Kapan Awal Mula Terjadi Thoun Dalam Islam



Antara Thoun Dan Corona (10)

Pertama : Thoun Syirowaih

Terjadi di Mada-in tahun 6 H pada masa rosululloh shollallohu alaihi wasallam hidup

Kedua : Thoun Amawas

Terjadi pada pemerintahan Umar Bin Khothob di bulan muharrom dan shofar setelah itu memuncak hingga bulan robi’ul akhir tahun 18 H. Karena penyakit ini menimpa kota Amawas, sebuah daerah di Palestina, maka peristiwa ini disebut dengan “ thoun amawas “. Jatuh korban sebanyak dua puluh lima ribu. Diantara sahabat yang mati karena thoun ini adalah Abu Ubaidah Ibnu Jaroh dan Muadz Bin Jabal beserta kedua istrinya dan anaknya

Ketiga : Thoun Jarif

Terjadi di bulan syawal tahun 69 H pada masa Abdulloh Bin Zubair.  Dalam satu hari jatuh korban sebanyak tujuh puluh ribu dan itu berlangsung selama tiga hari. Anas Bin Malik kehilangan delapan puluh tiga anak. Abdurrohman Bin Abu Bakroh kehilangan empat puluh anak

Keempat : Thoun Fatayat

Terjadi pada bulan syawal tahun 87 H. Disebut fatayat karena korbannya adalah para gadis. Daerah yang terkena wabah ini adalah Bashroh, Wasith, Syam dan Kufah. dll

Maroji’ :

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 1/41

Pada Masa Firaun, Bangsa Mesir Pernah Dilanda Penyakit Thoun



Antara Thoun Dan Corona (9)

Setelah didakwahi, Firaun bertambah kesombongannya. Apa yang dia perlihatkan di hadapan Musa diikuti oleh bangsa Qibthi yang merupakan penduduk asli Mesir. Lima adzabpun, Alloh kirim kepada mereka. Adzab itu berupa angin topan, belalang, kutu, katak dan darah. Apakah mereka sadar ? Ternyata kecongkakan semakin bertambah sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh :

فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آَيَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ

Maka Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa [al a’rof : 133]

Akhirnya Alloh kirimkan siksa ke enam, yaitu penyakit thoun. Barulah mereka mengiba kepada Musa agar diangkat wabah itu sambil berjanji akan beriman bila permintaan mereka dikabulkan. Alloh berfirman :

وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ

Dan ketika mereka ditimpa arrijzu  (thoun) mereka berkata : Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Robmu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan adzab itu daripada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan kami akan membiarkan Bani Israel pergi bersamamu [al a’rof : 134]

Kata arrijzu pada ayat di atas ditafsirkan oleh Alkhozin dengan thoun. Ini sesuai dengan sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ةُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

Dari Usamah Bin Zaid : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Thoun adalah rijsun (kotor, siksa) yang dikirimkan kepada sekelompok Bani Isroil atau orang sebelum kalian [HR Bukhori, Muslim dan Malik]

Kalimat “ atau orang sebelum kalian “ pada hadits di atas, adalah Firaun dan bangsa Qibthi yang menentang dakwah Musa.

Dalam tafsir Alkhozin disebutkan bahwa dalam sehari, jatuh korban orang mati dalam sehari sebanyak tujuh puluh ribu. Ini menunjukkan dahsyatnya wabah thoun. Begitu banyaknya hingga mereka tidak mampu untuk menguburkan mayat-mayat yang bergelimpangan.

Akhirnya permintaan mereka dikabulkan oleh Alloh. Thoun betul-betul diangkat. Akan tetapi, apakah mereka menepati janjinya ? Ternyata tidak. Mereka tetap kufur. Alloh berfirman tentang kekufuran mereka :

فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ

Maka setelah kami hilangkan adzab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya [al a’rof : 135]

Maroji’ :

Lubabutta’wil Fi Ma’anittanzil, Abul Hasan Ali Bin Muhammad Bin Ibrohim Bin Umar Asy Syaihi (maktabah syamilah) hal 166


Kapan Awal Mula Terjadi Thoun Di Dunia



Antara Thoun Dan Corona (8)

Ibnu Katsir menyebut bahwa ada sebuah kota bagi kaum Israel yang sedang mewabah penyakit thoun. Karena penyakit ini menular dan mematikan, seluruh penduduknya segera lari meninggalkan kota ini. Padahal thoun harus disikapi dengan sabar dan tidak pergi menjauhinya. Jumlah mereka ribuan.

Sesampainya di daerah aman, Allohpun mematikan mereka semua. Mereka mengira bahwa melarikan diri dari kematian akan menyelamatkan dari kematian yang mereka khawatirkan. Justru di tempat aman itulah mereka mendapati kematiannya.

