Berlindung Kepada Alloh Dari Jabatan

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (30)

Dalam era demokrasi, jabatan adalah sebuah idaman. Terlalu banyak politikus rela mengeluarkan biaya besar demi jabatan yang ia dambakan. Menipu, saling jegal dan khianat adalah sesuatu yang lumrah terjadi di dunia lumpur demokrasi.

Ini berbeda dengan kehidupan para sahabat. Mereka tidak tergiur sedikitpun dengan jabatan. Bahkan betapa banyak riwayat yang menyebutkan mereka berusaha agar dirinya terhindar dari jabatan itu. Salah satunya adalah Abdullah Bin Umar. Pada suatu hari Utsman Bin Affan berkata kepada Abdulloh Bin Umar :

اقْضِ بَيْنَ النَّاسِ

Jadilah qodli di tengah-tengah manusia

Mendengar tawaran jabatan ini, Abdulloh Bin Umar menolaknya dan berkata :

لاَ أَقْضِى بَيْنَ اثْنَيْنِ وَلاَ أَؤُمُّ رَجُلَيْنِ أَمَا سَمِعْتَ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَنْ عَاذَ بِاللَّهِ فَقَدْ عاَذَ بِمُعَاذٍ

Aku tidak akan mau memimpin sidang untuk menyelesaikan masalah antara dua orang dan aku tidak akan mau menjadi imam sholat (meski) untuk dua orang. Tidakkah engkau mendengar nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda “ Barangsiapa yang memohon perlidungan kepada Alloh maka sungguh ia telah berlindung kepada Yang Maha Pemberi Perlindungan “

Utsman membenarkannya. Abdulloh Bin Umar selanjutnya berkata :

فَإِنِّى أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تَسْتَعْمِلَنِى

Sesungguhnya aku berlindung kepada Alloh agar engkau tidak memberi jabatan kepadaku [HR Ahmad]

Demikianlah, akhirnya Utsman tidak memberi jabatan kepada Utsman karena ia telah berlindung kepada Alloh agar dihindarkan dari jabatan

 

Berlindung Kepada Alloh Dari Ilmu Yang Tidak Bermanfaat

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (29)

Ilmu mendatangkan sikap khosy-yah (takut) kepada Alloh. Alloh berfirman :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama (orang-orang yang berilmu) [fathir : 28]

Kenyataannya, betapa banyak orang yang memiliki banyak ilmu, akan tetapi apa yang dimilikinya, sama sekali tidak terlihat dalam kehidupan. Para koruptor, adalah orang yang berpendidikan. Mereka ambil uang rakyat dengan cara tidak benar. Saat diciduk akibat perbuatannya, tanpa rasa malu mereka masih sempat melambaikan tangan di depan para awak media.

Ini membuktikan bahwa tidak semua ilmu bisa mendatangkan manfaat bagi setiap manusia. Oleh karena itu, rosululloh shollallohu alaihi wasallam menganjurkan kita untuk memohon kepada Alloh agar terlindung dari ilmu yang bermanfaat. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ  

Dari Jabir berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Mintalah kepada Alloh ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Alloh dari ilmu yang tidak bermanfaat [HR Ibnu Majah]

Bagaimana bunyi dari doa ini ? Dua hadits di bawah ini adalah jawabannya :

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً  

Dari Ummu Salamah : Bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam bila selesai dari sholat shubuh saat mengucapkan salam, membaca “ Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyyib dan amal yang diterima [HR Ahmad dan Ibnu Majah]

عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ لاَ أَقُولُ لَكُمْ إِلاَّ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ كَانَ يَقُولُ  اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا  

Dari Zaid Bin Arqom berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam biasa membaca : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu Dari sifat lemah, malas, pengecut, bakhil, kepikunan dan adzab kubur. Ya Alloh datangkan pada diriku ketaqwaannya dan bersihkanlah dia karena Engkau adalah sebaik-baik yang bisa membersihkannya. Engkau adalah walinya (yang menjamin nikmat dunia dan akhirat) dan maulanya (pelindungnya). Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang (puas dengan pemberian Alloh) dan dari doa yang tidak dikabulkan [HR Muslim, Ahmad dan Nasa’i]

Pada kalimat terakhir dari doa ini tercantum kalimat

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا  

Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu, dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang (puas dengan pemberian Alloh) dan dari doa yang tidak dikabulkan.

Bisa disimpulkan bahwa ciri ilmu yang tidak bermanfaat adalah pelakunya tidak akan khusyu hatinya. Bila ini terjadi, maka kemaksiatan adalah sesuatu yang tidak ditakuiti. Jiwanya kosong dari sikap qona’ah karena hatinya sudah penuh dengan noda dosa. Akibatnya tentu doa dan munajat tidak akan dikabulkan.

