Syukur, Sabar Dan Istighfar


Khutbah Iedul Adha 1439

إِنَّ اَلْحَمْدَ لِلَّهِ , نَحْمَدُهُ , وَنَسْتَعِينُهُ , وَنَسْتَغْفِرُهُ , وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اَللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Kaum muslimin wal muslimat

Beruntunglah ketika mendapat nikmat, kita bisa bersyukur, di saat ditimpa musibah, kita mampu bersabar dan manakala tergelincir melakukan dosa, dengan cepat tersadar dan selanjutnya segera beristighfar. Itulah syukur, sabar dan istighfar yang merupakan tema khutbah kita pada hari ini.

Betapa banyak manusia dianugerahi berbagai karunia namun tidak mampu bersyukur sebagaimana yang terdapat pada diri Qorun. Hidupnya bergelimang harta hingga kekayaannya disebut oleh Alloh :

وَآَتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ

Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.  [alqoshosh : 76]

Ketika ia diingatkan bahwa apa yang ia miliki hakekatnya berasal dari Alloh yang harus disyukuri, dengan pongah ia berkata :

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena kepandaian yang ada diriku  [al qoshosh : 78]

Bedakan dengan nabi Sulaiman. Nabi dan raja mana di dunia yang bisa melampaui kekayaan Sulaiman. Kerajaan yang besar, mampu mengetahui bahasa binatang, menaklukkan bangsa jin hingga dalam sekejap Istana Bilqis terangkat dan sudah berada di samping singgasananya. Ketika itu semua sudah digapainya, Sulaiman berkata :

هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ

Ini termasuk karunia Robku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau aku kufur (akan nikmat-Nya) [annaml : 40]

Oleh karena itu berbahagialah, bagi siapa saja yang menghendaki kekayaan namun hingga sekarang masih berstatus faqir. Boleh jadi berdasar ilmu Alloh, kita tidak akan mampu memikul karunia Alloh sehingga akan menjelma Qorun-Qorun baru yang kufur terhadap nikmat yang ujung-ujungnya dibinasakan.

Kalau alasan ingin bisa bersyukur dengan kekayaan, bukankah bersyukur bisa kita lakukan tanpa harus menunggu menjadi kaya terlebih dahulu ? Bukankah rosululloh shollallohu alaihi wasallam ketika ditanya :

يَا رَسُولَ اَللَّهِ أَيُّ اَلصَّدَقَةِ أَفْضَلُ ?

Wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sedekah apakah yang paling mulia ?

Beliau menjawab :

جُهْدُ اَلْمُقِلِّ

Sedekah orang yang tidak punya [HR Ahmad dan Abu Dawud]

Tidakkah kita tahu, ketika sahabat miskin membawa segenggam korma yang dimilikinya dan diserahkan di hadapan nabi shollallohu alaihi wasallam menjelang perang tabuk, lalu pada satu kesempatan beliau bersabda :

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Hindarilah neraka meski bersedekah dengan setengah butir kurma [muttafaq alaih]

Kaum muslimin wal muslimat

Bersyukurlah dengan wajah yang tidak tampan. Bukankah Yusuf menghadapi masalah ketika memiliki paras yang indah ? Zulaikha rela berkhianat kepada suaminya karena tergila-gila kepada Yusuf. Ia merayunya dan saat Yusuf menolak lalu lari menuju pintu dikejarnya Yusuf sambil menarik baju gamisnya hingga koyak.

Rupanya wanita-wanita Mesir ketika melihat Yusuf, tanpa mereka sadari, mereka mengiris-iris tangan mereka. Melihat keadaan ini, Yusuf tidak menginginkan hal ini berlarut-larut lalu berdoa :

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Yusuf berkata : Wahai Robku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh [yusuf : 33]

Akhirnya Alloh memperkenankan doanya. Yusufpun masuk penjara. Sungguh aneh, masuk penjara bukan karena terlibat tindak kejahatan melainkan karena parasnya yang indah.

Pada masa Umar Bin Khothob menjabat Kholifah, ada seorang pemuda ganteng di kota Madinah yang membuat gadis-gadis tergila-gila padanya. Untuk mengatasinya Umarpun meminta sang pemuda untuk mencukur gundul rambutnya. Apa yang terjadi selanjutnya ? Ternyata parasnya semakin indah yang membuat wanita-wanita bertambah terpesona kepadanya. Akhirnya Umar meminta pemuda ini keluar dari Madinah untuk mencari tempat tinggal di kota lain.

Sungguh tidak masuk akal, terusir dari tanah kelahirannya bukan karena melakukan perbuatan yang mencemarkan nama baik kampung halaman melainkan memiliki wajah yang ganteng.

Wanita yang tidak memiliki kecantikan wajah tidak perlu berkecil hati. Bukankah karena kecantikan membuat banyak wanita terjerumus ke lembah pelacuran dengan menjadi hostes atau kupu-kupu malam. Karena kecantikan pula produsen memanfaatkannya sebagai bintang iklan. Kalau kita perhatikan, iklan apa yang tidak menampilkan kemolekan wanita. Sekali tayang meski berdurasi satu menit, tubuhnya sudah dinikmati sekian juta pemirsa. Tidak bisa dibayangkan berapa dosa yang dia tanggung nanti di hadapan Alloh.

