Poligami Boleh, Asal Tidak Menikahi Wanita Satu Kampung !?

(kontrofersi 33)
Hukum poligami adalah mubah. Silahkan menikahi lebih dari satu wanita asal tidak lebih dari empat. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Alloh :
وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً  
Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja [annisa’ : 3]
Batasan maksimal empat untuk berpoligami diperkuat oleh perkataan para ulama yang menerangkan maksud ayat di atas. Di antaranya, penulis tafsir zadul masir berkata : Alloh membatasi jumlah empat supaya suami bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya. Dengan ayat ini seolah-olah Alloh berfirman : Jika kalian takut wahai wali anak yatim untuk tidak berbuat adil terhadap istri-istri maka nikahkan mereka, tetapi tidak boleh lebih dari empat supaya para suami bisa berbuat adil. Jika takut untuk berbuat tidak berbuat adil maka cukup satu saja.
Ini menunjukkan bahwa menikahi wanita lebih dari empat akan menyebabkan ketidak adilan di antara para istri. Atau dengan kata lain, Alloh hanya memberikan kemampuan laki-laki untuk bisa berbuat adil dengan empat istri, tidak lebih.
Oleh karena itu, tidak mungkin menikah dengan wanita satu kampung. Kenapa ? Bisa dibayangkan bila di satu kampung terdapat 20 wanita lalu kesemuanya dinikahi, tentu ini telah menyelisihi ayat di atas.
Maroji’ :
Tafsir Zadul Masir (maktabah syamilah) hal 77



Israel Jangan Dikutuk !

(kontrofersi 32)
Sering kita mendengar demo mengecam kebiadaban zionis dengan slogan-slogan kecaman yang sangat keras. “ Israel terkutuk ! “, “ Israel keturunan kera ! “ Israel La’natulloh ! “. Kenapa kalimat-kalimat ini tidak boleh terucap dari lesan seorang muslim ?
Majalah qiblati (lupa tanggal terbitnya) menukil nasehat Syaikh Bakr Abu Zaid rohimahullohu Ta’ala tentang larangan ini karena Isroil adalah nama lain dari nabi Yaqub alaihissalam. Tidak ada bedanya kita menyebut nabi Yaqub atau nabi Isroil bagi orang tua dari nabi Yusuf alaihissalam. Ketika ada anjuran memberi nama buat anak dengan nama para nabi, tidak masalah bila kita memberi nama buat anak dengan Isroil. Bukankah salah seorang perowi hadits ada yang bernama Abu Isroil.
Dalam alquran, Alloh menyebut nama Yaqub dengan Isroil. Ini bisa dilihat dari firman Alloh :
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya'qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah : (Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), Maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah Dia jika kamu orang-orang yang benar [ali imron : 93]
Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di menafsirkan kata Isroil pada ayat di atas dengan Yaqub alihissalam. Oleh karena itu bila kita katakan  “Israel terkutuk“, berarti kalimat itu sepadan dengan “Yaqub terkutuk “
Ini berarti kita dinilai telah mengutuk nabi padahal sunnah bagi orang beriman memberi salam bagi setiap penyebutan para nabi selain rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Bila demikian, bagaimana cara yang benar ? Jawabannya adalah sebutlah bani Israel terkutuk, karena keturunannyalah yang membuat ulah di muka bumi. Kutukan disematkan bagi Bani Israel adalah selaras dengan firman Alloh :
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ  كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ  
78. telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.
79. mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu [almaidah : 78-79]
Ayat di atas jelas menunjukkan kutukan ditujukan kepada bani Israel, itupun dengan catatan dari kalangan kafir. Berarti tidak semua bani Israel terkutuk. Sebagaimana Yusuf, Musa, Sulaiman, Daud dan Isa adalah termasuk dari sekian banyak nabi dari keturunan Israel.
Maroji’ :
Tafsir Taisir Kalim Arrohman Fitafsir kalamil Mannan (maktabah syamilah) hal 62