Berlindung Kepada Alloh Dari Kesesatan

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (28)

Adl Dloll bermakna sesat. Dalam alquran adl dloll identik dengan perbuatan syirik atau kufur. Alloh berfirman :

وَمَنْ يَتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ  

Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus [albaqoroh : 108]

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا  

Barang siapa berbuat syirik kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya [annisa : 116]

وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا  

Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan hari akhir, maka sungguh orang itu telah sesat sejauh-jauhnya [annisa : 136]

فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus [almaidah : 12]

Karena begitu buruknya adl dloll, maka nabi shollallohu alaihi wasallam mengajari kita doa agar kita terhindar dari kesesatan. Beliau bersabda :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ  

Dari Ibnu Abbas : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Ya Alloh, kepadaMu aku berserah diri, KepadaMu aku beriman, kepadaMu aku bertawakal, kepadaMu aku kembali dan kepadaMu aku mengadu. Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dengan kemuliaanMu. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Engkau agar Engkau tidak menyesatkanku. Engkau Maha Hidup yang tidak akan mati. Jin dan manusia akan mati [HR Muslim dan Ahmad]

 

Berlindung Kepada Alloh Dari Kehinaan Di Hadapan Manusia

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (27)

Dihormati di tengah masyarakat adalah harapan. Kita tidak ingin hidup di lingkungan dalam keadaan terhina dan dibenci. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengajari umatnya doa agar terhindar dari hal ini :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ  

Dari Abu Huroiroh : Bahwasanya nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kefaqiran, alqillah (sedikit), kehinaan dan aku berlindung kepadaMu dari mendzolimi dan didzolimi [HR Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah]

Penulis aunul ma’bud menafsirkan beberapa kata yang ada pada hadits ini. Al Faqru (kefaqiran) adalah kefaqiran hati, bukan faqir harta. Maknanya tidak memiliki sifat qona’ah (puas) dengan pemberian Alloh.

Al qillah (sedikit) bermakna sedikit amal kebaikan. Adapaun adz dzillah (hina) adalah  terhina di tengah manusia karena perbuatan maksiat.

Demikianlah, kita ingin hati gersang karena selalu mengeluh dengan nikmat yang Alloh berikan. Kita juga berharap hidup dipenuhi amal sholih, bukan maksiat yang membuat kedudukan menjadi rendah di hadapan manusia. Tidak lupa, kita berusaha agar selalu terhindar dari sikap mendzolimi dan mendapat kedzoliman dari orang lain.

Maroji’ :

Aunul Ma’bud 3/466

Berlindung Kepada Alloh Dari Keburukan Pribadi Dan Akibatnya

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (26)

Perbuatan dosa akan mendatangkan keburukan bagi pelaku dan orang lain. Efek buruk inilah yang kita khawatirkan terjadi. Di dunia akan mendatangkan musibah dan di akhirat akan membuat pelakunya tenggelam dalam adzab neraka. Untuk itulah nabi shollallohu alaihi wasallam mengajarkan doa :

عَنْ عَائِشَةَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ  

Dari Aisyah : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlidung kepadaMu dari keburukan apa yang telah aku lakukan dan dari keburukan yang belum aku lakukan [HR Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah]

 

Memohon Perlindungan Alloh Dari Keburukan Anggota Badan

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (25)

Anggota badan memiliki potensi mendatangkan dosa. Telinga mendengar perkataan sia-sia, mata melihat aurot yang tidak layak dilihat, lesan mengeluarkan kalimat yang mengundang murka Alloh, hati dipenuhi sifat benci dan dengki dan kemaluan terjerumus ke dalam zina yang dilaknat. Untuk itulah rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengajarkan doa kepada Abu Ahmad Syakal Bin Humaid sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits :

عَنْ أَبِى أَحْمَدَ شَكَلِ بْنِ حُمَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِى دُعَاءً قَالَ  قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِى وَمِنْ شَرِّ بَصَرِى وَمِنْ شَرِّ لِسَانِى وَمِنْ شَرِّ قَلْبِى وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّى  

Dari Abu Ahmad Syakal Bin Humaid berkata : Aku berkata : Wahai rosululloh, ajarkan kepadaku doa. Beliau bersabda : bacalah “ Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku dan dari keburukan air maniku “ [HR Abu Daud, Tirmidzi dan Nasa’i]

Berlindung Kepada Alloh Agar Dijauhi Dari Sifat GR

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (24)

Merasa diri mulia adalah salah. Seharusnya pada diri manusia ada sifat khawatir terhadap dirinya. Apakah amal yang selama ini dilakukan diterima oleh Alloh ? Apakah dirinya adalah manusia yang layak mendapat gelar mukmin ? Demikian seterusnya. Amru Bin Ash mengajari anak-anaknya dengan satu kalimat agar mereka mewaspadai diri supaya bersih hatinya dari sikap ujub (bangga diri). Amru Bin Ash berkata :

وَإِنِّى أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ فِى نَفْسِى عَظِيمًا وَعِنْدَ اللَّهِ صَغِيرًا  

Sesungguhnya aku berlindung kepada Alloh agar aku tidak merasa diriku besar sementara di sisi Alloh, ternyata aku kecil [HR Muslim dan Ahmad]

Berlindung Kepada Alloh Dari Akhlaq Buruk

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (23)

Agungnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam dilatarbelakangi oleh akhlaq mulia yang beliau miliki. alloh berfirman :

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ  

Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar di atas akhlaq yang agung [al qolam : 4]