Melihat mayat-mayat bergelimpangan, seorang nabi dari kalangan Bani Israel, yaitu Hizqil bermunajat agar Alloh menghidupkan mereka. Doa itupun dikabulkan hingga semuanya bisa hidup kembali. Peristiwa ini difirmankan Alloh :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ  

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang jumlah mereka beribu-ribu karena takut mati. Maka Allah berfirman kepada mereka : Matilah kalian, lalu Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur [albaqoroh : 243]

Ayat ini sebenarnya berisi motivasi dari Alloh kepada kaum mukminin untuk berani berjihad meski beresiko kematian. Karena lari dari kematian maksudnya jihad belum tentu menyelamatkan dirinya dari kematian itu. Oleh karena itu pada ayat berikutnya Alloh berfirman :

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [albaqoroh : 244]

Tentang awal mula thoun yang terjadi pada diri kaum Bani Isroil adalah sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أُسَامَةَ بْن زَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الطَّاعُونُ رِجْسٌ أُرْسِلَ عَلَى طَائِفَةٍ مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ أَوْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَإِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

Dari Usamah Bin Zaid berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Thoun adalah kotoran yang Alloh berikan kepada sekelompok Bani Isroil atau orang sebelum kalian. Bila kalian mendengar thoun menimpa sebuah negeri maka janganlah kalian masuk ke dalamnya dan bila menimpa di sebuah negeri sementara kalian ada di dalamnya maka janganlah keluar karena lari menghindar darinya [HR Bukhori]

Ibnu Hajar Al Atsqolani dalam fathul bari menampilkan riwayat dari Ibnu Ishaq di kitab almubtada tentang awal mula thoun terjadi :

أَنَّ اللَّه أَوْحَى إِلَى دَاوُدَ أَنَّ بَنِي إِسْرَائِيل كُثْر عِصْيَانهمْ ، فَخَيِّرْهُمْ بَيْن ثَلَاث : إِمَّا أَنْ أَبْتَلِيهِمْ بِالْقَحْطِ ، أَوْ الْعَدُوّ شَهْرَيْنِ ، أَوْ الطَّاعُون ثَلَاثَة أَيَّام . فَأَخْبَرَهُمْ ، فَقَالُوا : اِخْتَرْ لَنَا . فَاخْتَارَ الطَّاعُون . فَمَاتَ مِنْهُمْ إِلَى أَنْ زَالَتْ الشَّمْس سَبْعُونَ أَلْفًا وَقِيلَ مِائَة أَلْف . فَتَضَرَّعَ دَاوُدَ إِلَى اللَّه تَعَالَى ، فَرَفَعَهُ . وَوَرَدَ وُقُوع الطَّاعُون فِي غَيْر بَنِي إِسْرَائِيل

Bahwa Alloh mewahyukan kepada Daud akan banyaknya maksiat yang diperbuat Bani Isroil lalu mereka diberi satu diantara tiga pilihan hukuman : Ditimpakan kepada mereka kemarau atau dikuasai musuh selama dua bulan atau thoun selama tiga hari. Daud segera mengabarkan hal itu kepada mereka lalu mereka berkata : Tetapkan pilihan untuk kami. Daud memilih thoun. Setelah itu matilah diantara mereka sebanyak tujuh puluh ribu, ada yang mengatakan seratus ribu hingga matahari tergelincir (waktu dzuhur). Daud memohon kepada Alloh Ta’ala. Allohpun mengangkat penyakit itu. Ada yang menyebutkan bahwa terjadinya thoun pada kaum selain Bani Isroil.

Selain kisah di atas, ada juga riwayat lain yang menyebutkan ketika Musa menyampaikan kepada Bani Israel bahwa Palestina adalah tanah yang Alloh berikan untuk mereka. Ada dua perintah saat memasuki gerbang negeri itu, yaitu bersujud dan mengucapkan “ Hith-thotun “ yang artinya ya Alloh, bebaskan kami dari dosa. Alloh berfirman :

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman : Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmaqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah : Bebaskanlah kami dari dosa, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik [albaqoroh : 58]

Apakah mereka melaksanakan perintah itu dengan baik ? Ternyata tidak. Seharusnya mereka memasukinya dengan sujud, akan tetapi justru mereka masuk dengan mundur sehingga pantat menjadi anggota badan yang terlebih dahulu masuk. Ucapan hith-thotun yang merupakan bacaan istighfar bagi kaum Bani Isroil, mereka rubah dengan hinthotun yang artinya gandum. Karena perbuatan ini, Allohpun turunkan adzab untuk mereka :

