Yusya Bin Nun Melihat Matahari

 

Melihat Ke Atas (13)

Yusya Bin Nun adalah salah satu rosul dari kalangan bani israil. Ia memimpin kaumnya untuk menaklukkan negeri Palestina. Sebelum berangkat, ia berkata di hadapan pasukannya :

لا يَتْبَعَنِّي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأةٍ وَهُوَ يُريدُ أنْ يَبْنِي بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا ، وَلا أحَدٌ بَنَى بُيُوتاً لَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا ، وَلا أحَدٌ اشْتَرَى غَنَماً أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ أَوْلادَها

Tidak boleh mengikutiku seorang yang memiliki istri baru sementara ia ingin bersenang-senang dengannya padahal ia belum menikmatinya. Tidak boleh bagi seseorang yang sedang membangun rumah dimana atapnya belum selesai diangkat dan tidak pula bagi seseorang yang membeli kambing atau onta sementara ia sedang menunggu kelahiran bayinya.

Setelah itu berangkatlah pasukan. Ketika tiba di tempat yang dituju, waktu sudah masuk ashar. Pertanda sebentar lagi malam akan tiba. Yusya Bin Nun menginginkan suasana tetap siang. Di situlah ia berkata kepada matahari sambil melihat ke atas :

إِنَّكِ مَأمُورَةٌ وَأنَا مَأمُورٌ ، اللَّهُمَّ احْبِسْهَا عَلَيْنَا

Wahai matahari, sesungguhnya engkau diperintah untuk berjalan dan aku diperintah untuk berperang ! Ya Alloh tahanlah matahari untuk kita [HR Ahmad]

Alloh mengabulkan permintaannya. Matahari betul-betul berhenti dan suasana tetap siang hingga Alloh memberikan kepadanya kemenangan.

 

 

Aisyah Memberi Isyarat Ke Arah Langit Kepada Asma

 

Melihat Ke Atas (12)

Terjadi gerhana matahari di Madinah. Kaum muslimin menunaikan sholat gerhana yang diikuti oleh kaum laki-laki dan wanita. Rupanya hal itu belum diketahui oleh sebagian kaum muslimin sebagaimana yang terjadi pada diri Asma saudari kandung dari Aisyah. Asma berkata : 

عَنْ أَسْمَاءَ قَالَتْ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ رضى الله عنها وَهِىَ تُصَلِّى قَائِمَةً وَالنَّاسُ قِيَامٌ فَقُلْتُ مَا شَأْنُ النَّاسِ فَأَشَارَتْ بِرَأْسِهَا إِلَى السَّمَاءِ . فَقُلْتُ آيَةٌ . فَقَالَتْ بِرَأْسِهَا أَىْ نَعَمْ .  

Dari Asma berkata : Aku masuk menemui Aisyah rodliyallohu anha saat ia menunaikan sholat sambil berdiri. Orang-orang juga berdiri menunaikan sholat. Aku berkata : Apa yang terjadi pada orang-orang ? Aisyah memberi isyarat dengan kepalanya ke aarah langit. Aku berkata : Tanda kekuasaan Alloh. Ia berkata dengan kepalanya, maksudnya “ Ya “ [HR Bukhori Muslim]

Hadits di atas memberi pelajaran :

1.      Sholat gerhana ditunaikan secara berjamaah yang diikuti kaum laki-laki dan wanita

2.      Gerhana matahari bagian dari tanda kekuasaan Alloh

3.      Boleh bertanya sesuatu kepada orang yang sedang menunaikan sholat

4.      Orang yang sedang menunaikan sholat diperbolehkan memberi jawaban dengan isyarat

 

Melihat Ke Atas Saat Berdoa

 

Melihat Ke Atas (11)

Kenapa doa dipanjatkan sambil melihat ke atas ? Karena Alloh ada di atas maka sudah sepantasnya pandangan diarahkan ke langit. Imam Nawawi memberi penjelasan  tambahan dengan berkata :

لِأَنَّ السَّمَاء قِبْلَة الدُّعَاء كَمَا أَنَّ الْكَعْبَة قِبْلَة الصَّلَاة

Karena langit kiblat doa sebagaimana ka’bah adalah kiblat sholat

Diantara dalil tentang melihat ke atas saat berdoa adalah :  

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم اسْتَسْقَى فَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إِلَى اَلسَّمَاءِ

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memohon hujan, lalu beliau memberi isyarat dengan punggung kedua telapak tangannya ke langit [HR Muslim]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَهَمَّهُ الأَمْرُ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ  وَإِذَا اجْتَهَدَ فِى الدُّعَاءِ قَالَ  يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ  

Dari Abu Huroiroh : Bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam bila dibentur masalah maka beliau mengangkat kepalanya ke langit seraya bersabda “ Maha Suci Alloh yang Maha Agung “ dan bila bersungguh-sungguh dalam berdoa, beliau bersabda “ Wahai yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Tegak “ [HR Tirmidzi]

Meski demikian, bila berdoa di lakukan saat sholat maka melihat ke atas hukumnya haram sebagaimana disabdakan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ رَفْعِ أَبْصَارِهِمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلَاةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ  

