Antara Air Dan Api


Api memiliki sifat panas sedang air berkarakter dingin kecuali bila ada api yang memanaskannya. Saat api berkobar maka akan segera padam manakala datang air. Keduanya dibutuhkan manusia. Dari keduanya pula terjadi peristiwa-peristiwa besar.

Airlah yang menenggelamkan kaum nabi Nuh saat banjir besar Alloh kirimkan. Beberapa ribu tahun kemudian giliran Firaun dan balatentaranya harus tewas oleh gulungan air laut merah. Sebaliknya dengan api, Namrudz gagal membunuh Ibrohim karena Alloh berfirman kepad api :

كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ

Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim [al anbiya’ : 69]

Di saat api dan air menyebabkan kematian seorang muslim, maka akan menempatkannya sebagai orang yang mati syahid, yaitu ketika seorang mukmin mati karena terbakar atau karena tenggelam sebagaimana yang disabdakan oleh rosululloh shollallohu alaihi wsasallam :

عَنْ جَابِرَ بْنِ عَتِيكٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْقَعَ أَجْرَهُ عَلَى قَدْرِ نِيَّتِهِ وَمَا تَعُدُّونَ الشَّهَادَةَ قَالُوا الْقَتْلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشُّهَدَاءُ سَبْعَةٌ سِوَى الْقَتْلِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَالْحَرِقُ شَهِيدٌ وَالَّذِي يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ

Dari Jabir bin 'Atik : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Syahid selain terbunuh di jalan Allah itu ada tujuh macam; yang meninggal karena penyakit tha'un maka dia syahid. Orang yang meninggal karena tenggelam maka dia syahid. Orang yang meninggal karena terkena penyakit cacar atau bisul maka dia syahid. Orang yang meninggal karena sakit perut maka dia syahid. Orang yang mati terbakar adalah syahid. Orang yang meninggal karena terkena reruntuhan, maka dia syahid. Wanita yang meninggal karena karena melahirkan maka dia adalah syahid [HR Malik]

Ketika api bisa ditaklukkan oleh air, maka demikianlah kenyataannya manakala unsur-unsur setan datang bisa ditaklukkan oleh air. Seperti selesai makan daging onta dan kondisi sedang marah. Tentang makan daging onta sebuah hadits mengatakan :

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَ أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْغَنَمِ؟ قَالَ إِنْ شِئْتَ قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ اَلْإِبِلِ ؟ قَالَ نَعَمْ

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam : Apakah aku harus berwudlu setelah makan daging kambing ؟ Beliau menjawab : Jika engkau mau Orang itu bertanya lagi : Apakah aku harus berwudlu setelah memakan daging unta ؟ Beliau menjawab : Ya [HR Muslim]

Tentang hadits di atas, Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam berkata : hikmah yang paling mendekati kebenaran diperintahkannya berwudlu setelah makan daging onta adalah karena onta memiliki kekuatan setan sebagaimana yang diisyaratkan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam “ sesungguhnya onta bagian dari setan “ [HR Ahmad no 20034]. Oleh karena itu memakannya akan mendatangkan pengaruh setan sehingga akan hilang dengan air wudlu.

Adapun marah, rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

إنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانَ وَإنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإنَّمَا تُطْفِئُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضَبَ أحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah itu berasal dari setan, dan setan diciptakan dari api. Api itu bisa padam dengan air, bila salah seorang di antara kalian marah maka berwudlulah [HR Abu Daud, didloifkan Albani]

Maroji’ :

Taudlihul Ahkam, Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam 1/223





Antara Sendal Dan Pemakainya



Sandal bagian dari pakaian. Nampak remeh tapi sangat dibutuhkan. Benda kecil ini bisa saja menaikkan pemiliknya dan merendahkannya. Identitas seseorang terkadang bisa dikenal dari sendalnya. Bagaimana itu bisa terjadi ?

Pembeda antara manusia dan setan

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengajari kita cara memakai sandal yaitu dimulai dari kanan

َعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ عَنْهُ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اِنْتَعَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِالْيَمِينِ, وَإِذَا نَزَعَ فَلْيَبْدَأْ بِالشِّمَالِ, وَلْتَكُنْ اَلْيُمْنَى أَوَّلَهُمَا تُنْعَلُ, وَآخِرَهُمَا تُنْزَعُ

Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Apabila seseorang di antara kalian memakai sandal, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, dan apabila melepas, hendaknya ia mendahulukan kaki kiri, jadi kaki kananlah yang pertama kali memakai sandal dan terakhir melepaskannya [Muttafaq Alaihi]

Bila memakai sandal dimulai dengan kaki kanan baru kemudian kaki kiri, berarti rosululloh shollallohu alaihi wasallam secara tidak langsung memerintah kita untuk mengenakan dua sandal dan tidak boleh memakai sebelah sebagaimana sabdanya :

َعَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَمْشِ أَحَدُكُمْ فِي نَعْلٍ وَاحِدَةٍ, وَلْيُنْعِلْهُمَا جَمِيعًا, أَوْ لِيَخْلَعْهُمَا جَمِيعًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِمَا

Dari Ali Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Janganlah seseorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal, dan hendaklah ia memakai keduanya atau melepas keduanya. [Muttafaq Alaihi]

Hikmah larangan memakai sandal sebelah adalah karena itu adalah cara setan memakai sandal sebagaimana yang dituturkan ibnu Hajar Al Atsqolani.

