Kedudukan Alloh Sebagai Ganjil Dan Genap

 Ganjil Genap Dalam Islam (2) 

Ketika Alloh adalah alwitru (ganjil), sebagai bukti dari kaedah ini adalah kisah rosululloh shollallohu alaihi wasallam dan Abu Bakar di gua tsur saat perjalanan hijrahnya. Dalam kondisi khawatir karena para pemuda quraisy sudah ada di mulut gua, Abu Bakar berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ رَفَعَ قَدَمَهُ رَآنَا

Wahai rosululloh, seandainya seorang diantara mereka mengangkat kakinya, tentu melihat kita !?
Nabi shollallohu alaihi wasallam menenangkan Abu Bakar dengan bersabda :

مَا ظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللَّهُ ثَالِثُهُمَا
Apa persangkaanmu dengan dua orang, sementara Alloh adalah ketiganya ? [HR Bukhori Muslim]

Meski ganjil, terkadang Alloh berposisi genap. Misalnya Alloh ketika menerangkan orang yang sedang berbisik :

مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ

Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang melainkan Dialah (Alloh) yang keempatnya dan tidak ada lima orang melainkan Dialah yang keenamnya [almujadalah : 7]