Dasar ke dua puluh lima




                                                 Kaedah Ahlussunnah Waljamaah 

لاَ يَجُوْزُ صَرْفُ شَىءٍ مِنْ أنْوَاعِ الْعِبَادَةِ لِغَيْرِالله عَزَّوَجَلَّ فهُوَ وَحْدَهُ الْمُسْتَحِقُّ لِلعِبَادَةِ فَلاَ شَرِيْكَ لهُ فِى رُبُوْبيَّتِهِ وَأُلُوْهِيَّتِهِ وَأسْمَاءِهِ وَصِفاتِهِ فمَنْ صَرَفَ شَيْأً مِنْ أنْوَاعِ العِبَادَةِ كَالدُّعَاءِ وَالإِسْتِغَاثَةِ وَالإِسْتِعَانَةِ وَالنَّذْرِ وَالذَّبْحِ وَالتَّوَكُّلِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَنَحْوِهَا لِغَيْرِالله فَقَدْ أشْرَكَ                                  
Tidak boleh mengalihkan satu dari macam ibadah kepada selain Alloh azza wajalla, karena Dialah satu-satunya yang berhak untuk diibadahi maka tidak ada sekutu bagiNya baik dalam hal rububiyahNya, uluhiyahNya, asma dan sifatNya. Barang siapa yang mengalihkan salah satu bentuk dari macam ibadah seperti berdoa, istighotsah, isti’anah, nadzar, menyembelih, tawakal, takut, mengharap dan lain-lain maka ia telah syirik

Penjelasan :
 قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِع مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
Katakanlah : Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum [alkahfi:26]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah : Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : Bahwa Sesungguhnya ilah kamu itu adalah ilah yang satu. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rob, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Robnya. [al kahfi :10]

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (rob-rob) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah ilah yang satu, tidak ada ilah (yang berhak diibadahi) selain Dia. Maha suci Allah dari perbuatan syirik yang mereka lakukan [ataubah : 31]

Diriwayatkan dari Abu Syaraih bahwa ia dulu diberi kunyah (sebutan, nama panggilan) “Abul Hakam”, Maka Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadanya :
إن الله هو الحكم، وإليه الحكم، فقال : إن قومي إذا اختلفوا في شيء أتوني فحكمت بينهم، فرضي كلا الفريقين، فقال : ما أحسن هذا، فما لك من الولد ؟ قلت : شريح، ومسلم، وعبد الله، قال : فمن أكبرهم ؟ قلت : شريح، قال : فأنت أبو شريح
Allah Subhanahu wata’ala adalah Al Hakam, dan hanya kepadaNya segala permasalahan dimintakan keputusan hukumnya, kemudian ia berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam : Sesungguhnya kaumku apabila berselisih pendapat dalam suatu masalah mereka mendatangiku, lalu aku memberikan keputusan hukum di antara mereka, dan kedua belah pihak pun sama-sama menerimanya, maka Nabi bersabda : Alangkah baiknya hal ini, apakah kamu punya anak ? aku menjawab : Syuraih, Muslim dan Abdullah, Nabi bertanya : siapa yang tertua diantara mereka ? Syuraih jawabku, Nabi bersabda : kalau demikian kamu Abu Syuraih. [HR Abu Daud dan ahli hadits  lainnya]

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ
Dan tiada yang lebih sesat dari pada orang yang memohon kepada sesembahan-sesembahan selain Allah, yang tiada dapat mengabulkan permohonannya sampai hari kiamat dan sembahan-sembahan itu lalai dari (memperhatikan) permohonan mereka. Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan mereka [Al Ankabut, 5-6]

 وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
Bahwa ada beberapa orang laki-laki dari manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, maka jin-jin itu hanya menambah dosa dan kesalahan  [Al jin, 6]

Tsabit bin Dhohhak Radhiallahu’anhu berkata :
نذر رجل أن يذبح إبلا ببوانة، فسأل النبي فقال : هل كان فيها وثن من أوثان الجاهلية يعبد ؟ قالوا : لا، قال : فهل كان فيها عيد من أعيادهم ؟ قالوا : لا، فقال رسول الله : أوف بنذرك، فإنه لا وفاء لنذر في معصية الله ولا فيما لا يملك ابن آدم
Ada seseorang yang bernadzar akan menyembelih onta di Buwanah, lalu ia bertanya kepada Rasulullah, maka Nabi bertanya : Apakah di tempat itu ada berhala-berhala yang pernah disembah oleh orang-orang jahiliyah ? para sahabat menjawab : tidak, dan Nabipun bertanya lagi : Apakah di tempat itu pernah dirayakan hari raya mereka ? para sahabatpun menjawab : tidak, maka Nabipun menjawab : Laksanakan nadzarmu itu, karena nadzar itu tidak boleh dilaksanakan dalam bermaksiat kepada Allah, dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh seseorang  [HR Abu Daud]

Ali bin Abi Tholib Radhiallahu’anhu berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku tentang empat perkara :

لعن الله من ذبح لغير الله، لعن الله من لعن والديه، لعن الله من آوى محدثا، لعن الله من غير منار الأرض   
Allah melaknat orang-orang yang menyembelih binatang bukan karena Allah, Allah melaknat orang-orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang-orang yang melindungi orang yang berbuat kejahatan, dan Allah melaknat orang-orang yang merubah tanda batas tanah [HR Muslim]

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ  الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka [al anfal : 2-3]

Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin ‘Ukaim Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

من تعلق شيئا وكل إليه
Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bahwa barang tersebut bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), maka Allah akan menjadikan orang tersebut selalu bergantung kepadanya  [HR Ahmad dan At Turmudzi]

Diriwayatkan dari Aisyah, ra. Bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

من التمس رضا الله بسخط الناس رضي الله عنه وأرضى عنه الناس، ومن التمس رضا الناس بسخط الله سخط الله عليه وأسخط عليه الناس  
Barangsiapa yang mencari Ridho Allah sekalipun dengan resiko mendapatkan kemarahan manusia, maka Allah akan meridhoinya,  dan akan menjadikan manusia ridho kepadanya, dan barangsiapa yang mencari ridho manusia dengan melakukan apa yang menimbulkan kemurkaan Allah, maka Allah murka kepadanya, dan akan menjadikan manusia murka pula kepadanya  [HR Ibnu Hibban]