Sebagai umatnya, tentu kita menginginkan meniru pribadi beliau. Bagaimana caranya ? Bisa dengan membaca kita siroh atau kitab hadits. Dari situ, kita bisa mengetahui kehidupan sehari-hari rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Di samping itu, membaca doa yang berisi permohonan kepada Alloh agar dihindarkan dari akhlaq tercela :

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ وَسُوءِ الأَخْلاَقِ  

Abu Huroiroh berkata : Sesungguhnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam biasa berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari perpecahan, nifaq (sifat munafiq) dan buruknya akhlaq [HR Nasa’i]

عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلاَقَةَ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ  

Dari Ziyad Bin Ilaqoh dari pamannya berkata : Nabi shollallohu alaihi wasallam berdoa : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung  kepadaMu dari kemungkaran akhlaq, amal perbuatan dan hawa nafsu [HR Tirmidzi]

Memohon Perlindungan Kepada Alloh Saat Sakit

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (22)

Sakit bisa diatasi dengan berobat. Ia juga bisa dihadapi dengan dzikrulloh. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam pernah mengajari Utsman Bin Abil Ash yang mengeluhkan sakit yang ada di tubuhnya :

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِى الْعَاصِ الثَّقَفِىِّ أَنَّهُ شَكَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَجَعًا يَجِدُهُ فِى جَسَدِهِ مُنْذُ أَسْلَمَ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ضَعْ يَدَكَ عَلَى الَّذِى تَأَلَّمَ مِنْ جَسَدِكَ وَقُلْ بِاسْمِ اللَّهِ. ثَلاَثًا. وَقُلْ سَبْعَ مَرَّاتٍ أعُوذُ بِعِزَّةِ الله وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أجِدُ وَأُحَاذِرُ  

Dari Utsman Bin Abil Ash Ats Tsaqofi : Bahwa dia mengadu kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam tentang sakit yang ia dapati pada tubuhnya semenjak dia masuk islam. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda kepadanya : Letakkan tanganmu pada tubuhmu yang sakit dan ucapkan “ Bismillah “ tiga kali dan ucapkan tujuh kali “ Aku berlindung kepada kemuliaan Alloh dan kekuasaanNya dari keburukan yang aku hadapi dan aku khawatiri [HR Muslim dan Ibnu Majah]

 

Berlindung Kepada Alloh Dari Penyakit

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (21)

Sehat adalah dambaan setiap manusia. Mencegah datangnya penyakit tentu lebih baik daripada mengobati. Menghindarkan diri dari penyakit bisa dilakukan dengan cukup istirahat, memakan makanan yang bergizi, rajin berolahraga dan lainnya. Selain itu, nabi shollallohu alaihi wasallam memberi kita petunjuk dengan mengamalkan doa ma’tsur :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ

Hal ini berdasarkan hadits :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ  

Dari Anas : Bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari penyakit kusta, gila, lepra dan seburuk-buruk penyakit [HR Ahmad dan Abu Daud]

Memohon Perlindungan Alloh Dari Keburukan Malam Saat Bersafar

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (20)

Bepergian di malam hari dianjurkan karena bumi sedang dilipat oleh Alloh sehingga jarak tempuh lebih pendek bila dibandingkan dilakukan pada siang hari. Kendati demikian, tindak kejahatan acap kali terjadi di waktu ini. Oleh karena itu syariat menganjurkan kita untuk memohon perlindungan kepada Alloh dari kemungkinan buruk yang terjadi :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا غَزَا أَوْ سَافَرَ فَأَدْرَكَهُ اللَّيْلُ قَالَ يَا أَرْضُ رَبِّى وَرَبُّكِ اللَّهُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّكِ وَشَرِّ مَا فِيكِ وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيكِ وَشَرِّ مَا دَبَّ عَلَيْكِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ أَسَدٍ وَأَسْوَدَ وَحَيَّةٍ وَعَقْرَبٍ وَمِنْ شَرِّ سَاكِنِ الْبَلَدِ وَمِنْ شَرِّ وَالِدٍ وَمَا وَلَدَ  

Dari Abdulloh Bin Umar berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bila berperang atau bersafar lalu mendapati malam, beliau membaca : Wahai bumi, Robku dan Robmu adalah Alloh. Aku berlindung kepada Alloh dari keburukan yang ada padamu (bagian atas bumi) dan keburukan yang ada di dalammu (bagian dalam bumi), dan keburukan yang diciptakan padamu dan keburukan binatang yang melata di atasmu. Aku berlindung kepada Alloh dari  setiap singa, manusia, ular, kalajengking, penduduk negeri (jin) dan keburukan setan dan keturunannya [HR Ahmad dan Abu Daud]

Berlindung Kepada Alloh Saat Singgah Di Sebuah Tempat Dalam Safar

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (19)

Di sela-sela perjalanan, terkadang kita mengalami kelelahan. Rest area sering menjadi sarana istirahat. Tidak boleh diremehkan, sering di tempat ini kejahatan mengintai. Oleh karena itu, islam mengajarkan umatnya untuk  terlebih dahulu berta’awudz (memohon perlindungan kepada Alloh) dari gangguan makhluqNya. Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنِ خَوْلَةَ بِنْت حَكِيمٍ السُّلَمِيَّة تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ  