Maka bersyukurlah dengan karunia tubuh yang sudah ditentukan oleh Alloh. Karena manusia tidak akan jatuh nilainya karena faktor fisik. Bukankah Abdulloh Bin Mas’ud kedua kakinya kecil, Abdulloh Bin Ummi Maktum tidak melihat dan ada juga wanita berkulit hitam memiliki penyakit ayan, kesemuanya tidak membuat mereka merasa berkecil hati dengan kondisi fisiknya. Oleh karena itu salah besar bila kita mengungkit-ngungkit keadilan Alloh hanya karena perkara wajah yang tidak indah dan tubuh yang tak sempurna yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kaum muslimin wal muslimat

Berbicara tentang sabar, kita akan mendapat perbedaan mencolok antara Qozman dan Tholhah Bin Ubaidillah. Ketika kondisi kaum muslimin terdesak pada perang uhud dan kaum quraisy berusaha membidikkan panah-panah mereka kepada rosululloh shollallohu alaihi wasallam maka berdirilah para sahabat mengelingi tubuh beliau sebagai tameng hidup. Diantara orang yang banyak tertancap panah di tubuhnya adalah Tholhah Bin Ubaidillah. Ia berdiri kokoh meski belasan panah menancap di tubuh. Selesai perang satu persatu panah itu dicabutnya. Ia tetap hidup setelah itu sehingga rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيدٍ يَمْشِى عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ  

Siapa yang ingin melihat orang yang syahid yang berjalan di atas bumi maka lihatlah Tholhah Bin Ubaidillah [HR Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Sebaliknya, di perang Hunain Qozman yang memiliki keberanian luar biasa di hadapan musuh, justru nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda ketika para sahabat menemukan jasadnya :

هَذَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ

Orang ini termasuk penghuni neraka [HR Muslim]

Pernyataan yang membuat heran para sahabat heran karena melihat kehebatan semangat bertempurnya. Hingga seorang sahabat memberi kesaksian bahwa tatkala Qozman terluka, ia tidak tabah dengan luka-lukanya sampai akhirnya ia mengambil jalan pintas, ia tusuk perutnya dengan tombak yang membuatnya mati sia-sia padahal bila ia sedikit bersabar bisa saja gelar syahid ia sandang.

Kaum muslimin wal muslimat

Berbicara tentang istighfar, tentu kita tahu bahwa sebaik-baik orang yang bersalah adalah segera bertaubat

عَنْ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ ، فَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ.

Dari Anas berkata : Rosululloh shollallohu laihi wasallam bersabda : Setiap anak Adam adalah bersalah maka sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat [[HR Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi]

Jangan tiru iblis, ketika Alloh tunjukkan bahwa ia adalah sesat, bukan sadar justru ia berkata :

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: Wahai Robku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya [alhijr : 39]

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ  ثُمَّ لَآَتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab : Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat) [al a’rof : 16-17]

Juga perkataan kaum quraisy :

وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata : Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih [al anfal : 32]

Tentang istighfar, jadikan rosululloh shollallohu alaihi wasallam sebagai teladan :

عن الأَغَرِّ بنِ يسار المزنِيِّ  رضي الله عنه  قَالَ قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلى اللهِ واسْتَغْفِرُوهُ ، فإنِّي أتُوبُ في اليَومِ مئةَ مَرَّةٍ  

Dari Aghor Bin Yasar Almuzanni berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Wahai manusia, bertaubatlah kepada Alloh dan beristighfarlah kepadaNya karena sungguh aku biasa bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali [HR Muslim]

Kaum muslimin wal muslimat

Alloh Maha Mengetahui hamba mana yang dipilih sebagai orang yang pandai bersyukur, mampu bersabar dan senantiasa melazimi istighfar. Berbahagialah bila kita berada di dalamnya.

Kepada yang berkorban, maka bergembiralah semoga ini bagian dari tanda bahwa anda adalah hamba yang pandai bersyukur. Atau berkorbannya kita, karena kesabaran kita menyisihkan sedikit demi sedikit uang di tiap harinya sambil rela menyingkirkan sebagian keinginan kita demi terkumpulnya uang untuk membeli seekor kambing. Akan tetapi beristighfarlah manakala kita ikut berkorban karena terpaksa, atau atas dasar riya’ sehingga berharap mendapat pujian orang banyak atau menuntut pambagian daging di atas yang semestinya yang kita terima.

Kepada yang tidak berkorban, semoga nasehat nabi shollallohu alaihi wasallam menjadi bahan renungan di tahun depan :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم  مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ, فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا  

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Barangsiapa mempunyai keleluasaan harta untuk berkurban, namun ia belum berkurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat sholat kami  [HR Ahmad dan Ibnu Majah]  

Halaman masjid Trias Estate 10 dzulhijjah 1439 H

  

Status Bayi Dalam Zakatul Fitri


Bayi (11)

Para ulama menilai sunnahnya mengeluarkan zakatul fitri bagi bayi yang masih dalam kandungan berdasarkan apa yang ditetapkan oleh kholifah Utsman Bin Affan. Sebuah riwayat menyebutkan :

عن أبي قلابة كَانُوْا يُعْطُوْنَ صَدَقَةَ الْفِطْرِ حَتَّى يُعْطُوْا عَنِ الْحَبْلِ

Dari Abu Qilabah berkata : Mereka biasa mengeluarkan zakat fitri hingga mereka mengeluarkan untuk bayi-bayi yang masih ada di perut [HR Ibnu Abi Syaibah dan Abdurrozzaq]

Syaikh Muhammad Sholih Utsaimin berkata :

كما  أنه لو  ولد رجل بعد غروب الشمس ليلة العيد فإن الفطرة لا تجب عليه له ولكن تسن عليه لأنه وقت الوجوب كان جنينا

Sebagaimana bila lahir bayi setelah matahari terbenam di malam ied maka zakatul fitri tidak wajib baginya akan tetapi disunahkan, itu dikarenakan waktu diwajibkannya zakat, ia masih berstatus janin

Syarhul Mumthi 2/ 679 dan 683

Status Kencing Bayi


Bayi (10)

Beberapa hadits membicarakan masalah ini :

عَنْ أَبِي السَّمْحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلَامِ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُد وَالنَّسَائِيُّ  

Dari Abu Samah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Bekas air kencing bayi perempuan harus dicuci dan bekas air kencing bayi laki-laki cukup diperciki dengan air  [HR Abu Dawud dan Nasa'i] 

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ أُتِىَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِصَبِىٍّ يَرْضَعُ فَبَالَ فِى حِجْرِهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ.