Dari Abu Huroiroh : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sungguh benar-benar kaum itu menghentikan kebiasaan mengangkat pandangan ke langit saat berdoa ketika sholat atau sungguh benar-benar akan disambar penglihatan mereka [HR Nasa’i]

Penulis aunul ma’bud berkata :

وَالْعِلَّة فِي ذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا رَفَعَ بَصَره إِلَى السَّمَاء خَرَجَ عَنْ سَمْت الْقِبْلَة أَعْرَضَ عَنْهَا وَعَنْ هَيْئَة الصَّلَاة وَالظَّاهِر أَنَّ رَفْع الْبَصَر حَال الصَّلَاة حَرَام لِأَنَّ الْعُقُوبَة بِالْعَمَى  

Alasan dari haramnya melihat ke atas saat berdoa ketika sholat adalah karena bila dia mengarahkan pandangannya ke langit maka dia telah keluar dan berpaling dari arah kiblat dan sikap sholat. Secara dzohir mengangkat pandangan saat sholat hukunya haram karena hukumannya adalah kebutaan

Maroji’ :

Aunul Ma’bud 2/408

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 2/171

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Ke Atas Saat Musim Kemarau

 

Melihat Ke Atas (10)

Anas Bin Malik berkata :

أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَهْوَ يَخْطُبُ بِالْمَدِينَةِ فَقَالَ قَحَطَ الْمَطَرُ فَاسْتَسْقِ رَبَّكَ ، فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ وَمَا نَرَى مِنْ سَحَابٍ ، فَاسْتَسْقَى فَنَشَأَ السَّحَابُ بَعْضُهُ إِلَى بَعْضٍ ، ثُمَّ مُطِرُوا حَتَّى سَالَتْ مَثَاعِبُ الْمَدِينَةِ  

Seorang laki-laki datang menemui nabi shollallohu alaihi wasallam saat beliau berkhutbah di Madinah. Ia berkata : Hujan tertahan, oleh karena itu mintalah hujan kepada Robmu. Beliau melihat ke langit. Kami tidak melihat awan. Beliau segera memohon hujan hingga beraraklah awan bertumpuk satu dengan yang lain. Lalu turunlah hujan hingga saluran air di Madinah mengalir air ..... [HR Bukhori]

 

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam melihat Ke atas Saat Bangun Tidur

 

Melihat Ke Atas (9)

Yang dilakukan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam setelah bangun tidur di malam hari adalah duduk lalu melihat ke atas sambil membaca surat ali imrom ayat 190 hingga akhir. Ibnu Abbas memberi kesaksian tentang apa yang beliau perbuat :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ بِتُّ عِنْدَ خَالَتِى مَيْمُونَةَ ، فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ ، فَلَمَّا كَانَ ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ قَعَدَ فَنَظَرَ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِى الأَلْبَابِ ، ثُمَّ قَامَ فَتَوَضَّأَ وَاسْتَنَّ ، فَصَلَّى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، ثُمَّ أَذَّنَ بِلاَلٌ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الصُّبْحَ  

Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhuma berkat : Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam berbicara dengan istrinya sesaat lalu tidur. Di malam sepertiga akhir, beliau bangun dan duduk seraya melihat ke atas sambil membaca “ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal “. Setelah itu beliau berdiri untuk berwudlu dan dan bersiwak. Lalu sholat 11 rokaat. Kemudian Bilal mengumandangkan adzan. Beliau sholat dua rokaat lalu keluar untuk sholat shubuh [HR Bukhori]

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Jibril Di Langit

 

Melihat Ke Atas (8)

Jibril adalah bagian dari penghuni langit. Turun ke bumi untuk menyampaikan wahyu adalah tugas yang diembannya. Karena datang dari langit maka rosululloh shollallohu alaihi wasallam sering melihatnya di atas. Jabir bin Abdulloh meriwayatkan sabda nabi shollallohu alaihi wasallam tentang hal ini :

ثُمَّ فَتَرَ عَنِّى الْوَحْىُ ، فَبَيْنَا أَنَا أَمْشِى سَمِعْتُ صَوْتًا مِنَ السَّمَاءِ ، فَرَفَعْتُ بَصَرِى إِلَى السَّمَاءِ فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِى جَاءَنِى بِحِرَاءٍ قَاعِدٌ عَلَى كُرْسِىٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ  

Lalu wahyu terhenti padaku. Ketika aku berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari langit. Aku mengangkat pandanganku ke langit. Ternyata malaikat yang datang kepadaku di gua hiro ada di atas kursi antara langit dan bumi [HR Bukhori dan Ahmad]

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Ke Atas Sebagai Tamtsil Melihat Alloh

 

Melihat Ke Atas (7)

Terkadang nabi shollallohu alaihi wasallam menyampaikan haditsnya kepada para sahabat sambil memperlihatkan benda-benda di langit untuk mempermudah mereka memahami apa yang beliau terangkan. Seperti ketika beliau menerangkan tentang melihatnya orang beriman kepada Alloh pada hari kiamat :

