Perang Jamal

(Maksiat Para Sahabat Dan Kesudahannya 14)
Tatkala Utsman Menjabat sebagai kholifah, muncul banyak problema. Perginya banyak sahabat ke luar Madinah, berhentinya penaklukan, munculnya kebodohan dalam hidup zuhud dan Abdulloh bin Saba’ yang selalu menunggu momen untuk menghancurkan islam dan kaum muslimin.
Tatkala Utsman terbunuh, muncullah perselisihan para sahabat. Ada yang berpendapat bahwa langkah yang harus diambil secepatnya adalah menangkap para pembunuh amirul mukminin dan ada pula yang menginginkan tegaknya kepemimpinan dengan dipilihnya amir baru pengganti Utsman.
Untuk yang pertama diwakili Muawiyah, sedang pendapat kedua diwakili oleh Ali bin Abi yang memang akhirnya diangkat sebagai kholifah. Di saat itulah Abdulloh bin Saba’ bersama pendukungnya masuk di barisan Ali tanpa diketahui oleh Ali sendiri. Itu dilakukan untuk semakin memperkerus suasana.
Aisyah rodliyallohu anhapun segera melakukan tindakan untuk melakukan ishlah antar umat islam karena kedudukannya sebagai ummahatul mukminin. Posisi beliau sebagai ibu kaum beriman adalah sangat tepat untuk membimbing umat rosululloh shollallohu alaihi wasallam.
Kaum zindiq mengeluarkan kata-kata tajam bagi keluarnya Aisyah yang akhirnya menyebabkan awal mula perang jamal. Diantaranya adalah : perintah Alloh kepada para istri nabi shollallohu alaihi wasallam untuk melazimi rumah (waqorna fii buyuutikunna) yang akhirnya dilanggar oleh Aisyah dan keluarnya Aisyah tanpa mahrom.
Untuk yang pertama, memang benar Alloh memerintah para istri nabi shollallohu alaihi wasallam untuk banyak menetap di rumah sebagaimana Alloh berfirman :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu [al ahzab : 33]
Perintah berada di rumah bagi mereka tidak menyebabkan mereka terlarang keluar untuk satu kepentingan syar’i. Sebagaimana Aisyah dan istri lainnya pergi berperang mendampingi nabi shollallohu alaihi wasallam dan keikutsertaannya pada haji wada’. Sedangkan tuduhan bahwa Aisyah pergi tanpa mahrom, itu jelas tudingan yang tidak berdasar karena ia diiringi oleh mahromnya, yaitu Abdulloh bin Zubair anak dari saudarinya. Berarti beliau diiringi oleh kemenakannya.
Selanjutnya ketika rombongan Aisyah dan kaum muslimin dari kalangan Ali hendak bertemu, tanpa diduga sebelumnya ternyata di barisan Ali dan Aisyah masuk para penyusup. Mereka adalah kaum khowarij yang terlibat pembunuhan terhadap Utsman, kaum munafiq dan Abdullah bin Saba’ yang memang sudah memiliki rencana busuk untuk menyalakan api fitnah di kalangan umat islam.
Pada saat bertemunya kedua kubu, tiba-tiba terdengar teriakan keras “ Ali pengkhianat ! “, terdengar dari arah rombongan Aisyah. Lalu muncul teriakan “ Tholhah dan Zubair pengkhianat ! “ dari arah Aisyah. Selanjutnya yang terjadi adalah saling serang antara kedua kubu yang memang sudah dipersiapkan oleh orang-orang jahat.
Para sahabat kalau toh mengayunkan pedang bukan didasari keinginan membunuh saudara sesama muslim, melainkan upaya membela diri dari pedang-pedang yang menyerang mereka. Demikianlah saling serang tak terhindarkan.
Akhirnya Alloh menurunkan rahmatnya kepada hambaNya. Keadaan bisa dikuasai dan pertempuranpun akhirnya reda. Dengan penuh penghormatan, Ali mengantar Aisyah ke Madinah dengan diiringi empat puluh wanita dari kalangan penduduk Bashroh yang terpilih.
Sebenarnya peristiwa ini pernah disampaikan oleh nabi shollallohu alaihi wasallam kepada Ali :
إنَّهُ سَيَكُوْنُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ عَائِشَةَ أمْرٌ قَالَ أنَا يَا رسول الله قَالَ نَعَمْ قَالَ أنَا قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَأَنَا أشْقَاهُمْ يَارَسُوْلَ الله قَالَ لاَ وَلكِنْ إذَا كَانَ ذَالِكَ فَارْدُدْهَا إلَى مَأْمَنِهَا
Sesungguhnya akan terjadi sesuatu antara engkau dengan Aisyah. Ali berkata : Saya wahai rosululloh ? Beliau menjawab : Benar. Ali berkata lagi : Saya ? Beliau menjawab : Benar. Ali berkata : Apakah aku akan menjadi orang yang paling celaka, ya rosululloh ? Beliau menjawab : Tidak, akan tetapi bila itu terjadi, kembalikan Aisyah ke tempatnya yang aman  [HR Ahmad]
Semoga Alloh merahmati Aisyah dan Ali serta umat islam hingga hari kiamat, aamiin.
Maroji’ :
Haqiqotul Khilaf Bainash Shohabat, Dr Ali Muhammad Ash Shollabi hal