Tidak Bermegah-Megah Dalam Membangun Masjid

 

Membangun Masjid (4)

Bermegah-megahan dalam membangun masjid hukumnya haram berdasarkan sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ  قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا تَقُومُ اَلسَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى اَلنَّاسُ فِي اَلْمَسَاجِدِ  

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Tidak akan terjadi kiamat hingga orang-orang berbangga-bangga dengan kemegahan masjid [HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Majah, Darimi, Ibnu Khuzaimah]

Kenapa bermegah-megahan dilarang ? :

[1] Perintah membangun masjid atas dasar ikhlas karena Alloh

Bermegahan-megahan menunjukkan tidak ikhlasnya seseorang saat membangun masjid. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ عُثْمَانَ إبن عَفَّان قال إِنِّى سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ  

Dari Utsman Bin Affan berkata : Sesungguhnya aku mendengar nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang membangun masjid dengan mengharap wajah Alloh maka Alloh akan membangunkan untuknya bangunan yang semisalnya di dalam aljannah [HR Bukhori]

[2] Masjid megah melampaui batas syar’i akan menyeret ketidakmakmuran masjid

Ini adalah perkataan Anas Bin Malik  :

يَتَبَاهَوْنَ بِهَا ، ثُمَّ لاَ يَعْمُرُونَهَا إِلاَّ قَلِيلاً

Mereka bermegahah-megahan dengan masjid, setelah itu tidak memakmurkannya kecuali sedikit

[3] Bermegahan-megahan dalam membangun masjid bagian dari sikap tasyabbuh kepada orang kafir

Ini adalah perkataan Ibnu Abbas :

لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Sungguh kalian benar-benar menghias-hiasnya sebagaimana kaum yahudi dan nasrani menghias-hiasnya

Fadhilah Membangun Masjid

 

Membangun Masjid (3)

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ عُثْمَانَ إبن عَفَّان قال إِنِّى سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ  

Dari Utsman Bin Affan berkata : Sesungguhnya aku mendengar nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang membangun masjid dengan mengharap wajah Alloh maka Alloh akan membangunkan untuknya bangunan yang semisalnya di dalam aljannah [HR Bukhori]

Ibnu Hajar Al Atsqolani mengomentari hadits di atas dengan berkata :

وَفِيهِ إِشَارَةٌ إِلَى دُخُولِ فَاعِلِ ذَلِكَ الْجَنَّةَ ، إِذْ الْمَقْصُودُ بِالْبِنَاءِ لَهُ أَنْ يَسْكُنَهُ ، وَهُوَ لَا يَسْكُنُهُ إِلَّا بَعْدَ الدُّخُولِ

Di dalamnya terkandung isyarat bahwa pelakunya akan masuk aljannah karena maksud dibangunkannya (bangunan di dalam aljannah) untuk ditempati dan orang tersebut tidak akan menempatinya kecuali setelah memasukinya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah bangunan yang akan kita dapati di dalam aljannah besar dan indahnya serupa dengan masjid yang kita bangun di dunia ? Tentunya tidak, kenapa ? Karena balasan Alloh selalu lebih baik dari amal yang dilakukan hambaNya. Alasan lain adalah sifat aljannah beserta isinya yang tidak mungkin dibayangkan oleh siapapapun sebagaimana yang disabdakan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam :

عن أَبي هريرة رضي الله عنه قَالَ قَالَ رسولُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم: قَالَ اللهُ تَعَالَى أعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، وَاقْرَؤُوا إنْ شِئْتُمْ : فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنِ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ   السجدة : 17.