Dari Khoulah Binti Hakim As Sulaimah berkata : Aku mendengar rosululloh shollallohu  alaihi wasallam bersabda : Barang siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia berdo’a : (aku berlindung dengan kalam Allah yang maha sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Ia ciptakan) maka tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu [HR Muslim, Ahmad, Malik, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah]

Ibnul Qoyyim berkata tentang makna dari gangguan makhluq :

أي من كل شر في أي مخلوق قام با الشر من حيوان أو غيره إنسيا أو جنيا أو هامة أو دابة أو ريحا أو صاعقة أو أي نوع من أنواع البلاء في الدنيا والآخرة

Dari segala kejahatan pada makhluq yang memiliki potensi kejahatan baik berupa hewan atau selainnya, manusia, jin, binatang berbisa, binatang tunggangan, angin, petir atau jenis apa saja dari macam-macam marabahaya dunia dan akhirat.

Imam Qurthubi memiliki pengalaman berharga terhadap sunnah ini. Dia berkata :

هذا خبر صحيح وقول صادق علمنا صدقه دليلا وتجربة فإني منذ سمعت هذا الخبر عملت عليه فلم يضرني شئ إلى أن تركته فلدغتني عقرب بالمهدية ليلا فتفكرت في نفسي فإذا بي قد نسيت أن أتعوذ بتلك الكلمات

Ini adalah dalil yang shohih dan ucapan yang benar. Kami mengetahui kebenarannya berdasarkan dalil dan pengalaman. Sesungguhnya semenjak aku mendengar dalil ini, aku segera mengamalkannya maka tidak ada sesuatu yang menimpakan madlorot padaku hingga suatu saat akan melupakannya.Tiba-tiba kalajengking menyengatku di daerah Al Mahdiyah di suatu malam. Akupun merenungkan diriku, ternyata aku telah lupa untuk meminta perlindungan dengan kalimat itu

Maroji’ :

Fathul Majid, Syaikh Abdurrohman Hasan Alu Syaikh (maktabah syamilah) 1/157

 

Berlindung Kepada Alloh Di Kendaraan Saat Bersafar

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (18)

Di samping penat dan lelah, banyak kejadian tidak menyenangkan saat safar. Di sinilah rosululloh shollallohu alaihi wasallam mengajarkan kita bacaan yang terkandung di dalamnya doa meminta perlindungan kepada Alloh. Doa itu adalah :

سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ ، وَإنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلبُونَ . اللّهُمَّ إنا نسألكَ في سفرنا هذا البرّ والتَّقوى ، ومنَ العملِ ما ترضى ، اللَّهُمَّ هَوِّن عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا ، وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ . اللَّهُمَّ أنْتَ الصَّاحِبُ في السَّفَرِ ، والخَلِيفَةُ في الأهْلِ . اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ ، وَكَآبَةِ المَنْظَرِ ، وَسُوءِ المُنْقَلَبِ في المالِ وَالأَهْلِ وَالوَلَدِ

Maha Suci Alloh yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rob kami. Ya Alloh, Aku memohon kepadaMu dalam perjalanan kami berupa kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridloi. Ya Alloh, mudahkanlah perjalanan kami dan dekatkan kejauhannya. Ya Alloh, Engkau yang menemani safar dan Engkau pula yang melindungi keluarga. Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesulitan dalam safar, buruknya pemandangan, kesedihan saat kembali dalam harta, keluarga dan anak [HR Muslim]

 

Berlindung Kepada Alloh Saat Keluar Rumah

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (17)

Banyak kemungkinan terjadi saat keluar rumah. Tergelincir dosa, celaka atau tindakan dzolim yang merugikan orang lain. Untuk itulah, rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi kita petunjuk berupa dzikir ketika akan keluar rumah :

أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ مَا خَرَجَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم مِنْ بَيْتِى قَطُّ إِلاَّ رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ  

Dari Ummu Salamah berkata : Tidak sekalipun nabi shollallohu alaihi wasallam keluar dari rumahku kecuali mengarahkan pandangannya ke langit seraya membaca : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kesesatan atau disesatkan, dari tergelincir dan digelincirkan, dari mendzolimi atau didzolimi, dari berbuat bodoh atau ditimpakan perbuatan bodoh kepadaku [HR Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah]

Hadits di atas menerangkan empat hal yang kita meminta perlindungan kepada Alloh saat berada di luar rumah. Yang pertama :

أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ

dari kesesatan atau disesatkan

Maksudnya menyimpang dari alhaq (kebenaran). Demikianlah berapa banyak orang terjebak dalam kesesatan saat berada di luar rumah. Yang kedua :

أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ

dari tergelincir dan digelincirkan

Maksudnya tergelincir ke dalam dosa yang tidak disengaja. Inilah islam yang melarang perbuatan dosa yang disengaja maupun tidak disengaja.

Yang ketiga adalah :

أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

dari mendzolimi atau didzolimi

Maknanya sudah jelas. Keempat :

أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَىَّ

dari berbuat bodoh atau ditimpakan perbuatan bodoh kepadaku

Maknanya melakukan perbuatan orang-orang bodoh berupa tindakan menyakiti dan membahayakan.

