Api Dalam Timbangan Aqidah (16)
Rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyebutnya dengan
kay. Ada beberapa hadits yang membicarakan masalah ini dengan berbagai bentuk :
Pertama : Rosululloh melakukannya
عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله
عليه وسلم كَوَى أَسْعَدَ بْنَ زُرَارَةَ
مِنَ الشَّوْكَةِ.
Dari Anas, bahwa nabi shollallohu alaihi wasallam melakukan
kay pada As’ad Bin Zuroroh dari besi garpu
[HR Tirmidzi]
Kedua : Memerintahkannya
عَنْ جَابِرٍ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ
اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ
طَبِيبًا فَقَطَعَ مِنْهُ عِرْقًا ثُمَّ كَوَاهُ عَلَيْهِ.
Dari Jabir berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam
mengutus tabib kepada Ubay Bin Ka’ab lalu ia memotong urat yang ada di tangan
(untuk difashdu). Setelah itu ia melakukan kay untuknya [HR Muslim]
Ketiga : Membolehkannya
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كُوِيتُ
مِنْ ذَاتِ الْجَنْبِ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَىٌّ ، وَشَهِدَنِى
أَبُو طَلْحَةَ وَأَنَسُ بْنُ النَّضْرِ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ ، وَأَبُو طَلْحَةَ
كَوَانِى
Dari Anas Bin Malik berkata : Aku dikay pada daerah perut
sedangkan rosululloh shollallohu alaihi wasallam masih hidup. Yang menyaksikan
diriku adalah Abu Tholhah, Anas Bin Nadhor dan Zaid Bin Tsabit. Abu Tholhahlah
yang melakukan kaya padaku [HR Bukhori]
Keempat : Menganjurkan untuk meninggalkannya
Ketika rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyebut
orang-orang yang masuk aljannah tanpa hisab dan adzab, beliau memberi kriteria
dengan bersabda :
هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُونَ ، وَلاَ
يَتَطَيَّرُونَ ، وَلاَ يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Mereka adalah yang tidak meminta diruqyah, tidak tathoyyur,
tidak melakukan kay dan bertawakkal kepada Robnya [HR Bukhori Muslim]
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
قَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ إِنْ كَانَ فِى شَىْءٍ مِنْ
أَدْوِيَتِكُمْ خَيْرٌ فَفِى شَرْبَةِ عَسَلٍ أَوْ شَرْطَةِ مِحْجَمٍ أَوْ
لَذْعَةٍ مِنْ نَارٍ ، وَمَا أُحِبُّ أَنْ أَكْتَوِىَ
Dari Jabir Bin Abdulloh berkata : Aku mendengar nabi
shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila ada sesuatu kebaikan pada
pengobatan bagi kalian maka hal itu ada pada meminum madu, bekam dan pembakaran
dari api. Akan tetapi aku tidak menyukai kay [HR Bukhori]
Kelima : Melarang
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضى الله عنهما
قَالَ الشِّفَاءُ فِى ثَلاَثَةٍ شَرْبَةِ عَسَلٍ ، وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ ،
وَكَيَّةِ نَارٍ ، وَأَنْهَى أُمَّتِى عَنِ الْكَىِّ
Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhuma berkata : Obat itu ada
tiga : Minum madu, berbekam dan kay dengan api dan aku melarang umatku untuk
melakukan kay [HR Bukhori]
Ibnul Qoyyim mengkompromikan hadits-hadits di atas dengan
mengatakan : Itu semua tidak ada pertentangan, alhamdulillah. Rosululloh
shollallohu melakukan kay menunjukkan hal itu hukumnya boleh. Beliau tidak
menyukai (menganjurkan untuk menghindarinya) bukan berarti hal itu dilarang.
Pujian untuk yang meninggalkannya, menunjukkan bahwa yang menghindari hal ini
adalah sikap yang lebih utama. Adapun larangan, menunjukkan akan kemakruhannya
bukan berstatus haram
Maroji’ :
Fathul Majid, Syaikh Abdurrohman Hasan Alu Syaikh hal 52