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Alloh Ta’ala berfirman : Aku telah mempersiapkan bagi hamba-hambaKu yang sholih apa yang tidak bisa dibayangkan oleh pandangan mata, tidak bisa didengar oleh telinga dan tidak akan terdetik oleh hati manusia. Bacalah jika kalian mau “ Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan “ (assajdah : 17) [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dan Darimi]

Untuk memahami balasan Alloh bagi orang yang punya andil membangun masjid, kita perlu melihat sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ  أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

Dari Abu Huroiroh : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Tempat yang paling Alloh cintai adalah masjid-masjidnya dan tempat yang paling Alloh benci adalah pasar-pasarnya [HR Muslim, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah]

Bila masjid adalah tempat atau bangunan di dunia yang paling Alloh cintai, maka tempat atau bangunan yang paling Alloh cintai di akhirat adalah bangunan yang Alloh berikan kepada orang yang di dunia pernah ikut membangun masjid. Benarlah ketika Imam Nawawi berkata :

: أَنَّ فَضْله عَلَى بُيُوت الْجَنَّة كَفَضْلِ الْمَسْجِد عَلَى بُيُوت الدُّنْيَا

Bahwa kemuliaannya atas rumah-rumah di dalam aljannah (bagi orang yang pernah membangun masjid di dunia) seperti keutamaan masjid atas seluruh rumah di dunia.

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 2/182

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 2/293

Makna Membangun Masjid

 


Membangun Masjid (2)

Bisa dikatakan membangun masjid ketika ada tanah kosong lalu dibangun di atasnya sebuah bangunan yang diperuntukkan sholat. Inilah yang dilakukan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam ketika beliau membangun masjid quba dan masjid nabawi.

Orang yang melakukan renovasi masjid, juga bisa disebut membangun masjid seperti yang dilakukan Utsman Bin affan. Pada masa pemerintahannya, Utsman membongkar beberapa ornamen yang ada di masjid nabawi. Sebagian sahabat tidak setuju dengan apa yang diperbuatnya. Mahbud Bin Labid berkata :

فَكَرِهَ النَّاسُ ذَلِكَ فَأَحَبُّوا أَنْ يَدَعَهُ عَلَى هَيْئَتِهِ

Orang-orang tidak menyukai hal itu. Mereka lebih suka bila masjid dibiarkan seperti semula

Mendengar hal itu, Utsman Bin Affan berkata :

إِنَّكُمْ أَكْثَرْتُمْ ، وَإِنِّى سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ  

Sesungguhnya kalian banyak bicara (tentang apa yang aku lakukan), sesungguhnya aku pernah mendengar nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang membangun masjid dengan mengharap wajah Alloh maka Alloh akan membangunkan untuknya bangunan yang semisalnya di dalam aljannah [HR Bukhori]

Ini menunjukkan bahwa merenovasi masjid juga bagian dari membangun masjid. Hal lain yang perlu kita ketahui adalah membangun masjid bisa berupa harta seperti Bani Najjar yang rela melepas tanahnya untuk pembangunan masjid nabawi, atau tenaga seperti rosululloh shollallohu alaihi wasallam dan kaum anshor yang bahu membahu dengan tenaganya sehingga berdiri masjid nabawi.

Membangun Masjid Adalah Prioritas Utama Dalam Pembentukan Masyarakat

 

Membangun Masjid (1)

Yang dilakukan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam ketika awal kedatangan di Madinah adalah membangun masjid. Tepatnya masjid quba. Pembangunan masjid ini difirmankan oleh Alloh :

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ  

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bershalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih [attaubah : 108]

Setelah berdiam diri selama 14 hari di tempat itu, nabi shollallohu alaihi wasallam bertolak ke pusat kota Madinah. Lagi-lagi beliau mencanangkan pembangunan masjid ketika bertemu dengan para pemuka Bani Najjar. Beliau bersabda :

يَا بَنِى النَّجَّارِ ثَامِنُونِى بِحَائِطِكُمْ هَذَا  

Wahai Bani Najjar, tentukan harga untukku tanah kalian ini

Mereka menjawab :

لاَ وَاللَّهِ لاَ نَطْلُبُ ثَمَنَهُ إِلاَّ إِلَى اللَّهِ

Tidak, demi Alloh, kami tidak mengharap harganya selain kepada Alloh [HR Bukhori, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah]

Dari situ, rosululloh shollallohu alaihi wasallam paham bahwa mereka berniat untuk mewakafkan tanah itu untuk masjid.

Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri dalam kitabnya arrohiq almakhtum membuat judul :

بناء مجتمع جديد

Membina Masyarakat Baru

Di situ Syaikh Shofiyurrohman berkata :

وأول خطوة خطاها رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد ذلك هو بناء المسجد النبوي

Langkah pertama yang dilakukan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam setelah itu adalah membangun masjid nabawi

Oleh karena itu benarlah ketika rosululloh shollallohu berbicara tentang sebuah desa atau pemukiman, beliau singgung pentingnya membangun masjid. Aisyah berkata :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ أَمَرَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِبِنَاءِ اَلْمَسَاجِدِ فِي اَلدُّورِ  وَأَنْ تُنَظَّفَ  وَتُطَيَّبَ

Dari Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan untuk membangun masjid di kampung-kampung dan hendaknya dibersihkan dan diharumkan [HR Ahmad Abu Dawud dan Tirmidzi] 

Syubhat Kedua Pendukung Masjid Masuk Komplek Pekuburan

 

Syubhat Kedua Pendukung Masjid Masuk Komplek Pekuburan

Antara Masjid Dan Kuburan (9)

Keberadaan makam rosululloh shollallohu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar Bin Khothob di samping masjid nabawi sering dijadikan alasan untuk memakamkan tokoh islam di komplek masjid.

Yang menjadi pertanyaan kita adalah, kenapa rosululloh shollallohu alaihi wasallam tidak dikubur di Baqi bersama para sahabat lainnya melainkan di tempat yang terkesan seolah beliau dikubur di masjid ? Penuturan Abdulloh Bin Abbas sebagai jawabannya :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا أَرَادُوا أَنْ يَحْفِرُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثُوا إِلَى أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ وَكَانَ يَضْرَحُ كَضَرِيحِ أَهْلِ مَكَّةَ وَبَعَثُوا إِلَى أَبِي طَلْحَةَ وَكَانَ هُوَ الَّذِي يَحْفِرُ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَكَانَ يَلْحَدُ فَبَعَثُوا إِلَيْهِمَا رَسُولَيْنِ وَقَالُوا اللَّهُمَّ خِرْ لِرَسُولِكَ فَوَجَدُوا أَبَا طَلْحَةَ فَجِيءَ بِهِ وَلَمْ يُوجَدْ أَبُو عُبَيْدَةَ فَلَحَدَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَلَمَّا فَرَغُوا مِنْ جِهَازِهِ يَوْمَ الثُّلَاثَاءِ وُضِعَ عَلَى سَرِيرِهِ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ دَخَلَ النَّاسُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَالًا يُصَلُّونَ عَلَيْهِ حَتَّى إِذَا فَرَغُوا أَدْخَلُوا النِّسَاءَ حَتَّى إِذَا فَرَغُوا أَدْخَلُوا الصِّبْيَانَ وَلَمْ يَؤُمَّ النَّاسَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ لَقَدْ اخْتَلَفَ الْمُسْلِمُونَ فِي الْمَكَانِ الَّذِي يُحْفَرُ لَهُ فَقَالَ قَائِلُونَ يُدْفَنُ فِي مَسْجِدِهِ وَقَالَ قَائِلُونَ يُدْفَنُ مَعَ أَصْحَابِهِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا قُبِضَ نَبِيٌّ إِلَّا دُفِنَ حَيْثُ يُقْبَضُ قَالَ فَرَفَعُوا فِرَاشَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي تُوُفِّيَ عَلَيْهِ فَحَفَرُوا لَهُ ثُمَّ دُفِنَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَطَ اللَّيْلِ مِنْ لَيْلَةِ الْأَرْبِعَاءِ وَنَزَلَ فِي حُفْرَتِهِ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَالْفَضْلُ بْنُ الْعَبَّاسِ وَقُثَمُ أَخُوهُ وَشُقْرَانُ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ أَوْسُ بْنُ خَوْلِيٍّ وَهُوَ أَبُو لَيْلَى لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَنْشُدُكَ اللَّهَ وَحَظَّنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ عَلِيٌّ انْزِلْ وَكَانَ شُقْرَانُ مَوْلَاهُ أَخَذَ قَطِيفَةً كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُهَا فَدَفَنَهَا فِي الْقَبْرِ وَقَالَ وَاللَّهِ لَا يَلْبَسُهَا أَحَدٌ بَعْدَكَ أَبَدًا فَدُفِنَتْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Abbas ia berkata, Ketika para sahabat akan membuatkan lubang untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka mengutus seseorang menemui Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, dia adalah orang yang membuat lubang bagi penduduk Makkah. Sementara yang lain mengirim utusan menemui Abu Thalhah, dia adalah orang yang membuat lubang bagi penduduk Madinah, tetapi dengan model liang lahad. Lalu mereka mengutus untuk menjemput keduanya, para sahabat berkata, Ya Allah, berilah mana yang lebih baik bagi Rasul-Mu. Akhirnya mereka dapat menemukan Abu Thalhah dan membawanya, sementara Abu Ubaidah tidak ditemukan. Kemudian Abu Thalhah membuatkan lubang untuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.  Ibnu Abbas berkata, Ketika persiapan untuk Rasulullah telah selesai pada hari selasa, beliau diletakkan di atas kasur dalam rumahnya. Kemudian orang-orang masuk sekelompok demi sekelompok menshalati jenazah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Setelah mereka selesai, para sahabat mempersilahkan kaum wanita untuk masuk (shalat), Setelah selesai mereka mempersilahkan anak-anak. Dan tidak ada seorang pun yang menjadi imam bagi orang-orang ketika menshalati Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kaum muslimin berselisih di mana lubang Rasulullah akan digali, sebagian mengatakan, Sebaiknya beliau dikubur dalam masjidnya, sebagian yang lain berkata, Sebaiknya beliau dikubur bersama para sahabatnya.  Lalu Abu Bakar berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Tidak ada seorang Nabi yang meninggal kecuali dikuburkan pada tempat ia meninggal.  Ibnu Abbas berkata, Kasur Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang beliau wafat di atasnya diangkat, lalu mereka membuat lubang, setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dikuburkan pada tengah malam di malam rabu. Sementara yang turun ke kuburan beliau adalah Ali bin Abu Thalib, Al Fadll Ibnul Abbas, Qutsam saudaranya dan Syuqran mantan budak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Aus bin Khauli -ia adalah Abu Laila- berkata kepada Ali bin Abu Thalib, Aku bersumpah kepada Allah dan kedudukan kami di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atas kamu (maksudnya; minta izin turun ke lubang beliau).  Maka Ali pun berkata, Turunlah.  Syuqran adalah budak beliau, ia mengambil kain kasar yang pernah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kenakan, kemudian ia memasukkannya ke dalam kuburan beliau seraya berkata, Demi Allah, tidak ada yang akan mengenakannya setelahmu, selamanya!  maka kain itu pun dikubur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.  [HR Ibnu Majah]

