Diantara Syair Jahiliyyah Yang Benar

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (11)

Pada masa jahiliyyah, ada seorang penyair bernama Labid. Meski belum mengenal islam, ia pernah mengeluarkan syair. Isinya selaras dengan tauhid yang dibawa oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam sehingga suatu saat beliau membenarkan apa yang pernah ia katakan. Abu Huroiroh meriwayatkan :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا شَاعِرٌ كَلِمَةُ لَبِيدٍ أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مَا خَلاَ اللَّهَ بَاطِلٌ  

Dari Abu Huroiroh berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Kalimat yang paling benar yang diucapkan penyair adalah kalimat Labid “ Ingatlah, segala sesuatu selain Alloh adalah batil [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah] 

Setelah masuk islam, ia meninggalkan dunia syair hingga ketika Umar Bin Khothob memintanya untuk membaca syair, ia berkata :

قَدْ أَبْدَلَنِي اللَّه بِالشِّعْرِ سُورَة الْبَقَرَة

Alloh telah menggantikan syair yang aku miliki dengan surat albaqoroh

Labid tinggal di kota Kufah antara pemerintahan Umar Bin Khothob dan Utsman Bin Affan hingga akhirnya meninggal di usia 150 tahun

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 11/158

Hukum Bersyair Di Masjid

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (10)

Setengah jam sebelum adzan, santri pondok pesantren biasa sudah berada di masjid. Mereka pergi ke masjid tidak dengan tangan kosong. Rata-rata mereka membawa al quran atau buku pelajaran. Kita dapati diantara mereka memegang buku al fiyyah Ibnu Malik, kitab berisi kaedah nahwu shorof yang disusun dengan gaya bahasa syair.

Pertanyaannya adalah, apakah boleh membaca syair (seperti syair Alfiyah Ibnu Malik) di masjid ? Apakah masjid hanya terbatas tilawatul quran atau hadits hingga selain keduanya tidak boleh dibaca ? Ada sebagian ulama melarang syair dibaca di masjid berdasarkan hadits :

عَنْ  عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ تَنَاشُدِ الْأَشْعَارِ فِي الْمَسْجِدِ

Dari Amru Bin Syuaib, dari bapaknya, dari kakeknya berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam melarang mendendangkan syair-syair di masjid [HR Ibnu Khuzaimah]

Inilah yang dipahami oleh Umar Bin Khothob sehingga ketika Hasan Bin Tasbit bersyair di masjid mendapatkan tatapan tajam dari Umar sebagaimana yang diceritakan oleh Hasan Bin Tsabit :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ أَنَّ عُمَرَ رضي الله عنه مُرَّ بِحَسَّانَ يَنْشُدُ فِي اَلْمَسْجِدِ  فَلَحَظَ إِلَيْهِ  فَقَالَ قَدْ كُنْتُ أَنْشُدُ  وَفِيهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْكَ  

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Umar (Bin Khothob) Radliyallaahu 'anhu melewati Hassan yang sedang bersyair di dalam masjid lalu ia memandangnya. Maka berkatalah Hassan : Aku juga pernah bersyair di dalamnya dan di dalamnya ada orang yang lebih mulia daripada engkau [Muttafaq Alaihi]

Hadits di atas menunjukkan pembelaan dirinya atas ketidak setujuan Umar atas syair yang ia bawakan di masjid. Hasan berargumen bahwa orang yang lebih baik dari Umar, maksudnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam tidak mempermasalahkan apa yang telah ia lakukan. Bahkan dalam riwayat lain, Hasan meminta pembelaan kepada Abu Huroiroh yang saat itu ada di masjid dengan berkata :

أَنْشُدُكَ اللَّهَ أَسَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ أَجِبْ عَنِّى اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

Aku memohon kepada Alloh melalui dirimu, apakah engkau mendengar rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Berikan jawaban (dengan syair) untuk membelaku. Ya Alloh, berikan pertolongan untuknya melalui ruhul qudus (jibril) ?

Mendengar permintaan Hasan Bin Tsabit, Abu Huroiroh memberi kesaksian dengan berkata : Benar ! [HR Muslim, Ahmad, Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban]

Dua hadits yang terkesan kontradiksi berkenaan larangan bersyair di masjid dan yang membolehkannya disimpulkan oleh Imam Shon’ani dengan berkata :

وَجُمِعَ بَيْنَهَا وَبَيْنِ حَدِيثِ الْبَابِ بِأَنَّ النَّهْيَ مَحْمُولٌ عَلَى تَنَاشُدِ أَشْعَارِ الْجَاهِلِيَّةِ وَأَهْلِ الْبَطَالَةِ وَمَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ غَرَضٌ صَحِيحٌ وَالْمَأْذُونُ فِيهِ مَا سَلِمَ مِنْ ذَلِكَ وَقِيلَ الْمَأْذُونُ فِيهِ مَشْرُوطٌ بِأَنْ لَا يَكُونَ ذَلِكَ مِمَّا يَشْغَلُ مَنْ فِي الْمَسْجِدِ

Dipadukan antara hadits yang melarang dan hadits yang ada pada bab ini, bahwa larangan yang dimaksud adalah mendendangkan syair-syair jahiliyyah dan ahli kebatilan dan syair apa saja yang tidak memiliki tujuan yang benar. Adapun yang dibolehkan adalah syair yang bersih dari itu semua. Ada juga yang berpendapat bahwa yang diizinkan disyaratkan untuk tidak membuat terganggu orang yang ada di masjid.

