Apakah Alloh Diuntungkan Dengan Syukur Dari HambaNya ?



Syukur (8)

Jawabannya tidak sama sekali ! Kebaikan dari syukur kembali kepada manusia bukan kepada Alloh. Sebagaimana Alloh tidak pernah bisa dirugikan akibat kekufuran hamba akan nikmatNya. Terlalu banyak dalil yang menjelaskan masalah ini, diantaranya :

وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia  [annaml : 40]

مَّنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلِنَفْسِهِ
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (kebaikannya) untuk dirinya sendiri [fushilat : 46]

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحاً فَلأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
Barangsiapa yang beramal saleh Maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan), [arum : 44]

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لأَنْفُسِكُمْ
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri [al isro : 7]

وَقَالَ موسى إِن تكفروا أَنتُمْ وَمَن فِي الأرض جَمِيعاً فَإِنَّ الله لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ
Musa berkata : Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [ibrohim : 8]

فَكَفَرُواْ وَتَوَلَّواْ واستغنى الله والله غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Lalu mereka ingkar dan berpaling; dan Allah tidak memerlukan (mereka). dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.  [attaghobun : 6]

Dalam sebuah hadits qudsi, Alloh berfirman :

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئاً . يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي شَيْئاً
Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa di antara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama di antara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin di antara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka di antara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga [HR Muslim]

                                                             











Alloh Maha Mensyukuri Perbuatan HambaNya




Syukur (7) 

Ketika kita mensyukuri nikmat yang Alloh berikan, demikian juga Alloh akan selalu mensyukuri amal sholih hambaNya. Ini menunjukkan adanya timbal balik antara Alloh dan hambaNya :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ  لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri  [father : 29-30]

ذَلِكَ الَّذِي يُبَشِّرُ اللَّهُ عِبَادَهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَى وَمَنْ يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْنًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ شَكُورٌ
Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah : Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri  [asy syuro : 23]

إِنْ تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun  [attaghobun : 17]






m

Syakir Dan Kafir Dan Apa Yang Akan Mereka Dapatkan




Syukur (6) 

Ini adalah pengelompokan manusia berdasarkan nikmat Alloh :

إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا 
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir  [al insan : 3]

Kepada kelompok pertama, Alloh memberi janji :

إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا  عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا
5. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur
6. (yaitu) mata air yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya  [al insan : 5-6]

Adapun si kafir, Alloh memberi ancaman :

إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ سَلَاسِلَ وَأَغْلَالًا وَسَعِيرًا 
Sesungguhnya Kami menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu dan neraka yang menyala-nyala [al insan : 4]

Pada ayat lain Alloh memberi janji dan ancaman kepada kedua kelompok ini :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan (ingatlah juga), tatkala Robmu memaklumkan : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih  [ibrohim : 7]

Pada ayat di atas, Alloh memberi janji baik kepada syakir (orang yang bersyukur) berupa ziyadah (tambahan nikmat). Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa tambahan yang dimaksud adalah berupa kebaikan dunia dan akhirat.

Adapun tentang adzab yang pedih yang akan diterima orang yang kufur, Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di menyebut contoh diantaranya dicabutnya nikmat yang ada pada mereka

Maroji’ :
Ibnu Ajibah (maktabah syamilah) hal 256
Assa’di (maktabah syamilah) hal 256








Orang Yang Bersyukur : Kelompok Minoritas




Syukur (5) 

Kaedah ini ditampilkan oleh Alloh dengan dengan tiga bentuk kalimat :

Pertama :
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ
Akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur [albaqoroh : 243, yusuf : 12 dan ghofir : 61]

Kedua :
وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ
Akan tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur [yunus : 60 dan annaml : 73]

Ketiga :
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
Sedikit sekali dari hambaKu yang bersyukur [saba : 13]

Pertanyaan yang perlu dijawab adalah : Kenapa manusia yang bersyukur berada pada kelompok minoritas ? Syaikh Abu Bakar Aljazairi berkata :
هذا إخبار بواقع وصدق الله العظيم الشاكرون لله على نعمه قليل وفي كل زمان ومكان وذلك لإِستيلاء الغفلة على القلوب من جهة ولجهل الناس بربهم وإنعامه من جهة أخرى
Ini merupakan kabar yang telah terjadi dan bukti akan kebenaran Alloh Yang Maha Agung dimana orang yang bersyukur kepada nikmatNya adalah sedikit di setiap zaman dan tempat yang demikian itu disebabkan oleh sikap lalai yang menguasai hati di satu sisi dan di sisi lain dikarenakan bodohnya mereka kepada Rob mereka dan nikmatNya.

Aisaruttafasir (maktabah syamilah) hal 429

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Ingin Mendapat Gelar Abdan Syakuron




Syukur (4) 

Ini bagian dari ghibthoh, yaitu iri yang positif. Melihat nabi Nuh memperoleh gelar abdan syakuron membuat beliau berharap ingin mencapainya. Hal itu dilakukan dengan menunaikan sholat tahajud dengan bacaan panjang yang menyebabkan kaki beliau bengkak hingga Aisyah bertanya kepada beliau :

عن عائشة رَضي الله عنها : أنَّ النَّبيّ  صلى الله عليه وسلم  كَانَ يقُومُ مِنَ اللَّيلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقُلْتُ لَهُ : لِمَ تَصنَعُ هَذَا يَا رسولَ الله ، وَقدْ غَفَرَ الله لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ ؟ قَالَ : أَفَلا أُحِبُّ أنْ أكُونَ عَبْداً شَكُوراً
Dari Aisyah rodliyallohu anha : Bahwasanya nabi shollallohu alaihi wasallam biasa sholat malam hingga membuat telapak kaki beliau bengkak. Aku bertanya kepada beliau : Kenapa engkau melakukannya wahai rosululloh ? Bukankah Alloh telah memberi pengampunan atas dosamu yang akan datang dan yang telah lalu ? Beliau menjawab : Tidak salahkah aku bila ingin menjadi abdan syakuron (hamba yang gemar bersyukur) ? [muttafaq alaih]

Hadits yang mulia ini memberi faedah bahwa hakekat syukur adalah menunaikan ketaatan.