Dari Aisyah dia berkata : Dibawakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seorang bayi yang masih menyusu yang kemudian ia kencing dalam timangannya. Beliau kemudian minta air seraya menuangkannya pada bekas air kencing tersebut [HR Muslim]

عَنْ عُبَيْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَتْنِي أَنَّهَا أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِابْنٍ لَهَا لَمْ يَبْلُغْ أَنْ يَأْكُلَ الطَّعَامَ قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ أَخْبَرَتْنِي أَنَّ ابْنَهَا ذَاكَ بَالَ فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ عَلَى ثَوْبِهِ وَلَمْ يَغْسِلْهُ غَسْلًا

Dari Ubaidullah berkata : Ummu Qais telah mengabarkan kepadaku bahwa dia pernah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa bayi laki-lakinya yang belum makan makanan. Ubaidullah melanjutkan ucapannya, "Ummu Qais kemudian mengabarkan kepadaku bahwa bayinya kencing pada pangkuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu meminta air seraya memercikkannya pada bajunya, dan beliau tidak mencucinya dengan sebenar-benarnya mencuci [HR Muslim]

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa Alloh membedakan antara status kencing bayi laki-laki yang belum makan dengan bayi perempuan. Untuk bayi perempuan, syariat menilainya najis sehingga harus dicuci. Adapun bayi laki-laki cukup diperciki kain yang terkena air kencing. Apa hikmah dibalik perbedaan ini ? Ibnu Qoyyim menyebut ada rahasia : Bayi laki-laki lebih banyak digendong dibanding bayi perempuan, kencing bayi laki-laki keluar tidak di satu tempat dan kencing bayi perempuan lebih kotor dan bau

Maroji’ :

I’lamul Muwaqi’in, Ibnu Qoyyim 1/365

Aqiqoh



                                                                         Bayi (9)

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَان وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ  رَوَاهُ اَلتِّرْمِذِيُّ  

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.   [HR Tirmidzi]

عَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ اَلْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ,  

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam beraqiqah untuk Hasan dan Husein masing-masing seekor kambing kibas [HR Abu Dawud] 

Memberi Nama


Bayi (8)

Ada tiga waktu memberi nama bagi si bayi

(1) Saat belum lahir

Baik sang ibu belum mengandungnya atau ketika diketahui bahwa di rahim sudah ada janin sebagaimana yang terjadi pada Isa dan Yahya alahimassalam :

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ  فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ  قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Robnya seraya berkata : Wahai Robku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab : Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shaleh. Zakaria berkata : Wahai Robku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul ? Berfirman Allah : Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya [ali imron : 38-40]

إذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Ingatlah, ketika Malaikat berkata : Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripadaNya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh. Maryam berkata : Wahai Robku, begaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun. Allah berfirman : Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya : Jadilah, lalu jadilah dia [ali imron : 45-47]

(2) Saat lahir

Inilah yang beliau lakukan untuk bayi dari pasangan Ummu Sulaim dan Abu Tholhah dimana rosululloh shollallohu alaihi wasallam memberikan nama bagi bayi dengan Abdulloh

(3) Di usia tujuh hari

عَنْ سَمُرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ, تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ, وَيُحْلَقُ, وَيُسَمَّى رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ,  

Dari Samurah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, ia disembelih hari ketujuh (dari kelahirannya), dicukur, dan diberi nama  [HR Ahmad dan Imam Empat]  

Anjuran Tahnik Dan Meminta Keberkahan Dari Orang Sholih


Bayi (7)

Tahnik adalah mengunyah-ngunyah korma hingga lembut lalu mengoleskannya ke langit-langit mulut bayi yang baru lahir. Sebagian sahabat akan segera datang kepada rosululloh sholllallohu alaihi wasallam dengan membawa bayi mereka yang baru lahir untuk mendapat keberkahan doa dan tahnik dari beliau. Diantara dalil yang bisa kita ketahui adalah :

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ فَيُبَرِّكُ عَلَيْهِمْ وَيُحَنِّكُهُمْ فَأُتِيَ بِصَبِيٍّ فَبَالَ عَلَيْهِ فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ بَوْلَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ

Dari Aisyah isteri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Rasulullah pernah diserahi beberapa bayi supaya Rasulullah mendoakan mereka dengan keberkatan serta mentahnik mereka. Beliau lalu diserahi seorang bayi yang kemudian tersebut mengencinginya, beliau lalu meminta sedikit air kemudian mencipratkan air pada bekas air kencing tersebut tanpa membasuhnya [HR Muslim]

عَنْ أَسْمَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا حَمَلَتْ بِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَتْ فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ حَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ  

Dari Asma' radliallahu 'anha, bahwa Asma' sedang mengandung 'Abdullah bin Az Zubair. Dia berkata : Aku keluar menuju dengan usia kandungan yang sudah sempurna lalu aku tiba di Madinah. Aku singgah di Quba' lalu melahirkan di sana. Lalu aku membawa bayiku ke hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, aku letakkan di buaiannya. Kemudian beliau meminta sebutir kurma dan mengunyahnya kemudian meludahkannya ke mulut bayiku. sehingga yang pertama kali masuk ke rongga mulutnya adalah air ludah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian beliau mentahniknya dengan kurma (memasukkan kunyahan kurma ke bagian depan tenggorokan sebelah atas) lalu mendo'akannya dan memberahinya. Dialah anak yang pertama kali lahir dalam Islam  [HR Bukhori]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ فَوَلَدَتْ غُلَامًا قَالَ لِي أَبُو طَلْحَةَ احْفَظْهُ حَتَّى تَأْتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَى بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْسَلَتْ مَعَهُ بِتَمَرَاتٍ فَأَخَذَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَمَعَهُ شَيْءٌ قَالُوا نَعَمْ تَمَرَاتٌ فَأَخَذَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَضَغَهَا ثُمَّ أَخَذَ مِنْ فِيهِ فَجَعَلَهَا فِي فِي الصَّبِيِّ وَحَنَّكَهُ بِهِ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللَّهِ  

Dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu, ia berkata : Ummu Sulaim kemudian melahirkan seorang anak, lalu Abu Thalhah berkata kepadaku : Jagalah ia hingga engkau bawa ke hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Anas kemudian membawa bayi tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan Ummu Sulaim membekalinya dengan beberapa kurma. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian meraih bayi Abu Thalhah, beliau lalu bertanya : Apakah ia (Anas) membawa sesuatu ? para sahabat menjawab : Ya. Beberapa butir kurma. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kemudian mengambil kurma dan menguyahnya, kemudian beliau ambil kunyahan dari mulutnya dan memasukkannya ke dalam mulut sang bayi, baru setelah itu memberinya nama Abdullah [muttafaq alaih]

Bagaimana Nabi Isa Bicara Saat Bayi ?