Maroji’ :

Aunul Ma’bud 11/129 

Berlindung Kepada Alloh Saat Mendapat Mimpi Buruk

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (16)

Mimpi buruk berasal dari setan. Bila ini terjadi, maka langkah pertama meludah ke sebelah kiri tiga kali. Kedua membaca a’udzu billaahi minasy syaithonirrojim. Bila mimpi ini datang kembali, dianjurkan untuk berpindah tempat pada malam itu. Inilah yang diajarkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عن جابر رضي الله عنه  عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا رَأى أحَدُكُمْ الرُّؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاثَاً ، وَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ثَلاَثاً ، وَلْيَتَحَوَّل عَنْ جَنْبِهِ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ  

Dari Jabir rodliyallohu anhu, dari rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila seorang diantara kalian melihat mimpi yang tidak disukainya, maka meludahlah ke sebelah kiri tiga kali lalu berlindunglah kepada Alloh dari setan sebanyak tiga kali dan berpindah ke sampingnya dari tempat yang tiduri sebelumnya [HR Muslim]

 

Memohon Perlindungan Alloh Saat Rasa Takut Datang Menjelang Atau Ketika Tidur

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (15)

Ada sebagian orang yang sering diliputi rasa takut menjelang tidur. Ada juga yang tiba-tiba bangun lalu terlihat rasa takut di wajahnya. Bila hal ini terjadi, maka dianjurkan yang bersangkutan membaca :

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ

Hal ini berdasarkan sebuah hadits :

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ  إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِى النَّوْمِ فَلْيَقُلْ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ. فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ  

Dari Amru Bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila seorang diantara kalian takut dalam tidurnya, maka bacalah “ Aku berlindungan dengan kalam Alloh yang sempurna dari marahNya, murkaNya, kejahatan hambaNya dan gangguan setan dan kedatangan mereka padaku “. (bila kalimat ini dibaca), maka sungguh, sekali-kali setan tidak akan menimbulkan madlorot padanya [HR Ahmad, Malik Abu Daud dan Tirmidzi]

Berlindung Kepada Alloh Saat Akan Tidur

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (14)

Saat tidur tentu kita membutuhkan perlindungan dari Alloh. Oleh karena itu rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi kita petunjuk beberapa bacaan sebelum tidur dimana kita bisa membaca seluruhnya atau sebagiannya :

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا وَقَرَأَ فِيهِمَا (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَ ( قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ) وَ (قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ) ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

Dari Aisyah rodliyallohu anha, bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam bila pergi ke tempat tidurnya, beliau merapatkan kedua telapak tangannya lalu meniup keduanya seraya membaca “ Qulhuwallohu ahad, qul a’uudzu birobbil falaq dan qul a’udzu birobbinnas lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh sesuai kemampuan. Di mulai dari kepala, wajah dan seluruh tubuhnya. Beliau lakukan itu tiga kali. [HR Bukhori dan Abu Daud]

 عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ حَدَّثَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقُولُ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى كَفَانِى وَآوَانِى وَأَطْعَمَنِى وَسَقَانِى وَالَّذِى مَنَّ عَلَىَّ فَأَفْضَلَ وَالَّذِى أَعْطَانِى فَأَجْزَلَ الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ اللَّهُمَّ رَبَّ كُلِّ شَىْءٍ وَمَلِيكَهُ وَإِلَهَ كُلِّ شَىْءٍ أَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ  

Dari Ibnu Umar : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bila hendak tidur, biasa membaca (Segala puji bagi Alloh yang telah memberi kecukupan kepadaku, memberi tempat tinggal kepadaku, memberi makan dan minum kepadaku dan yang telah menganugerahiku sebaik-baik penganugerahan dan yang telah memberikan pemberian kepadaku dengan pemberian yang melimpah. Segala puji bagi Alloh atas segala keadaan. Ya Alloh Penciptaan segala sesuatu dan Penguasanya serta ilah bagi segala sesuatu. Aku berlindung kepadaMu dari neraka [HR Abu Daud]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رضى الله عنه قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مُرْنِى بِكَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ. قَالَ قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ رَبَّ كُلِّ شَىْءٍ وَمَلِيكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِى وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ قَالَ  قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ  

Dari Abu Huroiroh : Bahwa Abu Bakar Ash Shiddiq rodliyallohu anhu berkata : Wahai rosululloh, perintahkan diriku dengan beberapa kalimat yang aku akan membacanya di waktu pagi dan sore. Beliau bersabda : Ucapkanlah “ Ya Alloh, Pencipta langit dan bumi. Engkau yang mengetahui sesuatu yang ghoib dan nyata. Engkau adalah Rob dan Raja bagi segala sesuatu. Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan diriku dan kejahatan setan dan sekutunya “. Beliau bersabda : Bacalah di waktu pagi, di waktu sore dan bila engkau akan berbaring di tempat tidurmu [HR Abu Daud]

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ اللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَوَاتِ وَرَبَّ الأَرْضِ وَرَبَّ كُلِّ شَىْءٍ فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى مُنَزِّلَ التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى شَرٍّ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَىْءٌ وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَىْءٌ اقْضِ عَنِّى الدَّيْنَ وَأَغْنِنِى مِنَ الْفَقْرِ  