Sandal adalah identitas seseorang

Produksi sandal terkadang merupakan ciri khas kota tertentu seperti kelom dari Tasikmalaya dan lainnya. Kelompok bimbingan haji, terkadang dikenal lewat sandal yang mereka pakai karena mereka memang menyeragamkan alas kaki. Ketika rosululloh shollallohu alaihi wasallam hendak menyampaikan wasiatnya melalui Abu Huroiroh, beliau memberikan sendalnya kepada Abu Huroiroh agar manusia yakin dan percaya atas pesan yang dibawanya :

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَأَعْطَانِي نَعْلَيْهِ قَالَ اذْهَبْ بِنَعْلَيَّ هَاتَيْنِ فَمَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

Wahai Abu Hurairah, bawalah kedua sandalku ini, dan siapapun yang kau temui di balik kebun ini ia bersaksi bahwa tidak ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan ia menancapkan keyakinan ini dalam hatinya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan aljannah [HR Bukhori Muslim]

Sandal membawa doa yang buruk bagi pemiliknya

Barangkali kita pernah kehilangan sandal di masjid. Lalu membikin kegaduhan di dalamnya dengan menyampaikannya kepada khalayak yang ada tentang alas kaki yang hilang. Nabi shollallohu alaihi wasallam melarang perbuatan itu :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يَنْشُدُ ضَالَّةً فِي اَلْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ : لَا رَدَّهَا اَللَّهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ اَلْمَسَاجِدَ لَمْ تُبْنَ لِهَذَا رَوَاهُ مُسْلِم

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Barangsiapa yang mendengar ada seseorang yang mencari barang hilang di masjid hendaknya mengatakan : semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu karena sesungguhnya masjid itu tidak dibangun untuk hal demikian Riwayat [HR Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah]

Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam menerangkan hadits di atas bahwa doa “ semoga Alloh tidak mengembalikannya padamu “ diucapkan dengan keras. Doa ini ditujukan kepada orang yang mengumumkan berita kehilangan di masjid baik hewan, bawaan, uang termsuk sandal. Beliau juga menerangkan bahwa mengumumkan berita kehilangan di masjid telah mengurangi keagungan masjid karena masjid adalah tempat untuk sholat, dzikir, tilawatul quran, berdiskusi untuk hal-hal positif dan lainnya.

Sandal pembeda antara umat islam dengan yahudi

عَنْ شَدَّاد بن أوس قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خَالِفُوْا الْيَهُوْدَ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ فِى نِعَالِهِمْ وَلاَ خِفَافِفِمْ

Dari Syaddad bin Aus : bersabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam : bersikaplah berbeda dengan yahudi karena mereka tidak biasa sholat dengan sandal dan khuf mereka [HR Abu Daud]

Ibnu Taimiyyah mencantumkan hadits di atas dalam kitabnya di bab mukholafatul kuffar maqsudatun lisy syari’ (menyelisihi orang kafir adalah yang diinginkan oleh Alloh Pembuat syariat)

Sandal menurunkan derajat pemakaianya

Apa jadinya bila orang memakai sandal dengan berdiri. Sendal yang dimaksud adalah sandal yang bertali (sepatu sandal yang sering kita lihat) sehingga akan nyaman bila memasangnya di kaki sambil duduk. Bila sebaliknya, terkadang orang yang bersangkutan akan berdiri bergoyang-goyang yang tentu tak jarang akan terjatuh dan itu akan mengurangi kewibawaan. Inilah petunjuk rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْتَعِلَ الرَّجُلُ قَائِمًا

Dari Jabir ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang seorang mengenakan sandal sambil berdiri [HR Abu Daud dan Ibnu Majah]

Penulis aunul ma’bud berkata : pemakaian sandal dengan duduk karena dengan cara itu lebih mudah. Bila berdiri terkadang akan membuatnya jatuh.