Maroji’ :

Subulussalam, Imam Shon’ani 2/44

Sebagian Al Bayan Adalah Sihir

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (9)

Al bayan bisa dimaknai dengan susunan kalimat yang indah atau retorika bicara yang memikat. Kebenaran bisa saja dipersepsikan sebagai kebatilan dan kebatilan diyakini sebagai kebenaran karena faktor al bayan. Lewat albayan, produk tidak bermutu akan laris di pasaran karena kemasan iklan yang menarik. Demikianlah, nabi shollallohu alaihi wasallam mengingatkan kita :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَجَعَلَ يَتَكَلَّمُ بِكَلاَمٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا وَإِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حُكْمًا

Dari Ibnu Abbas berkata : Datang seorang a’robi menghadap nabi shollallohu alaihi wasallam. Ia berbicara dengan suatu perkataan. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya sebagian dari al bayan adalah sihir dan sesungguhnya sebagian dari syair adalah hikmah [HR  Ahmad dan Abu Daud]

Pada kenyataannya, seseorang bisa tersesat dan masuk ke dalam firqoh sesat karena terpukau dengan dengan gaya bicara seorang penceramah meski dia tidak memiliki disiplin ilmu agama. Kita juga sering mendapati, seorang lebih terkesima dengan lagu yang berisi syair indah daripada susunan indah dari firman Alloh dan sabda rosululloh shollallohu alaihi wasallam.

Sebagian Syair Adalah Hikmah

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (8)

Ada sebagian ulama bersikap tafrith (anti) kepada syair. Mereka berprinsip dengan perkataan Ibnu Mas'ud :

الشِّعْر مَزَامِير الشَّيْطَان

Syair adalah seruling setan

Atau sikap Masruq yang pernah melakukan tamtsil dalam permulaan bait syairnya lalu diam tidak melanjutkan. Setelah itu ia berkata :

أَخَاف أَنْ أَجِد فِي صَحِيفَتِي شِعْرًا

Aku takut bila aku mendapati dalam shohifahku (lembaran buku) terdapat syair

Termasuk perkataan Abu Umamah :

أَنَّ إِبْلِيس لَمَّا أُهْبِطَ إِلَى الْأَرْض قَالَ : رَبّ اِجْعَلْ لِي قُرْآنًا ، قَالَ قُرْآنك الشِّعْر

Sesungguhnya iblis saat diturunkan ke bumi, ia berkata : Wahai Robku, jadikan bagiku quran. Alloh berfirman : Quranmu adalah syair.

Pendapat ini keliru. Seorang boleh saja berceramah dengan menyisipkan syair-syair indah untuk menarik minat pendengarnya dengan syarat tidak mensyubhat ajaran islam karena rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً

Dari Ubay Bin Ka’ab : Bahwa nabi shollallohu alaihi bersabda : Sesungguhnya sebagian dari syair adalah hikmah [HR Bukhori, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Darimi dan Ibnu Hibban]

Apa makna hikmah ? Abu Bakar Bin Duraid berkata :

كُلُّ كَلِمَة وَعَظَتْك وَزَجَرَتْك أَوْ دَعَتْك إِلَى مَكْرُمَة أَوْ نَهَتْك عَنْ قَبِيح فَهِيَ حِكْمَة وَحُكْم

Setiap kata yang memberimu nasehat dan melarangmu atau mengajakmu untuk melakukan perbuatan mulia atau melarangmu melakukan perbuatan kejelekan maka ia disebut hikmah dan hukum

Tentang kebolehan syair yang mengandung hikmah, Ibnu Bathol berkata :

مَا كَانَ فِي الشِّعْر وَالرَّجَز ذِكْر اللَّه تَعَالَى وَتَعْظِيم لَهُ وَوَحْدَانِيّته وَإِيثَار طَاعَته وَالِاسْتِسْلَام لَهُ فَهُوَ حَسَن مُرَغَّب فِيهِ ، وَهُوَ الْمُرَاد فِي الْحَدِيث بِأَنَّهُ حِكْمَة ، وَمَا كَانَ كَذِبًا وَفُحْشًا فَهُوَ مَذْمُوم

Selama syair atau rojaz berisi dzikrulloh Ta’ala, mengagungkanNya, mengesakanNya, mendahulukan ketaatan kepadaNya dan ketundukan kepadaNya maka itu baik dan dianjurkan. Inilah yang dimaksud pada hadits bahwa sebagian syair adalah hikmah. Adapun syair yang berisi kedustaan dan kekejian maka hal itu tercela

Maroji’ :

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 1/133

Hasan Bin Tsabit Penyair Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam

                                          Syair Dalam Timbangan Aqidah (7)

Syair adalah kebanggaan masyarakat quraisy. Para penyair memiliki kedudukan mulia di Mekah hingga syair yang paling indah dihargai dengan uang tak ternilai, bahkan akan digantung di ka’bah.

Ketika Muhammad shollallohu alaihi wasallam diangkat sebagai rosul, orang-orang kafir menyerang pribadi nabi shollallohu alaihi wasallam dengan syair-syair indah akan tetapi berisi celaan bagi beliau.

