Ragu Saat Akan Menjawab Almasail Addiniyyah




(Fiqih Ragu 25) 

Para malaikat ketika ditanya Alloh tentang berbagai macam nama, mereka menjawab dengan penuh kejujuran :
سبحانك لا علم لنا إلاّ ما علّمتنا
Maha Suci Engkau, tidak ada ilmu pada kami selain sedikit ilmu yang Engkau berikan kepada kami

Malaikat tidak malu untuk menjawab tidak tahu. Itulah akhlaq mulia. Sikap tidak gegabah untuk menjawab pertanyaan bukan menunjukkan kebodohan, juga bukan menjatuhkan martabat seseorang melainkan ia adalah sikap waro’ (hati-hati)

Di hadapan para sahabat, rosululloh shollallohua alaihi wasallam pernah ditanya oleh malaikat tentang kiamat, tanpa malu beliau menjawab “ Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya “
Demikianlah, sudah seharusnya para ustadz bersikap dengan akhlaq mereka agar kemurnian ajaran islam terjaga dengan baik. Oleh karena banyak ulama memberikan kepada kita nasehat emas seputar masalah ini :

Abdurrohman bin Mahdi berkata : Seorang lelaki dari Maghrib (Maroko) bertanya kepada Malik bin Anas tentang satu masalah.Imam Malik menjawab :

لا أدْرِى فقال يَا أبَا عَبْدِ الله تَقُوْلُ لاَ أدْرِى ؟ قَالَ نَعَمْ فَأَبْلِغْ مَنْ وَرَاءَكَ أنِّي لاَ أدْرِى
Saya tidak tahu. Iapun berkata : Wahai Abu Abdillah, engkau berkata “ Saya tidak tahu ? “ Imam Malik berkata : Benar, sampaikan kepada orang yang ada di belakangmu, bahwa aku menjawab tidak tahu.

Abdulloh (anak imam Ahmad) berkata :

كُنْتُ أسْمَعُ أبِى كَثْيْرًا يُسْأَلُ عَنِ الْمَسَائِلِ فَيَقُوْلُ لاَ أدْرِى وَيَقِفُ إذَا كَانَتْ مَسْأَلَةٌ فِيْهَا إخْتِلاَفٌ وَكَثِيْرًا مَا كَانَ يَقُوْلُ سَلْ غَيْرِي
Aku sering mendengar bapakku ditanya tentang banyak masalah, beliau menjawab “ Saya tidak tahu “ dan beliau bertawaquf (sikap diam) dalam masalah yang masih diperselisihkan. Sering juga beliau berkata “ Silahkan tanya kepada selainku “

Abdurrohman bin Abu Laila berkata : 

أدْرَكْتُ عِشْرِيْنَ وَماِئَةً مِنْ أصْحَابِ رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه وسلّم أرَاهُ فِى الْمَسْجِدِ فَمَا كَانَ مِنْهُمْ مُحَدِّثٌ إلاَّ وَدَّ أنَّ أخَاهُ كَفَاهُ الْحَدِيْث وَلاَ مُفْتٍ إلاَّ وَدَّ أنَّ أخَاهُ كَفَاهُ الْفُتْيَا
Aku menjumpai 120 sahabat rosululloh shollallohu alaihi wasallam, dimana aku melihatnya di masjid, tidaklah membicarakan masalah din (hadits) kecuali berharap saudaranya yang lain yang berbicara dan tidaklah berfatwa kecuali berharap saudaranya yang lainlah yang mengeluarkan fatwa.

Ibnu Abbas berkata :
إنَّ كُلَّ مَنْ أفْتَى النَّاسَ فِي كُلِّ مَا يَسْأَلُوْنَهُ عَنْهُ لَمَجْنُوْنٌ
Sesungguhnya siapa yang selalu berfatwa untuk manusia dalam masalah yang ditanyakan padanya maka benar-benar ia adalah orang gila.

Sahnun bin sa’id berkata :

أجْسَرُ النَّاسِ عَلَى الْفُتْيَا أقَلُّهُمْ عِلْمًا يَكُوْنُ عِنْدَ الرَّجُلِ الْبَابُ الْوَاحِدُ مِنَ الْعِلْمِ يَظُنُّ أنَّ الْحَقَّ كُلُّهُ فِيْهِ
Orang yang terlalu berani berfatwa, menunjukkan sedikitnya ilmu mereka. Seorang yang hanya memiliki satu bab dari ilmu merasa seolah-olah alhaq ada padanya.