Sandal membikin sholat tidak khusyu

Sandal seharga setengah juta dibeli. Dipakai untuk pergi ke masjid lalu diletakkan di luar. Saat sholat ditunaikan, mana yang lebih dominan : khusyu mengingat Alloh atau pikiran tegang tertuju kepada sandal ? Tidak aneh bila nasehat mengatakan : jika ingin menjaga hubungan dengan Alloh maka janganlah berlebih-lebihan dalam urusan dunia.

Pertemuan sandal dengan pemiliknya di dalam aljannah

Inilah yang dialami Bilal bin Robah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ

Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata, kepada Bilal radliallahu 'anhu ketika shalat Fajar (Shubuh) : Wahai Bilal, ceritakan kepadaku amal yang paling utama yang sudah kamu amalkan dalam Islam, sebab aku mendengar di hadapanku suara sandalmu di dalam aljannah. Bilal berkat; Tidak ada amal yang utama yang aku sudah amalkan kecuali bahwa jika aku bersuci (berwudhu') pada suatu kesempatan malam ataupun siang melainkan aku selalu shalat dengan wudhu' tersebut disamping shalat wajib [HR Bukhori Muslim]

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 10/362

Taudlihul Ahkam, Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam 1/480

Iqtidlo shirotil mustaqim, ibnu Taimiyyah hal 57

Aunul Ma’bud, Abu Thoyyib Muhammad Syamsul Haq Al “dzim Abadi 7/235





Antara Ilmu Dan Tulisan



Pepatah mengatakan :

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةٌ قُيُوْدُهُ

Ilmu ibarat buruan, tulisan adalah jaringnya

Perang Yamamah memakan korban para hafidzul quran. Umar bin Khothob khawatir bila quran hilang dan tidak dikenal lagi di masa datang karena saat itu para sahabat lebih mengandalkan hafalan dibanding tulisan. Semoga Alloh merahmati Abu Bakar, Umar dan Zaid bin Tsabit yang telah mengumpulkan tulisan alquran dan dijadikannya menjadi satu.

Abu Huroiroh meski terdepan dalam hal hafalan hadits, dengan jujur ia mengakui keunggulan Abdulloh bin Amru karena tulisan haditsnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ يَقُولُ مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي إِلَّا مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلَا أَكْتُبُ

Dari Abu Hurairah berkata, Tidaklah ada seorangpun dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang lebih banyak haditsnya dibandingkan aku, kecuali 'Abdullah bin 'Amru. Sebab ia bisa menulis sedang saya tidak [HR Bukhori dan Tirmidzi]

Keberadaan kitab bagi para ulama terdahulu adalah sangat berharga. Karena di dalamnyalah ilmu ditulis. Syaikh Ahmad Alhajjar dan Abu Ja’far Ahmad Alqoshri rela menjual bajunya demi membeli kitab. Hal yang sama dilakukan oleh Sanad bin Ali yang menjual hewan tunggangan milik ayahnya. Adapun Ibnu Mulaqqin mengalami kegilaan ketika kitab-kitabnya musnah terbakar.

Demikianlah pentingnya tulisan, maka aneh bila ada orang yang duduk di majlis ta’lim tanpa membewa secarik kertas dan pena untuk menjaring ilmu yang didengarnya padahal ia bukan Abu Huroiroh yang kuat hafalannya.

Maroji’ :

Dahsyatnya kesabaran ulama, Syaikh Abdul Fattah





Antara Fardlu Ain Dan Fardlu Kifayah



Sholat lima waktu, haji, shoum romadlon dan zakat adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh setiap individu muslim. Karenanya ia disebut fardlu ain. Mengurus jenazah, jihad, adzan dan amar maruf nahi munkar adalah ibadah yang tidak semua muslim mesti melakukannya. Bila sudah ada segelintir orang melakukannya dan itu sudah mencukupi maka seluruh lapisan masyarakat akan lepas dari tuntutan di hadapan syariat. Ibadah jenis ini sering disebut dengan fardlu kifayah.

Terkadang dalam satu waktu dua ibadah yang bernilai fardlu ain dan fardlu kifayah bertemu dan mesti ada salah satu yang dikorbankan. Bagaimana penyelesaiannya ? Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita merenungkan hadits di bawah ini :

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا َوَعَنْهُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُ يَقُولُ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِاِمْرَأَةٍ إِلَّا وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ, وَلَا تُسَافِرُ اَلْمَرْأَةُ إِلَّا مَعَ ذِي مَحْرَمٍ " فَقَامَ رَجُلٌ, فَقَالَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ, إِنَّ اِمْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً, وَإِنِّي اِكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا, قَالَ اِنْطَلِقْ, فَحُجَّ مَعَ اِمْرَأَتِكَ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika khutbah bersabda : Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menyepi dengan seorang perempuan kecuali dengan mahramnya, dan janganlah seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya. Berdirilah seorang laki-laki dan berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku pergi haji sedang aku diwajibkan ikut perang ini dan itu. Maka beliau bersabda : Berangkatlah dan berhajilah bersama istrimu. [Muttafaq Alaihi]