عَنْ جَرِير بْنُ عَبْدِ اللَّهِ كُنَّا عِنْدَ النَّبِىِّ  صلى الله عليه وسلم إِذْ نَظَرَ إِلَى الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ فَقَالَ  أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا ، لاَ تُضَامُّونَ  أَوْ لاَ تُضَاهُونَ  فِى رُؤْيَتِهِ ، فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ ، وَقَبْلَ غُرُوبِهَا فَافْعَلُواث

Dari Jarir bin Abdulloh : Kami berada di sisi nabi shollallohu alaihi wasallam. Tiba-tiba beliau melihat ke arah bulan purnama. Beliau lantas bersabda : Sesungguhnya kalian akan melihat Rob kalian sebagaimana kalian melihat ini. Tidak akan terhalangi saat melihatnya. Oleh karena itu bila kalian mampu janganlah kalian dikalahkan atas sholat sebelum terbit matahari dan sebelum tenggelamnya, maka laksanakanlah  [HR Bukhori Muslim]

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Ke Atas Saat Menyampaikan Sabdanya

 

Melihat Ke Atas (6)

Banyak sahabat yang memberi kesaksian dalam hal ini diantaranya Ibnu Abbas :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسًا عِنْدَ الرُّكْنِ فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَضَحِكَ فَقَالَ لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ ثَلاَثًا إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْهِمُ الشُّحُومَ فَبَاعُوهَا وَأَكَلُوا أَثْمَانَهَا وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَىْءٍ حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ  

Dari Ibnu Abbas berkata : Aku melihat rosululloh shollallohu alaihi wasallam duduk di sisi rukun yamani lalu beliau mengangkat pandangannya ke langit sambil tertawa seraya bersabda “ Alloh laknat orang yahudi “. Beliau ucapkan tiga kali “ Sesungguhnya Alloh telah mengharamkan kepada mereka lemak bangkai lalu mereka menjualnya dan memakan hasilnya. Sesungguhnya Alloh bila mengharamkan kepada satu kaum memakan sesuatu  maka Alloh juga mengharamkan hasil penjualannya [HR Abu Daud]

Abu Musa berkata :

كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَثِيرًا مَا يَرْفَع بَصَره إِلَى السَّمَا

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam sering mengangkat pandangannya ke langit [HR Muslim]

Abdullah Bin Salam berkata :

كَانَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَلَسَ يَتَحَدَّث يُكْثِر أَنْ يَرْفَع بَصَره إِلَى السَّمَاء

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bila duduk untuk berbicara sering mengangkat pandangannya ke langit [HR Abu Daud]

Umar Bin Khothob :

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهِنَّ شَاءَ  

Barangsiapa yang berwudlu lalu memperbagus wudlunya (lalu beliau mengangkat pandangannya ke langit) seraya bersabda : Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak dibadahi selain Alloh. Dialah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rosulNya. Maka akan dibuka baginya delapan pintu aljannah dimana ia bisa masuk dari arah mana yang ia kehendaki [HR Darimi]

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Ke Atas Saat Menjelang Kematian

 

Melihat Ke Atas (5)

Ini adalah kesaksian dari Aisyah dimana ia berkata :

مَاتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى بَيْتِى وَيَوْمِى وَبَيْنَ سَحْرِى وَنَحْرِى فَدَخَلَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِى بَكْرٍ وَمَعَهُ سِوَاكٌ رَطْبٌ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَظَنَنْتُ أَنَّ لَهُ فِيهِ حَاجَةً. قَالَتْ فَأَخَذْتُهُ فَمَضَغْتُهُ وَنَفَضْتُهُ وَطَيَّبْتُهُ ثُمَّ دَفَعْتُهُ إِلَيْهِ فَاسْتَنَّ كَأَحْسَنِ مَا رَأَيْتُهُ مُسْتَنًّا قَطُّ ثُمَّ ذَهَبَ يَرْفَعُهُ إِلَىَّ فَسَقَطَ مِنْ يَدِهِ فَأَخَذْتُ أَدْعُو اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِدُعَاءٍ كَانَ يَدْعُو لَهُ بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَكَانَ هُوَ يَدْعُو بِهِ إِذَا مَرِضَ فَلَمْ يَدْعُ بِهِ فِى مَرَضِهِ ذَلِكَ فَرَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَقَالَ الرَّفِيقُ الأَعْلَى الرَّفِيقُ الأَعْلَى يَعْنِى وَفَاضَتْ نَفْسُهُ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى جَمَعَ بَيْنَ رِيقِى وَرِيقِهِ فِى آخِرِ يَوْمٍ مِنْ أَيَّامِ الدُّنْيَا

