Menyembelih


                                                     Kiblat Dalam Timbangan Akidah (17)


Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid menyebut bahwa diantara sunnah menyembelih adalah menghadapkan binatang ke arah kiblat. Beliau berkata :


أدَابُ الذّبْحِ : .... تَوْجِيْهُ الذَّبِيْحَةِ إلَى القِبْلَةِ


Adab menyembelih : ..... menghadapkan binatang yang akan disembelih ke arah kiblat


Hal ini berdasar sebuah hadits :


عن نافع أنّ إبن عمر .... كَانَ هُوَ يَنْحَرُ هَدْيَهُ بِيَدِهِ يَصِفُهُنَّ قِيَامًا وَيُوَجِهُهُنَّ إلَى الْقِبْلَةِ


Dari Nafi’ : Bahwa Ibnu Umar ....... menyembelih hewan hadyunya dengan tangannya dimana hewan (maksudnya onta) diberdirikan lalu diarahkan ke kiblat [HR Malik]




Berdoa


                                            Kiblat Dalam Timbangan Aqidah (16)


Orang yang pertama kali memberi contoh berdoa menghadap baitulloh adalah Ibrohim. Itu terjadi ketika ia membawa Hajar dan Ismail ke Mekah. Ketika sudah tiba di sebuah lembah yang nantinya akan berdiri ka’bah, Ibrohim meninggalkan keduanya. Ibnu Abbas berkata :


عن ابن عباس رضي الله عنهما، قَالَ فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ  صلى الله عليه وسلم حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ حَيْثُ لاَ يَرُونَهُ ، اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ البَيْتَ ، ثُمَّ دَعَا بِهؤُلاءِ الدَّعَوَاتِ ، فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ


Pergilah Ibrohim hingga sampai di Tsaniyyah dimana ia sudah tidak melihat keluarga yang ditinggalkan, ia menghadapkan wajahnya ke kiblat lalu berdoa dengan banyak permohonan sambil mengangkat kedua tangannya seraya berkata :


رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ  رَبَّنَا إِنَّكَ تَعْلَمُ مَا نُخْفِي وَمَا نُعْلِنُ وَمَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ  الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ  رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ 
  

Ya Alloh, aku tinggalkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada pepohonan di sisi rumahMu yang mulia. Wahai Rob kami itu aku lakukan agar mereka mendirikan sholat. Jadikan hati-hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berikan kepada mereka rizki dari buah-buahan agar mereka bersyukur. Wahai Rob kami, engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami nampakkan. Tidak ada satupun yang tersembunyi atas Alloh baik yang ada di bumi dan di langit. Segala puji bagi Alloh yang telah memberiku di hari tua Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Robku benar-benar mendengar doa. Wahai Robku jadikan aku sebagai orang yang menegakkan sholat, termasuk keturunanku. Wahai Rob kami, perkenankan doaku. Wahai Rob kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku dan orang-orang beriman saat terjadinya hisab [ibrohim : 37-41]

Tidur


                                             Kiblat Dalam Timbangan Akidah (15)


Disunnahkan bagi yang tidur baik malam dan siang untuk menghadapkan tubuhnya ke arah kiblat. Hikmahnya adalah dzikrul maut (mengingat mati). Itu dikarenakan posisi seperti ini sama dengan posisi mayit saat di liang lahad :


عن البراءِ بنِ عازبٍ رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رسولُ الله  صلى الله عليه وسلم  : إِذَا أَتَيتَ مَضْجعَكَ فَتَوَضَّأْ وَضُوءكَ لِلصَّلاَةِ ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأيْمَن ، وَقُلْ : اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَفَوضْتُ أَمْرِي إليكَ ، وأَلْجَأتُ ظَهرِي إلَيْكَ ، رَغْبَةً وَرهْبَةً إليكَ ، لا مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إليكَ ، آمَنْتُ بِكِتابِكَ الَّذِي أنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أرْسَلْتَ، فإنْ مِتَّ مِتَّ عَلَى الفِطْرَةِ ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَقُولُ  متفق عَلَيْهِ .