Sering turun ayat memberikan pembelaan bagi beliau untuk menangkis serangan syair mereka. Tatkala beliau berada di kota Madinah, tidak hanya ayat yang membela, akan tetapi seroang sahabat anshor, Hasan Bin Tsabit tampil berdiri dengan syair-syairnya untuk memberikan serangan balik. Atas apa yang ia lakukan, nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda dan memberikan doa kepadanya :

يَا حَسَّانُ ، أَجِبْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، اللَّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ

Wahai Hasan, berikan jawaban untuk membela rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Ya Alloh, berikan pembelaan baginya melalui ruhul qudus (jibril) [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Nasa’i dan Ibnu Hibban]

Tentang kedudukan Hasan Bin Tsabit sebagai penyair nabi shollallohu alaihi wasallam, Aisyah berkata :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يضع لحسان منبرا في المسجد يقوم عليه قائما ، يفاخر عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أو قالت : ينافح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وتقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أن الله يؤيد حسان بروح القدس ما يفاخراو ينافح عن رسول الله صلى الله عليه وسلم  

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam meletakkan mimbar di masjid bagi Hasan agar ia berdiri di atasnya untuk membela rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya Alloh membela Hasan melalui ruhul qudus atas apa yang ia banggakan dan ia bela bagi rosululloh shollallohu alaihi wasallam

Penyair Antara Dicela Dan Dipuji

 

Penyair Antara Dicela Dan Dipuji

Syair Dalam Timbangan Aqidah (6)

Penyair yang dicela Alloh adalah penyair kaum kafir quraisy. Mereka adalah Abdulloh Bin Ziba’ro, Abu Sufyan Bin Harb, Hubairoh Bin Abi Wahab Al Makhzumi dan lainnya. Syair-syair yang mereka lafalkan berisi kebatilan. Kalau toh di dalamnya ada ajakan kebaikan, mereka tidak akan melakukannya karena apa yang mereka susun sebatas rangkaian kata tanpa bukti nyata karena yang mereka kejar adalah susunan indah dari kalimat. Dalam alquran, mereka disebut Alloh :

وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ  أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ  وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ  

Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya [asy syuaro : 224-226]

Kelompok kedua adalah para penyair yang diridloi Alloh. Mereka adalah para sahabat yang menggunakan untaian kata indah untuk menangkis serangan kata-kata dari kaum musyrikin. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ka’ab Bin Malik, Abdulloh Bin Ruwahah dan Hasan Bin Tsabit datang menghadap nabi shollallohu alaihi wasallam sambil menangis karena mendengar surat asy syuaro ayat 224 hingga 226. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam menghibur ketiganya dengan membaca ayat ke 227 :

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ  

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman. Dan orang-orang yang dzalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali [asy syuaro : 227]

Nabi shollallohu alaihi wasallam membacanya terputus-putus. Beliau membaca :

إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shaleh

Itu adalah kalian

وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا

dan banyak menyebut Allah

Itu adalah kalian

وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا

dan mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman

Itu adalah kalian [HR Ibnu Abi Hatim]

Maroji’ :

Zadul Masir, Ibnul Jauzi (maktabah syamilah) hal 376

Ancaman Kepada Orang Yang Sibuk Bersyair

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (5)

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا  

Dari Ibnu Umar rodliyallohu anhuma, dari nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sungguh perut seorang diantara kalian dipenuhi nanah itu lebih baik daripada dia memenuhinya dengan syair [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah]

Kenapa rosululloh shollallohu alaihi wasallam membuat perbandingan antara perut dipenuhi nanah dengan penuhnya mulut dengan syair. Ibnu Hajar Al Atsqolani dalam fathul bari berkata :

وَهُوَ الْأَظْهَر لِأَنَّ أَهْل الطِّبّ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْقَيْح إِذَا وَصَلَ إِلَى الْقَلْب شَيْء مِنْهُ وَإِنْ كَانَ يَسِيرًا فَإِنَّ صَاحِبه يَمُوت لَا مَحَالَة

Yang paling jelas, ahli kesehatan mengklaim bahwa sedikit nanah bila masuk ke dalam jantung meski sebentar maka yang bersangkutan akan mati, tidak mustahil.

Ini menunjukkan bahwa nanah bisa menjadi penyebab kematian manusia secara fisik sebagaimana syair akan mematikan hati seseorang. Matinya hati lebih berbahaya dari matinya fisik.

Dengan hadits di atas, apakah semua syair dilarang oleh syariat sehingga hidup kita harus bersih dari syair? Ibnu Bathol berpendapat bahwa syair yang berisi kebatilan itulah yang dimaksud oleh sabda nabi shollallohu alaihi wasallam.

Ibnu Hajar Al Atsqolani berpendapat bahwa syair bila kadarnya sedikit sehingga tidak membuat orang terlalaikan dari dzikir, bagian dari rukhshoh yang diperbolehkan.

Imam Nawawi berkata :

بَلْ الصَّوَاب أَنَّ الْمُرَاد أَنْ يَكُون الشِّعْر غَالِبًا عَلَيْهِ ، مُسْتَوْلِيًا عَلَيْهِ بِحَيْثُ يَشْغَلهُ عَنْ الْقُرْآن وَغَيْره مِنْ الْعُلُوم الشَّرْعِيَّة وَذِكْر اللَّه تَعَالَى ، وَهَذَا مَذْمُوم مِنْ أَيّ شِعْر كَانَ . فَأَمَّا إِذَا كَانَ الْقُرْآن وَالْحَدِيث وَغَيْرهمَا مِنْ الْعُلُوم الشَّرْعِيَّة هُوَ الْغَالِب عَلَيْهِ فَلَا يَضُرّ حِفْظ الْيَسِير مِنْ الشِّعْر مَعَ هَذَا لِأَنَّ جَوْفه لَيْسَ مُمْتَلِئًا . شِعْرًا . وَاللَّهُ أَعْلَم

Yang benar, yang dimaksud oleh hadits adalah bila syair mendominasinya dimana dirinya terlalaikan dari alquran, ilmu-ilmu syar’i dan dzikrulloh Ta’ala. Inilah yang tercela, meski dari syair manapun. Adapun bila quran, hadits dan ilmu-ilmu syar’i itulah yang mendominasi maka hal itu tidak masalah bila dia menghafal sedikit dari syair. Dalam kondisi seperti ini, hukumnya boleh karena perutnya tidak dipenuhi oleh syair. Wallohu A’lam.