Ibnul Qoyyim berkata :
فَإِذَا قَلَّ عِلْمُهُ أفْتَى عَنْ كُلِّ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ بِغَيْرِ عِلْمٍ
Bila sedikit ilmu maka ia akan berfatwa setiap pertanyaan yang diajukan padanya tanpa dasar ilmu.
Maroji’ :
I’lamul Muwaqi’in, Ibnul Qoyyim Aljauziyyah 1/27-29 (Darul Fikr)
























Shoum Pada Hari Meragukan




(Fiqih Ragu 24) 

Pada prinsipnya, satu bulan dalam kalender hijriyyah berjumlah 29 hari. Bila waktu maghrib di tanggal 29 sudah terlihat hilal, maka sudah dinyatakan memasuki bulan baru. Sebaliknya bila bulan tsabit tidak tampak, maka jumlah hari dalam bulan itu adalah 30 hari.

Demikianlah kaedah dasar dalam memahami perputaran bulan dalam islam. Aktifitas meru’yat hilal harus dilakukan menjelang akhir bulan. Itu berkaitan dengan pelaksanaan ibadah shoum di bulan romadlon, sholat idul fitri, hari raya idul adha, shoum ayyamul bidl, ketentuan empat bulan harom dan lainnya.

Timbul problem, saat awan menutupi ufuk barat sehingga ru’yat menemui kendala. Bagaimana mungkin bulan muda terlihat bila mendung menghalangi pandangan. Dari situ muncullah keraguan pada diri umat islam. Apakah hilal sudah muncul atau belum ?

Tidak sedikit dari umat islam melaksanaakan shoum di tengah kegamangan dan keraguan. Bila kita memaksakan diri menunaikannya, kita dinilai mengerjakan “ shoumu yaumusy syak “ (shoum pada hari meragukan). Itulah istilah yang disebut oleh Syaikh Sayyid Sabiq. Beliau menilai sebagai perbuatan terlarang berdasar pada perkataan sahabat :

عَنْ عَمَّارِ بْنِ يَاسِرٍ رضي الله عنه قَالَ مَنْ صَامَ اَلْيَوْمَ اَلَّذِي يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا اَلْقَاسِمِ صلى الله عليه وسلم  
Amar bin Yasir rodliyallohu anhu berkata : Barangsiapa menunaikan shoum pada hari meragukan, maka ia telah bermaksiat pada Abu Qosim shollallohu alaihi wasallam  [HR Ash habussunan]
Solusi dari keraguan itu adalah menggenapkan bulan itu dari 29 menjadi 30 hari. Ini sesuai dengan sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :
عَنِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: ( إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا, وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا, فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَلِمُسْلِمٍ: ( فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا  لَهُ  ثَلَاثِينَ ) . وَلِلْبُخَارِيِّ: ( فَأَكْمِلُوا اَلْعِدَّةَ ثَلَاثِينَ ) 
Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) shaumlah, dan apabila engkau sekalian melihatnya (bulan) berbukalah, dan jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah. Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Muslim : Jika awan menutupi kalian maka perkirakanlah tiga puluh hari. Menurut riwayat Bukhari : Maka sempurnakanlah hitungannya menjadi tigapuluh hari.

Maroji’ :
Fiqih Sunnah, Syaikh Sayyid Sabiq 1/378 (Darul Fikr)

Ragu terhadap Satu Di Antara Dua Pilihan




(Fiqih Ragu 23) 

Barangsiapa menghadapi dilema dalam satu masalah, semisal memilih satu diantara dua pilihan yang harus diambil, maka disyariatkan baginya menunaikan sholat dua rokaat. Sholat ini sering disebut dengan sholat istikhoroh. Pelaksanaannya sama dengan sholat-sholat lainnya. Bila selesai, disyariatkan untuk berdoa :

اللهم إني أسْتَخِيركَ بعلمكَ، وأسْتَقْدِرُك بقدرتكَ، وأسألُكَ من فَضْلك العظيم؛ فإنك تَقْدِر ولا أقْدِر، وتَعْلَمُ ولا أَعْلَم، وأنت عَلام الغيوب، اللهم إن كنتَ تعلم  هذا الأمر خيرًا لي في دِينِي ومَعاشي وعاقِبة أمري، فاقدُرْهُ لي ويَسِّره لي  وبارك لي فيه، اللهم إن كنتَ تَعْلَمْهُ شرا لي في ديني ومَعاشي وعاقبة أمري، فاصْرِفْنِي عنه، واصرفه عنِّي، واقْدُرْ لي الخير حيث كان، ثم رَضِّني به

Syaikh Abu Malik Kamal ibnu Sayid Salim memberi catatan seputar masalah-masalah yang berkenaan dengan sholat istikhoroh :

