Anjing Menjulurkan Lidahnya


Anjing (2)

Orang kafir yang sudah ditutup hatinya oleh Alloh, tidak akan bermanfaat semua nasehat yang datang kepadanya. Diberi petuah atau dibiarkan sama saja. Diseru atau diacuhkan tidak akan berubah. Alloh serupakan kondisi mereka seperti anjing :

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآَيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ   

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir [alkahfi : 176]

Binatang bila menjulurkan lidahnya, itu tanda ia dalam keadaan haus atau lelah. Bila kenyang dan segar karena sudah mendapat makanan atau minuman lidahnya tidak akan terjulur. Ini berbeda dengan anjing. Lapar dan haus lidahnya terjulur demikian juga saat kenyang dan segar. Itulah tamtsil bagi orang yang tidak berubah dengan petuah ilahi.

Maroji’ :

Zadul Masir (maktabah syamilah) hal 173


Air Liur Anjing Najis


Anjing (1)


Ketika anjing haus mendatangi ember yang berisi air, atau bak mandi lalu minum darinya maka air dan wadahnya dinyatakan najis. Langkah yang harus diambil adalah membuang seluruh air yang ada. Selanjutnya mengambil wadah kecil yang diisi air dan tanah. Setelah itu air dan tanah sudah bercampur digosok-gosokkan ke wadah. Terakhir, wadah diguyur air sebanyak tujuh kali.


Inilah satu-satunya cara mensucikan najis mugholadzoh (berat) dari anjing. Tanah tidak bisa diganti dengan cairan pembersih noda. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda tentang hal ini :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طُهُورُ إنَاءِ أَحَدِكُمْ إذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ وَفِي لَفْظٍ لَهُ فَلْيُرِقْهُ وَلِلتِّرْمِذِيِّ  أُخْرَاهُنَّ أَوْ أُولَاهُنَّ


Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Sucinya tempat air seseorang diantara kamu jika dijilat anjing ialah dengan dicuci tujuh kali, yang pertamanya dicampur dengan debu tanah  [HR Muslim] Dalam riwayat lain disebutkan : Hendaklah ia membuang air itu. Menurut riwayat Tirmidzi : Yang terakhir atau yang pertama (dicampur dengan debu tanah).

  Jangan Gusur Tempat Orang


Akhlaq Muslim (29)


Apa perasaan kita ketika berjualan di pasar dan sudah menempati tempat berjual beli yang merupakan hak kita, lalu ada yang menggusur tanpa alasan yang benar ?


Ketika kita sudah mendapat tempat duduk di kelas dan kita sudah merasa nyaman dengan posisi itu tiba-tiba ada siswa lain meminta kita berpindah tempat. Tentu kita tidak akan terima mendapat perlakuan seperti itu.


Di bus, kita sudah mendapat seat sesuai permintaan dan sudah tertera di tiket, tanpa alasan jelas seorang penumpang memaksa kita untuk menempati seatnya sementara dia mengambil hak kita. Pasti kita berontak dengan perilaku orang itu.


Contoh di atas adalah perbuatan yang bisa mengusik kenyamanan orang. Islam memberi perhatian dalam masalah ini :


عن ابن عمر رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رسول الله  صلى الله عليه وسلم لا يُقِيمَنَّ أحَدُكُمْ رَجُلاً مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيهِ ، وَلكِنْ تَوَسَّعُوا وَتَفَسَّحُوا  وكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيهِ  

Dari Ibnu Umar rodliyallohu anhuma berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Janganlah seorang diantara kamu menyuruh orang berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ. Akan tetapi berluas-luas dan berlapang-lapanglah. Ibnu Umar bila melihat seorang berdiri dari tempat duduknya ia tidak akan duduk di tempat itu [muttafaq alaih]


عن أَبي هريرة رضي الله عنه أنَّ رسول الله  صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسٍ ثُمَّ رَجَعَ إِلَيْهِ ، فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ  

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila seorang diantara kamu berdiri dari tempat duduknya (lalu pergi, mungkin ke toilet dan lainnya) lalu ia kembali lagi maka ia lebih berhak untuk menduduki tempat itu [HR Muslim]


Ibnu Hajar Al Atsqolani berkata :

فَمَنْ سَبَقَ إِلَى شَيْء اِسْتَحَقَّهُ ، وَمَنْ اِسْتَحَقَّ شَيْئًا فَأَخَذَ مِنْهُ بِغَيْرِ حَقّ فَهُوَ غَصْب وَالْغَصْب حَرَا

Siapa yang sudah mendahului sesuatu dalam memperoleh haknya dan orang yang sudah mendapat haknya atas sesuatu lalu ada orang lain mengambil haknya tanpa alasan yang benar maka ia dinilai telah melakukan tindakan ghoshob (merampas). Ghosob itu statusnya haram.


