Pertanyaan Kaum Wanita (10)
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي اِمْرَأَةٌ
أَشُدُّ شَعْرَ رَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ اَلْجَنَابَةِ؟ وَفِي رِوَايَةٍ:
وَالْحَيْضَةِ؟ فَقَالَ: لَا إِنَّمَا
يَكْفِيكِ أَنْ تَحْثِي عَلَى رَأْسِكِ ثَلَاثَ حَثَيَاتٍ
Ummu Salamah Radliyallaahu 'anhu berkata: Aku bertanya wahai
Rasulullah sungguh aku ini wanita yang mengikat rambut kepalaku. Apakah aku
harus membukanya untuk mandi jinabat؟ Dalam riwayat lain disebutkan : Dan
mandi dari haid؟ Nabi menjawab : Tidak tapi kamu cukup
mengguyur air di atas kepalamu tiga kali [HR
Muslim]
Hadits di atas memberi kita faedah :
1.
Diperbolehkannya
wanita mengikat rambut
Ini berlaku saat hidup dan mati. Ummu Athiyyah menyebut
tentang puteri nabi shollallohu alaihi wasallam yang dimadikannya saat mati. Di
akhir hadits disebut tentang ikatan rambut :
عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَلَ
عَلَيْنَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَنَحْنُ نُغَسِّلُ ابْنَتَهُ، فَقَالَ:
"اغْسِلْنَهَا ثَلَاثًا, أَوْ خَمْسًا, أَوْ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ، إِنْ
رَأَيْتُنَّ ذَلِكَ, بِمَاءٍ وَسِدْرٍ, وَاجْعَلْنَ فِي الْآخِرَةِ كَافُورًا,
أَوْ شَيْئًا مِنْ كَافُورٍ"، فَلَمَّا فَرَغْنَا آذَنَّاهُ, فَأَلْقَى
إِلَيْنَا حِقْوَهُ.فَقَالَ: "أَشْعِرْنَهَا إِيَّاهُ" مُتَّفَقٌ
عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ: ابْدَأْنَ بِمَيَامِنِهَا وَمَوَاضِعِ اَلْوُضُوءِ
مِنْهَا وَفِي لَفْظٍ ِللْبُخَارِيِّ: فَضَفَّرْنَا شَعْرَهَا ثَلَاثَةَ قُرُونٍ,
فَأَلْقَيْنَاهُ خَلْفَهَا
Ummu Athiyyah Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu
'alaihi wa Sallam masuk ketika kami sedang memandikan jenazah puterinya, lalu
beliau bersabda : Mandikanlah tiga kali, lima kali, atau lebih dari itu. Jika
kamu pandang perlu pakailah air dan bidara, dan pada yang terakhir kali dengan
kapur barus :kamfer) atau campuran dari kapur barus. Ketika kami telah selesai,
kami beritahukan beliau, lalu beliau memberikan kainnya pada kami seraya
bersabda : Bungkuslah ia dengan kain ini. Muttafaq Alaihi. Dalam suatu riwayat
: Dahulukan bagian-bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu. Dalam suatu
lafadz menurut Bukhari : Lalu kami ikat rambutnya tiga pintalan dan kami
letakkan di belakangnya.
2. Wajibnya
meratakan air keseluruh tubuh saat mandi junub
Basahnya seluruh anggota tubuh saat mandi junub adalah satu kelaziman.
Dari ujung rambut hingga ujung kaki harus tersentuh oleh air. Nabi shollallohu
alaihi wasallam menunjukkan kepada kita :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اِغْتَسَلَ مِنْ
اَلْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى
شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ ثُمَّ يَأْخُذُ اَلْمَاءَ
فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ اَلشَّعْرِ ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ
ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
'Aisyah Radliyallaahu 'anhu berkata : Biasanya Rasulullah
Shallallaahu 'alaihi wa Sallam jika mandi karena jinabat akan mulai dengan
membersihkan kedua tangannya kemudian menumpahkan air dari tangan kanan ke
tangan kiri lalu mencuci kemaluannya kemudian berwudlu lalu mengambil air
kemudian memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambut lalu menyiram
kepalanya tiga genggam air kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dan mencuci
kedua kakinya [Muttafaq Alaihi]
3. Bolehnya
wanita membiarkan rambutnya tetap terikat saat mandi junub
Pertanyaannya adalah : Apakah itu tidak menghalangi
sampainya air ke kulit kepala ? Imam Shon’ani menerangkan bahwa rambut Ummu
Salamah sedikit yang diketahui oleh rosululloh shollallohu alaihi wasallam
sehingga meski dalam keadaan terikat, air tetap akan sampai hingga kulit kepala
Maroji’ :
Subulussalam, Imam Shon’ani (maktabah syamilah) hal 299