Bayi (6)

Ketika Isa lahir, datanglah kaum yahudi. Dengan nada melecehkan, mereka berkata kepada Maryam :

يَا مَرْيَمُ لَقَدْ جِئْتِ شَيْئًا فَرِيًّا  يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَمَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina

Mendengar provokasi ini, sepatah katapun Maryam tidak memberikan jawaban selain bahasa isyarat lewat tangannya, agar mereka menanyakannya langsung kepada bayi yang baru lahir. Hal itu membuat mereka marah dan berkata :

كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا

Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?

Tiba-tiba dalam kondisi itu, Isa yang baru lahir berkata kepada mereka sebagai pembelaan bagi ibunya :

قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا  وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا  وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا  وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali [maryam : 27-33]

Demikianlah kemampuan Isa bicara saat bayinya

Ada Bayi Yang Bisa Bicara


Bayi (5)

Yang keluar dari mulut bayi adalah tangisan. Ia belum bisa bicara. Akan tetapi Alloh memberi kekhususan kepada tiga bayi sehingga bisa bicara

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَمْ يَتَكَلَّمْ فِي الْمَهْدِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَصَاحِبُ جُرَيْجٍ وَكَانَ جُرَيْجٌ رَجُلًا عَابِدًا فَاتَّخَذَ صَوْمَعَةً فَكَانَ فِيهَا فَأَتَتْهُ أُمُّهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ يَا رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَانْصَرَفَتْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ أَتَتْهُ وَهُوَ يُصَلِّي فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ فَقَالَ أَيْ رَبِّ أُمِّي وَصَلَاتِي فَأَقْبَلَ عَلَى صَلَاتِهِ فَقَالَتْ اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى وُجُوهِ الْمُومِسَاتِ فَتَذَاكَرَ بَنُو إِسْرَائِيلَ جُرَيْجًا وَعِبَادَتَهُ وَكَانَتْ امْرَأَةٌ بَغِيٌّ يُتَمَثَّلُ بِحُسْنِهَا فَقَالَتْ إِنْ شِئْتُمْ لَأَفْتِنَنَّهُ لَكُمْ قَالَ فَتَعَرَّضَتْ لَهُ فَلَمْ يَلْتَفِتْ إِلَيْهَا فَأَتَتْ رَاعِيًا كَانَ يَأْوِي إِلَى صَوْمَعَتِهِ فَأَمْكَنَتْهُ مِنْ نَفْسِهَا فَوَقَعَ عَلَيْهَا فَحَمَلَتْ فَلَمَّا وَلَدَتْ قَالَتْ هُوَ مِنْ جُرَيْجٍ فَأَتَوْهُ فَاسْتَنْزَلُوهُ وَهَدَمُوا صَوْمَعَتَهُ وَجَعَلُوا يَضْرِبُونَهُ فَقَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا زَنَيْتَ بِهَذِهِ الْبَغِيِّ فَوَلَدَتْ مِنْكَ فَقَالَ أَيْنَ الصَّبِيُّ فَجَاءُوا بِهِ فَقَالَ دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ فَصَلَّى فَلَمَّا انْصَرَفَ أَتَى الصَّبِيَّ فَطَعَنَ فِي بَطْنِهِ وَقَالَ يَا غُلَامُ مَنْ أَبُوكَ قَالَ فُلَانٌ الرَّاعِي قَالَ فَأَقْبَلُوا عَلَى جُرَيْجٍ يُقَبِّلُونَهُ وَيَتَمَسَّحُونَ بِهِ وَقَالُوا نَبْنِي لَكَ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ لَا أَعِيدُوهَا مِنْ طِينٍ كَمَا كَانَتْ فَفَعَلُوا وَبَيْنَا صَبِيٌّ يَرْضَعُ مِنْ أُمِّهِ فَمَرَّ رَجُلٌ رَاكِبٌ عَلَى دَابَّةٍ فَارِهَةٍ وَشَارَةٍ حَسَنَةٍ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَ هَذَا فَتَرَكَ الثَّدْيَ وَأَقْبَلَ إِلَيْهِ فَنَظَرَ إِلَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَى ثَدْيِهِ فَجَعَلَ يَرْتَضِعُ قَالَ فَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَحْكِي ارْتِضَاعَهُ بِإِصْبَعِهِ السَّبَّابَةِ فِي فَمِهِ فَجَعَلَ يَمُصُّهَا قَالَ وَمَرُّوا بِجَارِيَةٍ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ وَهِيَ تَقُولُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ فَقَالَتْ أُمُّهُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَتَرَكَ الرَّضَاعَ وَنَظَرَ إِلَيْهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا فَهُنَاكَ تَرَاجَعَا الْحَدِيثَ فَقَالَتْ حَلْقَى مَرَّ رَجُلٌ حَسَنُ الْهَيْئَةِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهُ فَقُلْتَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ وَمَرُّوا بِهَذِهِ الْأَمَةِ وَهُمْ يَضْرِبُونَهَا وَيَقُولُونَ زَنَيْتِ سَرَقْتِ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ ابْنِي مِثْلَهَا فَقُلْتَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا قَالَ إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ كَانَ جَبَّارًا فَقُلْتُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي مِثْلَهُ وَإِنَّ هَذِهِ يَقُولُونَ لَهَا زَنَيْتِ وَلَمْ تَزْنِ وَسَرَقْتِ وَلَمْ تَسْرِقْ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِثْلَهَا