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ  

Lalu orang-orang yang dzalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang dzalim itu rjzan (adzab) dari langit, karena mereka berbuat fasik [albaqoroh : 59]

Penulis tafsir jalalain menafsirkan rijzan pada ayat di atas dengan thoun. Sementara dalam tafsir alwajiz disebutkan bahwa dalam satu jam saja jatuh korban sebanyak tujuh puluh ribu orang

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 16-250

Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin As Suyuthi (maktabah syamilah) hal 9

Tafsir Alwajiz Fi Tafsir Al Kitab Al Aiziz, Ali Bin Ahmad Al Wahidi Abul Hasan (maktabah syamilah) hal 9

Tafsir Alquran Al ‘Adzim, Ibnu Katsir (maktabah syamilah) hal 39


Berlanjut besok, in sya Alloh ...............

Derajat Syahid Berkenaan Thoun



Antara Thoun Dan Corona (7)

Rosuulloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها زَوْجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الطَّاعُونِ ، فَأَخْبَرَنِى أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Dari Aisyah rodliyallohu anha istri nabi shollallohu alaihi wasallam berkata : Aku bertanya kepada rosululloh shollallohu alaihi tentang thoun. Beliau mengabarkan padaku bahwa ia adalah adzab yang Alloh kirim kepada siapa yang dikehendaki dan Alloh menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Tidak ada seorangpun yang ditimpa thoun lalu ia tetap berada di negerinya dalam keadaan bersabar lagi mengharap pahala dimana dia tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang telah tetapkan baginya kecuali dia mendapat pahala seperti mati syahid [HR Bukhori dan Ahmad]

Berdasar hadits di atas, Ibnu Hajar Al Atsqolani membagi kesyahidan dengan adanya thoun menjadi tiga :

Pertama :

Seorang yang terkena thoun dan memiliki sifat-sifat yang disebut oleh nabi shollallohu alaihi wasallam (tetap berada di negerinya dalam keadaan bersabar lagi mengharap pahala dimana dia tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali atas ketetapan Alloh) lalu mati karena penyakit ini.

Kedua :

Terkena penyakit thoun akan tetapi sembuh dan tidak mati karenanya

Ketiga :

Tidak terkena penyakit thoun dan mati di kemudian hari atau saat wabah ini sedang merebak, akan tetapi kematiannya bukan disebabkan oleh wabah ini

Kepada tiga kelompok ini, Alloh memberikan kesyahidan

Maroji’ :                              

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 16/257


Kedudukan Thoun Bagi Kaum Muslimin Dan Kaum Kafir




Antara Thoun Dan Corona (6)

Ia bagian dari rahmat Alloh bagi umat ini. Rahmat yang dimaksud adalah kesyahidan bagi siapa saja yang mati lewat penyakit ini. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Anas Bin Malik rodliyallohu anhu, dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Thoun adalah kesyahidan bagi setiap muslim [HR Bukhori]

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها زَوْجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الطَّاعُونِ ، فَأَخْبَرَنِى أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِى بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا ، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

Dari Aisyah rodliyallohu anha istri nabi shollallohu alaihi wasallam berkata : Aku bertanya kepada rosululloh shollallohu alaihi tentang thoun. Beliau mengabarkan padaku bahwa ia adalah adzab yang Alloh kirim kepada siapa yang dikehendaki dan Alloh menjadikannya sebagai rahmat bagi kaum mukminin. Tidak ada seorangpun yang ditimpa thoun lalu ia tetap berada di negerinya dalam keadaan bersabar lagi mengharap pahala dimana dia tahu bahwa tidak akan menimpanya kecuali yang telah tetapkan baginya kecuali dia mendapat pahala seperti mati syahid [HR Bukhori dan Ahmad]

Apa perbedaan antara syahid seseorang karena berperang dengan penyakit thoun ? Perbedaannya adalah bagi siapa yang mati akibat terkena thoun, jenazahnya masih dimandikan, dikafani dan disholatkan. Ini tidak berlaku bagi muslim yang mati di medan jihad. Tidak perlu dimandikan, baju yang dikenakan saat mati dalam perang tidak perlu dilucuti dan jenazahnya tidak perlu disholatkan.

Pada hadits di atas, rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi syarat kesyahidan dengan syarat, yaitu bersabar dengan tidak keluar dari negerinya, ihtisab (mengharap pahala) dan meyakini tidak akan menimpa penyakit itu kecuali atas ketentuan Alloh.

Ketika thoun adalah rahmat bagi kaum mukminin, sebaliknya ia adalah adzab yang Alloh berikan kepada orang kafir


Berlanjut besok, in sya Alloh ..................