Wanita Berpenyakit Ayan




Pertanyaan Kaum Wanita (4) 

عن عطَاء بن أبي رَباحٍ ، قَالَ : قَالَ لي ابنُ عَباسٍ رضي اللهُ عنهما : ألاَ أُريكَ امْرَأةً مِنْ أَهْلِ الجَنَّة ؟ فَقُلْتُ: بَلَى، قَالَ : هذِهِ المَرْأةُ السَّوداءُ أتتِ النَّبيَّ - صلى الله عليه وسلم ، فَقَالَتْ : إنّي أُصْرَعُ ، وإِنِّي أتَكَشَّفُ ، فادْعُ الله تَعَالَى لي . قَالَ : إنْ شئْتِ صَبَرتِ وَلَكِ الجَنَّةُ ، وَإنْ شئْتِ دَعَوتُ الله تَعَالَى أنْ يُعَافِيكِ فَقَالَتْ : أَصْبِرُ ، فَقَالَتْ : إنِّي أتَكَشَّفُ فَادعُ الله أنْ لا أَتَكَشَّف ، فَدَعَا لَهَا
Dari Atho bin Abu Robah, berkata : Ibnu Abbas berkata kepadaku : Maukah aku tunjukkan kepadamu tentang wanita dari kalangan ahlul jannah ? Aku menjawab : Benar ! Ia berkata : Itulah wanita berkulit hitam yang pernah menghadap nabi shollallohu alaihi wasallam seraya berkata : Sesungguhnya aku berpenyakit ayan, bila penyakit itu datang, aurotku tersingkap, oleh karena itu maka berdoalah kepada Alloh untukku. Beliau bersabda : Bila engkau mau, bersabarlah dan bagimu aljannah atau bila engkau berkehendak lain maka aku akan berdoa kepada Alloh untuk kesembuhanmu. Wanita itu berkata : Aku memilih bersabar, akan tetapi aurotku tersingkap maka berdoalah kepada Alloh agar aurotku tidak tersingkap. Selanjutnya beliau mendoakannya  [muttafaq alaih]

Hadits di atas memberi faedah :

1.      Setiap manusia pasti menemui ujian dalam hidupnya
Ujian bagi wanita ini adalah : Penyakit ayan, aurot tersingkap saat penyakit datang dan berkulit hitam
2.      Aurot meski tidak menarik harus ditutup
Apakah ada daya tarik bagi aurot orang yang berkulit hitam ? Bagi sebagian orang mungkin tidak menarik. Kendati demikian, ia harus dijaga supaya tidak tersingkap
3.      Anjuran memberi solusi atau pilihan lebih dari satu
Ketika wanita ini minta didoakan untuk kesembuhannya, nabi shollallohu alaihi wasallam memberi alternatif : Sabar yang dengannya memperoleh aljannah atau sembuh tanpa ada jaminan kebahagiaan di akhirat
4.      Diperbolehkannya meninggalkan pengobatan
Karena wanita itu memilih alternatif pertama
5.      Perintah bertawasul dalam berdoa kepada orang sholih yang masih hidup
Saat itu nabi shollallohu alaihi wasallam masih hidup. Tidak ada satupun riwayat yang menyebut bahwa para sahabat mendatangi kuburan beliau setelah wafatnya untuk dimintai doanya
6.      Penyakit bisa disembuhkan lewat doa
Wanita di atas tidak meminta obat kepada beliau melainkan mencukupkan dirinya dengan doa yang dia harapkan dari nabi shollallohu alaihi wasallam
7.      Perintah menjadikan aljannah sebagai cita-cita tertinggi
Karena aljannah, wanita ini menyingkirkan keinginannya untuk sembuh
8.      Aljannah diraih dengan kesabaran
Syaikh Mushthofa Albugho berkata : Sabar atas ujian di dunia akan mewariskan aljannah

Maroji’ :
Nuzhatul Muttaqin, Syaikh Mushthofa Bugho 1/57

Maimunah Dan Pembebasan Budaknya




Pertanyaan Kaum Wanita (3) 

عن أم المؤمنين ميمونة بنتِ الحارث رضي الله عنها : أنَّهَا أعْتَقَتْ وَليدَةً وَلَمْ تَستَأذِنِ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم ، فَلَمَّا كَانَ يَوْمُهَا الَّذِي يَدُورُ عَلَيْهَا فِيهِ ، قَالَتْ : أشَعَرْتَ يَا رَسُول الله ، أنِّي أعتَقْتُ وَليدَتِي ؟ قَالَ : أَوَ فَعَلْتِ ؟ قَالَتْ : نَعَمْ . قَالَ : أما إنَّكِ لَوْ أعْطَيْتِهَا أخْوَالَكِ كَانَ أعْظَمَ لأجْرِكِ مُتَّفَقٌ عَلَيهِ  
Dari Ummul mu’minin Maimunah binti Alharits rodliyallohu anha : Bahwasanya ia membebaskan seorang budak sementara ia belum meminta izin kepada nabi shollallohu alaihi wasallam. Tatkala hari gilirannya, ia berkata : Tidakkah engkau merasa ya rosululloh, bahwa aku sudah membebaskan budakku ? Beliau bersabda : Sudahkah engkau lakukan ? Ia menjawab : Benar. Beliau bersabda : Seandainya engkau berikan kepada pamanmu, itu lebih besar pahalanya  [muttafaq alaih]