Riwayat ini menunjukkan bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam dikubur di rumahnya bukan di masjid sebagai kekhususan dari Alloh bahwa para nabi dikubur di tempat dicabutnya nyawa. Sementara beliau diwafatkan oleh Alloh di kamar Aisyah dimana posisi kamar itu bersebelahan dengan masjid.

Lalu, bagaimana dengan Abu Bakar dan Umar yang dikubur di samping rosululloh shollallohu alaihi wasallam ? Para sahabat menguburkan keduanya di kamar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bukan tanpa dalil. Setidaknya 3 riwayat di bawah ini cukup menjadi jawabannya :

وعن أبي موسى الأشعري رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أنه توضأ في بيته ثم خرج فقال: لألزمن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم، ولأكونن معه يومي هذا. فجاء المسجد فسأل عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم فقالوا: وجه ههنا. قال: فخرجت على أثره أسأل عنه حتى دخل بئر أريس، فجلست عند الباب حتى قضى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم حاجته وتوضأ، فقمت إليه فإذا هو قد جلس على بئر أريس وتوسط قُفَّهَا وكشف عن ساقيه ودلاهما في البئر، فسلمت عليه ثم انصرفت فجلست عند الباب. فقلت لأكونن بواب رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم اليوم. فجاء أبو بكر رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ فدفع الباب، فقلت: من هذا؟ فقال أبو بكر. فقلت: على رسلك، ثم ذهبت فقلت: يا رَسُول اللَّهِ هذا أبو بكر يستأذن. فقال ائذن له وبشره بالجنة فأقبلت حتى قلت لأبي بكر: ادخل ورَسُول اللَّهِ يبشرك بالجنة. فدخل أبو بكر حتى جلس عن يمين النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم معه في القف ودلى رجليه في البئر كما صنع رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم وكشف عن ساقيه. ثم رجعت فجلست وقد تركت أخي يتوضأ ويلحقني فقلت: إن يرد اللَّه بفلان يريد أخاه خيراً يأت به. فإذا إنسان يحرك الباب، فقلت: من هذا؟ فقال: عمر بن الخطاب. فقلت: على رسلك، ثم جئت إلى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم فسلمت عليه وقلت: هذا عمر يستأذن. فقال ائذن له وبشره بالجنة فجئت عمر فقلت أذن ويبشرك رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم بالجنة، فدخل فجلس مع رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم في القف عن يساره ودلى رجليه في البئر. ثم رجعت فقلت: إن يرد اللَّه بفلان خيراً يعني أخاه يأت به. فجاء إنسان فحرك الباب، فقلت: من هذا ؟ فقال: عثمان بن عفان. فقلت: على رسلك، وجئت النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم فأخبرته فقال: ائذن له وبشره بالجنة مع بلوى تصيبه فجئت فقلت: ادخل ويبشرك رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم بالجنة مع بلوى تصيبك. فدخل فوجد القف قد ملئ فجلس وجاههم من الشق الآخر. قال سعيد بن المسيب: فأولتها قبورهم. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abu Musa Al Asy'ariy bahwa dia berwudlu' di rumahnya lalu keluar. (Lalu dia bercerita) : Aku berkata : Aku akan mendampingi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bersamanya hari ini. Dia berkata : Maka dia menuju masjid lalu bertanya tentang keberadaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Orang-orang menjawab : Beliau keluar dan menuju ke arah sana. Maka aku keluar menelusuri bekas jejak beliau mencari keberadaannya hingga (aku lihat) beliau memasuki sebuah sumur Aris (di suatu ladang pusat kota Madinah). Aku duduk di samping pintu yang terbuat dari pelepah kurma hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyelesaikan keperluannya kemudian berwudlu. Aku segera menghampiri beliau yang ternyata beliau sedang duduk dekat sumur Aris tersebut dan berada di tengah-tengah tepi sumur tersebut. Beliau menyingkap (pakaiannya) hingga kedua betisnya dan mengulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Aku memberi salam kepada beliau lalu berpaling dan kembali duduk di samping pintu. Aku berkata : Sungguh aku menjadi penjaga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada hari ini. Kemudian Abu Bakr datang dan mengetuk pintu. Aku tanya :  Siapakah ini ?. Dia berkata :  Abu Bakr. Aku katakan : Tunggu sebentar. Kemudian aku menemui beliau lalu aku katakan : Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr minta izin masuk. Beliau berkata : Izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan aljannah. Aku kembali lalu aku katakan kepada Abu Bakr :  Masuklah, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan aljannah. Maka Abu Bakr masuk lalu duduk di samping kanan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mengangkat pakaiannya setinggi kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku telah meninggalkan saudaraku berwudlu' dan menyusulku. Aku berkata :  Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, yang dia maksud saudaranya,  pasti Allah memberinya. Tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya : Siapakah ini ?. Orang itu menjawab :  Aku 'Umar bin Al Khaththab. Aku katakan : Tunggu sebentar. Kemudian aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan memberi salam kepada beliau lalu aku katakan : Wahai Rasulullah, ada 'Umar bin Al Khaththab minta izin masuk. Beliau bersabda : Izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan aljannah. Maka aku temui lalu aku katakan : Masuklah, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan aljannah. Maka 'Umar masuk lalu duduk di samping kiri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku berkata : Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, pasti Allah memberinya. Tiba-tiba ada lagi orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya : Siapakah ini ? Orang itu menjawab : Utsman bin 'Affan. Aku katakan : Tunggu sebentar. Kemudian aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu aku kabarkan kepada beliau, maka beliau berkata : Izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan aljannah, dengan berbagai cobaan yang menimpanya. Maka aku menemuinya lalu aku katakan kepadanya : Masuklah, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan aljannah, sekaligus berbagai cobaan yang menimpamu. Maka Utsman masuk namun dia dapatkan tepi sumur telah penuh. Akhirnya dia duduk di hadapan beliau dari sisi yang lain. Berkata Syarik bin Abdullah, berkata Sa'id bin Al Musayyab : Aku tafsirkan posisi duduk mereka bertiga sebagai posisi kuburan mereka sedangkan kuburan 'Utsman terpisah dari mereka.