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam wafat di rumahku dan pada hari giliranku antara dada dan leherku. Masuklah Abdurrohman Bin Abu Bakar. Ia membawa siwak yang masih basah. Beliau melihat ke arah siwak itu. Aku merasa beliau membutuhkannya. Akupun mengambilnya lalu mengunyah-ngunyahnya, mengibas-ngibasnya dan memperbagusnya setelah itu menyerahkannya kepada beliau. Beliau bersiwak dengan sebaik-baiknya. Belum pernah aku melihat sebaik itu beliau bersiwak. Kemudian beliau mengangkatnya padaku dan jatuh di tanganku. Aku segera mengambilnya. Aku berdoa kepada Alloh Azza Wajalla dengan doa yang biasa dipanjatkan malaikat jibril alaihissalam. Beliau biasa berdoa dengan doa itu bila sakit, akan tetapi beliau tidak berdoa dengan doa saat beliau sakit pada hari itu. Beliau mengangkat pandangannya ke langit dan berkata “ Arrofiq al A’la, Arrofiq al A’la “. Beliaupun meninggal. Segala puji bagi Alloh yang telah mempertemukan ludahku dengan ludahnya di hari terakhir dari hari-hari dunia yang dilewati [HR Ahmad]

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Ke Atas Menunggu Turunnya Ayat

 

Melihat Ke Atas (4)

Ketika di Madinah, Alloh memerintah kaum muslimin untuk sholat menghadap ke Baitul Maqdis (Palestina). Dalam hati, rosululloh shollallohu alaihi wasallam berharap Alloh menurunkan ayat yang merubah kiblat sholat dari Baitul Maqdis ke masjidil harom.

Tiap hari beliau mengarahkan pandangan ke langit, menunggu jibril membawa wahyu tentang arah kiblat. Hal itu berlangsung selama 16 bulan. Akhirnya Alloh mengabulkan keinginan beliau dengan turunnya ayat :

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

 

Melihat Ke Atas Saat Sholat Yang Diperbolehkan

 

Melihat Ke Atas (3)

Pada suatu hari rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengutus seorang sahabat untuk menemui seorang wanita yang memiliki budak. Sang utusan berkata kepada wanita itu :

انْظُرِى غُلاَمَكِ النَّجَّارَ يَعْمَلْ لِى أَعْوَادًا أُكَلِّمُ النَّاسَ عَلَيْهَا

Lihatlah budakmu yang pandai dalam urusan perkayuan, agar ia membuatku mimbar yang bertangga agar aku bisa gunakan untuk berdiri saat berbicara kepada manusia

Budak inipun segera melaksanakan titah beliau. Ia pergi ke hutan untuk mencari kayu lalu dibuatlah mimbar yang memiliki tiga tangga. Pada suatu hari nabi shollallohu alaihi wasallam berdiri di atas mimbar untuk memimpin sholat. Para sahabatpun menunaikan sholat di belakangnya. Selesai  sholat, nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda :

يَا أُيُّهَا النَّاسُ إِنِّى صَنَعْتُ هَذَا لِتَأْتَمُّوا بِى وَلِتَعَلَّمُوا صَلاَتِى

Wahai manusia, sesungguhnya aku melakukan ini (sholat di atas mimbar) agar kalian mengikutiku dan mempelajari sholatku [HR Bukhori]

Apa yang dilakukan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam, membuat posisi beliau lebih tinggi dari jamaah dan membuat mereka mengarahkan pandangan ke atas. Hal itu dilakukan sebagai cara mengajari para sahabat tentang kaifiyat sholat.

Penulis kitab Ihkamul Ihkam Syarh Umdatul Ahkam berkata tentang hadits di atas :

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ صَلَاةِ الْإِمَامِ عَلَى أَرْفَعِ مِمَّا عَلَيْهِ الْمَأْمُومُ لِقَصْدِ التَّعْلِيمِ

Hadits ini mengandung dalil bolehnya imam menunaikan sholat  lebih tinggi dari makmum dengan tujuan taklim

Maroji’ :

Ihkamul Ihkam Syarh Umdatul Ahkam 2/38

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Melihat Ke Atas Saat Sholat

 

Melihat Ke Atas (2)

Alloh berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sungguh beruntung orang-orang beriman. Yaitu orang-orang yang dalam sholatnya khusyu [almukminun : 1-2]

Sufyan Ats Tsauri berkata :

بلغنا أن رَسُول الله صلى الله عليه وسلم كَانَ يرفع بصره إلى السماء فِي الصلاة ، حَتَّى نَزَلَتْ (الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ) فرمى ببصره نحو مسجده.

Telah sampai kepada kami bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengangkat pandangannya ke langit saat sholat hingga turunlah “ Yaitu orang-orang yang dalam sholatnya khusyu “. Beliaupun akhirnya mengarahkan pandangannya ke arah sujud

 

Melihat Ke Atas Saat Sholat Hukumnya Haram

 


Melihat Ke Atas (1)

Terkadang seorang yang sedang menunaikan sholat memandang ke atas, semisal melihat jam dinding. Perbuatan ini hukumnya haram, bahkan Ibnu Hazm menilai bahwa sholatnya telah batal. Hal ini berdasarkan hadits :

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةٍ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( لَيَنْتَهِيَنَّ قَوْمٌ يَرْفَعُونَ أَبْصَارَهُمْ إِلَى اَلسَّمَاءِ فِي اَلصَّلَاةِ أَوْ لَا تَرْجِعَ إِلَيْهِمْ )  رَوَاهُ مُسْلِمٌ .