Pendapat ini selaras dengan Imam Bukhori karena Imam Bukhori memberi judul bagi hadits di atas dengan :

باب مَا يُكْرَهُ أَنْ يَكُونَ الْغَالِبُ عَلَى الإِنْسَانِ الشِّعْرُ حَتَّى يَصُدَّهُ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَالْعِلْمِ وَالْقُرْآنِ

Bab Dibencinya Syair Yang Mendominasi Hidup Manusia Hingga Menghalanginya Dari Dzikrulloh, Ilmu Dan Al Quran

Maroji’ :

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 17/349

Syarh Ibnu Bathol 5/162

Syarh Shohih Muslim, Imam Nawawi 3/433

Dzikir Syar’i Dan Dzikir Syair

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (4)

Ada banyak dzikir istighfar yang diajarkan oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam, misalnya :

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

أسْتَغْفِرُ اللهَ الَّذِي لاَ إلَهَ إلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُومُ وَأتُوبُ إلَيهِ

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إلهَ إلاَّ أنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ ، وأبُوءُ بِذَنْبِي ، فَاغْفِرْ لِي ، فَإنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إلاَّ أنْتَ

Masih banyak lagi lafadz istighfar lainnya. Pada saat yang sama kita juga mendapati bacaan istighfar karangan dan terkesan bernada syair karenanya banyak dibawakan dengan lagu dan iringan musik. Syair “ Asraghfirulloh Robbal baroya “ atau syair Abu Nawas “ Ilaahii lastu lil firdausi ahlaa ... fahablii taubatan ... “ cukup populer di tengah masyarakat.

Apa hukum melafalkan syair-syair istighfar ? Syaikh Abdul Rozaq Al Badr menjawab dengan menampilkan perkataan ulama, diantaranya :

Imam Ahmad berkata :

يُعْجِبُنِي فى الْفَرِيْضَةِ أنْ يَدْعُو بِمَا فى القرأن

Yang aku sukai dalam menjalankan ibadah faridloh, berdoa dengan apa yang ada dalam alquran

Qodli Iyadl berkata :

أذن الله فِي دُعَائِهِ وَعَلَّمَ الدّعاء فِي كِتَابِهِ لِخَلِيْقَتِهِ وَعَلَّمَ النّبيّ الدّعاء لِأُمَّتِهِ وَاجْتَمَعَتْ فِيْهِ ثَلاَثَةُ أشْيَاء العلم بالتّوحيد والعلم بِاللُّغَةِ وَالنَّصِيْحَةُ لِلْأُمَّةِ فَلاَ يَنْبَغِى لِأَحَدٍ أنْ يَعْدِلَ عَنْ دُعَائِهِ صلّى الله عليه وسلّم وقد احْتَالَ الشيطان للنّاس مِنْ هذا الْمَقَامِ فَقَيَّضَ لَهمْ قَوْمُ سُوْءٍ يَخْتَرِعُوْنَ لَهُمْ أدْعِيَّةً يَشْتَغِلُوْنَ بِهَا عَنِ الإِقْتِدَاءِ بِالنّبي صلّى الله عليه وسلّم

Alloh telah menyeru manusia agar berdoa kepadaNya dan mengajarkan doa di dalam kitabNya untuk makhluqNya. Nabi shollallohu alaihi wasallam juga telah mengajarkan doa kepada umatnya. Dari situ terkumpullah 3 hal : Al ilmu tentang tauhid, al ilmu tentang bahasa dan nasehat bagi umat. Oleh karena itu tidaklah pantas bagi seseorang untuk berpaling dari doa yang telah diajarkan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam. Sungguh setan telah menjauhkan manusia dari maqom ini lalu mengikat bagi mereka lewat kaum yang buruk yang mengarang doa-doa yang membuat mereka menjauh dari sikap mengikuti nabi shollallohu alaihi wasallam

Imam Qurthubi berkata :

فَعَلَى الإنْسان أنْ يَسْتَعْمِلَ مَا فِي كِتَابِ الله وَصَحِيْحِ السّنّة مِنَ الدّعاء وَيَدَعُ مَا سِوَاهُ وَلاَ يَقُوْلُ أخْتَارُ كَذَا فَإِنّ الله قَدِ اخْتَارَ لِنَبِيِّهِ وَأوْلِيَائِهِ وَعَلَّمَهُمْ كَيْفَ يَدْعُوْنَ

Wajib bagi setiap insan untuk menggunakan doa yang tercantum dalam kitabulloh dan sunnah yang shohih dan meninggalkan selainnya. Jangan berkata “ Aku memilih yang ini “ karena Alloh telah memilihkan buat nabi dan para waliNya dan mengajarkan kepada mereka bagaimana cara berdoa

Ibnu Taimiyyah berkata :

