2)

Alloh berfirman :

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya [qof : 16]

Ada sebagian kaum muslimin bahkan para ustadz yang memahami ayat di atas bahwa Alloh dengat dengan hambaNya secara fisik dan Dzat. Ini pemahaman salah karena  keberadaan manusia di dunia, sementara Alloh ada di arsy.

Ibnu Jauzi, Jalaluddin Almahalli, Jalaluddin Assuyuthi dan ulama-ulama tafsir lainnya menafsirkan kata dekat pada ayat di atas dengan dekat secara ilmu (pengetahuan terhadap semua kondisi dan apa yang dilakukan hambaNya). Agar lebih jelas dalam memahami ayat di atas, mari kita perhatikan ayat ini secara lengkap :

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ  إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ  مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir [qof : 16-18]

Tiga ayat di atas menerangkan pengetahuan Alloh tentang kondisi hambaNya hingga apa yang dibisikkanpun diketahui oleh Alloh. Untuk itulah Alloh mengutus malaikat untuk mencatat semua yang dilakukan oleh manusia.

Menafsirkan Alloh dengan hambaNya secara Dzat dan fisik adalah kesalahan besar sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Alusi :

ولا مجال لحمله على القرب المكاني لتنزهه سبحانه عن ذلك

Tidak ada ruang untuk mengarahkan tafsir dekat dengan dekat secara tempat karena Alloh Subhaanahu (bersih, mustahil) dari hal yang demikian

Maroji’ :

Aljalalain, Jalaluddin Almahalli dan Jalaluddin Assuyuthi (maktabah syamilah) hal 519

Ruhul Ma’ani Fi Tafsir Alquran Al Adzim Wassab’ul Matsani, Syihabuddin Mahmud Ibn Abdillah Alhusaini Al Alusi (maktabah syamilah) hal 519

Zadul Masir, Ibnu Jauzi (maktabah syamilah) hal 519

 

Tafsir “ Sesungguhnya Aku dekat “

 

Tafsir “ Sesungguhnya Aku dekat “

Alloh Itu Dekat (1)

Alloh Ta’ala berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran [albaqoroh : 186]

Beragam keterangan para ulama tentang asbabunnuzul dari ayat ini. Dalam tafsir Alkhozin disebutkan bahwa Ibnu Abbas berkata :

يا محمد كيف يسمع ربنا دعاءنا وأنت تزعم أن بيننا وبين السماء خمسمائة عام وأن غلظ كل سماء مثل ذلك فنزلت هذه الآية

Yahudi Madinah berkata : Wahai Muhammad ! Bagaimana Rob kami mendengar doa kami sementara engkau mengaku bahwa antara kami dengan langit jaraknya lima ratus tahun. Ini aneh, padahal setiap langit jaraknya seperti itu. Karena pertanyaan ini Alloh menurunkan ayatnya.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebagian sahabat bertanya :

أقريب ربنا فنناجيه أم بعيد فنناديه

Apakah Rob kami itu dekat sehingga kami bermunajat kepadaNya atau jauh sehingga kami menyeruNya ?

Demikianlah sebagian peristiwa yang melatar-belakangi turunnya ayat. Semua ahli tafsir sepakat bahwa dekatnya Alloh dengan hambaNya bukan dekat antara fisik dan dzat Alloh. Manusia ada di bumi, sementara Alloh ada di arsy. Ini menunjukkan bahwa secara tempat, Alloh jauh dari hambaNya.

Lalu, apa makna dari “ Sesungguhnya Aku dekat “ ? Dalam tafsir Alkhozin dikatakan :

معناه قريب بالعلم والحفظ لا يخفى علي شيء ، وفيه إشارة إلى سهولة إجابته لمن دعاه وإنجاح حاجة من سأله

Maknanya adalah dekat secara ilmu dan penjagaan. Tidak tersembunyi bagi Alloh sedikitpun. Ini adalah isyarat akan mudahnya pengkabulan doa bagi siapa yang berdoa kepadaNya dan terpenuhi hajat bagi siapa yang memohon kepadaNya

Imam Alusi berkata :

والقرب حقيقة في القرب المكاني المنزه عنه تعالى فهو استعارة لعلمه تعالى بأفعال العباد وأقوالهم واطلاعه على سائر أحوالهم

Dekatnya (Alloh dengan hambaNya) bila dipahami dekat secara tempat maka Alloh bersih (mustahil) bagi Alloh. Dekat (pada ayat ini) adalah bahasa kiasan akan dekatnya Alloh secara pengetahuan terhadap semua perbuatan dan ucapan hambaNya dan pengetahuan akan semua kondisi mereka

Imam Syaukani berkata

فَإِنّي قَرِيبٌ قيل : بالإجابة . وقيل : بالعلم . وقيل : بالإنعام . وقيل في الكشاف : إنه تمثيل لحاله في سهولة إجابته لمن دعاه ، وسرعة إنجاحه حاجة من سأله

“ Sesungguhnya Aku dekat “ ada yang mengatakan bahwa makna dekat adalah ijabah (pengkabulan doa). Ada yang berkata : Dengan ilmu. Ada yang berkata : Dengan nikmat. Ada yang berkata dengan kasyaf (menyingkap rahasia). Kata “ dekat “ adalah tamtsil akan kondisi mudahnya Alloh mengabulkan doa bagi siapa yang berdoa kepadaNya dan cepatnya terpenuhinya hajat bagi siapa yang memohon kepadaNya

Muhammad Sayyid Tanthowi berkata :

والمعنى : وإذا سألك عبادي يا محمد عن قربي وبعدي فقل لهم : إني قريب منهم بعلمي ورحمتي وقدرتي وإجابتي لسؤالهم

Maknanya adalah “ Bila hamba-hambaKu bertanya wahai Muhammad tentang dekat dan jauhku, maka katakan kepada mereka sesungguhnya Aku dekat dari mereka dengan ilmu, rahmat, kekuasaan, dan pengkabulan atas permintaan mereka

Kedekatan Alloh terhadap hambaNya diperkuat dengan firman Alloh :

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ  

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. shaleh berkata : Hai kaumku, ibadahilah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah yang berhak diibadahi selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunanNya, kemudian bertobatlah kepadaNya. Sesungguhnya Robku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya) [hud : 61]

قُلْ إِنْ ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَى نَفْسِي وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ  

Katakanlah : Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudaratan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Robku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat [saba’ : 50]

Maroji’ :

Attafsir Alwasith, Muhammad Sayyid Tanthowi(maktabah syamilah) hal 28

Fathul Qodir, Imam Syaukani (maktabah syamilah) hal 28

Lubabutta’wil Fii Ma’anittanzil, Abul Hasan Ali Bin Muhammad Bin Ibrohim Bin Umar Asy Syaihi (maktabah syamilah) hal 28

Ruhul Ma’ani Fi Tafsir Alquran Al Adzim Wassab’ul Matsani, Syihabuddin Mahmud Ibn Abdillah Alhusaini Al Alusi(maktabah syamilah) hal 28