Dari Jabir Ibnu Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Hendaklah benar-benar berhenti orang-orang yang memandang ke langit waktu sholat atau pandangan itu tidak kembali kepada mereka [HR Muslim]

Begitu tegasnya sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam hingga Imam Nawawi mengomentari hadits di atas dengan berkata :

فِيهِ النَّهْيُ الْأَكِيدُ وَالْوَعِيدُ الشَّدِيدُ فِي ذَلِك

Hadits ini mengandung larangan yang tegas dan ancaman yang keras

Meski salah satu adab dalam berdoa adalah melihat ke atas, akan tetapi bila doa itu dipanjatkan ketika sholat hukumnya tetap haram.

Maroji’ :

Syarh Shohih Muslim 2/171

Subulussalam 2/32

Membaca Alquran Dengan Tujuan Sum’ah

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (9)

Pembacanya berarti telah merendahkan quran, oleh karena itu Alloh akan rendahkan kedudukannya pada hari kiamat. Abdulloh Bin Mas’ud meriwayatkan sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

إنَّ أَولَ النَّاسِ يُقْضَى يَومَ القِيَامَةِ عَلَيْهِ .... وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ العِلْمَ وَعَلَّمَهُ ، وَقَرَأَ القُرآنَ ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا . قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا ؟ قَالَ : تَعَلَّمْتُ العِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ ، وَقَرَأتُ فِيكَ القُرآنَ ، قَالَ : كَذَبْتَ ، وَلكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ : عَالِمٌ ! وَقَرَأتَ القُرْآنَ لِيُقَالَ : هُوَ قَارِئٌ ؛ فَقَدْ قِيلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ في النَّارِ

Sesungguhnya orang yang pertama kali diputuskan pada hari kiamat adalah .... dan seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Ia dihadapkan (di depan Alloh) lalu diingatkan akan nikmatNya kepadanya dan iapun mengakuinya. Alloh berfirman : Apa yang telah engkau kerjakan di dunia ? Ia berkata : Aku mempelajari alquran dan mengajarkannya. Aku membaca alquran untukMu. Alloh berfirman : Engkau dusta ! Engkau mempelajarinya agar disebut “ Alim “ dan engkau membaca alquran agar disebut “ Qori “ dan itu sudah diucapkan manusia. Setelah itu Diputuskan agar wajahnya diseret hingga dilempar ke neraka [HR Muslim]

Abu Said berkata :

تَعَلَّمُوا الْقُرْآن وَاسْأَلُوا اللَّه بِهِ قَبْل أَنْ يَتَعَلَّمهُ قَوْم يَسْأَلُونَ بِهِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْقُرْآن يَتَعَلَّمهُ ثَلَاثَة نَفَر : رَجُل يُبَاهِي بِهِ ، وَرَجُل يَسْتَأْكِل بِهِ . وَرَجُل يَقْرَؤُهُ لِلَّهِ

Pelajarilah alquran dan mohonlah keridloan Alloh dengannya sebelum ada suatu kaum yang mencari dunia lewat alquran. Sesungguhnya alquran dipelajari oleh tiga kelompok : Seorang yang membanggakan diri dengannya, orang yang mencari makan dengannya dan orang membacanya karena Alloh [HR Alhakim]

 

Membaca Alquran Dengan Dialek Ajami

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (8)

Saat membaca alquran, sudah sepantasnya meninggalkan dialek kedaerahan. Quran berbahasa Arab, maka bawakan bacaan alquran dengan dialek Arab pula

عن عن حذيفة بن اليمان قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اقرءوا القرآن بلحون العرب وأصواتها ، وإياكم ولحون أهل الكتابين ، وأهل الفسق ، فإنه سيجيء بعدي قوم يرجعون بالقرآن ترجيع الغناء والرهبانية والنوح ، لا يجاوز حناجرهم ، مفتونة قلوبهم ، وقلوب من يعجبهم شأنهم  

Dari Hudzaifah Bin Yaman berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bacalah alquran dengan langgam dan suara Arab. Hindari oleh kalian langgam ahlul kitab dan orang fasik. Nanti akan datang sesudah kalian suatu kaum membawakan alquran dengan gaya menyanyi, kerahiban dan tangisan. Hal itu tidak akan sampai kepada kerongkongan mereka. Hati mereka dan hati orang yang mengaguminya rusak [HR Thobroni]

 

Bersikap Diam Saat Ayat Diperdengarkan Dan Diperolok-Olokkan

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (7)

Saat ayat-ayat quran dibaca oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam di hadapan kaum kafir Quraisy, mereka sikapi dengan olok-olok. Hal itu itu berlanjut ketika rosululloh shollallohu alaihi wasallam berpindah ke Madinah. Para pendeta yahudi dan kaum munafiqin memberi sikap sama. Karena kelakuan mereka maka Alloh menurunkan ayat :

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا  

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam [annisa : 140]

Ayat ini melarang kita untuk duduk bersama pengolok-olok ayat Alloh. Diam dan tetap dalam majlis mereka dinilai sebagai bentuk ridlo dengan kekufuran. Keduanya dinilai sama di sisi Alloh. Oleh karena itu, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi berkata tentang ayat di atas :

حرمة مجالسة أهل الباطل إذا كانوا يخضون في آيات الله نقداً واستهزاء وسخرية  الرضا بالكفر كفر، والرضا بالإِثم إثم .