Dari Barro Bin Azib rodliyallohu anhuma berkata : Rosululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda : Bila engkau mendatangi tempat tidurmu maka berwudlulah sebagaimana wudlu untuk sholat lalu berbaringlah dengan rusuk kanan ada di bawah dan ucapkan “ Ya Alloh aku serahkan jiwaku padaMu, aku hadapkan wajahku kepadaMu, Aku titipkan urusanku kepadaMu, aku sandarkan punggungku kepadaMu atas dasar cinta dan takut kepadaMu. Tidak ada tempat kembali dan penyelesaian dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitabMu yang Engkau turunkan dan nabimu yang Engkau utus “ Kalau engkau mati dalam keadaan seperti itu maka engkau mati dalam keadaan fitroh dan jadikan bacaan itu sebagai akhir dari yang engkau ucapkan  [muttafaq alaih]

Jenazah saat menjelang kematian, setelah meninggal dan dikubur Menghadap Kiblat


                                        Kiblat Dalam Timbangan Akidah (14)


Ketika nabi shollallohu alaihi wasallam tiba di kota Madinah dari safarnya, beliau menanyakan Barro’ Bin Ma’rur. Para sahabat berkata :


توفي وأوصى بثلثه لك يا رسول الله ، وأوصى أن يوجه إلى القبلة لما احتضر


Ia sudah meninggal dan sebelumnya berwasiat dari sepertiga hartanya untukmu wahai rosululloh. Ia juga berwasiat agar dihadapkan ke arah kiblat saat tanda kematian datang. Mendengar penuturan mereka, nabi bersabda :


أصاب الفطرة

Ia sudah sesuai dengan alfitroh [HR Baihaqi dan Alhakim]


Abdurrohman Bin Abdulloh Bin Ka’ab Bin Malik berkata :


وَكَانَ الْبَرَّاءُ أوَّلَ مَنِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ حَيًّا وَمَيِّتًا

Barro’ Bin Ma’rur adalah orang yang pertama kali menghadap kiblat saat hidup dan mati


Lalu, bagaimana cara menghadapkan orang yang akan meninggal dan sesudah kematiannya ke arah kiblat ? Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid menerangkan dua cara, yaitu :


a.      (untuk di Indonesia) meletakkan kaki di arah barat dan kepala ada di timur lalu kepala ditinggikan (dengan bantal) agar dinilai menghadap ke arah kiblat

b.      Membaringkan mayit ke kiblat dengan rusuk bagian kanan ada di bawah


Untuk cara kedua berlaku ketika mayit dikebumikan


Maroji’ :

Shohih Fiqih Sunnah, Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid 1/612

Manasik haji


                                              Kiblat Dalam Timbangan Aqidah (13)


Banyak dilakukan dengan menghadap ke arah kiblat, diantaranya :


1. Thowaf


Diawali dengan menghadap ke arah kiblat tepatnya berdiri sejajar dengan hajar aswad, lalu berjalan dengan ka’bah berada di sebelah kiri.


2. Sa’i


Awal mula sa’i menghadap kiblat dengan membaca :


لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, لَهُ اَلْمُلْكُ, وَلَهُ اَلْحَمْدُ, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ اَلْأَحْزَابَ وَحْدَهُ


Ini berdasar sebuah hadist :


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اَللَّهِ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم حَجَّ فَلَمَّا دَنَا مِنَ اَلصَّفَا قَرَأَ: إِنَّ اَلصَّفَا وَاَلْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اَللَّهِ أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اَللَّهُ بِهِ فَرَقِيَ اَلصَّفَا, حَتَّى رَأَى اَلْبَيْتَ, فَاسْتَقْبَلَ اَلْقِبْلَةَ فَوَحَّدَ اَللَّهَ وَكَبَّرَهُ وَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, لَهُ اَلْمُلْكُ, وَلَهُ اَلْحَمْدُ, وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ, لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَهَزَمَ اَلْأَحْزَابَ وَحْدَهُ ثُمَّ دَعَا بَيْنَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ


Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menunaikan haji ................ Ketika sudah mendekat Shofa, beliau membaca: "(Artinya = Sesungguhnya Shofa dan Marwa adalah termasuk syiar agama Allah), aku mulai dengan apa yang dimulai oleh Allah." Lalu beliau menaiki puncak Shofa sehingga dapat melihat Ka'bah. Kemudian beliau menghadap Ka'bah, lalu membaca kalimat Tauhid dan Takbir, dan mengucapkan: "(artinya = Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada ilah yang berhak diibadahi selain Allah Yang Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan golongan-golongan musuh sendirian)". Kemudian beliau berdoa seperti itu tiga kali, lalu turun ke Marwa [HR Muslim]


