Akibat Meremehkan Ketentuan Kanan Dan Kiri


Kanan Dan Kiri Dalam Timbangan Aqidah (31)


Sebuah riwayat menyebutkan :


عن سَلمة بنِ عمرو بنِ الأكوع  رضي الله عنه أنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم  بِشِمَالِهِ ، فَقَالَ كُلْ بِيَمِينكَ قَالَ لا أسْتَطيعُ قَالَ لا استَطَعْتَ مَا مَنَعَهُ إلاَّ الكِبْرُ فمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ  

Dari Salamah Bin Amru Bin Akwa rodliyallohu anhu : Bahwa seorang laki-laki makan dengan tangan kiri di sisi rosululloh shollallohu alaihi wasallam : Beliau bersabda : Makanlah dengan tangan kananmu. Ia berkata : Aku tidak bisa ! Beliau bersabda : Engkau tidak bisa, tidak ada yang menghalangimu selain kesombongan ! Setelah itu ia tidak bisa mengangkat makanan ke mulutnya [HR Muslim]


Pada hadits di atas, kita bisa melihat tentang kesalahan orang ini. Ia makan dengan tangan kiri. Ia lakukan perbuatan itu di hadapan nabi shollallohu alaihi wasallam. Ketika mendapat teguran dari beliau, ia menolaknya. Pantas saja bila nabi shollallohu alaihi wasallam menilai dirinya sebagai manusia sombong. Walhasil tangannya menjadi lumpuh hingga tidak bisa memasukkan makanan ke mulutnya. Iman Nawawi memberi kesimpulan riwayat di atas dengan mengatakan :


جَوَاز الدُّعَاء عَلَى مَنْ خَالَفَ الْحُكْم الشَّرْعِيّ بِلَا عُذْر ، وَفِيهِ : الْأَمْر بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْي عَنْ الْمُنْكَر فِي كُلّ حَال حَتَّى فِي حَال الْأَكْل ، وَاسْتِحْبَاب تَعْلِيم الْآكِل آدَاب الْأَكْل إِذَا خَالَفَهُ كَمَا فِي حَدِيث عُمَر بْن أَبِي سَلَمَة    

Diperbolehkan mendoakan keburukan bagi orang yang menyelisihi hukum syar’i tanpa ada udzur. Hadits ini juga mengandung perintah amar ma’ruf nahi munkar di setiap keadaan hingga urusan makan. Selain itu anjuran mengajarkan orang yang sedang makan tentang adab makan ketika dia menyelisihinya sebagaimana yang tertera pada hadits Umar Bin Abu Salamah


Maroji :

Syarh Shohih Muslim 7/57

Orang yang meludah ke arah kanan


                                         Kanan Dan Kiri Dalam Tibangan Aqidah (30)


عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ فِي اَلصَّلَاةِ فَإِنَّهُ يُنَاجِي رَبَّهُ  فَلَا يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ  وَلَكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  وَفِي رِوَايَةٍ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Apabila seseorang di antara kamu sholat sebenarnya ia sedang bermunajat kepada Robnya. Maka janganlah sekali-kali ia meludah ke hadapannya dan ke samping kanannya tetapi ke samping kirinya di bawah telapak kakinya [Muttafaq Alaihi] Dalam suatu riwayat disebutkan : Atau di bawah telapak kakinya.

Hadits di atas menerangkan haramnya meludah ke sebelah kanan dan depan. Imam Nawawi berpendapat bahwa larangan di atas tidak hanya saat sholat akan tetapi meliputi semua keadaan. Dalam subulus salam, Imam Shon’ani menyebut beberapa riwayat :


مَنْ تَفَلَ تُجَاهَ الْقِبْلَةِ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَتَفَلَتُهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ

Barangsiapa yang meludah ke arah kiblat maka ia akan datang pada hari kiamat sementara ludahnya ada diantara dua matanya [HR Ibnu Hibban]


يُبْعَثُ صَاحِبُ النُّخَامَةِ فِي الْقِبْلَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهِيَ فِي وَجْهِهِ

Akan dibangkitkan orang yang meludah ke arah kiblat sementara ludahnya ada di wajahnya [HR Ibnu Khuzaimah]


أَنَّ رَجُلًا أَمَّ قَوْمًا فَبَصَقَ فِي الْقِبْلَةِ ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي لَكُمْ

Ada seorang yang memimpin sholat suatu kaum lalu ia meludah ke arah kiblat. Ketika sholat sudah selesai, rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Dia tidak boleh memimpin sholat kalian [HR Ibnu Hibban]


عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ: أَنَّهُ كَرِهَ أَنْ يَبْصُقَ عَنْ يَمِينِهِ وَلَيْسَ فِي الصَّلَاةِ وَعَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ : مَا بَصَقْت عَنْ يَمِينِي مُنْذُ أَسْلَمْت

Dari Ibnu Mas’ud : Bahwa dia tidak menyukai meludah ke sebelah kanan di luar sholat. Dari Muadz Bin Jabal : Aku tidak pernah meludah ke sebelah kanan semenjak aku masuk islam [HR Abdurrozaq]


Maroji’ :

Subulussalam (maktabah syamilah)