Kejadian ini akhirnya terbukti di kemudian hari. Nabi shollallohu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Umar dikubur di satu tempat sementara Utsman dikubur sedikit agak jauh yaitu di Baqi. Dalil lainnya adalah :

عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الْأَوْدِيِّ قَالَ رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ اذْهَبْ إِلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقُلْ يَقْرَأُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ عَلَيْكِ السَّلَامَ ثُمَّ سَلْهَا أَنْ أُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيَّ قَالَتْ كُنْتُ أُرِيدُهُ لِنَفْسِي فَلَأُوثِرَنَّهُ الْيَوْمَ عَلَى نَفْسِي فَلَمَّا أَقْبَلَ قَالَ لَهُ مَا لَدَيْكَ قَالَ أَذِنَتْ لَكَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَالَ مَا كَانَ شَيْءٌ أَهَمَّ إِلَيَّ مِنْ ذَلِكَ الْمَضْجَعِ فَإِذَا قُبِضْتُ فَاحْمِلُونِي ثُمَّ سَلِّمُوا ثُمَّ قُلْ يَسْتَأْذِنُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ فَإِنْ أَذِنَتْ لِي فَادْفِنُونِي وَإِلَّا فَرُدُّونِي إِلَى مَقَابِرِ الْمُسْلِمِينَ إِنِّي لَا أَعْلَمُ أَحَدًا أَحَقَّ بِهَذَا الْأَمْرِ مِنْ هَؤُلَاءِ النَّفَرِ الَّذِينَ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَنْهُمْ رَاضٍ فَمَنْ اسْتَخْلَفُوا بَعْدِي فَهُوَ الْخَلِيفَةُ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا فَسَمَّى عُثْمَانَ وَعَلِيًّا وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرَ وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَسَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ وَوَلَجَ عَلَيْهِ شَابٌّ مِنْ الْأَنْصَارِ فَقَالَ أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ كَانَ لَكَ مِنْ الْقَدَمِ فِي الْإِسْلَامِ مَا قَدْ عَلِمْتَ ثُمَّ اسْتُخْلِفْتَ فَعَدَلْتَ ثُمَّ الشَّهَادَةُ بَعْدَ هَذَا كُلِّهِ فَقَالَ لَيْتَنِي يَا ابْنَ أَخِي وَذَلِكَ كَفَافًا لَا عَلَيَّ وَلَا لِي أُوصِي الْخَلِيفَةَ مِنْ بَعْدِي بِالْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ خَيْرًا أَنْ يَعْرِفَ لَهُمْ حَقَّهُمْ وَأَنْ يَحْفَظَ لَهُمْ حُرْمَتَهُمْ وَأُوصِيهِ بِالْأَنْصَارِ خَيْرًا { الَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ } أَنْ يُقْبَلَ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيُعْفَى عَنْ مُسِيئِهِمْ وَأُوصِيهِ بِذِمَّةِ اللَّهِ وَذِمَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُوفَى لَهُمْ بِعَهْدِهِمْ وَأَنْ يُقَاتَلَ مِنْ وَرَائِهِمْ وَأَنْ لَا يُكَلَّفُوا فَوْقَ طَاقَتِهِمْ