Dari Abu Huroiroh, dari nabi shollallohu alaihi wasallam, bahwa beliau saat pergi ke tempat tidur beliau membaca : (Ya Alloh Pencipta langit dan Pencipta bumi, Pencipta segala sesuatu, Pencipta biji-bijian, yang menurunkan taurot, injil dan alquran. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan yang memiliki kejahatan. Engkaulah yang menarik ubun-ubun. Engkaulah yang pertama, tidak ada sebelumMu sesuatupun. Engkaulah yang terakhir, tidak ada sesudahMu sesuatupun. Engkaulah yang dzohir, tidak ada  di atasMu sesuatupun. Engkau  adalah Al Bathin, tidak ada di bawahmu sesuatupun. Selesaikan hutang dan berikan kecukupan dari kefaqiran [HR Muslim]

عَنْ عَلِىٍّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ عِنْدَ مَضْجَعِهِ  اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ وَكَلِمَاتِكَ التَّامَّةِ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ اللَّهُمَّ أَنْتَ تَكْشِفُ الْمَغْرَمَ وَالْمَأْثَمَ اللَّهُمَّ لاَ يُهْزَمُ جُنْدُكَ وَلاَ يُخْلَفُ وَعْدُكَ وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ  

Dari Ali rohimahulloh dari rosululloh shollallohu alaihi wasallam bahwa beliau membaca saat akan tidur : Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung dengan wajahMu yang mulia dan kalimatMu yang sempurna dari kejahatan yang Engkaulah yang menarik ubun-ubunnya. Ya Alloh, Engkaulah yang menyingkap kecelakaan dan dosa. Ya Alloh, tidak akan dikalahkan tentaraMu, tidak akan diselisihi janjiMu tiada bermanfaat segala keagungan karena keagungan itu hanyalah dari Engkau. Maha Suci Engkau dan dengan memujiMu [HR Abu Daud]

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَقُولَ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ وَإِذَا أَخَذْتُ مَضْجَعِى مِنَ اللَّيْلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ رَبُّ كُلِّ شَىْءٍ وَمَلِيكُهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِى وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِى سُوءاً أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ  

Dari Mujahid berkata : Abu Bakar Ash Shiddiq berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam memerintahku untuk membaca di waktu pagiku, soreku dan saat aku pergi ke tempat tidurku di malam hari “ Ya Alloh, Pencipta langit dan bumi. Engkau yang mengetahui sesuatu yang ghoib dan nyata. Engkau adalah Rob dan Raja bagi segala sesuatu. Aku bersaksi tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau. Engkau satu-satuNya, tidak ada sekutu bagi Engkau dan (Aku bersaksi) bahwa Muhammad adalah hamba dan rosulMu. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan diriku dan kejahatan setan dan sekutunya (dan aku berlindung) dari berbuat keburukan bagi diriku atau menimpa keburukan itu pada seorang muslim “ [HR Ahmad dan Tirmidzi]

Berlindung Kepada Alloh Saat Marah

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (13)

Marah sering identik dengan negatif. Terlebih rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyebutnya berasal dari setan. Dalam sebuah hadits disebutkan :

عَنْ عَطِيَّةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ  

Dari Athiyyah : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya marah itu berasal dari setan dan setan diciptakan dari api dan sesungguhnya api tidak lain bisa dipadamkan dengan air. Oleh karena itu bila seorang diantara kalian marah maka berwudlulah [HR Ahmad dan Abu Daud]

Hadits ini memberi petunjuk kepada kita untuk segera berwudlu saat marah datang. Akan tetapi alangkah baiknya, bila tindakan pertama sebelum berwudlu adalah membaca ta’awudz sebagaimana sabda nabi shollallohu alaihi wasallam saat melihat dua orang yang bertengkar sengit hingga mukanya merah dan urat lehernya tampak menonjol :

إِنِّى لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ ، لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ  

Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui suatu kalimat seandainya orang itu mengucapkannya maka niscaya akan hilang amarah yang ada padanya. Seandainya dia berkata “ A’udzu billaahi minasy syaithoonirrojiim “ (Aku berlindung kepada Alloh dari setan yang terkutuk) [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Berlindung Dari Setan Laki-Laki Dan Perempuan

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (12)

Ini dibaca sebelum masuk wc. Anas Bin Malik meriwayatkan :

عَنْ أنَسٍ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ  

Dari Anas : Bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam apabila hendak masuk wc, beliau bersabda : Ya Alloh sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari khubuts (setan laki-laki) dan khobaits (setan perempuan) [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban]

Kenapa bacaan :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

dibaca sebelum masuk wc ? Karena lafdzul jalalah tidak boleh diucapkan di tempat ini sebagaimana yang diterangkan oleh banyak ulama. Di samping itu, dalam salah satu riwayat Bukhori, terdapat lafadz :

إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ

Bila hendak masuk

Hadits di atas menunjukkan keberadaan setan di tempat ini. Sifat asli setan yang jahat, menyebabkan kita diperintahkan Alloh untuk memohon perlidungan kepadaNya dari kejahatannya.

