Furqu’atul Ashobi’



Kedudukan Tangan Dalam Sholat (36)

Yaitu menarik sendi tulang hingga terdengar bunyi. Biasanya dilakukan pada jari-jari kaki dan tangan atau leher. Memang ada sensasi nyaman, akan tetapi kalau dilakukan dalam sholat tentu perbuatan ini dilarang karena akan menghilangkan kekhusyuan.

Syu’bah pernah melakukannya dan akhirnya mendapat teguran dari tuannya yang sekaligus gurunya, yaitu Ibnu Abbas :

عَنْ شُعْبَةَ مولى إبن عَبَّاسٍ قَالَ صَلَّيْتُ إلَى جَنْبِ إبْنِ عَبَّاسٍ فَفَقَعْتُ أَصَابِعِيّ فَلَمَّا قَضَيْتُ الصَّلاَةَ قَالَ لاَ أُمَّ لَكَ أَتَفْقَعُ أصَابِعَكَ وَأنْتَ فِي الصَّلاَةِ

Dari Syu’bah maula Ibnu Abbas berkata : Aku pernah sholat di samping Ibnu Abbas lalu aku menarik jemariku. Ketika aku sudah menyelasaikan sholat, ia berkata : Semoga engkau tidak memiliki ibu (ungkapan teguran) ! Apakah engkau menarik jari-jarimu sementara engkau berada dalam sholat ?

Maroji’ :

Shohih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid 1/357


Bertepuk Bagi Wanita



Kedudukan Tangan Dalam Sholat (35)

Kesalahan imam wajib ditegur oleh seluruh jamaah. Untuk kaum laki-laki dengan bertasbih (mengucapkan subhaanalloh) sedangkan wanita dengan bertepuk sebagaimana sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ

Sesungguhnya attashfiq (bertepuk) tidak lain hanya untuk wanita [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Majah]

وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ

Sesungguhnya attashfih (bertepuk) tidak lain hanya untuk wanita [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i] 

Kata bertepuk, ditampilkan dua istilah oleh nabi shollallohu alaihi wasallam, yaitu attshfiq dan attsafih. Apa perbedaan keduanya ? Ibnu Rojab Alhambali berkata :

وقيل : التصفيق : ضرب بباطن الراحة على الأخرى . والتصفيح : الضرب بظاهر الكف على ظهر الأخرى

Ada yang mengatakan bahwa atashfiq adalah memukul perut telapak tangan ke perut telapak tangan lainnya. Adapun attashfih adalah memukul punggung telapak tangan ke punggung telapak tangan lainnya

Ada juga yang berpendapat yang dimaksud bertepuk adalah memukul telapak tangan ke paha sebagaimana teguran para sahabat kepada Muawiyah Bin Hakam Assulami yang berkata-kata dalam sholatnya

فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ

Mereka memukulkan tangan-tangan mereka ke paha-paha mereka [HR Muslim, Ahmad, Nasa’i, Darimi dan Ibnu Khuzaimah]

Imam Ibnu Rojab Alhambali memiliki padangan tambahan tentang hukum bertasbih bagi kaum wanita. Ia berkata :

وإنما تصفق المرأة إذا كان هناك رجال .فأما إن لم يكن معها غير النساء ، فقد سبق أن عائشة سبحت لأختها أسماء في صلاة الكسوف ، فإن المحذور سماع الرجال صوت المرأة ، وهو مأمون هاهنا ، فلا يكره للمرأة أن تسبح للمرأة في صلاتها . ويكره أن تسبح مع الرجال

Perintah bertepuk bagi wanita bila di sana ada kaum laki-laki. Adapun bila tidak ada diantara mereka selain wanita, maka diperbolehkan. Sebagaimana yang sudah disebut sebelumnya bahwa Aisyah bertasbih untuk saudarinya Asma pada saat sholat gerhana. Yang dilarang adalah laki-laki mendengar suara wanita. Dalam kondisi ini, aman maka tidak dilarang bagi wanita untuk bertasbih dalam sholatnya. Tasbih dilarang bila wanita ada bersama kaum laki-laki.

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Rojab Alhambali 7/152

Mengusap Pasir Dari Wajah



Kedudukan Tangan Dalam Sholat (34)

Pada masa rosululloh shollallohu alaihi wasallam, lantai masjid masih berupa tanah atau pasir sehingga siapa saja yang bersujud maka dua benda ini akan menempel di dahi. Hal ini membuat sebagian sahabat selalu menyeka wajah untuk membersihkan kotoran yang ada di dahi. Kepada mereka yang melakukannya, rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَلَا يَمْسَحِ اَلْحَصَى  فَإِنَّ اَلرَّحْمَةَ تُوَاجِهُهُ رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ وَزَادَ أَحْمَدُ : وَاحِدَةً أَوْ دَعْ

Dari Abu Dzar Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Jika seseorang di antara kamu mendirikan sholat maka janganlah ia mengusap butir-butir pasir (yang menempel pada dahinya) karena rahmat selalu bersamanya [HR Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah] Ahmad menambahkan : Usaplah sekali atau biarkan.