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun; Telah mengabarkan kepada kami Jarir bin Hazim; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau telah bersabda: "Tidak ada bayi yang dapat berbicara ketika masih berada dalam buaian kecuali tiga bayi: bayi Isa bin Maryam, dan bayi dalam perkara Juraij." Juraij adalah seorang laki-laki yang rajin beribadah. Ia membangun tempat peribadatan dan senantiasa beribadah di tempat itu. Ketika sedang melaksanakan shalat sunnah, tiba-tiba ibunya datang dan memanggilnya; 'Hai Juraij! ' Juraij bertanya dalam hati; 'Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, melanjutkan shalatku ataukah memenuhi panggilan ibuku? ' Akhirnya ia pun meneruskan shalatnya itu hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Keesokan harinya, ibunya datang lagi kepadanya sedangkan Juraij sedang melakukan shalat sunnah. Kemudian ibunya memanggilnya; 'Hai Juraij! ' Kata Juraij dalam hati; 'Ya Allah, manakah yang lebih aku utamakan, memenuhi seruan ibuku ataukah shalatku? ' Lalu Juraij tetap meneruskan shalatnya hingga ibunya merasa kecewa dan beranjak darinya. Hari berikutnya, ibunya datang lagi ketika Juraij sedang melaksanakan shalat sunnah. Seperti biasa ibunya memanggil; 'Hai Juraij! ' Kata Juraij dalam hati; 'Ya Allah, manakah yang harus aku utamakan, meneruskan shalatku ataukah memenuhi seruan ibuku? ' Namun Juraij tetap meneruskan shalatnya dan mengabaikan seruan ibunya. Tentunya hal ini membuat kecewa hati ibunya. Hingga tak lama kemudian ibunya pun berdoa kepada Allah; 'Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia mendapat fitnah dari perempuan pelacur! ' Kaum Bani Israil selalu memperbincangkan tentang Juraij dan ibadahnya, hingga ada seorang wanita pelacur yang cantik berkata; 'Jika kalian menginginkan popularitas Juraij hancur di mata masyarakat, maka aku dapat memfitnahnya demi kalian.' Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun meneruskan sabdanya: 'Maka mulailah pelacur itu menggoda dan membujuk Juraij, tetapi Juraij tidak mudah terpedaya dengan godaan pelacur tersebut. Kemudian pelacur itu pergi mendatangi seorang penggembala ternak yang kebetulan sering berteduh di tempat peribadatan Juraij. Ternyata wanita tersebut berhasil memperdayainya hingga laki-laki penggembala itu melakukan perzinaan dengannya sampai akhirnya hamil. Setelah melahirkan, wanita pelacur itu berkata kepada masyarakat sekitarnya bahwa; 'Bayi ini adalah hasil perbuatan aku dengan Juraij.' Mendengar pengakuan wanita itu, masyarakat pun menjadi marah dan benci kepada Juraij. Kemudian mendatangi rumah peribadatan Juraij dan bahkan menghancurkannya. Selain itu, mereka pun bersama-sama menghakimi Juraij tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Lalu Juraij bertanya kepada mereka; 'Mengapa kalian lakukan hal ini kepadaku? ' Mereka menjawab; 'Kami lakukan hal ini kepadamu karena kamu telah berbuat zina dengan pelacur ini hingga ia melahirkan bayi dari hasil perbuatanmu.' Juraij berseru; 'Dimanakah bayi itu? ' Kemudian mereka menghadirkan bayi hasil perbuatan zina itu dan menyentuh perutnya dengan jari tangannya seraya bertanya; 'Hai bayi kecil, siapakah sebenarnya ayahmu itu? ' Ajaibnya, sang bayi langsung menjawab; 'Ayah saya adalah si fulan, seorang penggembala.' Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: 'Akhirnya mereka menaruh hormat kepada Juraij. Mereka menciuminya dan mengharap berkah darinya. Setelah itu mereka pun berkata; 'Kami akan membangun kembali tempat ibadahmu ini dengan bahan yang terbuat dari emas.' Namun Juraij menolak dan berkata : Tidak usah, tetapi kembalikan saja rumah ibadah seperti semula yang terbuat dari tanah liat. Akhirnya mereka pun mulai melaksanakan pembangunan rumah ibadah itu seperti semula. Dan bayi ketiga, Ada seorang bayi sedang menyusu kepada ibunya, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang gagah dan berpakaian yang bagus pula. Lalu ibu bayi tersebut berkata : Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah anakku ini seperti laki-laki yang sedang mengendarai hewan tunggangan itu ! Ajaibnya, bayi itu berhenti dari susuannya, lalu menghadap dan memandang kepada laki-laki tersebut sambil berkata; 'Ya Allah ya Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu !  Setelah itu, bayi tersebut langsung menyusu kembali kepada ibunya. Abu Hurairah berkata : Sepertinya saya melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan susuan bayi itu dengan memperagakan jari telunjuk beliau yang dihisap dengan mulut beliau. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meneruskan sabdanya : Pada suatu ketika, ada beberapa orang yang menyeret dan memukuli seorang wanita seraya berkata : Kamu wanita tidak tahu diuntung. Kamu telah berzina dan mencuri. Tetapi wanita itu tetap tegar dan berkata : Hanya Allah lah penolongku. Sesungguhnya Dialah sebaik-baik penolongku.' Kemudian ibu bayi itu berkata; 'Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu ! Tiba-tiba bayi tersebut berhenti dari susuan ibunya, lalu memandang wanita tersebut seraya berkata : Ya Allah ya Tuhanku, jadikanlah aku sepertinya ! Demikian pernyataan ibu dan bayinya itu terus berlawanan, hingga ibu tersebut berkata kepada bayinya : Celaka kamu hai anakku! Tadi, ada seorang laki-laki yang gagah dan menawan lewat di depan kita, lalu kamu berdoa kepada Allah : Ya Allah, jadikanlah anakku seperti laki-laki itu ! Namun kamu malah mengatakan : Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu! Kemudian tadi, ketika ada beberapa orang menyeret dan memukuli seorang wanita sambil berkata : Ya Allah, janganlah Engkau jadikan anakku seperti wanita itu ! Tetapi kamu malah berkata : Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu !  Mendengar pernyataan ibunya itu, sang bayi pun menjawab : Sesungguhnya laki-laki yang gagah itu seorang diktator hingga aku mengucapkan : Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku seperti laki-laki itu ! Sementara wanita yang dituduh mencuri dan berzina itu tadi sebenarnya adalah seorang wanita yang shalihah, tidak pernah berzina, ataupun mencuri. Oleh karena itu, aku pun berdoa : Ya Allah, jadikanlah aku seperti wanita itu!

