Atsarus Sujud (bekas-bekas sujud)



(Sujud Dalam Timbangan Aqidah 7)

Setiap amal ibadah pasti ada bekasnya. Sujud yang kita lakukan tentu akan meninggalkan jejak baik bagi pelakunya. Alloh memuji para shabat dengan berfirman :

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآَزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا 

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar  [alfath : 29]

Para ulama memiliki pandangan perbeda tentang makna atsarus sujud pada ayat ini. Cukup dua pendapat mufasir yang ditampilkan di sini :

1.      Tafsir Assa’di :

لما استنارت بالصلاة بواطنهم، استنارت بالجلال ظواهرهم
Bersinar batin mereka dengan sholat dan bersinar dzohir mereka dengan kewibawaan

2.      Tafsir Khozin

Beliau menampilakan 6 keterangan :

هي نور وبياض في وجوههم يعرفون به يوم القيامة أنهم سجدوا لله في الدنيا
Cahaya dan warna putih pada wajah mereka pada hari kiamat sebagai bukti bahwa mereka gemar sujud di dunia

تكون مواضع السجود في وجوههم كالقمر ليلة البدر
Anggota tubuh untuk sujud di wajah seperti bulan purnama

يبعثون غراً محجلين يوم القيامة
Dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersinar

إن ذلك في الدنيا وذلك أنهم استنارت وجوههم بالنهار من كثرة صلاتهم بالليل
Bekas sujud yang dimaksud adalah di dunia dimana wajahnya akan bersinar di siang hari karena banyaknya sholat yang ia tunaikan di malam hari

هو السمت الحسن والخشوع والتواضع
Wajah yang indah, kekhusyuan dan sikap tawadlu

: أن السجود أورثهم الخشوع والسمت الحسن يعرفون به وقيل هو صفوة الوجه من سهر الليل ويعرف ذلك في رجلين أحدهما سهر الليل في الصلاة والعبادة والآخر في اللهو واللعب فإذا أصبحا ظهر الفرق بينهما فيظهر في وجه المصلي نور وضياء وعلى وجه اللاعب ظلمة
Sujud akan mendatangkan kekhusyuan, wajah yang indah yang mudah dikenali, ada yang berpendapat lain : Jernihnya wajah karena terjaga di malam hari. Itu bisa dibuktikan pada dua orang yang begadang di malam hari. Orang pertama melewatinya dengan sholat dan ibadah sedang yang kedua sibuk dengan kegiatan yang melenakan dan bermain-main. Bila waktu pagi tiba, akan nampak perbedaan antara keduanya. Orang yang menunaikan sholat akan nampak cahaya dan sinar di wajah sedangkan yang bermain-main akan terlihat kegelapan.

Pendapat ini selaras dengan sabda nabi shollallohu alaihi wasallam :

 يعقد الشيطاه على قافية رأس احدكم اذا هو نام ثلاث عقد يضرب على كل عقدة مكانها : عليك ليل طويل فارقد فإن استيقظ فذكر الله انحلت عقدة فإن توضأ انحلت عقدة فإن صلى انحلت عقده كلها فأصبح نشيطا طيب النفس وإلا اصبح خبيث النفس كسلان
Setan senantiasa mengikat tengkuk di kepala salah seorang di antara kalian dengan tiga ikatan bila hendak tidur. Setiap ikatan dipukul seraya dikatakan “ Malam panjang buatmu, tidurlah ! “ Bila ia bangun lalu berdzikir maka putuslah ikatan pertama. Jika dia berwudlu maka putuslah ikatan kedua. Dan jika dilanjutkan dengan sholat maka terputuslah ikatan yang ketiga. Di waktu pagi ia akan giat dan hatinya baik. Kalau tidak begitu (tidak sholat), hatinya akan kotor dan malas [HR Bukhori Muslim]

Maroji’ :
Tafsir Khozin (maktabah syamilah) hal 515