Maroji’ :

Syarh Ibnu Bathol 1/248

Berlindung Kepada Alloh Saat Mendengar Ringkikan Keledai

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (11)

Ada sebagian binatang diberi indera khusus oleh Alloh sehingga memiliki kemampuan melihat mahkluq ghoib. Seperti ayam jantan dan keledai :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا ، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الْحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا  

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu : Bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila kalian mendengar kokok ayam jantan maka memohonlah karunia kepada Alloh karena dia sedang melihat malaikat. Bila kalian mendengar suara ringkikan keledai maka berlindunglah kepada Alloh dari setan karena dia sedang melihat setan [HR Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi]

Apakah keledai meringkik sebagai tanda melihat setan terjadi di setiap waktu ? Ternyata tidak karena pada hadits lain rosululloh shollallohu alaihi wasallam menghubungkan dengan malam hari sebagai hadits :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا سَمِعْتُمْ نُبَاحَ الْكِلاَبِ وَنَهِيقَ الْحُمُرِ بِاللَّيْلِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ يَرَيْنَ مَا لاَ تَرَوْنَ

Dari Jabir Bin Abdulloh berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila kalian mendengar gonggongan anjing dan ringkikan keledai di malam hari maka berlindunglah kepada Alloh karena keduanya melihat sesuatu yang kalian tidak melihatnya [HR Abu Daud]

Memohon Perlindungan Kepada Alloh Saat Masuk Masjid

 

Kapan Kita Membaca A’udzu (10)

Bacaan paling populer di kalangan kaum muslimin saat masuk masjid adalah :

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Kendati demikian, ada bacaan lain yang diajarkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam, yaitu :

أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم

Hal ini berdasarkan sebuah hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ كَانَ إِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ قَالَ  أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ  

Dari Abdulloh Bin Amu Bin Ash, dari nabi shollallohu alaihi wasallam, bahwa beliau bila masuk masjid, membaca : Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Agung dan dengan WajahNya Yang Mulia serta KekuasaanNya Yang Terdahulu dari setan yang terkutuk [HR Abu Daud]

Bila kalimat ini dibaca, maka setan akan berkata :

حُفِظَ مِنِّى سَائِرَ الْيَوْمِ

Dia diberi penjagaan dariku sepanjang hari itu

Pertanyaannya adalah, kenapa kita berlindung kepada Alloh dari setan saat masuk masjid ? Jawabannya, karena setan ada di tempat mulia ini untuk mengganggu sholat seorang muslim. Gangguan itu berupa :

1) Setan Mengganggu Sholat Dengan Kentut Yang Meragukan

Saat sholat, terkadang terlintas pada diri, bahwa baru saja kita mengeluarkan angin alias kentut. Hal itu membuat kita gamang tentang status sholat yang tengah dijalani. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberi kita petunjuk agar tidak menggubris kondisi ini karena ia bagian dari gangguan setan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِى بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَىْءٌ أَمْ لاَ فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا  

Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila seorang diantara kamu mendapati di perutnya sesuatu lalu ia ragu, apakah telah keluar sesuatu darinya atau tidak maka janganlah sekali-kali keluar dari masjid hingga ia mendengar suara atau mendapati bau [HR Muslim]

عن أَبي هريرة  رضي الله عنه قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا كَانَ فِى الصَّلاَةِ جَاءَهُ الشَّيْطَانُ فَأَبَسَ بِهِ كَمَا يَبِسُ الرَّجُلُ بِدَابَّتِهِ فَإِذَا سَكَنَ لَهُ أَضْرَطَ بَيْنَ أَلْيَتَيْهِ لِيَفْتِنَهُ عَنْ صَلاَتِهِ فَإِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَلاَ يَنْصَرِفْ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتاً أَوْ يَجِدَ رِيحاً لاَ يُشَكُّ فِيهِ  

Dari Abu Huroirohrodliyallohu anhu : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya bila seorang diantara kamu sholat, maka datanglah setan membentaknya sebagaimana seorang membentak kendaraannya.  Bila tenang dari gangguannya maka ia akan mengeluarkan kentut dari pantatnya untuk mengganggu sholatnya. Bila seorang diantara kamu mendapati sesuatu dari itu, maka jangan hentikan sholatnya hingga ia mendengar suara atau mendapati bau yang tidak ada keraguan padanya [HR Ahmad]

2) Setan Mengganggu Sholat Dengan Mengacaukan Bacaan

Terkadang seorang yang sedang menunaikan sholat mengalami gangguan dalam bacaannya, semisal lupa ayat yang tengah dibaca setelah alfatihah. Atau bacaan tahiyat yang tidak kunjung selesai karena selalu terulang. Bisa juga bacaan sujud dibawakan saat duduk diantara dua dua sujud.

Ini menunjukkan berhasilnya setan mengacaukan kekhusyuan sholat. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyebut setan Khinzib yang melakukannya. Kalau itu pernah kita alami, ternyata seorang sahabat, Utsman Bin Abul Ash juga pernah merasakannya sehingga ia segera menanyakannya kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ عُثْمَانَ بْن أَبِى الْعَاصِ أَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِى وَبَيْنَ صَلاَتِى وَقِرَاءَتِى يَلْبِسُهَا عَلَىَّ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا  قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّى.

