Upah Bekam




(Karyawan Dan Standar Gaji 12)

Bekam adalah sunnah rosululloh shollallohu alaihi wasallam. Ia adalah salah satu wasilah dalam menjaga kesehatan. Fakta telah membuktikan akan kebenaran syariat ini. Yang menjadi bahan perbedaan di kalangan para ulama adalah imbalan dari profesi bekam sebagaimana yang marak di klinik-klinik bekam. Sebelum membahas permasalahan ini, ada baiknya bila kita tahu terlebih dahulu hadits-hadits yang berkenaan dengannya :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال : حجم أبو طيبة النبي صلى الله عليه و سلم فأمر له بصاع أو صاعين من طعام وكلم مواليه فخفف عن غلته أو ضريبته
Dari Anas bin Malik rodliyallohu anhu, berkata : Abu Thoibah (seorang budak) membekam nabi shollalllohu alaihi wasallam lalu beliau perintahkan untuk memberinya satu atau dua sho’ dari makanan. Selanjutnya beliau berbicara kepada tuannya untuk meringankan setorannya [HR Bukhori]

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : احتجم النبي صلى الله عليه و سلم وأعطى الحجام
Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhuma, berkata : Nabi shollallohu alaihi wasallam berbekam dan memberi  imbalan kepada pembekam  [HR Bukhori Muslim]

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال  : احتجم النبي صلى الله عليه و سلم وأعطى الحجام أجره ولو علم كراهية لم يعطه
Dari Ibnu Abbas rodliyallohu anhuma, berkata : Nabi shollallohu alaihi wasallam berbekam dan memberi  imbalan kepada pembekam. Seandainya upah bekam itu dilarang, tentu beliau tidak akan memberinya imbalan  [HR Bukhori]

عن عمرو بن عامر قال سمعت أنسا رضي الله عنه يقول : كان النبي صلى الله عليه و سلم يحتجم ولم يكن يظلم أحدا أجره
Dari Amru bim Amir, berkata : Aku mendengar Anas rodliyallohu anhu berkata : Nabi shollallohu alaihi wasallam biasa berbekam dan beliau tidak pernah mendzolimi seseorang akan upahnya  [HR Bukhori Muslim]

عَنْ حَرَامِ بْنِ مُحَيِّصَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ فَنَهَاهُ عَنْهُ فَذَكَرَ لَهُ الْحَاجَةَ فَقَالَ « اعْلِفْهُ نَوَاضِحَكَ
Dari Harom bin Muhaishoh dari bapaknya, bahwasanya dirinya bertanya kepada nabi shollallohu alaihi wasallam tentang profesi bekam. Beliau melarangnya. Ketika disebutkan bahwa ia membutuhkan upah itu maka beliau bersabda : Manfaatkan upah itu untuk makanan nawadlih (onta yang biasa mengangkut air) [HR Ahmad dan Ibnu Majah]

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَسْبُ اَلْحَجَّامِ خَبِيثٌ 
Dari Rafi' Ibnu Khodij Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Pekerjaan tukang bekam adalah jelek    [HRMuslim]

 Beragam pendapat menyikapi hadits-hadits di atas :

Jumhur ulama menilai haram dan selanjutkan mereka berkata : Bekam adalah profesi yang mengandung kehinaan akan tetapi bukan harom, mereka menilai larangan dimaksudkan sebagai tanzih (sikap menjauhi perbuatan yang tidak pantas, haram)

Imam Ahmad dan sejumlah ulama membedakan profesi bekam antara orang merdeka dan budak. Mereka membenci pekerjaan ini disandang oleh orang merdeka. Mereka diharamkan memakan penghasilan bekam untuk kepentingan pribadinya akan tetapi diperbolehkan untuk keperluan hamba sahaya dan binatang, sementara bila pelakunya adalah sahaya diperbolehkan mendapat upah secara mutlak. Dasar dari pendapat ini adalah bahwa pembekam yang mengeluarkan darah nabi shollallohu alaihi wasallam adalah berstatus sebagai budak. Di hadits disebut Abu Thoibah.

Dua pendapat di atas disebutkan oleh ibnu Hajar Al Atsqolani dalam Fathul barinya. 

Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam berpendapat bahwa profesi bekam adalah khobits (buruk) akan tetapi ke-khobitsan-nya tidak berstatus haram sebagaimana makanan yang mengundang aroma tidak sedap (bawang dan semisalnya) juga tidak bernilai haram. Dengan kalimat lain beliau berkata : Bawang disebut khobits karena baunya, sedangkan bekam disebut khobits bila dijadikan profesi.

a.      Walhasil kesimpulan dari keterangan di atas :

b.      Tidak sepantasnya menentukan upah bekam kepada pasien pada tiap titik bekam
c.       Sebaiknya bekam jangan dijadikan sebagai profesi
d.      Bila mendapat imbalan sementara kita masih memiliki harta untuk memenuhi kebutuhan maka sebaiknya dialihkan pemanfaatannya bagi binatang peliharaan atau orang miskin

Maroji :
Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Atsqolani 4/564
Taudhihul Ahkam, Syaikh Abdulloh Abdurrohman Albassam 3/380