Dari 'Amru bin Maimun Al Audiy berkata : Aku melihat Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu berkata : Wahai 'Abdullah bin Umar temuilah Ummul Mu'minin Aisyah radliallahu 'anha lalu sampaikan bahwa Umar bin Al Khaththab menyampaikan salam kepadamu, kemudian mintalah agar aku dikubur bersama kedua temanku. 'Aisyah berkata : Aku dulu menginginkan tempat itu untukku, namun sekarang aku lebih mengutamakannya daripada diriku. Ketika ia pulang, Umar berkata, kepadanya : Jawaban apa yang kamu bawa ?. Ia menjawab : Engkau telah mendapat izin wahai Amirul Mu'minin, lalu ia berkata : Tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada tempat berbaring itu, dan jika aku sudah meninggal, bawalah aku kepadanya lalu sampaikan salam dan katakan bahwa 'Umar bin Al Khaththab telah meminta izin, dan jika diizinkan maka kuburkanlah aku disana, dan jika tidak, maka kuburlah aku dipekuburan kaum muslimin. Sebab aku tidak mengetahui seseorang yang lebih berhak pada perkara ini daripada mereka, orang-orang yang ketika beliau meninggal maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam telah meridhai mereka, maka barangsiapa yang menggantikan aku setelahku dialah khalifah, wajib dengar dan taatlah padanya. Lalu ia menyebut nama 'Utsman, 'Ali, Thalhah, Az Zubair, 'Abdur-Rahman bin 'Auf, Saad bin Abi Waqqas. Kemudian seorang pemuda Anshar datang kepadanya, ia berkata : Wahai Amirul Mu'minin, berilah kabar gembira yang diberikan Allah kepadamu karena masuk Islam pertama kali seperti yang telah engkau ketahui, lalu engkau diangkat menjadi khalifah dan setelah ini semua engkau akan mati syahid ?. Da menjawab : Barangkali cukuplah yang engkau katakan itu wahai anak saudaraku, aku berwasiat kebaikan kepada khalifah setelahku terhadap orang-orang yang pertama-tama berhijrah, agar ia mengerti hak-hak mereka dan menjaga kehormatan mereka, dan aku berwasiat kebaikan kepadanya terhadap orang-orang Anshar, yang mereka telah menempati Madinah dan beriman kepada Allah Ta'ala, agar ia terima orang-orang yang baik diantara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk diantara mereka, dan aku berwasiat kepadanya akan tanggungan Allah dan RasulNya Shallallahu'alaihiwasallam agar ia menepati perjanjian dengannya, dan ia berperang dibelakangnya, serta tidak membebani mereka dengan apa yang tidak mereka mampu.

عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ وُضِعَ عُمَرُ عَلَى سَرِيرِهِ فَتَكَنَّفَهُ النَّاسُ يَدْعُونَ وَيُصَلُّونَ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ وَأَنَا فِيهِمْ فَلَمْ يَرُعْنِي إِلَّا رَجُلٌ آخِذٌ مَنْكِبِي فَإِذَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَتَرَحَّمَ عَلَى عُمَرَ وَقَالَ مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ وَحَسِبْتُ إِنِّي كُنْتُ كَثِيرًا أَسْمَعُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

Dari Ibnu Abu Mulaikah bahwa dia mendengar Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma berkata; Setelah jasad 'Umar diletakkan di atas tempat tidurnya, orang-orang datang berkumpul lalu mendo'akan dan menshalatinya sebelum diusung. Saat itu aku ada bersama orang banyak, dan tidaklah aku terkaget melainkan setelah ada orang yang meletakkan siku lengannya pada bahuku, yang ternyata dia adalah 'Ali bin Abu Thalib. Kemudian dia memohonkan rahmat bagi 'Umar dan berkata; Sama sekali tidak engkau tinggalkan seorangpun yang lebih aku sukai agar Allah berikan pembalasan sesuai keistimewaan amalnya daripadamu. Dan demi Allah, sungguh aku yakin sekali bahwa Allah akan menjadikan kamu bersama kedua sahabatmu (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Abu Bakr) dikarenakan aku sering kali mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Aku berangkat (bepergian) bersama Abu Bakr dan 'Umar. Aku masuk bersama Abu Bakr dan 'Umar. Aku keluar bersama Abu Bakr dan 'Umar. [HR Bukhori Muslim]