Riwayat di atas memberi faedah :

1.      Wanita diperbolehkan berderma dari hartanya tanpa sepengetahuan suami
2.      Dianjurkan bagi istri untuk memberitahukan sedekahnya kepada suami
3.      Perintah untuk mengambil awwaliyat
Awwaliyat adalah mengambil skala prioritas. Di sini rosululloh shollallohu alaihi wasallam menilai bahwa memberikan budak kepada paman lebih baik daripada membebaskannya
4.      Sedekah kepada kerabat lebih besar pahalanya dibanding bila diberikan kepada orang lain
Hadits di atas selaras dengan hadits-hadits lainnya, diantaranya :

عن سلمان بن عامر رضي الله عنه ، عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم الصَّدَقَةُ عَلَى المِسكينِ صَدَقةٌ وعَلَى ذِي الرَّحِمِ ثِنْتَانِ : صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ
Dari Salman bin Amir rodliyallohu anhu, dari nabi shollallohu alaihi wasallam : Shodaqoh pada orang miskin dinilai satu pahala shodaqoh sedangkan untuk kerabat memiliki dua pahala : Pahala shodaqoh dan pahala silaturrohim [HR Tirmidzi]

عن أَبي هريرة رضي الله عنه ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم دِينَارٌ أنْفَقْتَهُ في سَبيلِ اللهِ ، وَدِينار أنْفَقْتَهُ في رَقَبَةٍ ، وَدِينارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ ، وَدِينَارٌ أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ ، أعْظَمُهَا أجْراً الَّذِي أنْفَقْتَهُ عَلَى أهْلِكَ   .
Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Satu dinar engkau infaqkan fisabilillah, satu dinar engkau infaqkan untuk membebaskan budak, satu dinar engkau sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infaqkan kepada keluargamu [muttafaq alaih]

عَنْ طَارِقِ الْمُحَارِبِيِّ قَالَ: ( قَدِمْنَا اَلْمَدِينَةَ, فَإِذَا رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَائِمٌ يَخْطُبُ وَيَقُولُ: يَدُ اَلْمُعْطِي اَلْعُلْيَا, وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ: أُمَّكَ وَأَبَاكَ, وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ, ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ  
Thariq al-Muharib Radliyallaahu 'anhu berkata Ketika kami datang ke Madinah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berdiri di atas mimbar berkhutbah di hadapan orang-orang. Beliau bersabda : Tangan pemberi adalah yang paling tinggi dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu : ibumu dan ayahmu, saudara perempuan dan laki-laki, lalu orang yang dekat denganmu dan yang lebih dekat denganmu [HR Nasa’i]


Asma Dan Ibunya Yang Musyrik




Pertanyaan Kaum Wanita (2) 

عن أسماءَ بنتِ أَبي بكر الصديق رضي الله عنهما ، قَالَتْ : قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشركةٌ في عَهْدِ رسولِ الله صلى الله عليه وسلم ، فاسْتَفْتَيْتُ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم ، قُلْتُ : قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ ، أفَأصِلُ أُمِّي ؟ قَالَ : نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
Dari Asma binti Abu Bakar rodliyallohu anhuma, berkata : Pada masa rosululloh shollallohu alaihi wasallam, ibuku datang untuk menemuiku, padahal ia seorang musyrik. Lalu aku menanyakan kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam masalah itu. Aku berkata : Ibuku datang, ia sangat berhasrat untuk menemuiku, bolehkan aku menemui ibuku ? Beliau menjawab : Benar, temuilah ibumu [muttafaq alaih]

Riwayat di atas memberi faedah :
1.      Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya meski berlainan aqidah
Ibu dari Asma sangat berhasrat untuk menemuinya, padahal secara fakta keduanya berbeda keyakinan. Ibunya yang musyrik dan sang anak adalah pengikut rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Antara muslim dan kafir Mekah terjadi permusuhan yang hebat yang membuat kaum muslimin harus berhijrah ke Madinah dan selanjutnya timbul peperangan beberapa kali

2.      Al ilmu qoblal qoul wal amal
Ilmu sebelum berucap dan beramal. Itulah yang dilakukan oleh Asma. Ia tidak berani menemui ibunya sebelum mendapat kepastian jawaban dari nabi shollallohu alaihi wasallam

3.      Diperbolehkan bermuamalah secara keduniaan dengan orang kafir
Hal itu selaras dengan firman Alloh :

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan  [luqman : 15]

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil   [almumtahanah : 3]

Secara singkat Imam Nawawi menyimpulkan hadits di atas dengan mengatakan :