Hati-Hati Dengan Da’i

(kontrofersi 31)
Salah satu cawagub Jabar pernah menamakan dirinya dengan DAI dalam kampanyenya. Kendati dengan slogan itu akhirnya mengalami kekalahan. Bangsa Indonesia pernah memiliki kapolri dengan nama depan Dai. Di era kepemimpinannya berhasil menangkap banyak tersangka “ teroris “.
Pembahasan kita bukan pada kedua da’i di atas. Yang akan kita perhatikan adalah akan munculnya da’i di akhir zaman yang pernah diperingatkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Di mana beliau bersabda :
دُعَاةٌ عَلَى أبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أجَابَهُمْ إلَيْهِمْ قَذَفُوْهُ فِيْهَا
Du’at (da’i-da’i) yang menyeru kepada neraka jahanam, barangsiapa yang menyambut seruannya maka niscaya akan di lemparkan ke dalamnya
Selanjutnya beliau memberi ciri dari da’i :
هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا
Mereka itu dari jenis kulit-kulit kita dan berbicara dengan lidah-lidah kita
Terakhir, memberi solusi bila menemui para dai jenis ini :
تَلْزَمْ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِيْنَ وَإمَامَهُمْ ..... فَعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأنْتَ عَلَى ذَالِكَ
Tetaplah mengikuti jama’ah kaum muslimin dan imam mereka. (bila tidak ada) maka tinggalkanlah kelompok-kelompok pecahan itu semuanya walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai kematian mendatangimu dan engkau berada dalam keadaan seperti itu
Imam Alqobisi menerangkan makna Mereka itu dari jenis kulit-kulit kita dan berbicara dengan lidah-lidah kita dengan mengatakan : Mereka secara dzohir adalah memeluk millah kita (muslim) sedang batinnya menyelisihi.
Sejarah membuktikan, Abdulloh bin Saba’ yang asli yahudi berpura-pura masuk islam hingga akhirnya berhasil mengecoh kaum muslimin dengan ajaran syiahnya. Mirza Ghulam Ahmad yang berotak penjajah Inggris menipu umat islam dengan ahmadiyahnya. Demikianlah, kesesatan akan terus ada hingga hari kiamat.
Maroji’ :
Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 13/43

Tak Ketinggalan, Binatang Juga Dapat Wahyu

(kontrofersi 40)
Barangkali kita pernah melihat kucing sedang menjilati kaki-kakinya, burung-burung perpindah tempat pada musim tertentu, binatang turun gunung saat gunung akan meletus dan lainnya. Itu semua adalah ilham dari Alloh. Setiap binatang memiliki potensinya masing-masing sesuai dengan keadilan dan ilmu Alloh.
Betapa rapinya laba-laba membuat rumah perangkap, begitu teraturnya sarang yang dibikin burung dan alangkah indahnya rumah yang disusun lebah. Kesemuanya adalah wahyu yang Alloh berikan kepada mereka. Untuk itulah Alloh berfirman :
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ  
Dan Robmu mewahyukan kepada lebah : Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia  [annahl :68]
Syaikh Mannaul Qothon memaknai wahyu pada ayat di atas dengan ilham naluriah bagi binatang.
Maroji’ :
Mabahits Fi Ulumil Quran, Syaikh Mannaul Qothon hal 33


Setan Punya Wahyu

(kontrofersi 39)
Syaikh Manna’ul Qothon dalam mabahits fi ‘ulumil quran memberi definisi wahyu secara bahasa dengan alkhofa’ wassur’ah (tersembunyi dan cepat). Adapun secara istilah : Pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang bersifat khusus, dimana tidak diketahui selain kepada pihak yang dituju.
Wahyu sering diidentikkan dengan firman Alloh buat rosul-rosulNya melalui perantara malaikat jibril alaihissalam. Rupanya, secara bahasa, setan juga memiliki kemampuan memberi wahyu sebagaimana firman Alloh di dua surat dalam alquran :
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ
Sesungguhnya setan-setan sungguh-sungguh mewahyukan (membisikkan) kepada para walinya untuk membantahmu  [al’ an’am : 121]
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
Demikianlah kami jadikan setiap nabi, memiliki musuh berupa setan dari kalangan jin dan manusia yang sebagian kepada sebagian lain mewahyukan (membisikkan) kata-kata indah tapi menipu  [al an’am : 112]
Dua ayat di atas mencantumkan kata layuuhuuna dan yuuhi, yang keduanya bermakna wahyu. Tentu wahyu yang disebut tidak sebagaimana yang Alloh berikan kepada para rosul untuk umatnya. Syaikh Manna’ul Qothon memaknai wahyu untuk dua ayat di atas dengan : Bisikan setan dan penggambaran indah akan perbuatan dosa pada hati manusia.
Oleh karena itu, ketika demokrasi dipuji bangsa-bangsa padahal itu adalah manhaj kufur, kesamaan kedudukan manusia yang merupakan slogan HAM diikuti dan pemahaman lainnya yang menyesatkan, itu adalah bagian dari keberhasilan setan dalam membisikkan kebatilan pada manusia sehingga alhaq dimusuhi dan kebatilan dicintai. Dan itu adalah wahyu yang berasal dari setan.
Maroji’ :
Mabahits Fi Ulumil Quran, Syaikh Mannaaul Qothon hal 32-33