Dari Utsman Bin Abul Ash, ia datang menghadap nabi shollallohu alaihi wasallam seraya berkata : Ya rosululloh, sesungguhnya setan telah mengganggu antara aku dengan sholat dan bacaanku yang membuatku ragu. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Itu adalah setan yang disebut dengan Khinzib, Bila engkau mendapatinya maka berlindunglah kepada Alloh dan meludah ke sebelah kiri tiga kali. Ia berkata : Aku melakukannya lalu Alloh menghilangkan gangguan itu dariku [HR Muslim dan Ahmad]

Dari hadits di atas disimpulkan bahwa mengatasi gangguan setan saat sholat adalah dengan membaca a’udzubillahi minasy syaithonirrojim, dilanjutkan dengan meludah ke sebelah kiri tiga kali

3) Setan Menanamkan Keraguan Terhadap Jumlah Rokaat

Inilah yang diterangkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Malik, Abu Daud dan Nasa’i]

Ketika hal itu terjadi, maka nabi shollallohu alaihi wasallam memberi petunjuk kepada kita berupa mengambil kemantapan, yaitu dengan mengambil rokaat yang paling sedikit. Semisal ragu, di rokaat kedua atau ketiga berada ? Maka diambil rokaat kedua. Selanjutnya bersujud dua kali sebelum mengucapkan salam. Sujud ini disebut dengan sujud sahwi :

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ  فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى أَثْلَاثًا أَوْ أَرْبَعًا ؟ فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ  ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ  فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْساً شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ  وَإِنْ كَانَ صَلَّى تَمَامً ا كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Apabila seseorang di antara kamu ragu dalam sholat ia tidak mengetahui apakah telah sholat tiga atau empat rakaat Maka hendaknya ia meninggalkan keraguan dan memantapkan apa yang ia yakini kemudian sujud dua kali sebelum salam Maka bila telah sholat lima rakaat genaplah sholatnya Bila ternyat sholatnya telah cukup maka kedua sujud itu sebagai penghinaan kepada setan [HR Muslim]

4) Setan Mengganggu Sholat Dengan Menanamkan Riya

Anak muda masuk masjid. Ia tunaikan sholat tahiyatul masjid. Surat yang dipilih setelah alfatihah, biasanya innaa a’thoina, tabbat yada dan sejenisnya. Saat takbirotul ihrom, tanpa sengaja ia melirik ke samping. Didapatinya seorang laki-laki yang ia ketahui mempunyai anak gadis yang ditaksirnya. Surat pendek yang hendak ia baca dirubah dengan memilih surat annaba dan annazi’at.

Kenapa ia rubah halauan dengan memanjangkan bacaan ? Tentu itu dilakukan bukan karena Alloh melainkan harapan mendapat perhatian dari laki-laki yang ada di sampingnya. Ternyata kejadian ini bagian dari program setan yang diterangkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam :

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ فَقَالَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ  قَالَ قُلْنَا بَلَى. فَقَالَ الشِّرْكُ الْخَفِىُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّى فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

Dari Abu Said berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam keluar menemui kami dimana saat itu kami sedang menyebut almasih addajal. Beliau bersabda : Maukah kalian aku kabarkan tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian daripada almasih addajal ? Kami berkata : Benar ! Beliau bersabda : Syirik tersembunyi, yaitu seorang berdiri menunaikan sholat lalu ia perbagus sholatnya karena tahu akan pandangan seseorang kepadanya [HR Ibnu Majah]

5) Setan Mengganggu Sholat Dengan Tolehan

Seorang yang sedang menunaikan sholat harus khusyu. Ia harus fokus kepada Robnya yang sedang diibadahi. Oleh karena itu, menoleh adalah perbuatan terlarang dalam sholat :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلِالْتِفَاتِ فِي اَلصَّلَاةِ ? فَقَالَ : هُوَ اِخْتِلَاسٌ يَخْتَلِسُهُ اَلشَّيْطَانُ مِنْ صَلَاةِ اَلْعَبْدِ رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ . وَلِلتِّرْمِذِيِّ : عَنْ أَنَسٍ وَصَحَّحَهُ إِيَّاكَ وَالِالْتِفَاتَ فِي اَلصَّلَاةِ  فَإِنَّهُ هَلَكَةٌ  فَإِنْ كَانَ فَلَا بُدَّ فَفِي اَلتَّطَوُّعِ  

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tentang hukum menoleh dalam sholat. Beliau menjawab : Ia adalah copetan yang dilakukan setan terhadap sholat hamba [HR Bukhari] Menurut hadits shahih Tirmidzi : Hindarilah dari berpaling dalam shalat karena ia merusak jika memang terpaksa lakukanlah dalam sholat sunat.

Imam Shon’ani menerangkan hikmah di balik larangan ini, yaitu mengurangi kekhusyuan, meninggalkan qiblat di sebagian tubuhnya atau sikap berpaling dari menghadap Alloh Ta’ala sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah :

لَا يَزَالُ اللَّهُ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ ، فَإِذَا صَرَفَ وَجْهَهُ انْصَرَفَ

Alloh senantiasa menghadapi hambaNya dalam sholatnya selama ia tidak menoleh. Bila ia memalingkan wajahnya, Alloh juga akan berpaling

Maroji’ :

Subulussalam, Imam Shon’ani 2/22