Terlahir Dalam Keadaan Tidak Berilmu


Bayi (4)

Itulah kenyataannya. Ia belum bisa bicara, juga tidak mengenal lingkungan sekitar. Ibu dan bapaknyapun belum ia kenal. Hal inilah yang difirmankan oleh Alloh :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur [annahl : 78]

Tentang ayat ini, Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di berkata :

خص هذه الأعضاء الثلاثة، لشرفها وفضلها ولأنها مفتاح لكل علم، فلا وصل للعبد علم إلا من أحد هذه الأبواب الثلاثة

Alloh mengkhususkan penyebutan tiga anggota tubuh ini karena kemuliaan dan keutamaannya dimana ia adalah kunci dari seluruh ilmu. Tidak mungkin seorang hamba mencapai ilmu kecuali dengan tiga pintu ini

Penulis tafsir alkhozin berkata :

أن الله سبحانه وتعالى إنما أعطاكم هذه الحواس لتنتقلوا بها من الجهل إلى العلم  

Alloh Subhanahu Wata’ala memberikan indera ini agar kalian berpindah dari kebodohan menuju ilmu. 

Maroji’ :

Lubabutta’wil Fi Ma’anittanzil, Abul Hasan Ali Bin Muhammad Bin Ibrohim Bin Umar Asy Syaihi (maktabah syamilah) hal 275

Taisir Kalim Arrohman Fitafsir kalamil Mannan, Syaikh Abdurrohman Nashir Assa’di (maktabah syamilah) hal 275

Terlahir Dalam Keadaan Lemah


Bayi (3)

Itulah pernyataan Alloh :

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ  

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa [arrum : 54]

Ayat di atas menerangkan tentang tiga fase hidup manusia dari penciptaan hingga kematian, yaitu lemah saat berwujud air mani hingga masa bayi. Setelah itu berada pada kondisi kuat ketika berada di usia remaja. Akhirnya ia kembali lemah di usia senja

Maroji’ :

Aisaruttafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Aljazairi (maktabah syamilah) hal 410


Bolehnya Bercita-Cita Berkenaan Bayi Yang Ada Di Kandung


Bayi (2)

Calon ayah dan ibu bagi bayi, sudah seharusnya mencita-citakan anaknya ketika benar-benar nanti terlahir ke dunia. Banyak ayat dan hadits menerangkan hal ini, diantaranya :

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ  فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ  قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَقَدْ بَلَغَنِيَ الْكِبَرُ وَامْرَأَتِي عَاقِرٌ قَالَ كَذَلِكَ اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Di sanalah Zakaria berdoa kepada Robnya seraya berkata : Wahai Robku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab : Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shaleh. Zakaria berkata : Wahai Robku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul ? Berfirman Allah : Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya [ali imron : 38-40]

إذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ وَيُكَلِّمُ النَّاسَ فِي الْمَهْدِ وَكَهْلًا وَمِنَ الصَّالِحِينَ قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنِّي قَدْ جِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُبْرِئُ الْأَكْمَهَ وَالْأَبْرَصَ وَأُحْيِي الْمَوْتَى بِإِذْنِ اللَّهِ وَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا تَأْكُلُونَ وَمَا تَدَّخِرُونَ فِي بُيُوتِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ وَمُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَلِأُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِآَيَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ

Ingatlah, ketika Malaikat berkata : Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripadaNya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh. Maryam berkata : Wahai Robku, begaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun. Allah berfirman : Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendakiNya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya : Jadilah, lalu jadilah dia. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil. Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka) : Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman." Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku [ali imron : 45-47]

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ لِسُلَيْمَانَ سِتُّونَ امْرَأَةً فَقَالَ لَأَطُوفَنَّ عَلَيْهِنَّ اللَّيْلَةَ فَتَحْمِلُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ فَتَلِدُ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا فَارِسًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَمْ تَحْمِلْ مِنْهُنَّ إِلَّا وَاحِدَةٌ فَوَلَدَتْ نِصْفَ إِنْسَانٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كَانَ اسْتَثْنَى لَوَلَدَتْ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُنَّ غُلَامًا فَارِسًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Dari Abu Hurairah dia berkata : Nabi Sulaiman mempunyai enam puluh orang isteri, lalu dia berkata : Malam ini aku akan menyetubuhi mereka semua, hingga masing-masing dari mereka hamil dan melahirkan seorang anak penunggang kuda yang akan berperang di jalan Allah. Ternyata tidak ada seorangpun dari isterinya yang mengandung kecuali hanya seorang saja, yang melahirkan anak yang cacat. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Seandainya dia mengatakan Insya Allah (jika Allah berkehendak), niscaya semua isterinya akan melahirkan satu orang anak penunggang kuda yang nantinya akan berperang di jalan Allah [HR Bukhori Muslim]

Bagaimana Proses Bayi Saat Di Janin ?


Bayi (1)

Ketika suami istri selesai mengadakan hubungan badan, malaikat yang ada di rahim akan menanyakan kepada Alloh tentang kelanjutan dari persetubuhan itu. Apakah diproses menjadi janin ataukah menjadi darah haidh.