Ibnu Rojab Alhambali membagi mengusap wajah untuk membersihkan kotoran menjadi dua bagian :

Pertama : Abatsan (sia-sia)

Maknanya melakukannya di setiap selesai sujud. Imam Shon’ani menyebut perbuatan ini menyebabkan hilangnya kekhusyuan

Kedua : Hukumnya boleh

Karena butiran pasir yang menempel di dahi mengganggu atau membuat sakit kulit. Kalau toh dilakukan, syariat membolehkan menyekanya akan tetapi cukup sekali saja.

Selain menghilangkan kekhusyuan, menyeka dahi dari butiran pasir dan debu dimakruhkan karena di dalamnya terkandung keberkahan. Keberkahan apa yang dimaksud ? Abu Sholih berkata :

إِذَا سَجَدْت فَلَا تَمْسَحْ الْحَصَى فَإِنَّ كُلَّ حَصَاةٍ تُحِبُّ أَنْ يُسْجَدَ عَلَيْهَا

Bila engkau sujud, maka janganlah menyeka butiran pasir karena setiap butiran pasir berharap dirinya untk disujudi [HR Ibnu Abi Syaibah]

Para ulama menghukumi haram perbuatan ini kecuali kalau dilakukan sebelum pelaksanaan sholat.

Maroji’ :

Subulussalam, Imam Shon’ani 2/18

Memegang Mushaf



Kedudukan Tangan Dalam Sholat (33)

Saat sholat tarawih, tidak sedikit jamaah di masjidil harom memegang mushaf. Ketika ruku, mereka akan memasukkannya ke saku. Boleh jadi di sebagian masjid, ada imam yang membawakan surat-surat panjang dengan cara memegang dan melihat ke arah mushaf.

Sebagian ulama memperbolehkannya. Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid menyitir riwayat dari Qosim :

عن القاسم أن عائشة كانت تَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ فَتُصَلِّي فِي رمضان

Dari Qosim : Bahwa Aisyah membaca mushaf saat sholat di bulan romadlon [HR Abdurrozaq]

Pada riwayat lain disebutkan :

وقال القاسم : كَانَ يَؤُمُّ عَائِشَةَ عَبْدٌ يَقْرَأُ فِى الْمُصْحَفِ

Qosim berkata : Aisyah pernah sholat dipimpin oleh seorang budak yang membaca lewat mushaf [HR Bukhori, ta’liq]

Dalam kitab almuntaqo disebutkan :

أَنَّ ذَكْوَانَ هَذَا كَانَ يَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ وَقَدْ قَالَ مَالِكٌ لَا بَأْسَ أَنْ يَؤُمَّ نَظَرًا مَنْ لَا يَحْفَظُ

Bahwa Dzakwan membaca mushaf dan Imam Malik berkata : Tidak mengapa seseorang menjadi imam sambil melihat mushaf bagi yang belum hafal

Maroji’ :

Almuntaqo Syarh Almuwatho 1/269

Shohih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid 1/351

Menghalangi Orang Yang Akan Lewat



Kedudukan Tangan Dalam Sholat (32)

Pada dasarnya seorang yang sedang menunaikan sholat, ia berada di depan Robnya untuk bermunajat (bercakap-cakap). Lewat di depannya adalah sikap tidak sopan. Oleh karena itu ada hak baginya untuk menghalangi orang yang bersangkutan. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنْ اَلنَّاسِ  فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ  فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ  فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَفِي رِوَايَةٍ فَإِنَّ مَعَهُ اَلْقَرِينَ  

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Apabila seseorang di antara kamu sholat dengan memasang sutroh (pembatas) yang membatasinya dari orang-orang lalu ada seseorang yang hendak lewat di hadapannya maka hendaklah ia mencegahnya. Bila tidak mau bunuhlah dia sebab dia sesungguhnya adalah setan. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa dia bersama setan.

Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita tentang haramnya melewati orang yang sedang menunaikan sholat. Ada hak untuk mencegahnya bagi siapa saja yang memiliki sutroh di depannya. Lalu bagaimana dengan kalimat “ bunuhlah “ pada hadits di  atas ? Imam Nawawi berkata :

أَنَّهُ يَرُدّهُ إِذَا أَرَادَ الْمُرُور بَيْنه وَبَيْن سُتْرَته بِأَسْهَل الْوُجُوه ، فَإِنْ أَبَى فَبِأَشَدِّهَا ، وَإِنْ أَدَّى إِلَى قَتْله فَلَا شَيْء عَلَيْهِ كَالصَّائِلِ عَلَيْهِ لِأَخْذِ نَفْسه أَوْ مَاله ، وَقَدْ أَبَاحَ لَهُ الشَّرْع مُقَاتَلَته ، وَالْمُقَاتَلَة الْمُبَاحَة لَا ضَمَان فِيهَا

Ada hak baginya untuk menghalangi orang yang hendak melewati di depannya dengan cara yang paling ringan. Bila enggan, boleh diberi sikap lebih keras meski menyebabkan kematian. Hal itu tidak dosa baginya seperti orang yang membela diri saat nyawa dan hartanya terancam. Syariat membolehkannya untuk membunuhnya. Membunuh yang diperbolehkan tentu tidak ada tanggungan hukum baginya

Maroji’ :

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 2/260