Hal ini dilakukan kembali saat berada di Marwa


3. Saat di masy’aril harom setelah mabit di Muzdalifah


فَصَلَّى اَلْفَجْرَ, حِينَ تَبَيَّنَ لَهُ اَلصُّبْحُ بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ ثُمَّ رَكِبَ حَتَّى أَتَى اَلْمَشْعَرَ اَلْحَرَامَ, فَاسْتَقْبَلَ اَلْقِبْلَةَ, فَدَعَاهُ, وَكَبَّرَهُ, وَهَلَّلَهُ فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفًا حَتَّى أَسْفَرَ جِدًّا. فَدَفَعَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ اَلشَّمْسُ


Beliau sholat Shubuh tatkala waktu Shubuh sudah tampak jelas dengan adzan dan qomat. Kemudian berangkat dengan kendaraannya, dan ketika sampai di Masy'aril Haram beliau menghadap kiblat, lalu membaca doa, takbir, dan tahlil. Beliau tetap berada di situ hingga terang benderang lalu bertolak ke Mina sebelum matahari terbit


4. Wukuf di Arofah


فَأَجَازَ حَتَّى أَتَى عَرَفَةَ, فَوَجَدَ اَلْقُبَّةَ قَدْ ضُرِبَتْ لَهُ بِنَمِرَةَ فَنَزَلَ بِهَا. حَتَّى إِذَا زَاغَتْ اَلشَّمْسُ أَمَرَ بِالْقَصْوَاءِ, فَرُحِلَتْ لَهُ, فَأَتَى بَطْنَ اَلْوَادِي, فَخَطَبَ اَلنَّاسَ. ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ, فَصَلَّى اَلظُّهْرَ, ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى اَلْعَصْرَ, وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا. ثُمَّ رَكِبَ حَتَّى أَتَى اَلْمَوْقِفَ فَجَعَلَ بَطْنَ نَاقَتِهِ اَلْقَصْوَاءِ إِلَى الصَّخَرَاتِ, وَجَعَلَ حَبْلَ اَلْمُشَاةِ بَيْنَ يَدَيْهِ وَاسْتَقْبَلَ اَلْقِبْلَةَ, فَلَمْ يَزَلْ وَاقِفاً حَتَّى غَرَبَتِ اَلشَّمْسُ,


...... lalu beliau berangkat menuju Arafah, dan beliau telah mendapatkan kemahnya telah dipasang di Namirah. Beliau singgah di tempat tersebut. Ketika matahari tergelincir, beliau menyuruh agar disiapkan unta Qoshwanya dan disiapkanlah unta tersebut untuknya. Beliau ke tengah lembah dan berkhutbah di tengah-tengah manusia. setelah adzan dan qomat beliau sholat Dhuhur. Kemudian qomat dan sholat Ashar, dan beliau tidak melakukan sholat apapun antara keduanya. Lalu beliau menaiki kendaraan menuju tempat wuquf. Beliau merapatkan perut untanya ke batu-batu besar. Beliau berhenti di jalan besar dan menghadap kiblat. Beliau terus wukuf hingga matahari terbenam ....


5. Setelah melempar jumroh


Saat di Mina untuk melempar jumroh. Ibnu Umar meriwayatkan :


عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضى الله عنهما  أَنَّهُ كَانَ يَرْمِى الْجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ ، يُكَبِّرُ عَلَى إِثْرِ كُلِّ حَصَاةٍ ، ثُمَّ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ فَيَقُومَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلاً ، وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ ، ثُمَّ يَرْمِى الْوُسْطَى ، ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشِّمَالِ فَيَسْتَهِلُ وَيَقُومُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ فَيَقُومُ طَوِيلاً وَيَدْعُو وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ ، وَيَقُومُ طَوِيلاً ، ثُمَّ يَرْمِى جَمْرَةَ ذَاتِ الْعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ الْوَادِى ، وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُولُ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم  


Dari Ibnu Umar rodliyallohu anhuma bahwa ia melempar jumroh addun-ya dengan tujuh batu sambil bertakbir pada tiap lemparan lalu maju hingga mendapat tempat yang longgar lalu berdiri menghadap kiblat dalam waktu lama berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Setelah itu melempar jumroh wustho lalu mengambil arah kiri untuk mendapat posisi longgar. Ia berdiri menghadap kiblat dalam waktu lama untuk berdoa dengan mengangkat kedua tangannya. Selanjutnya melempar jumroh aqobah di perut lembah. Ia tidak berdiri di sisinya lalu pergi. Ibnu Umar berkata : Demikianlah yang aku lihat dari nabi shollallohu alaihi wasallam [HR Bukhori]