Haram hukumnya bermujalasah dengan ahlul batil bila mereka bersikap mengkritisi, memperolok-olok dan melecehkan ayat-ayat Alloh. Ridlo terhadap kekufuran berarti kufur dan ridlo terhadap dosa berarti dinilai dosa

Senada dengan surat annisa’, Alloh juga menurunkan ayat di surat al an’am :

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آَيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). [al an’am : 68] 

Membaca Alquran Dalam Keadaan Mengantuk

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (6)

Islam melarang seorang muslim untuk membaca alquran dalam keadaan mengantuk. Kenapa ? Bisa jadi ketartilan si pembaca akan hilang. Hukum-hukum tajwid akan rusak dan panjang pendeknya akan terbalik. Bisa saja hal itu akan akan merubah makna ayat yang dia baca.

Seorang yang mendengar bacaan quran dari orang yang mengantuk, tentu telinganya tidak akan nyaman. Oleh karena itu, rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi nasehat :

عن عائشة رضي الله عنها أنَّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا نَعَسَ أحَدُكُمْ في الصَّلاَةِ فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ ، فَإنَّ أحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ    

Dari Aisyah rodliyallohu anha : Bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam bersbda : Bila seorang diantara kamu mengantuk dalam sholat maka tidurlah hingga hilang padanya rasa kantuk. Karena seorang diantara kamu bila sholat dalam keadaan mengantuk, boleh jadi ia berniat memohon ampun kepada Alloh ternyata mencaci dirinya sendiri [muttafaq alaih]

عن أَبي هريرة رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: إِذَا قَامَ أحَدُكُمْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَاسْتَعْجَمَ القُرْآنَ عَلَى لِسَانِهِ ، فَلَمْ يَدْرِ مَا يَقُولُ ، فَلْيَضْطَجِع  

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila seorang diantara kamu menunaikan sholat malam lalu ia tidak bisa mengendalikan bacaan alquran pada lesannya karena kantuk yang membuat ia tidak mengetahui apa yang ia ucapkan maka berbaringlah [HR Muslim]

 

Menghafal Alquran Lalu Melupakannya

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (5)

Hukumnya tidak boleh. Para penghafal quran harus menjaga hafalannya sebagaimana rosululloh shollallohu alaihi wasallam selalu mengecek hafalan beliau setahun sekali di hadapan jibril di bulan romadlon. Kepada para penghafal quran, nabi shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :

 عن أَبي موسى رضي الله عنه  عن النبيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ تعاهدوا هَذَا القُرْآنَ ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أشَدُّ تَفَلُّتاً مِنَ الإبلِ فِي عُقُلِهَا  متفقٌ عَلَيْهِ .

Dari Abi Musa rodliyallohu anhu, dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Jagalah quran ini. Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya, sungguh quran itu lebih mudah lepas daripada onta yang ada pada ikatannya [muttafaq alaih]

عن ابن عمر رضي الله عنهما : أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ : إنَّمَا مَثَلُ صَاحبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ الإِبِلِ المُعَقَّلَةِ ، إنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أمْسَكَهَا ، وَإنْ أطْلَقَهَا ذَهَبَتْ  متفقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Umar rodliyallohu anhuma : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya perumpamaan pemilik (penghafal) alquran tidak lain seperti onta yang terikat. Bila dijaga dengan baik maka ia akan mampu menahannya dan jika ia melepaskannya, niscaya akan pergi [muttafaq alaih]

 

 

Menjadikan Alquran Sebagai Barang Dagangan

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (4)

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :

عَنْ عَبْد الرَّحْمَنِ بْن شِبْلٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  اقْرَءُوا الْقُرْآنَ وَلاَ تَغْلُوا فِيهِ وَلاَ تَجْفُوا عَنْهُ وَلاَ تَأْكُلُوا بِهِ وَلاَ تَسْتَكْثِرُوا بِهِ  

Dari Abdurrohman Bin Syiblin : Aku mendengar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bacalah alquran, janganlah berlebihan ! Jangan menjauh darinya ! Jangan mencari makan dengannya dan jangan memperbanyak dunia dengannya ! [HR Ahmad]

Hadits di atas melarang kita dengan empat hal :

Pertama : Sikap berlebihan terhadap alquran

Sebagian ulama menafsirkan dengan menyelesaikan 30 juz kurang dari tiga hari. Ini sesuai dengan sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ابْن عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لاَ يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِى أَقَلَّ مِنْ ثَلاَثٍ  

Dari Abdulloh Bin Amru berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Tidak akan paham (terhadap alquran) siapa yang membaca alquran (30 juz) kurang dari tiga hari [HR Bukhori, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Kedua : Sikap menjauh terhadap alquran

Athibbi menafsirkan dengan sikap orang yang meninggalkan tilawatul quran dan lebih menyukai membaca dan memperdalam tafsirnya.

