Menutupi Aib Sesama Muslim

(aljaza’ min jinsil ‘amal, bukan hukum karma)
Sufyan bin Hushain berkata : Aku menyebutkan keburukan seseorang di hadapan Iyas bin Muawiyyah. Ia melihat pada diriku seraya berkata : Apakah engkau pernah berperang melawan bangsa Romawi seperti yang telah dilakukan oleh orang yang telah engkau umbar aibnya ? Aku menjawab : Belum. Ia bertanya lagi : Pernahkah engkau berperang melawan bangsa Sind, Hindi dan Turk ? Aku menjawab : Belum. Ia berkata : Apakah mulutmu bersih dengan tidak menyebut kejelekan bangsa Sind, Hindi dan Turk lalu mulutmu tidak selamat dari menyebut keburukan saudaramu ?
Mencari-cari kesalahan sesama muslim sering disebut dengan istilah tajassus yang dicela oleh Alloh sebagaimana firmanNya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ  
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang  [alhujurot : 12]
Imam Abu Hatim berkata :
التجسس من شعب النفاق كما أنّ حسن الظنّ من شعب الإيمان والعاقل يحسن الظنّ بإخوانه وينفرد بغمومه وأحزانه كما أنّ الجاهل يسيء الظنّ بإخوانه ولا يفكّر في جناياته وأشجانه
Tajassus adalah bagian dari kemunafikan sebagaimana husnudzon adalah bagian dari iman. Orang yang berakal pasti berbaim sangka kepada saudaranya. Ia menyukai kesendirian dengan kesedihan atas aibnya sendiri, sebagaimana orang bodoh senantiasa berburuk sangka kepada saudaranya. Ia tidak mau memikirkan keburukan dan kesedihan akan dosanya.
Said ibnu Musayyab berkata :
سعيد ليس من عالم ولا شريف ولا ذي فضل إلاّ وفيه عيب ولكن من كان فضله أكثر من نقصه ذهب نقصه لفضله ..... لا يسلم العالم من الخطأ فمن أخطأ قليلا وأصاب كثيرا فهو عالم
Tidak ada satupun orang alim, tidak pula orang yang memiliki kemuliaan kecuali pasti memiliki aib. Akan tetapi siapa yang lebih menonjol kemuliannya maka akan hilanglah aibnya karena kemuliaan yang ada padanya …… Seorang alim tidak mungkin selamat dari kesalahan, barangsiapa yang kesalahannyaa sedikit dan kebaikannya lebih banyak maka ia tetap berhak disebut sebegai alim.
Abdulloh bin Mubarok berkata :
عبد الله إذا غلبت محاسن الرجل على مساوئه لم تذكر المساوئ
Bila kebaikan seseorang mendominasi kesalahannya maka tidak perlu menyebutkan kesalahannya
Oleh karena itu, Alloh memberikan balasan sepadan bagi yang senantiasa menutupi aib sesama muslim dengan menutupi aibnya di dunia dan menutupi dosanya di akhirat sehingga tidak akan dihisab. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اَللَّهُ فِي اَلدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Barangsiapa menurupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat  [HR Muslim]
Maroji’ :
Rifqon Ahlussunnah Bi Ahlissunnah, Syaikh Abdul Muhsin Hammad Al “abbad Albadr