Hukum beristinja dengan tangan kanan


Kanan Dan Kiri Dalam Timbangan Aqidah (29)


Imam Nawawi berkata :


وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ مَنْهِيّ عَنْ الِاسْتِنْجَاء بِالْيَمِينِ ، ثُمَّ الْجَمَاهِير عَلَى أَنَّهُ نَهْي تَنْزِيه وَأَدَب لَا نَهْي تَحْرِيم وَيُسْتَحَبّ أَنْ لَا يَسْتَعِين بِالْيَدِ الْيُمْنَى فِي شَيْء مِنْ أُمُور الِاسْتِنْجَاء إِلَّا لِعُذْرٍ ، فَإِذَا اِسْتَنْجَى بِمَاءٍ صَبَّهُ بِالْيُمْنَى وَمَسَحَ بِالْيُسْرَى

Para ulama sepakat bahwa dilarang beristinja menggunakan tangan kanan. Selanjutnya jumhur menilai bahwa larangan bersifat tanzih (makruh) dan demi menjaga etika bukan bersifat haram. Dan dianjurkan untuk tidak menggunakan tangan kanan untuk perkara yang berkaitan dengan istinja’ kecuali kalau ada udzur. Bila ia beristinja’ dengan air maka menuangkannya dengan tangan kanan sementara tangan kiri untuk mencuci

Tangan kiri untuk istinja


Kanan Dan Kiri Dalam Timbagan Aqidah (28)


Inilah yang dilakukan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam sebagaimana yang disampaikan Maimunah kepada keponakannya Abdulloh Bin Abbas :


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَتْنِى خَالَتِى مَيْمُونَةُ قَالَتْ أَدْنَيْتُ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غُسْلَهُ مِنَ الْجَنَابَةِ فَغَسَلَ كَفَّيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِى الإِنَاءِ ثُمَّ أَفْرَغَ بِهِ عَلَى فَرْجِهِ وَغَسَلَهُ بِشِمَالِهِ ثُمَّ ضَرَبَ بِشِمَالِهِ الأَرْضَ فَدَلَكَهَا دَلْكًا شَدِيدًا ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ أَفْرَغَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ مِلْءَ كَفِّهِ ثُمَّ غَسَلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ثُمَّ تَنَحَّى عَنْ مَقَامِهِ ذَلِكَ فَغَسَلَ رِجْلَيْهِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِالْمِنْدِيلِ فَرَدَّهُ.  

Dari Ibnu Abbas berkata : Telah menceritakan kepadaku bibiku Maimunah, ia berkata : Aku mendekati rosululloh shollallohu alaihi wasallam saat beliau mandi janabat. Beliau mencuci kedua telapak tangannya dua atau tiga kali lalu memasukkan tagannya di bejana setelah itu menyiramkannya ke kemaluannya dan mencucinya dengan tangan kirinya. Selanjutnya memukul tangan kirinya ke tanah lalu menggosok-gosokkannya dengan keras. Kemudian berwudlu sebagaimana wudlu untuk sholat [HR Muslim]


Dalil lain sebagai pendukung dari masalah ini adalah :


عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنْ اَلْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي اَلْإِنَاءِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ  

Dari Abu Qotadah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Janganlah sekali-kali seseorang di antara kamu menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan ketika sedang kencing jangan membersihkan bekas kotorannya dengan tangan kanan dan jangan pula bernafas dalam tempat air [Muttafaq Alaihi]

Makan dengan tangan kanan


                                  Kanan Dan Kiri Dalam Timbangan Aqidah (27)


Ini dilakukan demi menjaga perbedaan antara seorang muslim dengan setan dan wali-walinya dari kalangan orang kafir :


عن ابن عمر رضي الله عنهما : أنَّ رسُولَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ : لاَ يَأكُلَنَّ أَحَدُكُمْ بِشِمَالِهِ ، وَلاَ يَشْرَبَنَّ بِهَا ، فَإنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا رواه مسلم .

Dari Ibnu Umar rodliyallohu anhuma bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Jangan sekali-kali diantara kalian makan dengan tangan kiri dan jangan sekali-kali minum dengan tangan kiri karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengannya [HR Muslim]


Pentingnya masalah ini, hingga nabi shollallohu alaihi wasallam memberi teguran kepada anak tirinya, Umar Bin Salamah


عن عمر بن أَبي سلمة ربيبِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ كُنْتُ غلاَماً في حجر رَسُول الله صلى الله عليه وسلم وَكَانَتْ يَدي تَطِيشُ في الصَّحْفَةِ ، فَقَالَ لي رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يَا غُلامُ سَمِّ الله تَعَالَى وَكُلْ بيَمِينكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ  فَمَا زَالَتْ تِلْكَ طِعْمَتي بَعْدُ

Dari Umar Bin Abi Salamah anak tiri rosululloh shollallohu laihi wasallam berkata : Aku berada di rumah rosululloh shollallohu alaihi wasallam dimana tanganku menjelajahi di nampan. Rosululloh shollalohu alaihi wasallam bersabda : Wahai anak muda, sebutlah nama Alloh Ta’ala, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat denganmu. Cara makan yang diajarkan beliau senantiasa aku lakukan setelah itu [muttafa alaih]