Tidak menjawab ketika ada orang yang lebih alim


                                   Etika Menjawab Pertanyaan (2)


Ibnu Umar menuturkan :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً لاَ يَسْقُطُ وَرَقُهَا ، وَهِىَ مَثَلُ الْمُسْلِمِ ، حَدِّثُونِى مَا هِىَ  فَوَقَعَ النَّاسُ فِى شَجَرِ الْبَادِيَةِ ، وَوَقَعَ فِى نَفْسِى أَنَّهَا النَّخْلَةُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَاسْتَحْيَيْتُ . فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَخْبِرْنَا بِهَا . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم هِىَ النَّخْلَةُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَحَدَّثْتُ أَبِى بِمَا وَقَعَ فِى نَفْسِى فَقَالَ لأَنْ تَكُونَ قُلْتَهَا أَحَبُّ إِلَىَّ مِنْ أَنْ يَكُونَ لِى كَذَا وَكَذَا

Dari Abdulloh Bin Umar, bahwasanya rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya ada satu pohon yang tidak jatuh bunganya dan itu adalah permisalan bagi muslim. Beritahukan kepadaku, apakah pohon itu ? Manusia mengira itu adalah pohon yang tumbuh di lembah sementara hatiku mengatakan itu adalah pohon korma. Abdulloh berkata : Aku malu untuk menjawabnya. Mereka berkata : Ya rosululloh, beritahukan kepada kami tentang pohon itu. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Itu adalah pohon korma. Abdulloh berkata : Aku menyampaikan kepada bapakku tentang apa yang terlintas pada diriku. Ia berkata : Seandainya engkau mengatakannya, itu lebih aku sukai daripada aku mendapatkan ini dan itu [HR Bukhori]

Hadits di atas menunjukkan keluhuran akhlaq Abdulloh Bin Umar. Ibnu hajar Al Atsqolani menerangkan bahwa sikap Abdulloh Bin Umar yang tidak menjawab pertanyaan, padahal dia memiliki jawabannya sebagai penghormatan dirinya kepada para sahabat senior yang saat itu berada di majlis sementara tidak ada satupun dari mereka bisa menjawab pertanyaan nabi shollallohu alaihi wasallam. Dan yang harus kita ketahui bahwa Abdulloh Bin Umar adalah orang yang paling muda diantara mereka.

Abdurrohman Bin Abu Laila berkata :

أدركت عشرين ومائة من الأنصار من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ما منهم رجل يسأل عن شيء إلا ود أن أخاه كفاه ولا يحدث حديثا إلا ود أن أخاه كفاه

Aku mendapati 120 sahabat rosululloh shollallohu alaihi wasallam dari kalangan anshor, tidaklah diantara mereka ditanya tentang sesuatu kecuali berharap saudaranya sudah cukup untuk memberi jawaban dan tidaklah menyampaikan suatu hadits kecuali saudaranya sudah cukup untuk menyampaikan hadits

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al atsqolani 1/208

Berkata “ Tidak Tahu “ Saat Tidak Memiliki Ilmu Untuk Menjawabnya


                                                     Etika Menjawab Pertanyaan (1)


Ketika malaikat ditanya oleh tentang asma (nama-nama) dan mereka tidak memiliki jawaban, dengan jujur mereka berkata :

سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا

Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu pada diri kami selain ilmu yang Engkau berikan kepada kami [albaqoroh : 32]

Saat rosululloh shollallohu alaihi wasallam alaihi wasallam berada di tengah-tengah sahabat mendapat pertanyaan tentang kapan hari kiamat dari malaikat, rupanya beliau tidak memiliki ilmu untuk menjawab. Tanpa takut jatuh martabatnya di hadapan para sahabat, beliau bersabda :

مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ

Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya (maksudnya saya tidak tahu) [HR Muslim]

Muadz Bin Jabal pernah ditanya rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد، وما حق العباد على الله ؟

Wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?

Merasa tidak bisa menjawab, Muadz dengan jujur berkata :

الله ورسوله أعلم،

Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui [HR Bukhori Muslim]

Demikianlah, mereka telah mengajari kita untuk tidak ceroboh menjawab pertanyaan ketika kita tidak memiliki jawaban. Abu Daud berkata dalam masailnya :

ما أحصى ما سمعت أحمد سئل عن كثير مما فيه الاختلاف في العلم فيقول لا أدري قال وسمعته يقول ما رأيت مثل ابن عيينة في الفتوى أحسن فتيا منه كان أهون عليه أن يقول لا أدري

Tidak terhitung aku mendengar Ahmad ditanya tentang banyak hal yang di dalamnya masih ada ikhtilaf (perbedaan pendapat), lalu dia berkata “ Aku tidak tahu “. Aku juga pernah mendengar dia berkata : Aku tidak melihat orang yang paling bagus dalam berfatwa seperti Ibnu Uyainah sementara ia begitu mudah berkata : Aku tidak tahu “

Abdulloh putera imam Ahmad berkata :

كنت أسمع أبي كثيرا يسأل عن المسائل فيقول لا أدري ويقف إذا كانت مسألة فيها اختلاف وكثيرا ما كان يقول سل غيري فإن قيل له من نسأل قال سلوا العلماء ولا يكاد يسمي رجلا بعينه

Aku sering mendengar bapakku ditanya tentang banyak masalah lalu berkata “ Saya tidak tahu “. Beliau bertawaquf (diam) bila masalah yang ditanyakan di dalamnya terdapat ikhtilaf dan beliau sering berkata “ Silahkan tanya orang selain aku “ Bila ditanya “ Kepada siapa aku bertanya ? “. Hampir beliau tidak menyebut nama seseorang secara jelas

Abdurrohman Bin Mahdi berkata :

سأل رجل من أهل الغرب مالك بن أنس عن مسألة فقال لا أدري فقال يا أبا عبد الله تقول لا أدري قال نعم فأبلغ من وراءك أني لا أدري

Seorang dari Maroko bertanya kepada Malik Bin Anas tentang suatu masalah lalu dia berkata “ Saya tidak tahu “. Orang itu berkata Wahai Abu Abdillah, engkau berkata “ Aku tidak tahu ? “ Ia berkata : Benar, sampaikan kepada orang yang ada di belakangmu bahwa aku tidak tahu.

