Si Khobits Dan Si Thoyyib Harus Beda Tempat Di Akhirat




Thoyyib Dan Khobits (23)
Alloh berfirman :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ   
Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan  [al anfal : 36]

Ayat di atas menerangkan tentang Abu Sufyan dan orang-orang kafir yang mengeluarkan banyak harta demi suksesnya perang uhud sebagai bentuk balas dendam atas kekalahan mereka di medan badar. Alloh menilai perbuatan itu sebagai perbuatan sia-sia karena pelakunya akan menyesal di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka jahanam.

Kenapa mereka dimasukkan ke dalam neraka jahannam ? Pada ayat berikutnya Alloh memberikan jawaban :

لِيَمِيزَ اللَّهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ وَيَجْعَلَ الْخَبِيثَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَيَرْكُمَهُ جَمِيعًا فَيَجْعَلَهُ فِي جَهَنَّمَ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka jahannam. mereka Itulah orang-orang yang merugi [al anfal : 37]

Demikianlah ketika dua kelompok itu selalu terpisah di dunia, mereka juga akan terpisah di akhirat.

Rezeki Yang Thoyyib Adalah Yang Halal




Thoyyib Dan Khobits (22)
Dalam alquran, beberapa kali Alloh menyebut rezeki halal dengan kata thoyyibat. Semuanya ada empat ayat :

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Dan kami naungi kamu dengan awan, dan kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka mendzalimi Kami; akan tetapi merekalah yang mendzalimi diri mereka sendiri  [albaqoroh : 57]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu beribadah  [albaqoroh : 172]

وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا أُمَمًا وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Dan mereka kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. dan kami naungkan awan di atas mereka dan kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang Telah kami rezkikan kepadamu". mereka tidak mendzalimi kami, tapi merekalah yang selalu mendzalimi dirinya sendiri  [al a’rof : 160]

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى

Makanlah di antara rezki yang baik yang telah kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, Maka Sesungguhnya binasalah ia  [thoha : 81]

Penulis tafsir alwajiz menafsirkan kata thoyyibat pada ayat-ayat di atas dengan halal. Ini menunjukkan bahwa thoyyib sinonim dari halal.

Maroji’ :
Alwajiz Fi Tafsir Kitab Al Aziz, Ali Bin Ahmad Alwahidi Abul Hasan


Perkataan Yang Thoyyib




Thoyyib Dan Khobits (21)
Keimanan seseorang akan mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Dalam alquran Alloh berfirman :
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ  وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ
23.  Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera.
24.  Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji  [alhajj : 23-24]

Ayat di atas menunjukkan balasan Alloh kepada siapa saja yang menggabungkan antara iman dan amal sholih. Secara akhirat mereka akan mendapatkan aljannah dengan sejumlah kesenangan berupa : sungai dengan air yang mengalir, gelang yang terbuat dari emas dan mutiara dan pakaian dari sutera.
Adapun secara dunia, mereka akan mendapat dua hal, yaitu : perkataan yang thoyyib (baik) dan petunjuk ke jalan yang terpuji (islam). Ibnu Jauzi memaknai perkataan thoyyib dengan tiga arti : Laa ilaaha illalloh, alquran dan amar makruf nahi munkar. Ini berarti hidup seorang mukmin selalu dipenuhi dengan kalimat tauhid, bacaannya adalah alquran dan selalu menegakkan amar makruf nahi munkar. Itu semua berada dalam bingkai shirotulhamiid (jalan yang terpuji, islam)

Maroji’ :
Zadul Masir, Ibnu Jauzi (maktabah syamilah) hal 335

Perkataan Yang Baik Selalu Naik Ke Atas




Thoyyib Dan Khobits (20)
Alloh Ta’ala berfirman :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ  
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allahlah kemuliaan itu semuanya. kepadaNyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkanNya   [fathir : 10]

Kalimat  Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan “ ditujukan kepada orang kafir. Mereka mencari kemuliaan dengan cara menyembah patung, persis seperti orang jaman sekarang yang menginginkan jabatan atau disayangi majikan, pelarian mereka adalah tempat-tempat yang biasa dikeramatkan. Sikap mencari kemuliaan kepada selain Alloh difirmankan Dalam surat maryam :

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ آَلِهَةً لِيَكُونُوا لَهُمْ عِزًّا
Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu memberi kemuliaan bagi mereka,   [maryam : 81]

Kepada yang melakukan perbuatan ini, Alloh ingatkan  Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya “
Selanjutnya Alloh memberikan pemuliaan kepada orang beriman, bahwa alkalimuth thoyyib (perkataan yang baik) dan amal sholih yang mereka lakukan selalu dinaikkan ke atas, maksudnya diterima oleh Alloh.
Para ulama banyak menafsirkan alkalimuth thoyyib dengan kalimat laa ilaaha illalloh, adapun penulis tafsir addar almantsur mengartikannya dengan dzikrulloh, alquran dan doa

Maroji :
Addar Almantsur Fitta’wil Bilma’tsur, Abdurrohman bin Abu Bakar dan Jalaluddin assuyuthi (maktabah syamilah) hal 435





Mengharamkan Yang Khobaits, Itulah Ciri Nabi Yang Ummi




Thoyyib Dan Khobits (19) 

Ini adalah pernyataan Alloh kepada Kaum ahlul kitab tentang status rosululloh shollallohu alaihi wasallam yang harus mereka imani :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung  [al a’rof : 157]

Ayat ini menerangkan empat tugas rosululloh shollallohu alaihi wasallam saat terutus sebagaimana yang sudah tercantum sebelumnya di dalam kitab taurot dan injil :

(1) Menegakkan amar makruf nahi munkar
(2) Menghalalkan yang thoyyib
Yaitu apa saja yang dihalalkan oleh Alloh berupa makanan, minuman dan nikah
(3) Mengharamkan khobaits
Seperti daging babi
(4) Membuang belenggu

Maksudnya adalah menghapus syariat terdahulu yang memberatkan mereka untuk melaksanakannya, diantaranya : Perintah memotong kain yang terkena najis (ini berbeda dengan umat islam yang mencukupkan perintah mencuci baju yang terkena najis), membakar harta rampasan perang (dalam islam, ghonimah adalah harta yang paling mulia untuk dinikmati), hukuman membunuh diri sendiri bagi pembunuh untuk kasus pembunuhan yang disengaja atau tidak disengaja.
Betapa nikmat dan bahagianya kaum ahlul kitab bila mereka mengimani kenabian Muhammad shollallohu alaihi wasallam. Syariat yang mereka jalankan terasa ringan dan membawa mereka ke jalan almuflihuun (orang-orang yang beruntung)

Maroji’ :
Almuyassar, para dosen tafsir di bawah bimbing Syaikh Abdulloh Abdul Muhsin Atturki (maktabah syamilah) hal 170