Di saat Alloh menetapkan sebagai janin, maka malaikat kembali menanyakan kepada Alloh tentang kelamin bayi yang akan lahir, laki-laki atau wanita ? Hingga ketika usia  genap 120 hari, malaikatpun meniupkan ruh kepada bayi dan selanjutnya menulis takdir yang akan dialami dari lahir hingga nasibnya di akhirat. Inilah proses yang terjadi pada diri semua manusia diawal penciptaannya yang dirangkum oleh hadits-hadits di bawah ini :

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَكَّلَ بِالرَّحِمِ مَلَكًا يَقُولُ يَا رَبِّ نُطْفَةٌ يَا رَبِّ عَلَقَةٌ يَا رَبِّ مُضْغَةٌ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقْضِيَ خَلْقَهُ قَالَ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى شَقِيٌّ أَمْ سَعِيدٌ فَمَا الرِّزْقُ وَالْأَجَلُ فَيُكْتَبُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ

Dari Anas bin Malik dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda : Sesungguhnya Allah Ta'ala menugaskan satu Malaikat dalam rahim seseorang. Malaikat itu berkata : Ya Rabb, (sekarang baru) sperma. Ya Rabb, segumpal darah !, Ya Rabb, segumpal daging ! Maka apabila Allah berkehendak menetapkan ciptaan-Nya, Malaikat itu bertanya : Apakah laki-laki atau wanita, celaka atau bahagia, bagaimana dengan rizki dan ajalnya ?  Maka ditetapkanlah ketentuan takdirnya selagi berada dalam perut ibunya [HR Bukhori, Muslim, Ahmad dan Baihaqi]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِى لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا  

Dari Abdullah dia berkata : Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu Ash Shadiq Al Mashduq : Sesungguhnya seorang manusia mulai diciptakan dalam perut ibunya setelah diproses selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Lalu menjadi segumpal daging pada empat puluh hari berikutnya. Setelah empat puluh hari berikutnya, Allah pun mengutus seorang malaikat untuk menghembuskan ruh ke dalam dirinya dan diperintahkan untuk menulis empat hal; rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia, sungguh ada seseorang darimu yang mengerjakan amal perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga hanyalah satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga ia mengerjakan amal perbuatan ahli neraka dan akhirnya ia pun masuk neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amal perbuatan ahli neraka, hingga jarak antara ia dan neraka hanya satu hasta, namun suratan takdir rupanya ditetapkan baginya hingga kemudian ia mengerjakan amal perbuatan ahli surga dan akhirnya ia pun masuk surga. [HR Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ يَدْخُلُ الْمَلَكُ عَلَى النُّطْفَةِ بَعْدَ مَا تَسْتَقِرُّ فِى الرَّحِمِ بِأَرْبَعِينَ أَوْ خَمْسَةٍ وَأَرْبَعِينَ لَيْلَةً فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَيُكْتَبَانِ فَيَقُولُ أَىْ رَبِّ أَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى فَيُكْتَبَانِ وَيُكْتَبُ عَمَلُهُ وَأَثَرُهُ وَأَجَلُهُ وَرِزْقُهُ ثُمَّ تُطْوَى الصُّحُفُ فَلاَ يُزَادُ فِيهَا وَلاَ يُنْقَصُ  

Dari Hudzaifah bin Asid dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda : Sesungguhnya malaikat akan mendatangi nuthfah yang telah menetap dalam rahim selama empat puluh atau empat puluh lima malam seraya berkata ; Ya Tuhanku, apakah nantinya ia ini sengsara atau bahagia ? Maka ditetapkanlah (salah satu dari) keduanya. Kemudian malaikat itu bertanya lagi : Ya Tuhanku, apakah nanti ia ini laki-laki ataukah perempuan ? Maka ditetapkanlah antara salah satu dari keduanya, ditetapkan pula amalnya, umurnya, ajalnya, dan rezekinya. Setelah itu catatan ketetapan itu dilipat tanpa ditambah ataupun dikurangi lagi [HR Muslim dan Ahmad]

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْن مَسْعُودٍ قَالَ إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ  إِذَا مَرَّ بِالنُّطْفَةِ ثِنْتَانِ وَأَرْبَعُونَ لَيْلَةً بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْهَا مَلَكًا فَصَوَّرَهَا وَخَلَقَ سَمْعَهَا وَبَصَرَهَا وَجِلْدَهَا وَلَحْمَهَا وَعِظَامَهَا ثُمَّ. قَالَ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَمْ أُنْثَى فَيَقْضِى رَبُّكَ مَا شَاءَ وَيَكْتُبُ الْمَلَكُ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ أَجَلُهُ. فَيَقُولُ رَبُّكَ مَا شَاءَ وَيَكْتُبُ الْمَلَكُ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ رِزْقُهُ. فَيَقْضِى رَبُّكَ مَا شَاءَ وَيَكْتُبُ الْمَلَكُ ثُمَّ يَخْرُجُ الْمَلَكُ بِالصَّحِيفَةِ فِى يَدِهِ فَلاَ يَزِيدُ عَلَى مَا أُمِرَ وَلاَ يَنْقُصُ  

Dari Abdullah bin Mas'ud berkata : Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ketika nuthfah telah berusia empat puluh dua malam, maka Allah akan mengutus satu malaikat mendatangi nuthfah tersebut. Kemudian Allah akan membentuk tubuhnya, menciptakan pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan juga tulangnya. Setelah itu, malaikat tersebut akan bertanya; 'Ya Tuhan, apakah janin yang berada dalam rahim ini laki-laki ataukah perempuan? ' Maka Allah, Tuhanmu, akan menentukan menurut kehendak-Nya. Kemudian malaikat pun mencatatnya. Setelah itu, malaikat tersebut akan bertanya lagi; Ya Tuhan, bagaimana halnya dengan ajal janin ini? ' Lalu Allah akan menentukan ajalnya menurut kehendak-Nya. Maka, setelah itu, malaikat pun akan mencatatnya. Kemudian malaikat tersebut akan bertanya lagi : Ya Tuhan, bagaimanakah halnya dengan rezekinya ? Lalu Allah, Tuhanmu, akan menentukan rezekinya menurut kehendak-Nya. Setelah itu, malaikat pun akan mencatatnya. Kemudian malaikat tersebut keluar dengan membawa selembar catatan yang berada di tangannya -tanpa menambah ataupun mengurangi apa telah diperintahkan Allah untuk mencatatnya [HR Muslim]