Ketiga : Larangan memperbanyak dunia melalui alquran

Maksudnya tidak menjadikan alquran sebagai sarana untuk memiliki banyak kekayaan dunia.

Keempat : Larangan mencari makan lewat alquran

Sebagian ulama menafsirkan maksudnya orang yang membaca alquran, setelah itu meminta-meminta atas bacaan qurannya.

Maroji’ :

Faidlul Qodir 2/83

Membaca Alquran Saat Sujud Atau Ruku

 

Bagaimana Quran Bisa Terhina (3)

Hukumnya haram. Hal ini berdasarkan sabda nabi shollallohu alaihiwasallam :

عَنْ اِبْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَلَا وَإِنِّي نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ اَلْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا  فَأَمَّا اَلرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ اَلرَّبَّ  وَأَمَّا اَلسُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِي اَلدُّعَاءِ  فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ  

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Ketahuilah bahwa aku benar-benar dilarang untuk membaca al-Qur'an sewaktu ruku' dan sujud adapun sewaktu ruku' agungkanlah Rob dan sewaktu sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena besar harapan akan dikabulkan do'amu  [HR Muslim]

Kenapa nabi shollallohu alaihi wasallam melarangnya ? Karena ruku’ dan sujud adalah sarana kita untuk menghinakan diri kita di hadapan Alloh maka tidak pantas quran ikut terhina seiring terhinanya kita dengan posisi tubuh kita yang membungkuk dan meletakkannya di tanah. Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam berkata : Dibencinya membaca alquran dalam ruku’ dan sujud dikarenakan nabi shollallohu alaihi wasallam melarangnya. Dan sebab lainnya adalah saat itu kita berada dalam kehinaan dan kerendahan sementara alquran adalah semulia-mulianya perkataan. Imam Shona’ni berpendapat bahwa larangan bacaan alquran pada waktu sujud hukumnya haram.

Maroji’ :

Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam 1/545

Subulussalam, Imam Shon’ani 1/178

Membawa Alquran Ke Negeri Kafir Harbi

 

Membawa Alquran Ke Negeri Kafir Harbi

Bagaimana Quran Bisa Terhina (2)

Barangkali kita pernah mendengar alquran dilecehkan orang kafir dengan cara dinjak-injak lalu dikencingi ?! Wal Iyaadzu billah ! Islam melarang alquran yang merupakan kalam Alloh ada di tangan orang kafir yang berakibat pelecehan.Oleh karena itu nabi shollallohu alaihi wasallam mengingatkan :

 عن ابن عمر رضي الله عنهما عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يَنْهَى أَنْ يُسَافَرَ بِالْقُرْآنِ إِلَى أَرْضِ الْعَدُوِّ مَخَافَةَ أَنْ يَنَالَهُ الْعَدُوُّ.  

Dari Ibnu Umar rodliyallohu anhuma dari rosululloh shollallohu alaihi wasallam bahwa beliau melarang seorang bersafar dengan membawa alquran ke negeri musuh karena dikhawatirkan akan jatuh ke tangan musuh [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu daud dan Ibnu Majah]

Menyentuh Alquran Dalam Keadaan Tidak Suci

 


Bagaimana Quran Bisa Terhina (1)

Alloh berfirman :

لا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya (alquran) kecuali hamba-hamba yang disucikan (para malaikat) [alwaqiah : 79]

Ayat di atas menerangkan bahwa alquran tidak ada yang menyentuhnya di lauhul mahfudz selain malaikat-malaikat yang disucikan oleh Alloh. Ini sebagai bantahan bagi kafir quraisy yang menuduh alquran dibawa dari langit oleh setan yang dinilai sebagai makhluq najis.

Imam Baghowi, berpendapat bahwa berdasarkan ayat ini, tidak diperbolehkan bagi siapa saja yang tidak berada dalam keadaan suci untuk menyentuh alquran. Albaghowi berkata :

لا يجوز للجنب ولا للحائض ولا المحدث حمل المصحف ولا مسُّهُ، وهو قول عطاء وطاووس، وسالم، والقاسم، وأكثر أهل العلم، وبه قال مالك والشافعي

Tidak diperbolehkan bagi orang yang sedang junub, haidl dan berhadats untuk membawa dan menyentuhnya. Ini adalah perkataan Atho’, Thowus, Salim, Qosim dan mayiritas ulama. Demikianlah yang dikatakan Imam Malik dan Syafi’i.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam mengirim surat untuk penduduk Yaman lewat Amru Bin Hazm. Salah satu petikan kalimat yang  tercantum dalam surat itu adalah :

أَنْ لاَ يَمَسَّ الْقُرْآنَ إِلاَّ طَاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh alquran kecuali orang suci [HR Malik dan Addarimi]

Maroji :

Ma’alimuttanzil, Abu Muhammad Alhusain Bin Mas’ud Albaghowi (maktabah syamilah) hal 537

 

Berlindung Kepada Alloh Dari Siksa Kubur Dan Siksa Neraka

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (40)

Adzab kubur adalah nyata. Kita mengimaninya meski belum pernah melihat bukti di depan mata. Siapa yang mendapat adzab kubur, maka adzab itu akan berlanjut ke adzab berikutnya, yaitu adzab neraka. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam pernah menghubungkan kedua adzab ini.