وَيَنْبَغِى لِلْخَلْقِ أنْ يَدْعُو بِالأَدْعِيَّةِ الشَّرْعِيَّةِ  الّتِي جَاءَ بِهَا الكتاب والسنة فَإنّ ذالك لاَرَيْبَ فِي فَضْلِهِ وَحُسْنِهِ وَأنّهُ الصّراط المستقيم صراط الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Sudah seharusnya bagi setiap makhluq untuk berdoa  dengan doa yang syar’i yang telah Alloh cantumkan dari kitab dan sunnah karena sudah tidak diragukan lagi akan keutamaan dan kemuliannya. Itu adalah ash shirotul mustaqim, jalannya orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya

Imam Malik berkata (ketika ditanya tentang orang yang berdoa dengan mengucapkan “ Ya Sayyidii “) :

يقول يا ربّ كَمَا قَالَتِ الأنْبِيَاءُ فِي دُعَائِهِمْ

Ucapkan “ Ya Robbii “ sebagaimana yang diucapkan oleh para nabi

Membaca syair yang berisi istighfar atau dzikir sebenarnya tidak masalah. Akan tetapi harus diingat, bila disusun oleh manusia sementara manusia tidak ma’shum, bisa jadi di dalamnya terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, wirid istighfar yang berasal dari wahyu jauh lebih baik dan lebih selamat.

Kedua, mengamalkan istighfar syar’i sudah jelas akan mendatangkan pahala yang itu belum tentu didapati pada istighfar syair. Sungguh aneh, mengaku umat rosululloh shollallohu alaihi wasallam tidak hafal istighfar yang beliau ajarkan sementara tiap hari mendendangkan syair-syair istighfar.

Kontradiksi Kafir Quraisy Terhadap Syair

 

Kontradiksi Kafir Quraisy Terhadap Syair

Syair Dalam Timbangan Aqidah (3)

Masyarakat quraisy membanggakan syair bahkan ia sudah menjadi bagian dari hidup mereka. Sebagai pemuliaan bagi syair yang indah, mereka akan menggantungnya di dinding ka’bah.

Terasa aneh, manakala mereka kesulitan menghadapi hujjah dari dakwah rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Mereka tidak mampu membantahnya hingga akhirnya mereka berniat merendahkan pribadi rosululloh shollallohu alaihi wasallam dengan sebutan buruk atau hina. Diantara yang mereka sematkan kepada nabi shollallohu alaihi adalah julukan “ Penyair “. Kita bisa mendapatinya pada firman Alloh :

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ  

Bahkan mereka berkata (pula) : (Al Qur'an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair [al anbiya : 5]

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ  

Bahkan mereka mengatakan : Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya [thur : 30]

Menyebut rosululloh shollallohu alaihi wasallam sebagai “ Penyair “ dengan tujuan penghinaan bagi beliau, sementara syair adalah sesuatu yang mereka muliakan dalam kehidupan mereka ?! Di sinilah letak kontradiksinya

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Bukan Penyair

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (2)

Untuk merendahkan nabi shollallohu alaihi wasallam dan apa yang beliau dakwahkan maka kaum quraisy menyebut beliau dengan “ Penyair “. Beberapa kali Alloh menyitir tudingan mereka dalam alquran :

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ  وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آَلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ  

Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila [ash shoffat :35-36]

بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ  

Bahkan mereka berkata (pula) : (Al Qur'an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair [al anbiya : 5]

أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ  

Bahkan mereka mengatakan : Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya [thur : 30]

Tuduhan itu dibantah oleh Alloh :

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ  وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلًا مَا تُؤْمِنُونَ  

Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah benar-benar wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul yang mulia, dan Al Qur'an itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. [alhaqqoh : 40-41]

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Tidak Diajari Syair Oleh Alloh

 

Syair Dalam Timbangan Aqidah (1)

Nabi shollallohu alaihi wasallam memiliki kecakapan dalam bertutur kata hingga membuat siapa saja tertarik untuk menyimak apa yang beliau ucapkan. Tidak itu saja, nabi shollallohu alaihi wasallam juga memiliki jawami’ul kalim. Mampu berbicara dengan kalimat singkat akan tetapi berisi. Bila dijabarkan akan menghasilkan banyak pelajaran.

Kendati demikian, rosululloh shollallohu alaihi wasallam tidak memiliki kepiawaian dalam bersyair, padahal syair adalah sesuatu yang sangat dibangga-banggakan bagi masyarakat quraisy hingga mereka memiliki pasar Ukadz sebagai tempat jual beli syair. Syair terindah dijual dengan harga mahal bahkan akan digantung di dinding ka’bah. Tentang bersihnya rosululloh shollallohu alaihi wasallam dari syair, Alloh berfirman :

وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآَنٌ مُبِينٌ  لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ   

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan adzab) terhadap orang-orang kafir [yasin :69-70]

Sehebat apapun syair yang dihasilkan para penyair di dunia, tidak mungkin mampu mengalahkan keindahan tutur kata yang keluar dari lesan rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Ia juga tidak bisa mengalahkan keagungan firman Alloh dalam alquran.

Oleh karena itu, terlalu jauh bila quran dan hadits dibanding-bandingkan dengan syair. Kenapa ? Karena quran dan hadits adalah wahyu sementara syair adalah perkataan manusia yang bisa salah, terlebih mayoritas penyair adalah orang yang jauh dari Alloh.