Imam Nawawi berkata :

فَمَنْ سَبَقَ إِلَى مَوْضِع مُبَاح فِي الْمَسْجِد وَغَيْره يَوْم الْجُمُعَة أَوْ غَيْره لِصَلَاةٍ أَوْ غَيْرهَا فَهُوَ أَحَقّ بِهِ ، وَيَحْرُم عَلَى غَيْره إِقَامَته لِهَذَا الْحَدِيث  

Barangsiapa yang telah mendahului dalam menempati tempat yang mubah di masjid atau selainnya, dalam rangka sholat atau selainnya maka ia lebih berhak untuk menempatinya dan haram bagi orang lain untuk menempatinya berdasarkan hadits di atas


Maroji’ :

Fathul Bari 8/18

Syarh Shohih Muslim 7/131

  Memisahkan Dua Orang Yang Tengah Duduk


Akhlaq Muslim (28)


Sering kita jumpai di masjid pada hari jumat seorang datang tidak di awal waktu. Ia langkahi pundak manusia lalu ketika tiba di shof yang diinginkan, ia meminta dua orang merenggakan tempat duduknya agar ia bisa menempatinya. Ia tidak tahu, boleh jadi dua orang yang diganggunya adalah dua orang bersaudara yang berangkat ke masjid bersama dan ingin berada di dalam shof berdampingan. Kepada perilaku seperti ini, rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :


عن سَلْمَان الفارسي رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَيَتَطهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيب بَيْتِهِ ، ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَينِ ، ثُمَّ يُصَلِّي مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الجُمُعَةِ الأُخْرَى

Dari Salman Alfarisi rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Tidaklah seorang mandi di hari jumat, ia bersuci sesuai yang ia mampu melakukannya, meminyaki tubuh dari minyak yang ia miliki atau mengenakan wewangian yang ada di rumahnya lalu keluar. Ia tidak memisahkan dua orang yang duduk. selanjutnya menunaikan sholat yang ia mampu melakukannya. Setelah itu diam saat imam berkhutbah kecuali diampuni dosa baginya antara jumat itu dan jumat berikutnya [HR Bukhori]


عن عمرو بن شُعَيْب، عن أبيهِ، عن جَدِّهِ رضي الله عنه  أنَّ رسول الله  صلى الله عليه وسلم  قَالَ لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أنْ يُفَرِّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ إِلاَّ بإذْنِهِمَا

Dari Amru Bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya rodliyallohu anhu : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Tidak halal bagi seseorang memisahkan antara dua orang kecuali atas idzin keduanya [HR Abu Daud dan Tirmidzi]


Penulis Umdatul Qori menerangkan bahwa maksud dari “ Ia tidak memisahkan dua orang yang duduk “ adalah perintah tabkir (bersegera ke masjid). Maknanya bila ia datang ke masjid lebih awal, pasti ia mendapat tempat yang ia inginkan tanpa harus memisahkan dua orang yang sedang duduk.

Yang harus diingat bahwa siapa yang melakukan perbuatan ini, ia tidak akan mendapat fadhilah jumat yaitu pengampunan dosa antara jumat di hari itu hingga jumat berikutnya


Maroji’ :                                                

Umdatul qori 6/176

 Jangan Bebani Muallaf Dengan Dengan Beban Berat


Akhlaq Muslim (27)


Syariat memperbolehkan pemberian zakat kepada muallaf meski yang bersangkutan kaya harta. Kepada mereka cukup diberikan perintah-perintah wajib tanpa menyebutkan ibadah sunnah. Menggambarkan islam itu mudah kepada mereka adalah hal yang harus diketahui oleh setiap da’i. Bikin mereka nyaman dengan islam yang baru dipeluknya. Seperti wasiat nabi shollallohu alaihi wasallam kepada Muadz Bin Jabal yang akan berangkat ke Yaman untuk mendakwahkan islam kepada ahlul kitab. Beliau bersabda :


إِنَّكَ تَأْتِى قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ. فَادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ فِى فُقَرَائِهِمْ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَإِيَّاكَ وَكَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ  

Sungguh engkau akan mendatangi kaum ahli kitab, maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat La ilaha illalloh dan aku adalah rosululloh, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mematuhi apa yang telah kamu sampaikan, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka zakat, yang diambil dari orang-orang kaya diantara mereka dan diberikan pada orang-orang yang fakir. Dan jika mereka telah mematuhi apa yang kamu sampaikan, maka jauhkanlah dirimu dari harta pilihan mereka, dan takutlah kamu dari doanya orang-orang yang teraniaya, karena sesungguhnya tidak ada tabir penghalang antara doanya  dan Allah [Bukhori dan Muslim]


Demikian juga hadits lain perihal pertanyaan seorang muallaf kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَابِرْ بْنِ عَبْدِ اللهِ الأَنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ اْلمَكْتُوْبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلاَلَ، وَحَرَّمْت الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئاً، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ ؟ قَالَ : نَعَمْ

Dari Abu Abdullah, Jabir bin Abdullah Al Anshary radhiallahuanhuma : Seseorang bertanya kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata : Bagaimana pendapatmu jika saya melaksanakan shalat yang wajib, shoum Ramadhan, Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram dan saya tidak tambah sedikitpun, apakah saya akan masuka ljannah ?. Beliau bersabda : Ya [HR Muslim]

Betapa mudahnya islam yang diajarkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Bagi para pemula, cukup disampaikan sholat lima waktu. Tidak perlu diterangkan kepada mereka selain sholat wajib. Jangan bombardir mereka dengan perintah sholat 12 rokaat rowatib yang muakkad, apalagi 11 rokaat yang ditunaikan di tengah malam. Ibadah hartapun, cukup dibatasi pelajaran zakat. Tidak wajar bila mereka dibebankan shodaqoh, infaq, wakaf dan lainnya.


Walhasil, jangan membuat mereka lari dari agama ini. Buatlah mereka nyaman menjadi muslim. Suatu saat seiring berlalunya waktu mereka akan menunaikan islam sebagaimana yang sudah diamalkan para seniornya.