Zaid Bin Tsabit menuturkan bahwa pada suatu hari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam berada di kebun milik bani An Najjar. Beliau menunggangi bighal. Tiba-tiba bighal berjalan menyimpang hingga hampir melemparkan beliau. Ternyata ada enam, lima atau empat kuburan lalu beliau bertanya :

مَنْ يَعْرِفُ أَصْحَابَ هَذِهِ الْأَقْبُرِ

Siapa yang mengetahui penghuni-penghuni kubuan ini ?

Seorang laki-laki berkata “ Saya !  “. Dia menerangkan bahwa semua penghuninya mati dalam keadaan syirik. Beliaupun bersabda :

إِنَّ هَذِهِ الْأُمَّةَ تُبْتَلَى فِي قُبُورِهَا فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ

Sesungguhnya ummat ini diuji dikuburnya. Andai kalian tidak berlarian, niscaya aku berdoa kepada Allah agar memperdengarkan adzab kubur pada kalian seperti yang aku dengar

Setelah itu, beliau memberi nasehat kepada para sahabat :

تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Berlindunglah kepada Allah dari adzab neraka. Berlindunglah kepada Allah dari adzab kubur [HR Muslim]

Bila kita ingin memohon perlindungan dari keduanya, kapan dilakukan ? Jawabannya adalah saat membaca alquran, lalu bertemu ayat yang berisi adzab sebagaimana yang disampaikan oleh Khudzaifah Al Yaman :

عَنْ حُذَيْفَةَ رضي الله عنه قَالَ : صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَمَا مَرَّتْ بِهِ آيَةُ رَحْمَةٍ إِلَّا وَقَفَ عِنْدَهَا يَسْأَلُ وَلَا آيَةُ عَذَابٍ إِلَّا تَعَوَّذَ مِنْهَا  

Hudzaifah Radliyallaahu 'anhu berkata : Aku sholat bersama Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Setiap melewati bacaan ayat tentang rahmat beliau berhenti untuk berdoa meminta rahmat dan setiap melewati bacaan tentang adzab beliau berhenti untuk berdoa meminta perlindungan dariNya. [HR Ahmad] 

Lafadz doa berlindung dari neraka saat membaca alquran adalah :

  أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ وَيْلٌ لأَهْلِ النَّارِ

Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan dalam sebuah hadits :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى لَيْلَى عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّيْتُ إِلَى جَنْبِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى صَلاَةِ تَطَوُّعٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ  أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ وَيْلٌ لأَهْلِ النَّارِ

Dari Abdurrohman Bin Abi Laila dari bapaknya berkata : Aku sholat di samping rosululloh shollallohu alaihi wasallam pada sholat sunnah. Aku mendengar beliau membaca “ Aku berlindung kepada Alloh dari neraka. Betapa celaka penghuni neraka “ [HR Abu Daud]

Selain saat membaca alquran, syariat menganjurkan amalan ini dilakukan ketika kita selesai dari bacaan tahiyat sebelum salam. Ibnu Abbas berkata :

عَنْ ابْن عَبَّاسٍ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَتَعَوَّذُ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الأَعْوَرِ الْكَذَّابِ  

Dari Ibnu Abbas berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam biasa berta’awudz (memohon perlindungan) di setiap ujung sholat dari empat hal. Beliau membaca ” Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab kubur. Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari adzab neraka. Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari fitnah yang nampak dan tersembunyi. Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari fitnah si buta sebelah lagi pendusta “ [HR Ahmad]

 

Memohon Perlindungan Alloh Dari Buruknya Kematian

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (39)

Kematian akibat kecelakaan, tentu tidak diinginkan. Alangkah indahnya bila kita dalam keadaan sehat wal afiat lalu menunaikan sholat, dalam keadaan sujud ajal menjemput. Sungguh kematian yang indah. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam sering membaca suatu doa yang berisi meminta perlindungan dari kecelakaan dan kematian yang buruk :

عَنْ أَبِى الْيَسَرِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَدْمِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ التَّرَدِّى وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْغَرَقِ وَالْحَرَقِ وَالْهَرَمِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِى الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِى سَبِيلِكَ مُدْبِرًا وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا  

Dari Abu Yasar : Bahwasanya rosululloh shollallohu alaihi wasallam berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari tertimpa reruntuhan. Aku berlindung kepadaMu jatuh dari ketinggian. Aku berlindung kepadaMu dari tenggelam, terbakar dan kepikunan. Aku berlindung kepadaMu dari gangguan setan saat kematian. Aku berlindung kepadaMu dari mati di jalanMu dalam keadaan melarikan diri. Dan aku berlindung kepadaMu dari kematian karena sengatan kalajengkinh [HR Ahmad, Abu Daud dan Nasa’i]