 

Mundur Ke Belakang Dalam Keadaan Takut

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (19)

Hal ini terjadi saat nabi shollallohu alaihi wasallam menunaikan sholat gerhana. Ibnu Abbas berkata :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، رَأَيْنَاكَ تَنَاوَلُ شَيْئًا فِى مَقَامِكَ ، ثُمَّ رَأَيْنَاكَ تَكَعْكَعْتَ قَالَ إِنِّى أُرِيتُ الْجَنَّةَ ، فَتَنَاوَلْتُ مِنْهَا عُنْقُودًا ، وَلَوْ أَخَذْتُهُ لأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا

Dari Abdulloh Bin Abbas rodliyallohu anhuma berkata : Terjadi gerhana matahari di masa rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Beliau menunaikan sholat. Mereka berkata : Ya rosululloh, kami melihat engkau memegang sesuatu di tempat engkau lalu kami melihat engkau mundur (ketakutan) ? Beliau bersabda : Sesungguhnya aku melihat aljannah.  Aku memegang darinya satu tandan buah. Seandainya aku bisa mengambilnya, sungguh kalian bisa memakannya darinya selama dunia ini masih ada [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Malik, Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah]

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi wasallam Sholat Dengan Duduk

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (18)

Dua kali rosululloh shollallohu alaihi wasallam melakukannya. Pertama ketika terjatuh dari kendaraannya. Kaki beliau bengkak sehingga tidak mampu berdiri. Aisyah berkata :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ رَأَيْتُ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي مُتَرَبِّعًا  

'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku melihat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam sholat dengan bersila [HR Nasa'i]  

Kedua, ketika sakit yang mengantarkannya kepada kematian. Aisyah berkata :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا فِي قِصَّةِ صَلَاةِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِالنَّاسِ, وَهُوَ مَرِيضٌ  قَالَتْ فَجَاءَ حَتَّى جَلَسَ عَنْ يَسَارِ أَبِي بَكْرٍ, فَكَانَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ جَالِسًا وَأَبُو بَكْرٍ قَائِمًا, يَقْتَدِي أَبُو بَكْرٍ بِصَلَاةِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَيَقْتَدِي اَلنَّاسُ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ  

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu tentang kisah sholat berjama'ah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika beliau sakit. 'Aisyah berkata : Beliau datang dan duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Beliau mengimami jama'ah dengan duduk sedang Abu Bakar berdiri. Abu Bakar mengikuti sholat Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan orang-orang mengikuti sholat Abu Bakar [Muttafaq Alaihi]

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Pingsan Ketika Hendak Pergi Untuk Menunaikan Sholat Berjamaah

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (17)

Meski sakit cukup berat, rosululloh shollallohu alaihi wasallam tetap berusaha hadir di masjid untuk menunaikan sholat berjamaah bersama para sahabatnya. Kesungguhan beliau diceritakan oleh Aisyah :

أَوَّلُ مَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى بَيْتِ مَيْمُونَةَ فَاسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمَرَّضَ فِى بَيْتِهَا وَأَذِنَّ لَهُ قَالَتْ فَخَرَجَ وَيَدٌ لَهُ عَلَى الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ وَيَدٌ لَهُ عَلَى رَجُلٍ آخَرَ وَهُوَ يَخُطُّ بِرِجْلَيْهِ فِى الأَرْضِ

Pertama kali rosululloh shollallohu alaihi wasallam sakit ketika berada di rumah Maimunah. Beliau meminta izin kepada istri-istrinya agar diperkenankan dirawat di rumahku. Merekapun mengizinkannya. Beliau keluar untuk sholat sementara satu tangannya ada pada Fadl Bin Abbas dan tangan kedua ada pada laki-laki lain. Kaki beliau menyeret di tanah

Dalam riwayat lain disebutkan, rosululloh shollallohu alaihi wasallam bertanya kepada Aisyah tentang jamaah sholat di masjid :

أَصَلَّى النَّاسُ

Apakah manusia sudah menunaikan sholat ?

Aisyah menjawab :

لاَ وَهُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Belum, mereka menunggumu wahai rosululloh

Beliau bersabda :

ضَعُوا لِى مَاءً فِى الْمِخْضَبِ

Masukkan air ke dalam mikhdlob (sejenis bak)

Ketika air tersedia, beliau segera mandi. Akan tetapi setelah itu beliau pingsan. Kejadian ini berulang hingga tiga kali. Ini menunjukkan kesungguhan beliau untuk hadir di masjid meski kondisi beliau sedang sakit keras.

Punggung Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Dinaiki Cucunya

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (16)

Inilah yang membuat sujud nabi shollallohu alaihi wasallam terasa lama. Abdulloh Bin Syaddad berkata :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِي فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ

Dari Abdulloh Bin Syaddad dari bapaknya, dia berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam keluar menemui kami pada salah satu sholat isya sambil menggendong Hasan atau Husain. Rosululloh shollallohu alaihi wasallam maju lalu meletakkannya (di bawah) setelah itu bertakbir untuk sholat. Beliau sholat lalu bersujud diantara sholatnya dengan memperpanjang sujudnya. Bapakku berkata : Aku mengangkat kepalaku. Ternyata si kecil ada di punggung rosululloh shollallohu alaihi wasallam sementara beliau sedang sujud. Akupun kembali ke sujudku. Ketika rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyelesaikan sholatnya, orang-orang berkata : Wahai rosululloh, sesungguhnya engkau sujud diantara sholat dan engkau panjangkan sujudnya hingga kami mengira ada sesuatu yang terjadi atau wahyu turun kepadamu ? Beliau bersabda : Semua itu tidak terjadi, akan tetapi cucuku menaiki punggungku dan aku tidak mau untuk tergesa-gesa (menyelesaikan sujudku) hingga dia puas dengan keinginannya [HR Nasa’i]

