Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Mengucapkan In Syaa Alloh




in-syaa-Alloh (6) 

Ini beliau ucapkan saat memberikan janji kepada umat islam :

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آَمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil haram, insya Allah dalam Keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat  [alfath : 27]

Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata tentang in syaa Alloh pada ayat di atas :

  مشروعية قول إن شاء الله في كل قول أو عمل يراد به المستقبل  
Disyariatkan mengucapkan in syaa Alloh di setiap ucapan atau perbuatan yang ditujukan untuk sesuatu yang terjadi pada masa yang akan datang

Maroji’ :
Aisaruttafasir (maktabah syamilah) hal 514

Syuaib Mengucapkan In Syaa Alloh




in-syaa Alloh (5) 

Nabi Syuaib memberi penawaran menarik kepada Musa :




قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ
Berkatalah Dia (Syu'aib) : Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku Termasuk orang- orang yang baik [alqoshosh : 27]

Penawaran ini dijawab Musa :

قَالَ ذَلِكَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ أَيَّمَا الْأَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ وَاللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ
Dia (Musa) berkata : Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, Maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan

Kenapa Syuaib mengucapkan in syaa Alloh ? Penulis Tafsir Alkhozin berkata :

وإنما قال إن شاء الله للاتكال على توفيقه ومعونته
Sesungguhnya Syuaib mengucapkan in syaa Alloh tidak lain untuk menyandarkan dirinya pada taufiq dan pertolongan Alloh.

Walhasil, bagi siapa yang menginginkan pertolongan Alloh dalam semua perbuatan, maka jangan lupakan Alloh.

Maroji’ :
Tafsir Alkhozin (maktabah syamilah) hal 388



Musa Mengucapkan In Syaa Alloh




in-syaa Alloh (4) 

قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun  [alkahfi : 69]

Ucapan istitsna (in syaa Alloh) dari Musa diucapkan saat dirinya berjanji kepada Khidzir untuk siap menjadi murid yang sabar.

Syaikh Sayyid Tanthowi menerangkan tentang kalimat istitsna dari Musa : Menunjukkan sifat lembut dan budi pekerti Musa.

Sementara penulis jalalain berkata : Musa mengikat janjinya kepada Khidzir dengan ucapan in syaa Alloh karena Musa tidak meyakini dirinya punya kemampuan untuk melaksanakan apa yang seharusnya dia lakukan melainkan atas kehendak Alloh. Demikianlah para nabi dan para wali, mereka tidak sedikitpun yakin semata kepada dirinya melainkan selalu menyandarkan sesuatu kepada Alloh.

Maroji’ :
Tafsir Sayyid Tanthowi (maktabah syamilah) hal 301    
Tafsir Jalalain (maktabah syamilah) hal 301          

Ismail Mengucapkan In Syaa Alloh




in-syaa Alloh (3) 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata : Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu ! ia menjawab : Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar  [ash shofat : 102]

Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di menerangkan tentang kalimat in syaa Alloh yang diucapkan oleh Ismail :

وقرن ذلك بمشيئة اللّه تعالى، لأنه لا يكون شيء بدون مشيئة اللّه تعالى
Ismail menyandingkan janji sabarnya saat disembelih dengan kehendak Alloh, karena sesuatu tidak akan terjadi tanpa kehendak Alloh

Maroji’ :
Tafsir Assa’di (maktabah syamilah) hal 449