Pada hadits ini diterangkan bahwa seorang lelaki tengan bersiap menunaikan jihad yang merupakan ibadah fardlu kifayah bagi dirinya. Di sisi lain istrinya juga sedang berkemas untuk menunaikan ibadah haji yang merupakan ibadah fardlu ain bagi dirinya. Ia menemui kendala karena tidak ada mahrom yang mendampinginya. Hanya ada satu orang yang berhak menemaninya dalam perjalanan haji dan itu tidak lain adalah suaminya. Demi tercapainya ibadah fardlu ain maka suami mengurungkan niatnya untuk menunaikan ibadah fardlu kifayah. Atau dengan kata lain jihad dikorbankan demi terlaksananya ibadah haji. Toh sebenarnya ibadah haji bagi dirinya juga bernilai fardlu ain.

Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam berkata : fardlu ain harus didahulukan atas fardlu kifayah. Laki-laki ini mendapat kewajiban berangkat berjihad dan itu adalah ibadah fardlu kifayah baginya. Adapun menjaga istri adalah fardlu ain maka nabi shollallohu alaihi wasallam lebih mementingkannya. Hadits di atas merupakan dalil atas didahulukannya udzur yang bersifat khusus dan lazim atas fardlu kifayah.

Maroji’ :

Taudlihul Ahkam, Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam 2/653



Antara Alquran Dan Kitab-Kitab Sebelumnya



Alquran dan kitab-kitab sebelumnya memiliki kedudukan yang sama. Semuanya harus diimani. Alloh berfirman :

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan) : Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya, dan mereka mengatakan : Kami dengar dan Kami taat. (mereka berdoa ): Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali [albaqoroh : 285]

Kendati demikian, bukan berarti antar kitab tersebut tidak memiliki perbedaan. Perbedaannya tidak sedikit. Diantaranya :

1. Alquran turun berbahasa arab

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya [yusuf : 2]

Di negeri manapun alquran berada, kendati diterjemahkan dengan bahasa setempat, teks asli alquran sebagai kalamulloh tetap dicantumkan. Hal ini berbeda dengan taurot, zabur dan injil yang berbahasa ibrani. Di saat berada di negeri Inggris teks asli hilang dan diganti dengan bahasa penduduknya. Demikian juga ketika berada di berbagai belahan bumi lainnya.

2. Alquran turun berangsur-angsur

Zabur, taurot dan injil adalah kitab yang Alloh turunkan secara keseluruhan. Karena hal itulah maka orang-orang kafir menuntut itu juga berlaku bagi alquran. Hal ini diungkap oleh Alloh :

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآَنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir : Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja ?; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar) [alfurqon : 32]

Syaikh Mannaul Qothon membagi proses turunnya quran 2 macam :

• Turun secara keseluruhan pada malam lailatul qodar di baitul izzah yang berada di langit dunia

• Turun dari langit menuju dunia secara terpisah selama 23 tahun

3. Terjaga keasliannya

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya [alhijr : 9]

Syaikh Abu Bakar menerangkan maksud penjagaan Alloh terhadap alquran dari hilang, penambahan dan pengurangan karena alquran adalah hujjah Alloh kepada makhluqnya hingga hari kiamat.

Nabi Isa bila hari ini ada di bumi lalu melihat injil yang dipegang kaum nasrani, tentu akan kebingungan melihat ajarannya begitu tercemar hingga sulit untuk dikenali lagi.

4. Alquran adalah kitab yang mudah dihafal

Begitu mudahnya kita mendapatkan para penghafal quran. Sebaliknya mustahil bagi kita mendapati kaum bani Israel yang mampu menghafal kitab mereka.

5. Alquran adalah kitab yang berlaku bagi seluruh alam semesta

Zabur, taurot dan injil hanya berlaku bagi kaum bani israil

6. Alquran memansukh kitab-kitab sebelumnya

الإِيْمَانُ بِالْكُتُبِ الْمُنَزَّلَةِ وَأَنَّ الْقُرْانَ الْكَرِيْمَ نَاسِخًا لَهَا وَأَنَّ مَا قَبْلَهُ مِنَ الْكُتُبِ طَرَأَ عَليْهِ التَّحْرِيْف

Beriman kepada kitab-kitab yang Alloh turunkan dan bahwasanya alquran alkarim menghapus kitab-kitab sebelumnya,adapun kitab-kitab sebelumnya terdapat banyak penyelewengan.



Maroji’ :

Mabahits fi ulumil quran, Syaikh Mannaul Qothon hal 104

Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi (maktabah syamilah) 2/275