Hadits ini memberi faedah :

1.      Naluri anak kecil senang bermain

2.      Orang tua hendaknya memberi kesempatan anaknya untuk bersenang-senang sesuai keinginannya

3.      Diperbolehkan membawa anak kecil ke masjid

4.      Mengangkat kepala sebelum waktunya saat sujud karena sesuatu tidak membatalkan sholat

5.      Kecintaan para sahabat kepada nabinya hingga mengkhawatirkan kondisinya saat sujud begitu lama 

Punggung Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Dikotori Ari-Ari Onta Saat Menunaikan Sholat

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (15)

Suatu saat, rosululloh shollallohu alaihi wasallam sedang menunaikan sholat di depan ka’bah. Tidak jauh dari situ ada Abu Jahal dan beberapa orang kafir Quraisy. Diantara mereka ada yang menyeletuk :

أَيُّكُمْ يَجِىءُ بِسَلَى جَزُورِ بَنِى فُلاَنٍ فَيَضَعُهُ عَلَى ظَهْرِ مُحَمَّدٍ إِذَا سَجَدَ

Siapa diantara kalian yang bisa membawa ari-ari onta milik Bani Fulan. Lalu berani meletakkannya di atas punggung Muhammad saat dia bersujud !?

Tidak lama kemudian datanglah seseorang yang paling jahat diantara mereka dengan membawa ari-ari itu dan meletakkannya di punggung nabi shollallohu alaihi wasallam saat sujud. Orang-orang kafirpun tertawa terbahak-bahak tanpa puas.

Rosululloh shollallohu alaihi wasallam tetap berada pada posisi sujud hingga Fatimah membersihkan pungguh ayahandanya. Tiba-tiba rosululloh shollallohu alaihi wasallam bermunajat :

اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِقُرَيْشٍ

Ya Alloh, berikan kecelakaan bagi Quraisy !

Kalimat ini beliau ucapkan tiga kali. Selanjutnya beliau meneruskan doanya :

اللَّهُمَّ عَلَيْكَ بِأَبِى جَهْلٍ ، وَعَلَيْكَ بِعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ ، وَشَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ ، وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ ، وَأُمَيَّةَ بْنِ خَلَفٍ ، وَعُقْبَةَ بْنِ أَبِى مُعَيْطٍ

Ya Alloh, berikan kebinasaan kepada Abu Jahal, Utbah Bin Robi’ah, Syaibah Bin Robi’ah, Walid Bin ‘Utbah, Umayyah Bin Kholaf dan Uqbah Bin Abi Mu’ith !

Doa ini membuat orang-orang itu pucat-pasi karena mereka tahu bahwa doa di depan ka’bah pasti mustajab. Setelah hari itu, perasaan mereka selalu diliputi rasa was-was hingga akhirnya mereka tewas di medan badar dan dimasukkan ke dalam sumur badar beserta mayit kafir lainnya yang keseluruhannya berjumlah 70 orang

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Terganggu Oleh Serangan Setan Saat Sholat

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (14)

Abu Huroiroh dan Abu Darda mengisahkannya kepada kita :

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَسَمِعْنَاهُ يَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ ثُمَّ قَالَ أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ  ثَلاَثًا. وَبَسَطَ يَدَهُ كَأَنَّهُ يَتَنَاوَلُ شَيْئًا فَلَمَّا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ سَمِعْنَاكَ تَقُولُ فِى الصَّلاَةِ شَيْئًا لَمْ نَسْمَعْكَ تَقُولُهُ قَبْلَ ذَلِكَ وَرَأَيْنَاكَ بَسَطْتَ يَدَكَ. قَالَ إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِى وَجْهِى فَقُلْتُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قُلْتُ أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللَّهِ التَّامَّةِ فَلَمْ يَسْتَأْخِرْ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ أَرَدْتُ أَخْذَهُ وَاللَّهِ لَوْلاَ دَعْوَةُ أَخِينَا سُلَيْمَانَ لأَصْبَحَ مُوثَقًا يَلْعَبُ بِهِ وِلْدَانُ أَهْلِ الْمَدِينَةِ  

Dari Abu Darda berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam berdiri (menunaikan sholat). Kami mendengar beliau bersabda “ A’dzu billahi minka (aku berlindung kepada Alloh darimu) “ lalu beliau bersabda lagi “ Al’anuka bila’natillah (aku melaknatmu dengan laknat Alloh) “ beliau ucapkan tiga kali seraya membentangkan tangannya seolah beliau memegang sesuatu. Ketika sholat sudah selesai, kami berkata : Ya rosululloh, kami mendengarmu mengucapkan sesuatu dalam sholat dimana kami tidak pernah mendengarmu mengucapkannya sebelum ini dan kami melihatmu membentangkan tanganmu. Beliau bersabda : Sesungguhnya musuh Alloh, iblis datang dengan nyala api yang akan menimpakannya ke wajahku. Akupun segera membaca “ A’udzu billahi minka “ tiga kali lalu  aku berkata “ Al ‘anuka bila’natillahit taammati “ tiga kali. Ia tidak mundur lalu aku hendak menangkapnya. Seandainya bukan karena doa saudaraku Sulaiman, sungguh akan aku ikat sehingga menjadi mainan anak-anak kota Madinah [HR Muslim]

