Maksiat


                                                   Menjaga Wibawa (11)

Ia akan menjatuhkan wibawa seseorang. Yang bersangkutan akan memiliki beragam gelar berupa fasik, dzolim, munafiq dan lainnya. Seorang yang hidupnya dipenuhi dengan dosa, kehadirannya tidak diharapkan. Kepercayaan masyarakat akan hilang dan simpati kepadanya akan luntur. Benarlah firman Alloh :

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya [alhajj : 18]

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِى  

Dari Ibnu Umar berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Dan dijadikan hina dan kecil kepada siapa saja yang menyelisihi perintahku [HR Ahmad]

Berhutang


Menjaga Wibawa (10)

Terkadang hutang menurunkan izzah. Hidupnya tidak bebas. Tak jarang hidupnya diatur oleh si pemberi pinjaman. Negara yang memiliki hutang, begitu mudah didikte politiknya oleh negara pendonor. Oleh karena itu, nabi shollallohu alaihi wasallam mengajarkan kita untuk berlindung kepada Alloh dari hutang. Aisyah menuturkan :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو فِى الصَّلاَةِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ. فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ  

Dari Aisyah istri nabi shollallohu alaihi wasallam, bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam berdoa dalam sholat “ Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur, aku berlindung kepadaMu dari fitnah Almasih Addajjal, aku berlindung kepadaMu dari fitnah hidup dan fitnah mati. Ya Alloh aku berlindung kepadaMu dari dosa dan hutang “. Seorang bertanya : Kenapa engkau memperbanyak berlindung dari hutang ? Beliau bersabda : Sesungguhnya seorang bila berhutang akan bicara lalu berdusta dan berjanji lalu mengingkari [HR Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Nasa’i]

Mengenakan Sendal Sebelah


Menjaga Wibawa (9)

Ini tidak boleh meski tidak sampai batas haram. Sebuah hadits menyebutkan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لاَ يَمْشِى أَحَدُكُمْ فِى نَعْلٍ وَاحِدَةٍ لِيُحْفِهِمَا جَمِيعًا ، أَوْ لِيَنْعَلْهُمَا جَمِيعًا

Dari Abu Huroiroh, bahwasanya rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Janganlah seorang diantara kamu berjalan dengan memakai satu sendal. Lepas keduanya atau kenakan keduanya [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah]

Kenapa perbuatan ini dilarang ? Penulis Umdatul Qori menerangkan bahwa memakai satu sendal menyebabkan : Kesulitan dalam berjalan, menghilangkan rasa aman dari benda-benda kasar, kurang sedap dipandang (karena akan dikira kakinya panjang sebelah), sikap meniru cara jalan setan dan menimbulkan syuhroh (ingin menjadi pusat perhatian)

Maroji’ :

Umdatul Qori 32/18

Mengenakan Sendal Atau Sepatu Sambil Berdiri


Menjaga Wibawa (8)

Di toko sepatu, biasanya tersedia kursi sebagai sarana duduk bagi konsumen yang akan mencoba sepatu pilihannya. Ini bagian dari sunnah. Islam memakruhkan seorang muslim mengenakan sepatu, apalagi ada talinya dengan berdiri dalam keadaan berdiri. Itu tentu akan menyulitkan orang yang melakukannya. Bedakan dengan orang yang duduk saat akan memasukkan kaki ke dalam sepatu. Tampak lebih santai dan mudah.

Tak jarang bagi yang menyelisihi sunnah ini akan bergoyang-goyang yang boleh jadi dirinya akan terjatuh. Bukankah ini kurang bagus dipandang ? Jabir Bin Abdulloh menuturkan :

عن جابر رضي الله عنه أنَّ رسولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى أنْ يَنْتَعِلَ الرَّجُلُ قَائِماً  

Dari Jabir rodliyallohu anhu, bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam melarang seorang laki-laki mengenakan sendal dalam keadaan berdiri [HR Abu Daud]

Penulis Faidlul Qodir berkata :

والأمر للإرشاد لأن لبسها قاعدا أسهل وأمكن  

Perintah duduk saat mengenakan sepatu bersifat anjuran karena memakainya dengan duduk lebih mudah dan nyaman

Maroji’ :

Faidlul Qodir 6/441


Berlarian Saat Mendengar Iqomat


Menjaga Wibawa (7)

Tak jarang sebagian orang yang mendengar iqomat saat mereka berada di jalan menuju masjid akan mempercepat langkah, bahkan tidak sedikit diantara mereka yang berlari. Cara ini menyelisihi sunnah. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi kita taujih :

عن أَبي هريرة  رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رسول الله  صلى الله عليه وسلم يقول إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ ، فَلاَ تَأتُوهَا وَأنْتُمْ تَسْعَونَ ، وَأتُوهَا وَأنْتُمْ تَمْشُونَ ، وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ ، فَمَا أدْرَكْتُم فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتكُمْ فَأَتِمُّوا 

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu berkata : Aku mendengar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila iqomat dikumandangkan maka janganlah mendatanginya sedangkan kalian berjalan cepat. Datangilah sholat dengan berjalan pelan dan bersikap tenanglah. Apa yang kalian dapati maka tunaikan sholat itu dan apa yang kalian luput darinya maka sempurnakanlah [muttafaq alaih]

Mempercepat langkah saat mendengar iqomah mendatangkan banyak madlorot, diantaranya : Menimbulkan kegaduhan, menghilangkan kekhusyuan dan mengurangi kewibawaan. Kenapa ? Karena kewibawaan seseorang bisa dilihat dari cara berjalan. Berjalan dengan tenang menunjukkan wibawa. Tentu tidak enak dipandang bila seorang tergesa-gesa dalam jalannya