Hadits Mughiroh Bin Syu’bah


                                                                        Almashu Alakhuffaini (14)


Hadits ini banyak dikutip para ulama saat membahas almashu ‘alal khuffaini :


عَنْ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ كُنْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَتَوَضَّأَ فَأَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ دَعْهُمَا فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ فَمَسَحَ عَلَيْهِمَا مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Mughirah Ibnu Syu'bah Radliyallaahu 'anhu berkata : Aku pernah bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau berwudlu aku membungkuk untuk melepas kedua sepatunya lalu beliau bersabda : Biarkanlah keduanya sebab aku dalam keadaan suci ketika aku mengenakannya. Kemudian beliau mengusap bagian atas keduanya [Muttafaq Alaihi]


Hadits ini memberi faedah kepada kita tentang sikap tawadlu Mughiroh Bin Syu’bah. Ia adalah pemimpin besar Bani Tsaqif. Seharusnya ia berada pada posisi dilayani. Akan tetapi demikianlah ia berkhidmat bagi nabi shollallohu alaihi wasallam. Sudah seharusnya sikap ini ditiru oleh siapa saja yang memiliki kedudukan untuk mengikis perasaan bangga dan sombong dengan gelar keduniaan


Mengusap Jabiroh


                                                                Almashu Alalkhuffaini (13)


Jabiroh adalah gib yang biasa dipakai bagi orang yang mengalami patah tulang. Ini juga berlaku bagi perban yang menutupi luka-luka. Hal ini berdasar sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :


إَنَّمَا يَكْفِيْهِ أنْ يَعْصِبَ عَلَى جُرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحُ عَلَيْهِمَا

Sesungguhnya cukup bagimu dengan membalut luka dengan kain lalu mengusap atasnya [HR Abu Daud]


Kendati hadits di atas dloif, akan tetapi mengusap atas pembalut luka tidak dingkari oleh empat imam madzhab

Mengusap Kerudung Bagi Wanita


                                                         Almashu Alalkhuffaini (12)


Hukumnya boleh kendati dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ini berlaku ketika berwudlu di tempat umum dimana tempat wudlu wanita tidak aman dari pandangan kaum laki-laki. Bagi yang melakukannya dianjurkan mengusap sedikit dari rambutnya. Masalah ini bisa diqiyaskan dengan mengusap sorban.

Mengusap Surban


                                                                  Almashu Alalkhuffaini (12)


Hukumnya boleh. Ini adalah pendapat Abu Bakar, Umar Bin Khothob dan Anas Bin Malik. Dari kalangan ulama : Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Al Auza’i, Ibnu Hazm dan Ibnu Taimiyyah. Meski demikian, dianjurkan bagi yang melakukannya untuk mengusap sedikit dari ubun-ubunnya. Dalil dari masalah ini adalah :


عَنْ ثَوْبَانَ رضي الله عنه قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَرِيَّةً فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَمْسَحُوا عَلَى اَلْعَصَائِبِ  يَعْنِي اَلْعَمَائِمَ وَالتَّسَاخِينِ يَعْنِي اَلْخِفَافَ رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَصَحَّحَهُ اَلْحَاكِم


Dari Tsauban Radliyallaahu 'anhu berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengirim pasukan tentara, beliau memerintahkan mereka agar mengusap sorban-sorban dan tasakhin, yakni sepatu [HR Ahmad dan Abu Dawud] 

Mengusap Kaus Kaki


                                                               Almashu Alalkhuffaini (10)


Hukumnya boleh sebagaimana yang dituturkan oleh Mughiroh Bin Syu’bah :


أنّ رَسُوْلَ الله صلّى الله عليه وسلم تَوَضَّأ وَمَسَحَ عَلِى الْجَوْرَبَيْنِ وَالنَعْلَيْنِ

Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam berwudlu dan mengusap atas kaus kaki dan sendal [HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi]


Dalil lain adalah diungkapkan Arzaq Bin Qois :


رَأيْتُ أنس بن مالك أحْدَثَ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَيَدَيْهِ وَمَسَحَ عَلَى جَوْرَبَيْنِ مِنْ صُوْفٍ فقلت أتَمْسَحُ عَلِيْهِمَا قال إنَّهُمَا خُفَّانِ وَلَكِنْ مِنْ صُوْفٍ

Aku melihat Anas Bin Malik berhadats lalu berwudlu. Ia membasuh wajah dan mengusap kedua kaus kakinya yang terbuat dari bulu domba. Aku berkata : Apakah engkau mengusap bagian atasnya ? Ia menjawab : Sesungguhnya kedua kaus kaki adalah sepatu juga akan tetapi terbuat dari bulu domba


Dalam masalah ini terhitung ada sebelas sahabat yang melakukannya, diantara : Umar Bin Khothob, Abdulloh Bin Umar, Abdulloh Bin Mas’ud dan lainnya

Maroji’ :

Shohih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid 1/157