عن أَبي هريرة  رضي الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الْجِنِّ جَعَلَ يَفْتِكُ عَلَىَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَىَّ الصَّلاَةَ وَإِنَّ اللَّهَ أَمْكَنَنِى مِنْهُ فَذَعَتُّهُ فَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى جَنْبِ سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِى الْمَسْجِدِ حَتَّى تُصْبِحُوا تَنْظُرُونَ إِلَيْهِ أَجْمَعُونَ أَوْ كُلُّكُمْ ثُمَّ ذَكَرْتُ قَوْلَ أَخِى سُلَيْمَانَ رَبِّ اغْفِرْ لِى وَهَبْ لِى مُلْكًا لاَ يَنْبَغِى لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِى. فَرَدَّهُ اللَّهُ خَاسِئًا  

Dari Abu Huroiroh rodliyallohu anhu berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya ifrit dari kalangan jin menyerangku tadi malam untuk memotong sholatku. Sesungguhnya Alloh melindungiku darinya lalu aku mencekiknya. Sungguh aku berniat untuk mengikatnya di samping tiang masjid hingga pagi agar kalian semua melihatnya. Kemudian aku ingat doa saudaraku Sulaiman “ Wahai Robku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi ” . Setelah itu Alloh memalingkannya dalam keadaan hina [HR Muslim]

Hadits di atas memberi pelajaran bahwa setan mengganggu seseorang dalam sholatnya. Nabi shollallohu alaihisssalam termasuk di dalamnya. Serangan dari iblis berupa api, berhasil digagalkan oleh beliau dengan dzikir. Ketika iblis berhasil ditangkap, rosululloh shollallohu alaihi wasallam berniat untuk mengikatnya di tiang supaya menjadi mainan anak-anak kota Madinah. Niat ini diurungkan ketika beliau ingat akan doa nabi Sulaiman alaihissalam yang difirmankan Alloh :

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ  

Sulaiman berkata : Wahai Robku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi [shod : 35]

Apa yang dmaksud dengan kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku ? Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi menafsirkan kekuasaan untuk menundukkan angin dan jin. Karena inilah nabi shollallohu alaihi wasallam tidak ingin menaklukkan dan menghukum jin dengan cara mengikat di tiang masjid.

Maroji’ :

Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi (maktabah syamilah) hal 455

 

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Terganggu Dengan Bacaan Para Sahabat Saat Sholat

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (13)

Saat rosululloh shollallohu alaihi wasallam membaca surat alfatihah dalam sholat, ada sahabat yang ikut menirukannya. Itu berlanjut ketika beliau membaca surat. Ini tentu mengganggu beliau hingga ketika selesai sholat, beliau bertanya kepada para sahabat tentang hal ini. Abu Huroiroh berkata :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم انْصَرَفَ مِنْ صَلاَةٍ جَهَرَ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ  هَلْ قَرَأَ مَعِى أَحَدٌ مِنْكُمْ آنِفًا  فَقَالَ رَجُلٌ نَعَمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ  إِنِّى أَقُولُ مَا لِى أُنَازَعُ الْقُرْآنَ  قَالَ فَانْتَهَى النَّاسُ عَنِ الْقِرَاءَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيمَا جَهَرَ فِيهِ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِالْقِرَاءَةِ مِنَ الصَّلَوَاتِ حِينَ سَمِعُوا ذَلِكَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  

Dari Abu Huroiroh : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam selesai dari sholat yang beliau jahrkan qiroahnya (mungkin sholat maghrib atau isya atau shubuh). Beliau bersabda : Apakah ada seorang diantara kalian yang ikut membaca bersamaku tadi ?. Seorang laki-laki berkata : Benar, wahai rosululloh. Beliau bersabda : Sesungguhnya aku berkata “ Kenapa aku diganggu bacaan quranku ? “. Abu Huroiroh berkata : Orang-orangpun berhenti dari ikut membaca bersama rosululloh shollallohu alaihi wasallam dari sholat-sholat yang jahr qiroahnya ketika mereka mendengar hal itu dari rosululloh shollallohu alaihi wasallam [HR Ahmad, Malik, Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi]

  

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam Terganggu Dengan Tirai Bergambar Saat Sholat

 

Problem yang pernah dihadapi nabi shollallohu alaihi wasallam saat sholat (12)

Khusyu salah satu ruh sholat dan syarat seorang mukmin mendapat keuntungan. Alloh berfirman :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya [almukminun : 1-2]

Salah satu yang bisa menghilangkan kekhusyuan sholat adalah bila di hadapan tempat sholat ada benda-benda yang mencuri perhatian seperti gambar-gambar. Inilah yang pernah dialami oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam.

Pada suatu hari Abu Jahm memberi hadiah kain yang bergambar. Oleh Aisyah, kain itu dibentangkan di depan tempat yang biasa rosululloh shollallohu alaihi wasallam menunaikan sholat sunnah di rumahnya. Rupanya hal itu membuat beliau terganggu hingga Aisyah mendapat teguran dari beliau :

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ َوَعَنْهُ قَالَ  كَانَ قِرَامٌ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا سَتَرَتْ بِهِ جَانِبَ بَيْتِهَا فَقَالَ اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَمِيطِي عَنَّا قِرَامَكِ هَذَا  فَإِنَّهُ لَا تَزَالُ تَصَاوِيرُهُ تَعْرِضُ لِي فِي صَلَاتِي   

Dari Anas Radliyallaahu 'anhu berkata : Adalah tirai milik 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu menutupi samping rumahnya. Maka Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepadanya : Singkirkanlah tiraimu ini dari kita karena sungguh gambar-gambarnya selalu mengangguku dalam sholatku [HR Bukhari]