عن حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِىِّ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِأُذُنَىَّ هَاتَيْنِ يَقُولُ إِنَّ النُّطْفَةَ تَقَعُ فِى الرَّحِمِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ يَتَصَوَّرُ عَلَيْهَا الْمَلَكُ قَالَ زُهَيْرٌ حَسِبْتُهُ قَالَ الَّذِى يَخْلُقُهَا فَيَقُولُ يَا رَبِّ أَذَكَرٌ أَوْ أُنْثَى فَيَجْعَلُهُ اللَّهُ ذَكَرًا أَوْ أُنْثَى ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ أَسَوِىٌّ أَوْ غَيْرُ سَوِىٍّ فَيَجْعَلُهُ اللَّهُ سَوِيًّا أَوْ غَيْرَ سَوِىٍّ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ مَا رِزْقُهُ مَا أَجَلُهُ مَا خُلُقُهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ اللَّهُ شَقِيًّا أَوْ سَعِيدًا  

Dari Hudzaifah bin Asid Al Ghifari lalu dia berkata; Aku mendengar dengan kedua telingaku ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesunggunya nuthfah disimpan di dalam rahim setelah empat puluh malam. Lalu datanglah malaikat -aku kira beliau berkata; - yang akan membentuknya seraya berkata; Ya Rabb, apakah dia laki-laki atau perempuan? Lalu Allah menjadikannya laki-laki atau perempuan. Kemudian malaikat itu berkata; Ya Rabb, apakah dia menyimpang ataukah tidak? Lalu Allah menetapkan dia menyimpang dan tidaknya. Lalu malaikat berkata; Ya Rabb, bagaimana rizkinya, ajalnya, akhlaknya? Kemudian Allah menetapkan dia bahagia atau celaka [HR Muslim]

Walhasil, wanita memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kaum pria yaitu keberadaan malaikat yang ada dalam rahim

Menjadikan Air Sebagai Ladang Amal Sholih


                                                                 Sikap Terhadap Air (4)

Itu bisa kita lakukan dengan cara menolong manusia dan hewan yang kehausan, memberi hidangan berbuka bagi yang menunaikan shoum dan lainnya

عن أبي هريرة رضى الله عنه : أنَّ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ : بَينَما رَجُلٌ يَمشي بِطَريقٍ اشْتَدَّ عَلَيهِ العَطَشُ ، فَوَجَدَ بِئراً فَنَزَلَ فِيهَا فَشربَ ، ثُمَّ خَرَجَ فإذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يأكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ ، فَقَالَ الرَّجُلُ : لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الكَلْبُ مِنَ العَطَشِ مِثلُ الَّذِي كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنِّي فَنَزَلَ البِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أمْسَكَهُ بفيهِ حَتَّى رَقِيَ ، فَسَقَى الكَلْبَ ، فَشَكَرَ الله لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ  قالوا : يَا رَسُول اللهِ ، إنَّ لَنَا في البَهَائِمِ أَجْراً ؟ فقَالَ : في كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أجْرٌ  مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .وفي رواية للبخاري : فَشَكَرَ اللهُ لَهُ ، فَغَفَرَ لَهُ ، فأدْخَلَهُ الجَنَّةَ وفي رواية لهما : بَيْنَما كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ قَدْ كَادَ يقتلُهُ العَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إسْرَائِيل ، فَنَزَعَتْ مُوقَها فَاسْتَقَتْ لَهُ بِهِ فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ  

Dari Abu Huroiroh : Bahwa rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Ketika seorang berjalan di sebuah jalan. Ia merasakan sangat haus. Akhirnya ia mendapati sumur. Ia segera turun ke dalamnya lalu minum. Setelah itu ia keluar. Tiba-tiba seekor anjing menjilat-jilat tanah karena haus. Laki-laki itu berkata : Sungguh anjing ini haus sebagaimana haus yang telah aku alami. Iapun turun ke sumur. Dipenuhinya sepatunya dengan air yang ia gigit dengan giginya hingga ia bisa naik ke atas. Ia segera memberi air minum anjing. Alloh mensyukurinya lalu memberi ampunan kepadanya. Para sahabat bertanya : Ya rosululloh, apakah ada hak pahala bagi kami pada binatang ? Beliau menjawab : Setiap menolong makhluq yang memiliki jantung yang basah ada pahalanya [muttafaq alaih] Pada riwayat Bukhori : Alloh mensyukuri perbuatannya dan mengampuninya lalu memasukkannya ke dalam aljannah. Pada riwayat keduanya : Ketika seekor anjing mengelilingi sumur dimana ia hampir mati karena kehausan tiba-tiba seorang pelacur bani isroil melihatnya. Ia segera melepas sepatunya lalu memberi air minum dan anjing itu meminumnya. Allohpun mengampuninya

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ, عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا  مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ كَسَاهُ اَللَّهُ مِنْ خُضْرِ اَلْجَنَّةِ, وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اَللَّهُ مِنْ ثِمَارِ اَلْجَنَّةِ, وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اَللَّهُ مِنْ اَلرَّحِيقِ اَلْمَخْتُومِ   

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Siapa saja orang islam yang memberi pakaian orang Islam yang tidak memiliki pakaian, niscaya Allah akan memberinya pakaian dari hijaunya surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi makan orang Islam yang kelaparan, niscaya Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga; dan siapa saja orang Islam yang memberi minum orang Islam yang kehausan, niscaya Allah akan memberinya minuman dari minuman suci yang tertutup [HR Abu Dawud dan dalam sanadnya ada kelemahan]

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Zaid bin Khalid Al Juhani berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang memberi makan orang yang berbuka, dia mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun [HR Ahmad, Tirmidzi dan Darimi]

Karena anjuran di atas, maka islam mengecam orang yang menahan kelebihan air yang dimiliki untuk diberikan kepada siapa yang membutuhkan :

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ نَهَى اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ بَيْعِ فَضْلِ اَلْمَاءِ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Jabir Ibnu Abdullah berkata : Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melarang menjual sisa kelebihan air. [HR Muslim]