جَوَازُ صِلَةِ الْقَرِيْبِ الْمُشْرِكِ
Diperbolehkan bersilaturrohim dengan kerabat dari kalangan musyrik

Maroji’ :
Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 7/93




Kematian Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam




Pertanyaan Kaun Wanita (1) 

عن أنَسٍ  رضي الله عنه  قَالَ : لَمَّا ثَقُلَ النَّبيُّ  صلى الله عليه وسلم  جَعلَ يَتَغَشَّاهُ الكَرْبُ ، فَقَالَتْ فَاطِمَةُ رضي الله عنها : وَاكَربَ أَبَتَاهُ . فقَالَ : لَيْسَ عَلَى أَبيكِ كَرْبٌ بَعْدَ اليَوْمِ  فَلَمَّا مَاتَ ، قَالَتْ : يَا أَبَتَاهُ ، أَجَابَ رَبّاً دَعَاهُ ! يَا أَبتَاهُ ، جَنَّةُ الفِردَوسِ مَأْوَاهُ ! يَا أَبَتَاهُ ، إِلَى جبْريلَ نَنْعَاهُ ! فَلَمَّا دُفِنَ قَالَتْ فَاطِمَةُ رَضي الله عنها : أَطَابَتْ أنْفُسُكُمْ أنْ تَحْثُوا عَلَى رَسُول الله صلى الله عليه وسلم التُّرَابَ ؟!

Dari Anas rodliyallohu anhu, berkata : Saat sakit nabi shollallohu alaihi wasallam bertambah berat, membuat beliau semakin lemah. Fatimah rodliyallohu anha berkata : Betapa beratnya apa yang engkau alami wahai ayahanda ? Beliau menjawab : Tidak ada penderitaan atas diri ayahandamu setelah hari ini. Ketika beliau sudah wafat, Fatimah berkata : Wahai ayahanda, engkau telah penuhi panggilan Rob, wahai ayahanda, ke jannatul firdaus tempat kembali, wahai ayahanda, kepada jibril kita memberitakan kematian. Tatkala beliau sudah dikebumikan, Fatimah rodliyallohu anha berkata : Apakah hati kalian dalam keadaan bahagia saat kalian melempar tanah di atas jasad rosululloh shollallohu alaihi wasallam ? [HR Bukhori]

Ini adalah percakapan antara Fatimah dan rosululloh shollallohu alaihi wasallam menjelang wafatnya. Riwayat di atas lebih bernuansa percakapan antara anak dengan orang tua bukan antara umat dengan nabinya.

Hadits di atas memberi faedah :

1.      Bukti bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam adalah hamba Alloh

Sakit yang beliau derita, kondisi lemah, yang selanjutnya mengantar kepada kematian yang tidak bisa dihindarkan menunjukkan status beliau sebagai manusia bukan Tuhan

2.      Penderitaan bisa dirasakan oleh orang yang tidak mengalaminya

Fatimah ikut merasakan penderitaan yang sedang dialami oleh ayahandanya. Itu juga terjadi pada diri seorang muslim bagi muslim lainnya karena hakekat mereka adalah satu tubuh

3.      Menampakkan ketegaran saat mendapat ujian

Itu bisa kita lihat dari kesabaran beliau. Ketika ditanya tentang apa yang sedang dialalmi, beliau menjawab “ Tidak ada penderitaan atas diri ayahandamu setelah hari ini “

4.      Kematian adalah lebih baik bagi seorang muslim

Kalimat  “ Tidak ada penderitaan atas diri ayahandamu setelah hari ini “ adalah bukti “. Ini juga selaras dengan sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ ، أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ ، فَقَالَ : مُسْتَرِيحٌ أَوْ مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ ، فَقَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ ، وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ ؟ فَقَالَ : الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى ، وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ : الْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ ، وَالْبِلادُ ، وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
Dari Abu Qotadah bin Rib’iyy, dirinya menuturkan bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam lewat di depannya jenazah. Beliau bersabda : mustariih (orang yang beristirahat) atau mustaroh minhu (yang diistirahatkan darinya). Mereka bertanya : Ya rosululloh, apa yang dimaksud dengan mustarih dan mustaroh minhu ? Beliau menjawab : Seorang hamba yang mukmin akan istirahat dari lelahnya hidup di dunia beserta penderitaannya menuju rahmat Alloh Ta’ala, adapun mustaroh minhu adalah seorang hamba yang jahat maka manusia, negeri, pepohonan dan binatang akan istirahat dari kejahatannya  [muttafaq alaih]

Syaikh Salim Ied Alhilali berkata :

الدُّنْيا دَارُ تَعْبٍ وَنَصَبٍ وَالاخِرَةُ لاَ شيئٌ فِيْهاَ مِنْ هذا للمؤمن
Dunia adalah kampung yang melelahkan dan penuh derita, adapun akhirat tidak akan tersisa sedikitpun dari semua itu bagi seorang mukmin

Maroji’ :
Bahjatun Nadzirin, Syaikh Salim Ied Alhilali 1/73