·         Istikhoroh hanya disyariatkan saat berkehendak untuk melakukan perkara mubah. Tidak disyariatkan untuk hal-hal yang bersifat sunnah (kecuali bila ada dua pilihan yang harus diambil), wajib dan haram.
Misal : Punya rencana shoum senin kamis. Ibadah ini bernilai sunnah. Tidak dianjurkan diawali dengan memohon petunjuk kepada Alloh lewat istikhoroh, apakah ditunaikan atau tidak. Itu juga berlaku bagi shoum wajib seperti shoum romadlon. Demikian juga, keliru besar manakala istikhoroh dilakukan sebelum melanggar larangan Alloh. Karena prinsip haram itu harus dijauhi.
·         Setelah istikhoroh ditunaikan, wajib mengambil pilihan yang menurut hatinya terasa lapang. Tidak boleh mengambil pilihan sesuai hawa nafsu yang bersemayam pelaksanaan sholat.
·         Tidak disyariatkan pilihan diambil berdasar mimpi sebagaimana keyakinan kebanyakan orang awam.
·         Boleh jadi pilhan Alloh tidak sesuai dengan keinginannya. Dia harus berserah diri terhadap firman Alloh :
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [albaqoroh : 216]


·         Istikhoroh adalah doa, tidak mengapa dilakukan berulang-ulang
Maroji’ :
Shohih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal ibnu Sayid Salim 1/426-427 (almaktabah taufiqiyyah)

Keraguan Dalam jumlah Rokaat




(Fiqih Ragu 22) 

Itu adalah hal biasa. Siapapun pasti pernah mengalaminya, imam maupun makmun. Nabi shollallohu alaihi wasallam memberi solusi :

َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ  فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى أَثْلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا ؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ  ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ  فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْساً شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ  وَإِنْ كَانَ صَلَّى تَمَامً ا كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ
Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholat ia tidak mengetahui apakah telah sholat tiga atau empat rakaat Maka hendaknya ia meninggalkan keraguan dan memantapkan apa yang ia yakini kemudian sujud dua kali sebelum salam Maka bila telah sholat lima rakaat genaplah sholatnya Bila ternyata sholatnya telah cukup maka kedua sujud itu sebagai penghinaan kepada setan [HR Muslim]

Hadits di atas menunjukkan bahwa penyebab keraguan terhadap jumlah rokaat adalah setan. Ini menunjukkan bahwa setan senantiasa hadir di setiap kondisi hingga saat kita sedang bertaqorrub kepada Alloh.

Bila hal itu menimpa maka solusinya adalah sujud sahwi. Sujud ini memiliki dua manfaat, yaitu :
·         Penghinaan bagi setan

·         Menggenapkan rokaat ganjil

Imam Shon’ani berkata : Hadits ini menunjukkan bahwa keraguan dalam sholat harus dibangun di atas keyakinan selanjutnya wajib atasnya sujud dua kali. Beliaupun memperjelas hadits di atas dengan menambahkan riwayat lain :

عن عبد الرحمان بن عوف سَمِعْتُ رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يَقُوْلُ إذَا شَكَّ أحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ فَلَمْ يَدْرِ وَاحِدَةً صَلّى أوِ اثْنَتَيْنِ فَلْيَجْعَلْهَا وَاحِدَةً وَإذَا لَمْ يَدْرِثِنْتَيْنِ صَلّى أوْ ثَلاَثًا فَلْيَجْعَلْهَا ثِنْتَيْنِ وَإذَا لَمْ يَدْرِ ثَلاَثًا صَلَّى أوْ أرْبَعًا فَلْيَجْعَلْهَا ثَلاَثًا ثُمَّ يَسْجُد إذَا فَرَغَ مِنْ صَلاَتِهِ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أنْ يُسَلِّمَ سَجْدَتَيْنِ
Dari Abdurrohman bin Auf : Aku mendengar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila seorang di antara kalian mengalami keraguan dalam sholatnya, dimana dia tidak tahu, apakah satu atau dua rokaat yang telah ia tunaikan, maka anggaplah baru satu rokaat. Bila ia tidak tahu, apakah dua atau tiga rokaat yang telah ia tunaikan, maka anggaplah dua rokaat. Bila ia tidak tahu, apakah tiga atau empat rokaat yang telah ia tunaikan maka anggaplah tiga rokaat. Lalu bila sudah selesai dari sholatnya sementara ia masih berada pada posisi duduk sebelum salam, ia sujud dua kali  [HR Ahmad]

Maroji’ :
Subulussalam, Imam Shon’ani 1/205 (Maktabah Dakhlan)