Urusan Harta Harus Thoyyibunnfasi




Thoyyib Dan Khobits (39)
Dalam sebuah riwayat disebutkan :
عن حكيم بن حزام قال سألت النبي صلى الله عليه و سلم فأعطاني ثم سالته فأعطاني ثم سألته فأعطاني ثم قال : إن هذا المال خضرة حلوة فمن أخذه بطيب نفس بورك له فيه ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه وكان كالذي يأكل ولا يشبع واليد العليا خيرا من اليد السفلى
Dari Hakim bin Hizam, berkata : Aku meminta kepada nabi shollallohu alaihi wasallam. Beliau memberiku. Lalu aku memintanya lagi dan memberiku dan kembali aku memintanya lagi, beliau masih memberiku. Selanjutnya beliau bersabda : Sesungguhnya harta itu hijau (indah) dan manis. Barangsiapa mengambilnya dengan thibunnafs (hati yang baik, tanpa mengiba dan meminta pada orang lain) maka akan diberkahi baginya. Siapa yang mengambilnya dengan isyrofunnafs (memperlihatkan diri kepada orang lain agar diberi), tidak akan diberkahi baginya seperti orang yang makan tapi tidak kenyang. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah  [muttafaq alaih]

Nasehat dari nabi shollallohu alaihi wasallam menyentak perasaan Hakim bin Hizam dimana ia baru tahu bahwa selama ini ia selalu menyandarkan hidupnya pada orang lain. Ia juga sadar bahwa selama ini tangan dia selalu berada di bawah.

Apa yang terjadi setelah itu ? Ia akhirnya bersumpah :

يَا رسول الله ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ لاَ أرْزَأُ أحَداً بَعْدَكَ شَيْئاً حَتَّى أُفَارِقَ الدُّنْيَا
Ya rosululloh, demi yang mengutusmu dengan haq, aku tidak akan meminta lagi kepada siapapun setelah ini hingga aku berpisah dengan dunia.

Demikianlah Hakim bin Hizam menepati sumpahnya. Ia selalu menolak pemberian meski itu bagian dari hak yang bisa dia ambil. Sampai ketika Abu Bakar menjadi kholifah membagi harta fa’i kepada kaum muslimin. Semuanya mengambil sesuai intruksi kecuali Hakim bin Hizam hingga Abu Bakar berkata :

يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِينَ ، أُشْهِدُكُمْ عَلَى حَكيمٍ أنّي أعْرِضُ عَلَيْهِ حَقَّهُ الَّذِي قَسَمَهُ اللهُ لَهُ في هَذَا الفَيء فَيَأبَى أنْ يَأخُذَهُ
Wahai kaum muslimin, aku bersaksi di hadapan kalian atas Hakim. Sesungguhnya aku telah menawarkan haknya yang telah Alloh bagikan padanya tentang harta fa’i ini, akan tetapi ia enggan untuk mengambilnya
Demikianlah, akhirnya Hakim menjadi pebisnis sukses dimana tangannya selalu di atas akan rajin berderma.
Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah :

1.      Kedermawanan nabi shollallallohu alaihi wasallam kepada para sahabatnya dimana beliau tidak pernah menolak orang yang meminta
2.      Sifat harta yang indah dan menarik
3.      Tangan di atas lebih mulia (pemberi) dari tangan di bawah (peminta)
4.      Mendapat harta lewat meminta dan mengiba adalah berangkat dari hati yang buruk
5.      Pemberian non materi (nasehat) terkadang lebih baik dari pemberian materi. Karena rupanya nasehat rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyentak kesadaran Hakim bin Hizam
6.      Sikap menepati janji yang diperlihatkan Hakim bin Hizam
7.      Persaksian Abu Bakar atas Hakim bin Hizam