Pemuda Yahudi


                                                Ahlul Kitab Yang Masuk Islam (6)

عَنْ أَنَسٍ  رضى الله عنه  قَالَ كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِىٌّ يَخْدُمُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَمَرِضَ ، فَأَتَاهُ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم  يَعُودُهُ ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْوَ عِنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ  صلى الله عليه وسلم فَأَسْلَمَ ، فَخَرَجَ النَّبِىُّ  صلى الله عليه وسلم  وَهْوَ يَقُولُ  الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ  

Dari Anas rodliyallohu anhu berkata : Seorang pemuda yahudi yang biasa membantu nabi shollallohu alaihi wasallam sakit. Nabi shollallohu alaihi wasallam datang untuk menengoknya. Beliu duduk di sisi kepalanya lalu bersabda kepadanya : Masuk islamlah. Ia melihat ke arah bapaknya yang ada di sampingnya. Bapaknya berkata kepada anaknya : Ikuti ajakan Abu Qosim shollallohu alaihi wasallam. Iapun masuk islam. Nabi shollallohu alaihi wasallam keluar seraya bersabda : Alhamdulillah yang telah meyelamatkannya dari neraka [HR Bukhori dn Abu Daud]

Raja Najasyi


                                           Ahlul Kitab Yang Masuk islam (5)

Ja’far Bin Abdul Muthollib membacakan ayat-ayat yang berisi tentang Isa alaihissalam di hadapan raja Najasyi. Mengetahui kebenaran alquran yang ia dengan, sang rajapun akhirnya masuk islam. Dialah satu-satunya kaum nasrani yang masuk islam di negeri Habasyah hingga ketika meninggal, tidak ada satupun orang yang mengurusi jenazahnya secara islam. Nabi shollalohu alaihi wasallam mengajak para sahabat untuk mensholatkannya secara ghoib :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَعَى اَلنَّجَاشِيَّ فِي اَلْيَوْمِ اَلَّذِي مَاتَ فِيهِ, وَخَرَجَ بِهِمْ مِنَ الْمُصَلَّى، فَصَفَّ بِهِمْ, وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا  

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menyiarkan kematian Najasyi pada hari kematiannya, beliau keluar bersama mereka ke tempat sholat, bershaf bersama mereka, dan sholat empat takbir untuknya. [Muttafaq Alaihi]

Sebagian mufassir, memasukkan raja Najasyi ke dalam firman Alloh :

وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَى أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ يَقُولُونَ رَبَّنَا آَمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ  وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَنْ يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ  فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ

Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw.) Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang shaleh?" Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya) [almaidah : 82-83]

Shofiyyah Binti Huyayi Bin Akhthob


                                             Ahlul Kitab Yang Masuk Islam (4)

Setelah kaum muslimin mendapat kemenangan dalam perang Khoibar, mereka berhasil mendapat ghonimah dan tawanan yang banyak. Saat itu Dihyah datang menghadap nabi shollallohu alaihi wasallam dan berkata :

يَا نَبِىَّ اللَّهِ ، أَعْطِنِى جَارِيَةً مِنَ السَّبْىِ

Wahai nabiyulloh, berikan kepadaku tawanan wanita

Beliau menjawab :

اذْهَبْ فَخُذْ جَارِيَةً

Silahkan pergi dan ambillah satu tawanan wanita

Dihyahpun segera mengambil Shofiyyah Binti Huyayi Bin Akhthob anak kepala suku bani quroidzoh yang mati dieksekusi atas keputusan Sa’ad Bin Muadz. Tiba-tiba datang seseorang yang berkata :

يَا نَبِىَّ اللَّهِ ، أَعْطَيْتَ دِحْيَةَ صَفِيَّةَ بِنْتَ حُيَىٍّ سَيِّدَةَ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرِ ، لاَ تَصْلُحُ إِلاَّ لَكَ

Wahai nabiyulloh, engkau berikan Dihyah, Shofiyyah Binti Huyayi bangsawan dari suku quroidzoh dan bani nadzir ? Ia tidak pantas kecuali untuk engkau

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam meminta agar Dihyah dan Shofiyyah didatangkan. Lalu setelah melihat Shofiyyah, beliau bersabda kepada Dihyah :

خُذْ جَارِيَةً مِنَ السَّبْىِ غَيْرَهَا

Ambil tawanan wanita lainnya

Akhirnya beliau mengambil Shofiyyah. Setelah mengenal islam, rosululoh shollallohu alaihi wasallam membebaskannya dari statusnya sebagai budak dan menikahinya. Sebuah hadits menyebutkan :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ , عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ أَعْتَقَ صَفِيَّةَ , وَجَعَلَ عِتْقَهَا صَدَاقَهَا  

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerdekakan Shafiyyah dan menjadikan kemerdekaannya sebagai maskawinnya. [Muttafaq Alaihi]